Selasa, 10 September 2013

PELAJARAN DARI JAGORAWI

Kemarin, saya mem-posting kecelakaan yang dialami Dul, putra musikus Ahmad Dhani di facebook.   Kalimatnya sederhana: “Trabrakan yang dialami Dul, putra musikus Ahmad Dhani, semoga menjadi pelajaran mahal untuk kita”.  Tanggapan muncul bersautan, dengan berbagai versi.  Sangat wajar.  Ahmad Dhani adalah musikus terkenal dengan berbagai kontroversinya.  Tentu banyak fans yang senang dan juga banyak orang yang kurang senang.  Ketika ada peristiwa serius yang menimpa keluarganya, tanggapan yang muncul tentu dipengaruhi oleh persepsi masing-masing terhadap Ahmad Dhani.  Frame of thinking dibentuk oleh persepsi dan frame of thinking akan mempengaruhi respons terhadap informasi yang masuk.  Jadi variasi respons tersebut wajar.

Sebenarnya yang ingin saya ajukan bukan terkait dengan Dul apalagi dengan Ahmad Dhani, tetapi peristiwa itu merupakan suatu pelajaran mahal.  Bukankah semua peristiwa, fenomena, perilaku orang dan apa saja yang kita temui sebenarnya pelajaran yang dikirim oleh Yang Maha Mendidik.  Tinggal kita mau atau tidak, belajar dari apa yang kita temui.

Seorang kawan pernah mengatakan, jika kita ketemu orang jahat itu artinya Tuhan memberi pelajaran agar kita tidak menirunya.  Jika kita ketemu orang baik, pada dasarnya Tuhan memberi contoh untuk ditiru.  Jika melihat suatu peristiwa kita dapat belajar apa yang baik dan apa yang kurang baik.  Apa yang bermanfaat dan apa yang tidak bermanfaat.  Apa yang harus dipelajari lebih lanjut dan apa yang dapat dilupakan.  Jika peristiwa itu baik, bagaimana agar dapat terulang.  Dan jika peristiwa itu tidak baik, bagaimana agar tidak terulang. Dan seterusnya.  Bukankah itu hakekat belajar sepanjang hayat (life long learning).

Dari persitiwa kecelakan Dul banyak aspek yang dapat menjadi pelajaran bagi banyak pihak.  Mulai dari info bahwa mobil itu hadiah bagi Dul.  Kapan Dul mulai menyopir di jalan umum.  Sampai bagaimana Ahmad Dhani bertemu dengan keluara korban.  Bagaimana Ahmad Dhani menyatakan secara moral akan menyekolahkan anak-anak korban sampai S3.  Bagaimana resons Polri terhadap peristiwa itu.  Bagaimana ada dua menteri yang menjenguk Dul. Dan sebagainya dan sebagainya.

Peristiwa yang mahal, karena menyangkut sekian nyawa melayang, sekian orang yang luka parah, sekian orang yang mendapat tekanan batin, sekian orang yang terpaksa sibuk mengurusi ini dan itu.   Terlalu mahal kalau kita lewatkan tanpa menjadikan kita belajar.  Tentu sesuai dengan sisi dan kapasitas masing-masing.

Bagi orang tua, kita dapat belajar dari peristiwa itu, apakah kita sudah betul dalam mengajari dan memberi kepercayaan anak kita dmengendarai sepeda angin, speda motor bahkan mobil.  Apakah kita sudah betul menanamkan bahwa jalan raya itu milik orang banyak, digunakan orang banyak dan setiap orang harus menghargai pihak lain sesama pengguna jalan raya.  Apakah kita sudah belajar dan melaksanakan berempati kepada pihak lain yang mendapatkan musibah.  Apakah kita sudah betul bertanggungjawab moral maupun material terhadap persitiswa yang diakibatkan oleh perilaku kita atau keluarga.  Apakah betul aturan dan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, namun tetap menunjung tinggi praduga tak bersalah dan aspek-aspek kemanusiaan.


Mungkin bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang psikologi dan pendidikan dapat menjadikan peristiwa itu sebagai studi kasus.  Bukan untuk menyudutkan seseorang, tetapi sebagai kajian akademik untuk menemukan penyebab terjadinya, dampak yang ditimbulkan terhadap pelaku, korban atau pihak lain yang terkait, dan terutama untuk mencari cara untuk mencegah agar tidak terulang.  Tentu jika perlu dibuat “anonim”, biar pelaku atau korban tidak menanggung beban moral tambahan.  Semoga.   

Tidak ada komentar: