Sabtu, 12 Desember 2015

MANAJEMEN KONSTRUKSI MEMBANGUN MASJIDIL HARAM



Tahun 2013 saya umrah bersama isteri, tetapi entah mengapa waktu itu tidak begitu intens mengamati pembangunan Masjidil Haram. Mungkin waktu itu pembangunan masih konsentrasi di luar bangunan masjid, sehingga tidak terlalu terasa saat kita ibadah dalam masjid.  Yang saya ingat waktu itu saya sempat menghitung jumlah tower crane (TC) sebanyak 37 buah, sehingga menyimpulkan betapa raksasanya proyek ini.  Apalagi kalau kita melihat gambar masjid setelah jadi nanti. Sungguh sebuah proyek kelas dunia.

Pada saat umrah tahun ini pembangunan sudah menyentuh bagian dalam masjid, sehingga jika kita masuk dari pintu 93 dan ingin menuju pelataran ka’bah, kita harus melewati bagian yang sedang dibangun.  Sepertinya pintu 93 itu batas bagian yang belum dibangun, sedangkan sebelah kanan kita saat masuk dipasang pagar pembatas dengan tulisan “sorry working area”, artinya di balik pagar itu masjid sedang dibangun.

Karena sendirian dan lebih sering di masjid, saya sempat mengamati dan merenungkan betapa hebatnya “manajemen konstruksi (MK)” pembangunan masjid ini.  Saya sempat melontarkan ide, kalau saja ada orang yang mengambil S2 atau S3 Teknik Sipil, rasanya manajemen konstruksi pembangunan Masjidil Haram layak untuk menjadi kajian tesis/disertasi.  Mas Prapto yang kebetulan orang Teknik Sipil juga menyetujuinya.

Mengapa? Pembangunan berjalan 24 jam, tetapi kegitan ibadah di masjid jalan terus.  Tidak ada lampu satupun yang mati.  Sound system tetap prima dan orang ibadah tetap nyaman.  Keculai suara dang-dong, serta desingan suara gerinda atau gergaji yang memotong besi.  Itupun beberapa menit sebelum adzan semuanya berhenti.  Jadi waktu sholat, tidak ada suara apapun yang menggangu kekhusyukan ibadah.

Dari jauh saya amati bagian bawah yang dibangun, tetapi bagian atasnya tetap berfungsi.  Jadi kalau masuk pintu 93 dan menengok ke kanan, di balik pagar tampak bagian yang sedang dikerjakan. Tetapi jika diamati dari luar, di atas bagian yang dikerjakan itu masih ada banguan yang berfungsi.  Pintu gerbang proyek juga terpisah dengan pintu masjid yang digunakan, sehingga jamaah tidak terlalu terganggu oleh keluar masuknya bahan bangunan dan sebagainya.

Menurut Mas Prapto pengerjaan proyek tersebut dilakukan oleh banyak kontraktor yang salah satunya PT Wijaya Karya (WIKA).  Bahkan konon ada seorang insinyur dari Surabaya yang ikut mengerjakan proyeknya WIKA.  Sukses untuk WIKA yang dipercaya ikut mengerjakan proyek prestisius yang akan menjadi ikon dunia.  Pola pengerjaan sepertinya paralel, baik antar bagian atar kontraktor maupun antara pekerjaan sipil, mekanikal dan elektrikal.  Mungkin agar begitu bangunan selesai dan segera berfungsi untuk ibadah.  Dengan demikian jika bagian lain mulai dikerjakan, bagian yang selesai dapat digunakan.

Saya melihat, sementara pekerjaan sipil masih dikerjakan, eskalator juga sudah mulai.  Kabel-kabel elektrikal juga sudah disiapkan. Pada setiap kolom yang baru selesai dicor dan dibuka begestingnya, tampak begitu banyak kabel yang ada dalam kolom itu.  Ornamen juga sudah mulai dipasang pada bagian-bagian yang sudah selesai pekerjaan sipilnya.  Tangga dari lantai dasar bagian luar dan pelataran ka’bah sudah berlantai marmer dan digunakan, sementara pegangannya masih dibungkus karena mungkin belum final pengerjaannya. Bagian-bagian bagunan yang saling terhubung juga tampak dikerjakan. 

Saya membayangkan betapa sulitnya mengkoordinasikan demikian banyak kontraktor, demikian banyak kompen pekerjaan yang saling terkait dan begitu banyak pekerja yang saya yakin berasal dari berbagai bangsa, yang saya juga yakin hanya faham pekerjaan yang menjadi bagiannya.  Tugas MK-lah untuk mengharmonisasikan agar tidak ada bagian satu dengan lainnya tidak saling menunggu waktu.  Tugas MK-lah untuk memastikan agar bahan datang tepat waktu.  Terlambat akan menyebabkan pekerjaan tertunda, sedangkan jika lebih cepat akan merepotkan karena tidak ada tempat untuk menyimpan.

Agak beruntung, karena saya amati banyak bagian yang prefab artinya bagian itu dikerjakan di tempat lain dan datang langsung dipasang.  Sepertinya balok-balok beton dicor diluar dan tingggal memasang dan menyetel ketika kolom dan tempat dudukannya siap.  Demikian juga ornamen masjid yang sangat indah itu tampaknya juga dikerjakan di luar dan tinggal memasang begitu pekerjaan Sipil dan Artsitek selesai.

Pas saya sholat di lantai dasar bagian luar dan dekat dengan pagar pembatas, saya melihat ternyata para pekerja juga sholat di tempatnya masing-masing.  Saya kurang tahu apakah di area kerja juga ada air untuk wudlu atau mereka harus wudlu di tempat umum bersama jamaah, tetapi yang saya lihat pasa sholat wardhu mereka juga sholat.  Jelas mereka pekerja, karena waktu sholat itu mengenakan rompi kerjanya.  Semoga mereka bekerja diniati ibadah ikut membangun Masjidil Haram, sehingga mendapatkan pahala atas hasil kerjanya itu.  Bagi yang lain, rasanya MK pembangunan Masjidil Haram merupakan wahana belajar bagi siapapun.  Semoga kita menjadi pebelajar yang baik.

Tidak ada komentar: