Rabu, 21 Desember 2022

GILI TRAWANGAN

Walaupun sudah sering ke Lombok, baru kali ini saya menyeberang ke Gili Trawangan, setelah mengelilingi Gili Air dan melintas di dekat Gili Menu.  Menurut saya sungguh indah dan sangat potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata skala internasional. Memang saya sudah sering mendengar bahwa di Gili Trawangan tidak ada mobil dan motor dan tidak ada kendaraan bermotor lainnya. Di samping untuk menjaga polusi bahan bakar, konon supaya “situasi alam” tetap terjaga. Ternyata itu benar.  Sudah ada scoter listrik. Mungkin ini jalan tengah.

Setelah ada pemekaran, tiga pula Gili tersebut di atas masuk wilayah Kabupaten Lombok Utara, sehingga dari dermaga kecil-tradisional sebelah utara Malaka itu kami, rombongan LAMDIK menyeberang.  Oleh pemandu, sebelum menyeberang kami ditanya, siapa yang akan snorkling, siapa yang akan manja – hanya melihat ikan dan karang dari kaca perahu, dan siapa yang akan langsung Goli Trawangan.  Tampaknya perahunya berbeda.  Anak-anak muda banyak yang memilih snorkling, sementara semua yang tua, termasuk saya, memilih manja.

Karang yang terlihat di sekitar Gili Air ternyata tidak seindah yang saya bayangkan.  Saya membayangkan ujung-ujung karang itu berwarna-warni, cerah dan bergerak-gerak bagai daun ditiup angin sepoi-sepoi.  Karang di sekitar Gili Air tampak kusam dan tidak banyak yang punya ujung berwarga cerah. Sangat sedikit yang bergerak mengikuti ombak.  Saya tidak tahu dan memang bukan ahlinya, apakag itu tanda-tanda karang yang rusak atau memang aslinya seperti itu.  Jika itu rusak, mungkinkah karena terlalu banyak polusi akibat banyaknya perahu yang lalu lalang membawa wisatawan?  Tampaknya perlu ahli yang meneliti agar ditemukan solusi yang terbaik.

Bagaimana dengan ikannya?  Melalui kaca di perahu, saya melihat ikan kecil-kecil berwarna warni. Cukup indah.  Ikan-ikan tersebut sepertinya sudah “jinak”, karena ketika kami melempar potongan roti kecil-kecil, mereka memakannya.  Jadi tidak takut dengan orang.  Apakah pemberian makanan (roti) seperti baik untuk kelestarian ikan atau justru sebaliknya, saya tidak tahu.  Seandainya berakibat kurang baik, mungkin perlu pengumuman dan para pemandu wisata memberitahukan kepada para tamu.

Kami tidak sempat singgah (naik ke pulau) baik di Gili Air maupun Gili Menu.  Memang fokusnya wisata air dan waktunya tidak cukup kalau mendarat ke kedua pulau tersebut. Oleh karena itu setelah puas menikmati pemandangan air di sekitar Gili Air, langsung menuju Gili Trawangan untuk makan siang dan wisata di daratannya.  Dalam perjalanan, termasuk saat keliling di Gili Air kami menjumpai banyak sekali wisatawan yang sedang snorkling. Kebanyakan wisata asing (bule) yang melakukan snorkling secara rombongan dan agak jauh dari pantai. Tampaknya perahu yang mengantarkan juga berjaga disekitar para snorkler itu.  Mungkin jaga-jaga yang kalau ada sesuatu yang harus ditolong.

Sampai di Gili Trawangan, sungguh saya kagum.  Pulau itu dikelilingu jalan paving selebar sekitar 4 meter. Tidak ada bangunan diantara jalan dengan pantai. Yang ada kursi-kursi untuk wisatawan yang makan atau minum, sedangkan warung atau restorannya di seberang jalan.  Di antara jalan paving dengan pantai atau jalan khusus untuk pejalan kaki dengan ketinggian sekitar 15 cm di atas jalan paving.  Di bibir pantai ditumbuhi pepohonan besar-besar, sehingga pejalan kaki maupun wisawatan yang makan atau minum berada di keteduhan.  Sungguh nyaman.

Yang menarik ada Balai Pengobatan yang di papannya tertulis melayani BPJS dan ada dokter on call.  Di samping resoran dan cafĂ© juga ada hotel.  Ada juga tempat untuk belajar snorkling dan diving.  Juga ada masjid yang cukup besar dengan halaman cukup luas,  luayan bersih dengan air wudhu yang melimpah.  Saat kami ikut sholat dhuhur jama’ah juga cukup banyak.  Di beranda masjid akan tempat yang infonya untuk mengaji. Tidak ada penjaja souvenir seperti di tempat wisata lain, sehingga wisatawan tidak terganggu oleh mereka.  Memang ada penjual souvenir, tetapi di beberapa kios di tepi jalan.

Karena tidak ada kendaraan bermotor, yang lalu lalang di jalan adalah cidomo dan sepeda.  Memang banyak speda yang dapat disewa. Juga da beberapa scoter listrik yang juga dapat disewa. Namun sepertinya yang paling banyak disewa adalah speda.  Naik cidomo berkeliling Gili Trawangan bertaif 150 ribu.

Pengamatan saya jumlah wisatawan asing dan domestik sebanding.  Mungkin sedang awal liburan sekolah, sehingga banyak anak-anak yang dibawa orangtuanya berwisata ke Gili Trawangan.  Seperti di daerah lain, wisatawan banyak yang hanya memakai celana pendek dan yang wanita banyak memakai bikini.  Sementara wisatawan domestik umumnya memakai kaos dan celana Panjang.

Gili Trawangan cukup bersih.  Namun masih perlu dirapikan.  Karena cuaca panas dan di pantai, akan sangat baik jika di beberapa tempat di tepi jalan ada tempat cuci tangan dan cuci kali setelah wisatawan bermain air di pantai. Tempat sampah juga perlu ditambah dengan dipilah untuk sampah organik dan non organik.  Terlepas dari kekurangan itu, pengaturan di antara jalan dengan pantai tidak ada bangunan dan tidak ada kendaraan bermotor, juga tidak ada pedagang asongan merupakan awal kebijakan yang sangat baik.

Senin, 05 Desember 2022

SEKOLAH MASA DEPAN (2)

Di penghujung bulan November 2022, saya berkesempatan ikut acara LAM Kependidikan di Jakarta. Acara yang bertema Arah Perkembangan Pendidikan Tinggi Di Era Digital, dihadiri oleh Prof. Dr. Mohammad Nuh - mantan Menteri Pendidikan, Prof. Intan Ahmad, PhD – mantan Dirjen Belmawa Kemristekdikti, Bahrul Hayat, PhD – mantan Sekjen Kementerian Agama, dan Prof Ganefri, PhD – Rektor Univ Negeri Padang sekaligus Ketua ALPKNI. Acara dikemas dalam bentuk FGD, sehingga terjadi diskusi yang menarik.  Saya ingin berbagi catatan saya dalam acara tersebut yang ternyata gayut dengan tulisan saya di blog ini beberapa hari lalu.

Yang dimaksud “sekolah” pada tulisan ini bukan SD, SMP, SMA, SMK saja tetapi juga mencakup pendidikan formal lainnya, termasuk perguruan tinggi.  Memang yang dibahas pada acara tersebut fokus pada pendidikan tinggi, tetapi menurut saya juga berlaku di dunia persekolahan (SD,SMP, SMA, SMK, MI, MTs, MA dan sejenisnya).  Pokok semua jenis pendidikan formal.  Berikut ini catatan saya:


 1.   Sekolah adalah persiapan bekerja dan mengarungi kehidupan kehidupan bermasyarakat.

 

Problem kehidupan tidak dapat difahami dan dipecahkan dengan pendekatan monodisplin.  Oleh karena ini pola pikir disciplined mind harus dilengkapi synthesizing mind, yaitu mensintesiskan dua atau lebih disiplin ilmu untuk memahami dan memecahkan masalah. Untuk mensintesiskan dua atau lebih displin ilmu diperlukan kemampuan berpikir kritis, agar mampu mengaitkan satu dengan lainnya. 

 

Dalam kehidupan selalu muncul problem baru, oleh karena itu pola pikir harus dilengkapi dengan creative mind, sehingga berpikir kreatif harus ditumbuhkan kepada siswa.  Namun karena kreativitas akan memunculkan hal-hal baru dan itu memungkinkan timbulnya perbedaan pandangan, maka respectful mind sangat diperlukan.  Pada akhirnya semua itu harus memperhatikan norma dan etika yang berlaku, sehingga ethical mind menjadi landasannya.  Kelima pola pikir yang dikembangkan oleh Howard Gardner tersebut (disciplined mind - synthesizing mind - creative mind - respectful mind - ethical mind) harus ditumbuhkembangkan pada siswa secara utuh dan seimbang.

 

2.   Dari hind sight ke in sight dan terus ke fore sight untuk memecahkan masalah.

Dalam menerapkan lima pola pikir untuk memecahkan masalah diperlukan pergeseran pola pikir dari hindsight ke insight dan selanjutnya ke foresight. Tahap berpikir hindsight yang berusaha mendeskripsikan fenomena yang terjadi memang dapat menjelaskan fenomenanya, namun tidak dapat menjelaskan mengapa itu terjadi. Dalam kecelakaan lalu lintas, pola pikir hindsight menjelaskan kejadian itu secara rinsi, tetapi tidak menjelaskan mengapa kecelakaan itu bisa terjadi. Untuk itu diperlukan pola pikir insight yaitu menganalisis dengan synthesizing mind mengapa itu terjadi.

 

Jika sudah menemukan penyebab terjadinya kecelakaan tentu perlu dicari cara mencegahnya secara kreatif dengan memperhatikan norma dan nilai-nilai yang berlaku di daerah setempat.  Sebaliknya jika fenomena yang terjadi diharapkan terulang kembali, misalnya siswa yang antusias mengikuti pelajaran, maka harus dicari Langkah agar itu terulang kembali.  Itulah yang disebut foresight.  Hindsight- insight – foresight itulah yang harus ditumbuhkan kepada siswa/mahasiswa sesuai dengan konteksnya.

3.   Borderless Eduaction.

 

Dua puluh tahun lalu Kenichi Ohmae menulis buku Borderless World, dan kini untuk pendidikan sudah terbukti.  Dengan penduduk sangat besar dan merupakan negara berkembang dengan mutu pendidikan belum bagus, Indonesia seakan menjadi pasar pendidikan bagi sekolah/universitas dan negara maju.  Iklan, seminar, dan agen pendidikan yang membantu anak Indonesia menempuh pendidikan di negara lain terus bermunculan.  Jika itu dianggap mahal, kemudian sekolah/universitnya “dipindah” ke Indonesia, sehingga sekolah luar negeri “membuka cabang” di Indonesia dengan berbagai nama.

 

Yang tertarik untuk membuka sekolah luar negeri di wilayah Indonesia ternyata tidak hanya pemilik sekolah di negara maju.  Banyak orang Indonesia yang juga menginginkan. Karena ini biayanya terjangkau, maka yang dikembangkan adalah sekolah Indonesia tetapi menggunakan kurikulum dari luar negeri dan atau sistem pendidikannya.  Teknologi digital ternyata juga menjadi pendukung fenomena ini karena memudahkan penerapan sistem tersebut.

 

Jumlah sekolah luar negeri yang membukan cabang di wilayah Indonesia dan sekolah Indonesia yang menggunakan kurikulum asing terus betambah , sehingga borderless education sudah terjadi di negeri ini.  Tentu ada plus-minusnya.  Plusnya, anak Indonesia dapat lebih mudah mendapatkan pendidikan berkelas luar negeri. Minusnya terjadi segmentasi, karena sekolah-sekolah tersebut mahal sehingga hanya anak dari keluarga kaya yang dapat menjangkaunya.  Segmentasi memang sesuatu yang alamiah. Namun itu harus diminimalkan. Tugas pemerintah dan kita semua untuk mencari cara meminimalkan gap tersebut.

 

4.      Personalized Digital Learning

Generasi Z ternyata sangat percaya diri, punya kemandirian dan aspirasi yang sangat kuat. Mereka cenderung ingin menentukan sendiri apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara belajarnya. Oleh karena itu pola pendidikan seperti sekarang ini sudah lagi tepat bagi mereka.  Personalized digital learning akan menjadi alternatifnya.  Mereka diberi kesempatan menentukan apa yang ingin dipelajari dan bagaimana cara belajarnya. Tentu diperlukan guru sebagai pendamping, mulai dari pemilihan materi dan mempelajarinya.  Heutagogy dengan self-determined merupakan pola yang cocok.

Personalized digital learning diyakini para ahli mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa, karena mereka mempelajari sesuatu yang diinginkan. Namun, di sisi lain memerlukan persiapan yang matang.  Sekolah harus menyediakan guru yang mampu menangani. Bukan sekedar menguasai materi ajar, lebih dari itu dapat memahami bahwa tujuan pembelajaran bukan untuk penguasan materi kurikulum, tetapi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa.