Rabu, 25 September 2013

BERPIKIR BESAR

Senin tanggal 23 September 2013 adalah hari paling longgar selama saya di Amerika Serikat.  Karena acara MoA dengan NIU diajukan pada hari Minggu sore, maka praktis Senin tidak ada acara yang terjadwal.  Satu-satunya acara adalah berkunjung ke Konsulat Jenderal RI di Chicago.  Mas Jepri Edi, diplomat muda di Konjen Chicago sangat baik hati.  Minggu mengantar ke NIU DeKalb dan Senin pagi menjemput kami untuk ke Konjen.

Konsul Jenderal di Chicago, Pak Andriasa Supandy, sangat baik.  Masih muda, tampan, sudah menduduki posisi konsul jenderal.  Kabarnya dia juga pernah di rumah tangga kepresidenan.  Saya menduga dia orang “pilihan” sehingga  sangat mungkin kariernya akan cemerlang. Pak Konjen menjelaskan potensi negara-negara bagian Mid West.  Katanya sangat mungkin tempe yang kita makan di Indonesia, kedelenya dari daerah Mid West.  Mid West memang terkenal lumbung jagung dan kedele.  Kantor pusat Mc Donald juga di Chicago.  Jadi setiap makan Mc-D berarti kita menyumbang kepada Chicago.  Kantor pusat Buing juga di Chicago.

Selesai acara kami segera minta diri.  Disamping takut mengganggu waktu Pak Konjen, juga ingin melihat-lihat kota Chicago.  Di lift kami bertemu dengan Pak Dodi, staf KJRI yang kemarin mengantar ke NIU DeKalb.  Ternyata beliau ditugasi KJRI Chicago untuk mengantar kami sight seeing.  Baik sekali KJRI, hari minggu mengantar kami ke DeKalb dan senin mengantar keliling kota.

Jadilah kami keliling kota Chicago, melihat Millennium Park dan taman lainnya dan mendengar bahwa kota Chicago pernah terbakar habis tahun 1920an lantar “dibongkar total dan dirombak” menjadi tata kota yang bagus serta makan siang di Chinese town.  Menurut saya penataan kota Chicago sangat bagus.  Jalan tertata baik, taman berada di berbagai lokasi.  Chinese town penuh dengan restoran China dengan berbagai ornamennya.  Bahkan juga ad taman kecil yang dipenuhi dengan patung dan simbul-simbul China.

Sambil berjalan saya bepikir siapa yang merancang kota Chicago?  Siapa yang merancang Millennium Park?  Siapa yang merancang Chinese town?  Siapa yang merancang Buckingham Fountain?  Siapa yang merancang jogging track sepanjang danau Michigan?  Siapa yang merancang wisata arsitektur dengan menyusuri sungai di kota Chicago?

Memikirkan itu, saya jadi teringat Pak Ciputra dengan Taman Ancol dan Citra Land-nya. Ingat Pak Habibie dengan Batam dan IPTN-nya. Ingat Suramadu yang digagas oleh almarhum Pak Mochamad Noer (mantan Gubernur Jawa Timur). Ingat Anies Baswedan dengan Indonesia Mengajar-nya. Ingat Pak Nuh dengan beasiswa Bidik Misi-nya. Ingat dr. Soetomo dkk yang mendirikan Boedi Oetomo sebagai cikal-bakal gerakan Indonesia Merdeka. Ingat WR Soepratman dengan lagu Indonesia Raya-nya. Ingat Kadie Baradja dkk dengan YDSF-nya.  Ingat dr Jose Rizal yang mendirikan MER-C, dsb. dsb.

Bagaimana orang-orang tersebut berani dan mampu berpikir besar yang melampaui jamannya.  Lebih dari itu mereka itu kemudian berani melangkah untuk mewujudkannya.  Memang ada yang sukses dalam mewujudkan gagasannya, namun juga ada yang gagasannta terwujud setelah yang bersangkutan meninggal.  Pikiran besar yang bersangkutan kemudian ditindaklanjuti generasi berikutnya. Dan menjadi kenyataan setelah yang bersangkutan wafat.  Bukanlah Vygotsky sudah meninggal ketika teori zone of proximal development populer.

Saya tidak tahu pasti, namun dugaan saya dr Soetomo sudah wafat ketika Indonesia Merdeka pada tanggal 17Agustus 1945.  IPTN dan Batam memang tidak sukses saat ini, tetapi saya yakin pada saatnya akan diteruskan orang lain dan di saat itu orang akan sadar betapa besar dan bagusnya pikiran Pak Habibie tentang IPTN dan Batam.  YDSF memang mulai kecil, tetapi sekarang menjadi penghimpun dana amal yang besar dan terpercaya, sekaligus penyalur bagi yang memerlukan.  Saya tidak faham bagaimana WR Soepratman mampu dan berani mengarang lagu Indonesia Raya di zaman penjajahan.  Anis Baswedan mampu menerobos kebuntuan penyediaan guru hebat bagi daerah terpencil.

Saya juga tidak dapat membayangkan bagaimana Pak Ciputra menemukan ide mengubah Ancol yang konon dulu pantai kumuh menjadi pantai wisata seperti sekarang ini.  Saya juga tidak dapat membayangkan bagaiamana Pak Noer mempunyai ide membuat jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan Madura.  Saya juga tidak tahu, Pak Nuh menemukan ide bagaimana mengentas kemiskinan secara elegan dengan beasiswa Bisik Misi.

Kesimpulan saya mereka itu mampu dan berani berpikir besar.  Tidak sekedar memikirkan dan berdebat hal-hal kecil.  Meminjam pikiran Charles Handy, mereka itu mampu menembus teori kue donat terbalik.  Tidak terjebak pada hal-hal yang peripheral dan mampu masuk ke hal-hal yang substansial. Semoga kita dapat belajar dari tokoh-tokoh itu.

Tidak ada komentar: