Senin, 23 September 2013

DINO PATTI DJALAL

Saat ini Dino Patti Djalal adalah duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat.  Sebelum ini yang bersangkutan menjadi juru bicara presiden SBY untuk urusan luar negeri. Saya baru pertama bertemu di KBRI Washington pada Jum’at 20 September 2013.  Informasi awal, beliau sedang di Jakarta sehingga tidak dapat bertemu.  Namun ternyata sudah datang di Washington, sehingga
kami dapat bertemu walaupun hanya sekitar 30 menit.

Karena kami semua tahu bahwa Pak Dino menjadi salah satu peserta Konvensi Partai Demokrat, maka saat bertemu dia banyak digoda dan ditanya soal itu.  Namun sepertinya dia enggan menjawab, karena sedang di Washington.  Beliau malah mengatakan pendidikan dan inovasi harus menjadi fokus utama presiden 2014-2019, siapapun orangnya.  Sepertinya dia ingin menyampaikan, itulah visinya sebagai peserta Konvensi dan berharap digunakan oleh siapapun yang terpilih menjadi presiden tahun depan.

Walaupun baru pertama bertemu, saya sudah dapat banyak cerita tentang dia dan baca bukunya tentang pak SBY yang ditulis saat dia menjadi juru bicara presiden.  Misalnya waktu masih sekolah di Amerika, dia mau menjadi pencuci piring di KBRI, walaupun ayahnya sebagai Wakil Duta Besar disitu.  Juga bagaimana awalnya dia dipilih menjadi juru bicara presiden.  Konon Pak SBY terkesan, ketika sebagai diplomat mendampingi Pak SBY saat berkunjung ke Amerika Serikat.

Saya lupa judul buku yang saya sebut tadi.  Dan bukunya juga sudah saya berikat teman lain, biar dibaca.  Seingat saya bukunya kecil dan sampulnya berwarna coklat.  Membaca buku itu, kesan saya Pak Dino ingin menjadi juru presiden yang baik.  Informasi sekitar Pak SBY dan pemerintahannya dijelaskan dengan alur yang runtut dan bahasa yang mudah difahami.  Tampaknya dia ingin menjaga obyektivitas, walaupun tentu memilih tema-tema yang banyak sisi positifnya.  Wajar, kan memang itu tugas juru bicara.  Tugasnya menyampaikan informasi yang tentu saja dipilih yang punya dampak positif.

Apa yang mengesakan dari Pak Dino Patti Djalal?   Pertama, muda, tampan, pandai dengan karier cemerlang.  Dengan usia 48 tahun sudah menjadi duta besar, yang konon merupakan karir puncak diplomat.  Mungkin ada yang mengatakan, itu karena ayahnya diplomat senior yang dapat membantu dia saat memulai karir.  Mungkin ada benarnya .  Namun kalau dia tidak pandai tentu tidak akan sampai puncak karir di usia semua itu.  Apalagi duta besar di Amerika Serikat yang konon “Dubes Kelas A”.  Juga tidak akan dipilih Pak SBY sebagai juru bicara urusan luar negeri, kalau tidak pandai.

Kedua, penuh optimisme.  Selama 30 menit Pak Dino sepertinya ingin meyakinkan semua pihak bahwa masa depan Indonesia cerah.  Pada kartu namanya juga dituliskan “betapa besarnya Indonesia”.  Misalnya “world largest (stable & multiethnic) democracy, emerging economy of the 21st century, southeast asia’s largest country and economy”.  Ketika menjelaskan tentang diaspora, dia sangat bangga dengan banyaknya orang Indonesia yang sukses di luar negeri.  Katanya rata-rata pendapatan orang Indonesia yang tinggal di Amerika lebih tinggi dibanding orang Amerika Serikat sendiri.  Sepertinya dia ingin mengatakan bahwa orang Indonesia tidak kalah dengan orang Amerika Serikat jika mendapat kesempatan.  Dan jika mereka itu dapat dirangkul, akan memberikan manfaat besar bagi bangsa Indonesia.

Ketiga, berorientasi ke jauh depan dengan pola sinergi.  Pikiran yang disampaikan dalam waktu pendek (sekitar 15 menit) menunjukkan kalau Pak Dino tidak mau terjebak pikiran masa lalu dan terjebak dengan pola kotak-kotak.  Dia memberi contoh, bagaimana Vietnam yang dulu berperang sekian lama dengan Amerika Serikat, sekarang justru aktif untuk saling bekerjasama.  Dia menunjukkan walaupun dalam hal tertentu antara China dan Amerika Serikat memiliki perbedaan, tetapi keduanya berusaha bekerjasama.  Biarlah masa lalu menjadi bagian dari sejarah.  Kita harus belajar dari sejarah itu, untuk tidak mengulang bagian yang tidak baik dan mengembangkan bagian yang baik.

Mencoba mencermati Dino Patti Djalal, membuat saya teringat tokoh muda lainnya.  Anies Baswedan yang penuh dengan gagasan cemerlang, antara lain Indonesia mengajar.  Sandiaga Uno yang berhasil memanfaatkan keterpurukan akibat kehilangan pekerjaan di era krisis dan keluar menjadi pengusaha muda sukses.  Gumilar, mantan rektor UI yang penuh ambisi untuk membangun universitasnya.  Dan masih banyak lagi, tokoh muda yang ahli di bidangnya dan penuh dedikasi untuk memajukan bangsa Indonesia.

Saya juga teringat menjelang kemerdekaan dan awal kemerdekaan Indonesia.  Bung Karno saat berjuang bersama teman-temannya memerdekaan Indonesia berusia muda dibawah 50 tahun.  Saya tidak tahu pasti berapa usia Bung Hatta, Syahrir dan tokoh-tokoh lain.  Namun rasanya juga muda.

Kalau boleh memberi catatan kecil, kadang-kadang tokoh muda terlalu “terbang diangkasa”.  Saya teringat, suatu saat ada rombongan anak-anak muda brilian yang mengurus asosiasi nano teknologi.  Sungguh membangakan, mereka muda belia tetapi sebagian besar doktor lulusan perguruan tinggi ternama di negara maju.  Saat itu mereka bercerita apa yang dia kerjakan saat studi di luar negeri dan ingin lakukan ketika kembali ke tanah air.  Semuanya terkait dengan gagasan “besar” dengan teknologi modern.

Kebetulan salah seorang dari mereka berasal dari Pasuruan.  Ketika mereka selesai menyampaikan gagasan besarnya, saya bertanya apa yang dapat dibantukan kepada para pembuat onderdil mobil “tembakan” di Bangil dan Waru Sidoarjo.   Mereka itu membuat berbagai komponen mobil dengan teknologi sederhana.  Harganya sangat murah dan tentu mutunya juga rendah.  Apakah nano teknologi dapat membantu mereka?

Sepertinya mereka agak kaget.  Namun kemudian muncul gagasan yang menurut saya sangat bagus.  Pertanyaan yang saya ajukan tampaknya merangsang anak-anak muda itu mencari cara memecahkan masalah keseharian saudara-saudaranya di kampung halaman.  Mendengar itu, dengan sangat gembira saya katakana: “Bukankah sebaik-baik orang adalah yang memberikan manfaat kepada sekitar.”  Dan menurut Drew Boyd dan Jacog Goldengerg (2013) untuk memecahkan masalah tidak selalu harus out of the box.  Berpikir inside the box artinya memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita untuk memecahkan masalah yang kita hadapi.  Bukankah tugas kehidupan adalah memecahkan masalah secara kreatif tetapi dengan penuh kearifan.

Dahlan Iksan mungkin dapat menjadi inspirasi bagaimana berpikir memecahkan masalah secara kreatif.  Selalu ada ide untuk memecahkan masalah yang selama  ini “buntu”.  Teman-teman di Dompet Du’afa juga dapat menjadi contoh bagaimana memecahkan masalah nasib kaum papa dengan mendayagunakan potensi masyarakat. Pak Nuh dengan gagasan beasiswa Bidik Misi juga dapat menjadi contoh terbosan dari arah yang lain.  Pak De Karwo dengan gagasan Jamkrida juga merupakan contoh bagaimana memecahkan masalah kesulitan pedagang kecil mendapatkan kredit perbankan. 

Semoga tokoh-tokoh muda yang saat ini telah muncul di permukaan maupun yang belum muncul tetap konsisten berjuang membangun bangsa.  Mereka yang lebih muda, yang saat ini masih menjadi mahasiswa diharapkan banyak belajar dari mereka.  Indonesia memerlukan pemikian dan vitalitas kerja mereka untuk memasuki era kesejagatan.  Beberapa orang yang saya sebutkan tadi (dan tentu masih banyak yang lain) dapat menjadi inspirator. Semoga.

Tidak ada komentar: