Minggu, 10 Maret 2024

TIMOR LOROSAE

 Tanggal 6 – 9 Maret 2023 saya mengikuti delegasi LAMDIK ke Timor Leste, untuk melakukan penandatangan MoU dengan ANAAA (AGENCIA NACIONAL PARA A AVALIACAO ACREDITACIO ACADEMICA), Lembaga Akreditasi Perguruan Tinggi milik Pemerintah Timor Leste. Jadi ANAAA  semacam BAN PT di Indonesia.  Kami berangkat dari Surabaya ke Denpasar tanggal 6 Maret sore hari dan terbang dari Denpasar ke Dili tanggal 7 Maret pagi. Tidak ada penerbangan langsung dari Surabaya ke Dili, jadi harus via Denpasar dan hanya ada dua penerbangan Denpasar Dili, dengan Citilink atau Aero Dili.  Kami memilih terbang dengan Citilink, sehingga dapat connecting flight.

Sebagai ketua delegasi saya menyiapkan pidato pendek, karena di rundown acara akan dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi Timor Leste.  Ternyata Menteri Pendidikan Tinggi tidak dapat hadir, yang hadir President of Board of ANAAA (kalau tidak salah namanya Dr. Edmundo Viegas) dan Direktur Ekskutif ANAAA (Dr. Nilton Paiva Mau) serta dihadiri oleh utusan dari 19 perguruan tinggi di Timor Leste.  Saya sudah mendengar kalau keduanya pernah kuliah di Indonesia, tetapi kaget ketika memberi sambutan menggunaka bahasa Indonesia dan lancar. Akhirnya teks sambutan yang saya siapkan dengan bahasa Inggris tidak jadi saya gunakan dan saya menyambut dengan bahasa Indonesia.  Kan aneh, orang Timor Leste menyambut dengan bahasa Indonesia, terus orang Indonesia menyambut dengan bahasa Inggris.

Setelah acara penandatangan MoU selesai, diselingi break sebentar, dilanjutkan dengan penjelasan pola akreditasi dari LAMDIK beserta instrumennya.  Memang inti MoU, LAMDIK akan melakukan akreditasi kepada program studi Kependidikan di perguruan tinggi di Timor Leste, bekerjasama dengan ANAAA. Penjelasan disampaikan oleh Prof Joko Nurkamto dan Prof Yuni Sri Rahayu, dipandu oleh Prof Pratiwi, semua menggunakan bahasa Indonesia, walaupun ppt dibuat dengan bahasa Inggris.  Ketika ngobrol sambil makan siang, kami tahu bahwa hampir semua utusan universitas yang hadir pandai berbahasa Indonesia. Bahkan saya tidak mendengar mereka berbahasa Inggris.

Selesai makan siang, kami sholat Jum’at di masjid An-Nur yang berada di Kampung Alor, ditemani Atdikbud RI di Timpor Leste, Prof Ikhfan Haris, dosen Universitas Negeri Gorontalo yang juga sebagai asesor LAMDIK. Konon daerah tersebut dahulu dihuni oleh para nelayan dari Pulau Alor, sehingga disebut kampung Alor.  Masjid An-Nur cukup besar, walaupun tampak kurang terawat. Jama’ah cukup banyak, dan di sebelah masjid ada sekolah.  Yang menarik kotbah menggunakan bahasa Indonesia.  Jadi sangat mungkin sebagian besar jama’ah berbahasa Indonesia. 

Kalau orang dewasa itu mudah dimengerti, karena saat anak-anak Timor Leste masih merupakan bagian dari Indonesia.  Bagaimana dengan anak-anak?  Bukankah di sekolah menggunakan bahasa Tetun dan kuliah menggunakan campuran bahasa Tetun dan bahasa Portugis?  Menurut Pak Atdibud dan juga oleh staf hotel tempat kami menginap, banyak keluarga yang sehari-hari di rumah menggunakan bahasa Indonesia, karena orang tua mereka berbahasa Indonesia.  Apalagi chanel TV Indonesia, seperti RCTI, CNN, Indosiar, MetroTV dan TV One merupakan tototan sehari-hari orang Timor Leste.

Setelah sholat Jum’at kami mengunjungi Instituto Superior Cristal (ISC) yang merupakan salah satu perguruan tinggi yang akan diakreditasi oleh LAMDIK. Kami ditemui oleh Ketua Yayasan Cristal, Rektor, Wakil Rektor dan para Dekan serta Direktur Pascasarjana.  Sangat menarik Ketua Yayasan, Rektor, Wakil Rektor dan Direktur Pascasarjana semua lulusan Malang. Bahkan Wakil Rektor 1, baru wisuda di Univ Muhammadiyah Malang.  Jadi sambutan dan tanya jawab menggunakan bahasa Indonesia, bahkan saya sempat berkelakar “ternyata disini banyak KERA NGALAM”.

Setelah dari ISC, kami mengunjungi Universidate Oriental de Timor Lorosa’e (UNITAL). Sebenarnya UNITAL tidak termasuk perguruan tinggi yang akan diakreditasi oleh LAMDIK periode ini.  Tetapi karena Wakil Rektor I-nya lulusan Unesa, Dr. Antonio Guteres, dan saya sempat memberi kuliah kepada beliau menempuh S3 di Unesa. Sama dengan di ISC semua pimpinan pandai berbahasa Indonesia. Bahkan ada dua pimpinan yang orang Indonesia.

Ketika acara selesai, kami diantar pimpinan UNITAL ke halaman menunggu mobil jemputan.  Ketika itu saya bertanya apa arti kata “LOROSA’E”.  Mengapa saya bertanya, karena ada beberapa universitas yang menggunakan kata Lorosa’e dan bukan Timor Leste.  Ternyata Lorosa’e itu bahasa Tetun artinya Timor Timur. Timor Leste itu bahasa Portugis yang artinya juga Timor Timur.  Jadi ada yang menggunakan bahasa Tetun ada yang menggunakan bahasa Portugis untuk makna yang sama. 

Senin, 04 Maret 2024

APAKAH KITA MASIH MEMERLUKAN SEKOLAH?

Minggu 11 Februari 2024 saya bertemu dengan Drs. Alimudin, MSi, Deputi Bidang Sosial dan Budaya IKN (Ibu Kota Negara) di Jogyakarta.  Pertemuan dijembatasi oleh Dr. Santi Ambarukmi, M.Ed, Direktur Pembinaan Guru PAUD Kemdikbudristek.  Beberapa hari sebelumnya, Mbak Santi, begitu saya biasa memanggil, mengontak saya dan mengatakan Pak Alimudin ingin ketemu untuk diskusi tentang Peta Jalan Pendidikan di IKN.  Terdorong ingin tahu siapa beliau, saya coba Googling dan ketemu, bahwa beliau sebelumnya pernah menjadi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten PPPU (Penajam Pasir Utara).

Tanggal 11 Februari 2024 sore kami ketemu di Hotel Grand Mercure dan diikuti juga oleh beberapa orang, antara lain Pak Alimudin, Mbak Santi, Mbah Dian (Plt Karo Ortala Kemdikbud), Pak Suwito dan Pak Panggih. Dua terakhri adalah staf Pak Alimudian di IKN.  Di awal pertemuan, Pak Alimudin menjelaskan ingin punya Peta Jalan Pendidikan di IKN, yang berbeda dengan pendidikan selama ini.  Mengutip pengarahan presiden Jokowi, IKN harus menjadi model pendidikan yang cocok untuk masa depan. Regulasi di IKN memberi peluang luas untuk merancang persekolahan dan pendidikan tinggi yang berbeda dengan yang selama ini ada dan tidak harus mengikuti begitu saja regulasi Pemerintah Pusat.

Ketika diberi kesempatan berbicara, saya bertanya “Apakah IKN masih memerlukan sekolah?”.  Tampaknya beberapa teman yang hadir agak bingung dengan pertanyaan saya.  Bukankah kita sedang mencari bentuk pendidikan di IKN, artinya bagaimana pola pesekolahan dan pendidikan tinggi.  Kalau tidak ada sekolah, terus seperti apa?  Begitu dugaan saya, apa yang dipikirkan beberapa teman merespons pertanyaan saya.  Oleh karena itu saya mengatakan itu hanyalah pertanyaan untuk mendorong apakah pola pendidikan, dalam arti persekolahan dan pendidikan tinggi sekarang ini masih relevan dengan perkembangan ilmu dan teknologi.

Untuk memberikan gambaran yang saya mengutip ungkapan Charles  Handy (2009) yang mengatakan “We need totally new kind of schooling, which not about learning knowledge and facts. Those are necessary but that’s are very easy to get now.  The students must know what to do with all those knowledge and how to do it”.  Saya juga mengutip temuan Jim Clifton (2016) (chairman dari dari Gallup) yang mengatakan saat mencari karyawan baru Google (Perusahaan di bidang IT) dan EY (Perusahaan di bidang Keuangan) tidak menanyakan si calon lulusan mana dan bidangnya apa, tetapi bertanya punya kemampuan apa yang diyakini dapat ikut memajukan Google atau EY.  Clifton meyakini pola seperti itu akan diikuti oleh perusahaan lain, karena ke depan yang dipentingkan adalah kompetensi dan bukan ijasah.  Seperti juga disebutkan oleh Jorgen Muller (2012) dalam buku How Asia Can Shape the World, bahwa pendidikan ke depan tidak penting apa levelnya dan berapa lamanya, tetapi lulusannya bisa apa.

Seperti halnya ide de schooling society dari Ivan Illich, pertanyaan “apakah IKN masih memerlukan sekolah” itu untuk memancing seberapa kita berani mengubah pola sekolah dan universitas yang sekarang ini ada.  Sekolah dan universitas masih tetap diperlukan, tetapi sangat mungkin bukan yang seperti sekarang ini ada.  Jika MOOC (massive open online course) telah menjadi era baru dalam mengenal matakuliah dari berbagai universitas hebat di dunia, Coursera telah menjadi semacam Tokopedia tetapi yang ditawarkan matakuliah dari beberapa universitas ternama di dunia, apakah pola persekolahan termasuk pendidikan tinggi yang sekarang ini berjalan masih cock?  Bukankah anak muda dan bahkan orang dewasa akan belajar dari matakuliah (paket belajar) yang di MOOC atau yang ditawarkan oleh Coursera?

Sekitar 15 abad lalu, Ali bin Abi Thalib mengatakan “didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka tidak hidup di zamanmu”.  Seakan memperjelas ungkapan Ali bin Abi Thalib, Trilling dan Fadel mengatakan “Jika ingin merancang pendidikan, pikirkan seperti apa situasi dunia 20 tahun yang akan datang, saat anak sudah lulus dan terjun bekerja dan bermasyarakat. Berdasar itu, pikirkan kemampuan apa yang diperlukan untuk dapat sukses di masa itu. Kemampuan itulah yang harus dikembangkan melalui pendidikan”.   Pertanyaannya apakah pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi saat ini melakukan hal itu?  Artinya mengajarkan kemampuan yang yang diperlukan 20 tahun akan datang?  Dugaan saya tidak.

Saat ini isi pendidikan di sekolah maupun perguruan tinggi fragmented.  Siswa dan mahasiswa harus belajar matapelajaran/matakuliah secara terpisah, sesuai disiplin ilmunya.  Mereka tidak dipandu bagaimana mensintesakan berbagai bidang ilmu ilmu.  Ditambah lagi, seringkali guru dan dosen sangat membanggakan bidangnya, sehingga mendorong siswa/mahasiswa mendalami menekuni tanpa menggandengkan bidang lain.  Pada hal Garner (2011) telah mengatakan ke depan diperlukan perubahan mindset, dari disciplinary mind menjadi synthesizing mind, creative mind, respectful mind dan ethical mind.

Lantas seperti apa seharusnya persekolahan dan pendidikan tinggi ke depan?  Bukankah dengan perkembangan iptek yang sangat cepat dan bahkan seringkali discontinuous sangat sulit untuk memprediksi keadaan 20 tahun mendatang?  Karena sulit memprediksi keadaan 20 tahun mendatang, otomatis juga sulit memprediksi kemampuan yang diperlukan. Oleh karena itu, pendidikan harus menumbuhkembangkan kemampuan yang diyakini akan diperlukan dalam situasi apapun plus kemampuan dan kemauan untuk belajar cepat, beradapatsi dengan perkembangan baru.   Berarti pendidikan harus menekankan kepada capability dan life long learning. Pendidikan memberikan pondasi (basic skills) yang kokoh dan kemampuan belajar (learning to learn).   Semoga.

Sabtu, 02 Maret 2024

BERBAGI DAN MINTA MAAF

 Saya punya dua cucu yang sudah masuk TK sejak tahun 2022. Keduanya laki-laki.  Mereka tidak tinggal serumah, karena anak dari dua keluarga yang berbeda.  Rumah di kota yang lahannya sangat kecil, sehingga tidak punya tempat bermain yang leluasa.  Tinggal di perumahan yang pintu pagar selalu dikunci, sehingga anak-anak tidak bebas main di jalan atau main ke tetangga.

Semestinya mereka sudah masuk TK pada tahun 2021. Namun karena masa pandemi dan sekolah dilaksanakan secara online, kedua keluarga tersebut memutuskan menunda memasukkan ke KB atau TK dengan alasan di KB dan TK itu lebih banyak belajar sosialisasi dan pembiasaan ini dan itu.  Kalau online tentu tidak maksimal.  Jika nanti sekolah masuk beneran, orangtuanya takut anaknya ketularan covid. Apalagi anak seusia itu belum vaksin dan tentu tidak mudah kalau harus pakai masker, menjaga jarak dan sebagainya. 

Akhirnya mereka memutuskan “mendidik sendiri” dengan mencari berbagai referensi.  Karena harus belajar bersosialiasi dan masih takut ketemu dengan “orang luar”, ujung-ujungnya dua anak kecil itu sering dipertemukan di rumah saya, rumah kakeknya.  Saya akhirnya juga ikut mengamati dan membantu mengasuhnya.  Rumah kamipun seperti ruang belajar KB dan TK. Kursi dan perabotan dipinggirkan, barang-barang yang mudah pecah disembunyikan. Bola, balon, puzzle dari kayu dan berbagai permainan disediakan. Seringkali keduanya berlarian di halaman atau bahkan di jalan depan rumah.

Ibu dan kedua anak itu tampak sabar menemani mereka secara bergantian. Mengajari ini-itu, membiasakan ini-itu.  Pengalaman mereka ketika di TK tampaknya diterapkan, disamping dari bacaan.  Seringkali keduanya diputarkan video edukasi.  Tampaknya, dengan memutuskan menunda anak-anaknya ke KB/TK, kedua orangtuanya menyiapkan banyak hal.  Termasuk menyediakan alat bermain edukatif.

Saya yang mengamati jadi belajar banyak hal.  Ternyata berbagi (sharing) dan meminta maaf adalah dua hal yang paling tidak mudah ditumbuhkan.  Untuk mencuci tangan dan berdo’a sebelum makan, salinng membantu ketika mengerjakan sesuatu tampaknya lebih mudah.  Tetapi ketika harus berbagi mainan ternyata tidak mudah.  Kata “hayoo sharing” akhirnya menjadi teriakan yang paling sering terdengar dari ibunya. Sampai tulisan ini dibuat tampaknya kesadaran untuk sharing itu juga belum tumbuh maksimal.  Sudah mau sih, tetapi seringkali menunggu ibunya berteriak “hayoo sharing”.   Berbagi yang lebih mudah kalau membaca buku, lebih tepatnya melihat gambar cerita atau melihat video.  Tetapi untuk mainan tampaknya masih harus menunggu ibunya meminta berbagi.

Kami, kakek dan orangtua kedua anak itu sepakat anak-anak sejak diri harus dikenalkan bahwa ada barang-barang “milik bersama” yang penggunaannya harus berbagi. Istilah “milik bersama” penting ditumbuhkan sebagai bekal ketika dewasa agar tidak menggunakan fasilitas umum seenaknya. Agar mau memberi kesempatan orang lain juga menggunakan.  Agar saat menggunakan fasilitas umum selalu ingat juga ada orang lain yang menggunakan.  Saat pergi bersama, saya sering mengatakan kalau berkendara di jalan raya harus ingat bahwa ada orang lain yang juga berkendara, sehingga tidak boleh seenaknya. 

 Mengantri dapat menjadi salah satu contoh berperilaku “berbagi”.  Kita sering mengamati adanya orang yang menerobos saat yang lain mengantri. Itu sering terjadi di bandara, saat check in dan antri masuk pesawat.  Pada hal, orang naik pesawat tentunya cukup punya uang.  Artinya kekayaan dengan kesediaan untuk mengantri tidak selalu paralel.  Saya juga pernah melihat mobil bagus yang parkir di tempat penjemputan di bandara, sehingga menghalangi mobil lain.  Anak muda yang mobilnya terhalang menggerutu “kaya tapi nggak tahu aturan”.

Minta maaf ternyata juga tidak mudah untuk ditumbuhkan.  Pada hal, sudah sejak kecil keduanya dibiasakan saling merangkul ketika akan berpisah.  Biasanya ibunya meminta “hayoo big heart”.  Namun kalau membuat kesalahan, misalnya merebut mainan terus disuruh minta maaf sangat sulit. Biasanya harus berulang kali menyuruhnya.  Dan itu terjadi pada keduanya. Artinya kedua anak itu sulit untuk meminta maaf. Orangtua sering harus memaksa anaknya untuk meminta maaf saat merebut mainan saudaranya atau membuat kesalahan lain. Itu memerlukan kesabaran karena si anak lama sekali baru mau minta maaf.

Yang cukup menggembiarakan, kedua anak itu mudah untuk mengatakan terima kasih. Walapun harus diingatkan. Tetapi begitu diingatkan “bilang terima kasih dong”, biasanya langsung mengucapkan terima kasih. Biasanya mengucapkan terima kasih sambil nyengir.

Apakah kecenderungan sulit berbagi dan meminta maaf itu juga terjadi pada anak-anak kecil, jujur saya tidak tahu.  Apakah itu hanya terjadi pada cucu saya, saya juga tidak tahu. Pada hal, menurut saya “berbagai, minta maaf dan berterima kasih saat diberi sesuatu” merupakan tiga hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita dapat menumbuhkan kebiasaan itu kepada anak-cucu kita.