Selasa, 25 Agustus 2015

GENERASI GLOBAL



Ketika sudah selesai sholat saya dan isteri mencari pengganjal perut.  Lapar sekali sih tidak, karena sebelum landing diberi sarapan walaupun hanya scramble telor plus sepotong roti.  Tetapi pesawat ke Edinbrugh baru akan take off pukul 8.25 waktu setempat dan itu berarti sudah pukul 12.25 WIB.  Jadi kalau harus menunggu makan siang saat diberi di pesawat, kami baru akan makan siang pukul 14an WIB.  Oleh karena itu kami memutuskan untuk mencari makan sekedar mengisi perut agar tahan menunggu jatah makan siang di pesawat.

Kami masuk ke area food court dan setelah keliling-keliling kami memutuskan memberi pitza.  Sambil makan pitza kami memperhatian orang-orang sekeiling yang tampak sekali multi ras.  Wajah Timur Tengah banyak, wajah Barat banyak, wajah Asia banyak, wajah Afrika juga banyak. Wajah yang tampak “campuran” juga banyak.  Food court yang murah meriah dengan banyak pilihan makanan ternyata dipenuhi orang-orang dengan berbagai asal.

Setelah selesai makan pitza, kami mencari tempat duduk di gate 302 tempat pesawar Turkish jurusan Edinbrugh akan take off pukul 08.30 waktu setempat.  Sambil duduk menunggu boarding saya melanjutkan pengamatan terhadap orang yang lalu lalang.  Semakin tampak multi ras-nya.  Meskipun tidak bergitu jelas, saya juga mendengar orang-orang berbicara campuran bahasa Indonesia dengan bahasa China.  Dugaan saya mereka itu, saudara kita orang Indonesia keturunan Tionghoa.  Ternyata betul. Saat landing di Edinbrugh mereka sempat menyapa anak saya dan bercerita kalau mengantar 2 anaknya untuk kuliah di Edinbrugh.  Anak saya berguman, tipikal orang Indonesia, yang akan sekolaj 2 orang tetapi yang mengantar serombongan.  Mungkin sambil berwisata.

Walaupun sudah sering ke luar negeri, saya masih kikuk kalau melihat situasi orang lalu lalang dengan multi ras .  Dengan isteri saya rasan-rasan, kami ini (khususnya saya) lahir di kampung, tidak sempat sekolah ke luar negeri, tetapi alhamdulillah mendapat kesempatan sering ke luar negeri untuk berbagai urusan.  Walaupun bahasa Inggrisnya pasaran tetapi dapat berkomunikasi secara wajar dengan orang asing.  Isteri saya lebih beruntung, karena kuliahnya di jurusan bahasa Inggris bahkan sempat ikut program sandwich-like di Monash selama 4 bulan.

Saya berguman kepada isteri, mungkin Kiki dan Reza (anak sulung dan anak nomor 2) mungkin tidak kikuk menghadapi situasi seperti ini karena ketika kuliah di luar negeri sudah terbiasa berbaur dengan mahasiswa dari berbagai negara.  Apalagi mereka kuliah di kelas reguler, bukan kelas khusus rombongan dari Indonesia. Jadi bergaul dengan orang multi ras sudah hal biasa bagi mereka.  Mudah-mudahan generasi berikutnya lebih dari itu, menuju generasi global.

Jika per 31 Desember 2015 berlaku Masyarakat Ekonomi Asean (Asean Economic Community), dan dapat diduga akan segera disusul hal serupa dengan cakupan lebih luas dan akhirnya akan terjadi apa yang oleh Kenichi Ohmae disebut dengan boarderless wolrd (dunia tanpa batas).  Toh sekarang tanda-tanda ke arah itu sudah tampak jelas.  Perusahaan terbuka kini sudah dimiliki orang dari berbagai negara.  Bank Niaga kini sudah menjadi bank SIMB Niaga yang konon pemegang saham mayoritasnya dari Malaysia.  Air mineral Aqua sekarang dimiliki oleh Danone, perusahaan dari Swiss.  Sebaliknya. Konon Arifin Panigoro punya ladang minyak di berbagai negara.  Prabowo punya perusahaan di berbagai negara.  Waskita Karya dikenal sebagai kontraktor handal di Timur Tengah.  Saya dengan mudah mendapatkan indomie di toko-toko Eropa.

Jika saat ini yang lalu lalang adalah barang dan saham, saya yakin tidak lama lagi yang lalu lalang juga orang.  Kalau mengingat di hotel Century Senayan Jakarta, kita akan selalu berjumpa dengan banyak orang Jepang dan China.  Kalau kita pergi ke mall di Jakarta kita akan banyak berjumpa dengan orang asing.  Calon menantu saya bekerja di perusahaan Taiwan yang berkantor di gedung BRI jalan Basuki Rahmad Surabaya.  Konon bos dan karyawan level atas banyak orang Taiwan.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita menyiapkan generasi global untuk menantisipasi dunia tanpa batas.  Kalangan pendidikan harus secara sungguh-sungguh memikirkan pola pendidikannya.  Hong Kong sudah mulai menerapkan pola itu sekitar 10 tahun lalu.  Mereka mengatakan pendidikannya bukan sekedar menjadi warga Hong Kong atau warga negara China, tetapi menyiapkan generasi baru sebagai warga dunia.  Salah satu cara yang ditempuh adalah leaning across culture melalui international exchange.

2 komentar:

Maharti Rn mengatakan...

assalamualaikum prof, mohon ijin mengcopy sebagian tulisan prof untuk mengisnpirasi saya dan teman-teman guru
semoga selalu sehat prof, kita selalu berguru

Maharti Rn mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.