Kamis, 26 September 2013

BELAJAR MANAJEMEN WAKTU DI UTAH STATE UNIVERSTY

Tanggal 25 September 2013 saya bersama Prof Ketut Budayasa, Prof Siti Masitoh dan Dr. Suharsono berkunjung ke Utah State University (USU) di Logan.  Tujuan utama adalah MoU dengan President USU yang dijadwalkan pukul 11 waktu setempat.   Kami datang di Logan< lokasi USU,  tanggal 24 September 2013 sekitar pukul 19.30 dan mengingap di hotel kampus.

Sebelumnya kami sudah diberi agenda acara selama di USU yang menurut saya sangat padat.   Pukul 8.15 dijemput dari hotel, 9.00-10.30 rapat dengan Departemen Engineering Education, 10.45-11.15 menandatangani Mou dengan President USU, 11.30-12.30 rapat dengan Global Engagement Office, 12.30-13.45 makan siang, 14.00-15.00 rapat dengan College of Education.  Pukul 3.30 kami sudah harus siap untuk pergi ke Jackson Hole, untuk “diservis” melihat Yellow Stone yang konon sangat indah. Dalam hati saya bertanya, apakah betul jadwal yang begitu ketat dapat dengan baik?  Apakah rapat yang hanya 1,5 jam itu mencapai hasil yang diinginkan?

Betul juga, pukul 8.10 Pak Oenardi, dosen USU asal Surabaya, sudah sampai di hotel.  Untunglah kami sudah selesai sarapan, sehingga langsung berangkat.  Berjalan kaki dibawah hujan rintik-rintik.  Karena masih ada waktu sekitar 10 menit, kami sempatkan melihat perpustakaan yang kebetulan berlokasi di dekat tempat rapat dengan Departemen Engineering Education.

Tepat pukul 9, rapat dimulai di Departemen Engineering Education dan diikuti oleh 10 orang.  6 orang dari USU dan 4 orang dari Unesa.  Yang menarik 6 orang dari USU yang “bule” hanya 2 orang, 1 orang berasal dari Indonesia, 1 orang berasal dari China, 1 orang dari Amerika Latin.

Rapat berjalan sangat efisien.  Dalam waktu kurang dari 90 menit, dapat disepakati antara lain, pihak USU memberikan trik bagaimana agar dosen Unesa dapat diterima di S3 di USU, USU dan Unesa akan menyusun road map riset dalam bidang Engineerinf Education dengan melibatkan pihak lain yang tertarik. USU akan mencarikan beasiswa bagi dosen Unesa yang diterima di USU tetapi tidak memperoleh beasiswa Dikti, USU dan Unesa akan menyiapkan skenario agar ada beberapa orang yang dapat program SAME.

Selesai rapat kami segera berjalan menuju kantor President USU, ditengah hujan yang cukup lebat.  Begitu datang, Shelly Hermandez dari Global Engagement sudah siap di tempat.  Setelah kami duduk sebentar president USU, Prof Stan L. Albrecht, keluar menyambut dan acara dimulai.   Yang mengagetkan President USU menyebut nama kami satu persatu dan bahkan tahu kalau kami akan ke Yellow Stone.  Orangnya sangat ramah. Ketika saya beri cindera mata dan saya jelaskan arti lambang ikan sura dan buaya, dia ketawa dan berkomentar kira-kira: “I will keep in my mind and out this souvenir in my room”.

Acara MoU berjalan lancar dan selesai tepat waktu.  Tiga puluh menit ternyata cukup, termasuk saling memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang Unesa.  Termasuk juga obrolan tentang Indonesia vs Bali.  Bahkan Prof Albrecht mengatakan putra salah satu stafnya berkerja sebagai sheff di sebuah hotel di Bali.  Dia juga tahu tentang beasiswa Dikti dan menanyakan berapa orang yang ke Amerika Serikat, ke Australia, ke Eropa dan sebagainya. Dia juga berkomentar, banyak yang memilih ke Belanda karena historical background.  Saya numpangi joke “or maybe it’s very easy to get Indonesian food there”.

Selesai acara MoU dengan president USU, kami segera berjalan ke kantor Global Engagement.  Lagi-lagi dalam situasi hujan, sehingga harus memakai payung.  Disana kami mendapat penjelasan tentang apa saja cakupan kerja Global Engagement .  Yang menjelaskan Shelly Henmandez, karena Merry Hubart sedang tidak ditempat.  Sendirian Shelly melayani kami, mulai membuatkan teh, menjelaskan cakupan kerja sampai menjemput dan mengantar kami.

Rapat dengan  College of Education bahwa dapat dimulai lebih awal, kira-kira pukul 13.50.  Marrha Dever, Associate Dean, menjelaskan berbagai program di College of Education.  Saya senang sekali dengan keterbukaan USU untuk bekerjasama dengan PAUD dan PGSD Unesa.  Jujur, setelah MIPA, Bahasa, dan PTK punya partner, kini Unesa harus kerja keras mencarikan partner MP, TEP, PGSD, PAUD dan Olahraga.  Kemampuan bahasa Inggris staf pengajar perlu segera didongkrak untuk memuluskan upaya tersebut.

Pak Ketut meyakini, Unesa dapat mengirim 2 dosen untuk menempuh S3 PAUD di USU.  Saya yakin jika ikut terlasana akan menjadi “jembatan” kerjasama lebih lanjut.  Mirip dengan upaya Unesa mengirim FT menempuh S3 di bidang Engineering Education di USU.  Jadi pengiriman dosen menempuh S2 atau S3 dan juga mengikuti program SAME bukan sekedar untuk diri pribadi yang bersangkutan, tetapi untuk menjalin kerjasama internasional.

Apa yang dapat dipelajari dari serangkaian acara di USU.  Paling tidak, dua hal.  Pertama, persiapan yang baik.  Semua acara disiapkan dengan rapi.  Tempat, peserta, kelengkapan acara dan sebagainya disiapkan dengan baik.  Termasuk peserta sudah membaca atau mengetahui apa yang akan dibahas dan dengan siapa pembahasan dilakukan.

Kedua, semua peserta memegang jadwal waktu dengan baik.  Datang tepat waktu dan tampak sekali menyelesaikan acara tepat waktu.  Dengan pola itu rapat berjalan sangat efisien dan tidak bertele-tele.  Tetap ada basa-basi, misalnya menyakan perjalanan.  Tetap ada perkenalan, baik individu atau lembaga.  Namun semua serba singkat dan langsung menukik ke acara inti.  Waktu 24 jam sehari semalam yang dikarunikan Sang Khaliq tampak digunakan sebaik-baiknya.  Bukankah itu salah satu bentu syukur ke Sang Pemberi Waktu?  Semoga kita menjadi pebelajar yang baik.

1 komentar:

Maharti Rn mengatakan...

menghargai waktu
tulisan bapak buat pelajaran saya,
mohon ijin share pak, untuk merefresh teman-teman,tks