Sabtu, 29 Februari 2020

APA SETIAP MENTERI HARUS PUNYA TRADE MARK YA?


Mungkin istilah trade mark tidak tepat, tetapi saya tidak tahu istilah lain yang lebih cocok.  Yang saya maksud, apakah setiap menteri harus punya kebijakan yang khas, yang berbeda dengan menteri-menteri sebelumnya sehingga menjadi pencirinya. Kemudian kebijakan itu diberi nama yang seakan menjadi trade mark yang bersangkutan.  Mendikbud Nugroho Notosusanto terkenal dengan PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa), Mendikbud Wardiman Djojonegoro terkenal dengan kebijakan link and match, Mendikbud Muhammad Nuh terkenal dengan Kurikulum 2013, Mendiknas Muhajir Effendi terkenal dengan kebijakan zonasi, dan Mendikbud Nadiem Makarim sekarang ini terkenal dengan kebijakan merdeka belajar. 
Bahwa setiap pejabat punya kebijakan untuk mewujudkan mimpinya saat memimpin tentu merupakan sesuatu keniscayaan.  Bukankah seorang pejabat pasti punya keinginan agar para eranya instansinya menjadi “seperti ini”, yang lebih baik dari era sebelumnya.  Untuk mewujudkan itu dibuatlah kebijakan guna mengarahkan seluruh warga instansi untuk bekerja keras mewujudkan mimpi tersebut.  Namun disisi lain, muncul komentar “setiap ganti menteri ganti kebijakan”.

Dalam konteks Kemdikbud, pasti setiap kebijakan tentu dimaksudkan agar pendidikan semakin baik.  Minimal, kebijakan dimaksudkan untuk mengakselerasi menuju lebih baik itu.  Namun pelaksana kebijakan dalam bidang pendidikan itu kan ribuan bahkan jutaan orang.  Bagaimana akselerasi itu terjadi tetapi pelaksana di lapangan tidak bingung. Itu yang harus dipertimbagkan.  Jika pelaksana bingung bukan mustahil mereka demotivasi atau bahkan salah langkah.  Merenungkan fenomena itu, saya jadi teringat kata-kata bijak “bagaimana dapat menangkap ikan tetapi kolamnya tidak keruh”

Saya ingat Pak Budi Kuncoro, yang sekarang menjadi staf khusus Menko Polhukam, sering meggunakan ungkapan itu.  Saat menjadi konsultan yang menangani pelatihan dosen dan guru yang mengajar di PPG, beliau tidak menggunakan istilah pelatihan tetapi capacity sharing (berbagi pengalaman, berbagi kemampuan).  Beliau menjelaskan, istilah itu digunakan agar para dosen (sebagian professor) tidak merasa digurui.  Pada hal yang melatih dosen yang lebih yunior.  Dalam pelatihan tersebut para dosen digabungkan dengan guru yang mungkin saja bekas mahasiswanya.

Kawan saya yang doktor public policy menjelaskan, kebijakan memang diperlukan atau bahkan membuat kebijakan merupakan salah satu tugas pejabat.  Mengusahakan agar kebijakan itu difahami dan diterima oleh publik merupakan tahap berikutnya yang tidak kalah rumit. Mengutip pendapat seorang pakar, kawan tadi mengatakan untuk menyusun suatu kebijakan diperlukan data yang lengkap sebagai landasan, namun ketika data tersedia lengkap belum tentu tersusun kebijakan yang baik.  Tergantung keahlian si pembuat kebijakan.  Ketika kebijakan yang baik sudah terumuskan belum tentu publik memahami dan menerimanya.  Tergantung kepandaian staf yang bertugas melakukan sosialisasi.  Dalam bagian ini diperlukan tahap negosiasi, untuk mencocokkan kebijakan dengan kondisi lapangan.

Seringkali pembuat kebijakan melupakan tahapan tersebut.  Seringkali pembuat kebijakan tidak faham kondisi lapangan yang akan terkena atau menjalankan kebijakan tersebut. Seringkali pembuat kebijakan menganggap masyarakat luas “pandai” seperti dirinya.  Gap pengetahuan dan pemikiran antara pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan dan masyarakat yang terkena kebijakan seringkali menjadi penyebab lembatnya atau gagalnya suatu kebijakan.

Apakah kebijakan harus diberi nama yang menjadi trade mark pejabat pembuatnya?  Menurut teman yang PhD publik policy, tergantung tujuan dan siatuasinya.  Jika diyakini kebijakan itu sederhana, mudah difahami dan akan membuat publik senang, pemberian nama baru tepat.  Namu jika kebijakan tersebut dapat membuat banyak orang resisten, sebaiknya tidak diberi nama.  Dilakukan saja secara bertahap, nanti jika masyarakat sudah faham dapat dimunculkan namanya.  Mengapa begitu?  Jika masyarakat tidak faham dan bahkan resisten, akan menghabiskan waktu dan enersi untuk menyelesaikannya.   Nanti malah “kolamnya keruh dan ikan semakin sulit didapatkan”.

Bagaimana dengan Kemdikbud?  Teman saya, menjawab ibarat kapal kemdikbud itu kapal induk.  Ukuranya besar, isinya beranekaragam, banyak kepentingan di dalamnya.  Coba lihat, apapun kebijakan pendidikan (untuk dasar menengah), pada akhirnya yang melaksanakan guru di sekolah.  Guru diseluruh peloson tanah air.  Berapa jenjang yang harus dilalui agar keijakan Mendikbud sampai pada guru?  Sangat Panjang dan bukan tidak mungkin terjadi distorsi.  Bagaimana dengan pendidikan tinggi?  Lebih repot, karena dosen merasa otonomi sehingga seringkali tidak begitu saja patuh pada kebijakan dari atas.  Oleh karena itu, teman tadi mengusulkan sebelum kebijakan itu diumumkan, lebih baik dilakukan “negosiasi” atau “sosialisasi” lebih dahulu dengan tanpa memberikan nama yang mungkin bisan membuat public heboh.

Selasa, 25 Februari 2020

Umroh 4: Berbagai Cara Bersodaqoh

Sudah lama kita mendengar bahwa di Masjidil Haram dan masjid Nabawi banyak orang yang merawarkan makanan saat berbuka puasa.  Saya juga pernah ditawari dan menerima, karena ada kawan memberi nasehat jika kita menerima berarti membantu si pemberi mendapat pahala. Namun pada umroh Januari saya terkejut.  Kamis tanggal 23 Januari 2020 saya berangkat awal untuk sholat magrib di masjid Nabawi, agar mendapatkan tempat di depan karena akan melanjutkan tinggal di masjid sampai sholat Insya.  Saya kaget karena shaf yang yang dibentangi plastik dan di atasnya tersedia makanan sangat banyak.  Kalau diurut dari belakang, sampai shaf di dekat ruang yang “bolong” karena atapnya bisa bergeser, semuanya tersedia makanan di atasnya.  Saya tidak tahu jumlahnya, tetapi saya menduga bisa saja sepertiga dari jumlah jama’ah atau sekitar 200.000 orang.  Dan yang juga mengagumkan ada jama’ah yang menarik jama’ah lain yang baru datang untuk mau duduk menunggu adzan dan menikmati makanan yang disediakan.

 Apakah makanan tersebut dari satu orang?  Jujur saya tidak tahu.  Mungkin saja, karena konon orang Saudi Arabia sangat kaya-kaya.  Mungkin juga dari beberapa orang atau banyak orang, karena makanannya berbeda-beda.  Namun yang pasti jumlahnya sangat banyak dibanding yang saya temui beberapa tahun lalu.  Mudah-mudahan itu merupakan semangat masyarakat untuk bersodaqoh
Dan mudah-mudahan itu dilakukan dengan tulus untuk memperoleh pahala dari Allah swt.

Tanggal 23 Januari lalu, saya ikut makan di salah satu shaft.  Ikut makan karena saya tidak puasa.  Saya memilih shaft yang depan, dengan harapan setelah itu dapat sholat di lokasi yang atapnya terbuka. Makanan yang tersaji berupa teh hangat, roti, kurma dan roti.  Setiap jama’ah mendapatkan satu paket.  Kami duduk menunggu adzan magrib sambil saling bertanya ini dan itu.  Begitu adzan magrib berkumandang, semua jama’ah segera menyantap apa yang tersedia di depannya.  Beberapa saat menjelang iqomah, plastik tempat makanan ditempatkan digulung dengan cepat, sehingga ketika iqomah berkumandang shaft sudah bisa dipakai sholat.

Karena ingin sholat di depan, begitu plastik digulung saya ijin utuk pindah. Tampaknya banyak orang seperti saya.  Buktinya begitu  plastik digulung, banyak orang berdiri dan berpindah tempat.  Oleh karena itu terjadi semacam kelucuan.  Sebelum adzan shaft yang ada makanannya penuh jama’ah yang duduk saling berhadapan.  Begitu adzan berkumandang dan selesai menyantap makanan di depannya, mereka berdiri dan pindah ke tempat yang lebih depan.
Jujur saya tidak tahu apakah setiap hari senin dan kamis di masjid Nabawi selalu tersedia makanan yang melimpah seperti yang sebutkan di atas, atau itu hanya kebutulan.  Misalnya kebetulan ada orang yang kaya, sehingga dapat menyediakan makanan begitu banyak.  Terlintas di benak saya, bagaimana dengan orang yang kurang mampu ya?  Tentu mereka tidak dapat menyediakan makanan bagi orang lain, seperti orang kaya.

Ternyata saya mendapatkan jawaban keesokan hari.  Jum’at tanggal 24 Janurai saya sengaja datang ke masjid Nabawi lebih awal.  Mengapa?  Biasanya banyak jama’ah yang hadir, sehingga khawatir tidak mendapat tempat yang baik.  Alhamdulillah, saya dengan adik yang umroh Bersama saya mendapat tempat di belakang makam Rosul.  Lokasinya sekitar 10 x 10 meter persegi dan lantainya dibuat sekitar 50 cm lebih tinggi dari lantai masjid.  Juga diberi pagar pendek, sekitar 30 cm.

Mendapat tempat sebaiknya itu, tentu saya berusaha memanfaatkannya untuk sholat, dzikir dan baca Al Qur’an.  Saya juga mencoba mencari cari agar bisa melihat Khatib saat khobah.  Bahkan jika mungkin memfoto.  Nah, disaat seperti itu saya melihat kejadian yang sungguh menyentuh hati.  Ada jama’ah yang membawa semacam teko plastik berisi air zam-zam dengan setumpuk gelas.  Yang bersangkutan berkeliling memberi air zam-zam kepada jama’ah yang memerlukan.  Ada juga jama’ah lain yang membawa gelas yang sudah berisi air zam-zam dan juga berkeliling membagian kepada jama’ah yang memerlukan.  Sungguh mulia dua jama’ah itu, karena memberikan minuman kepada jama’ah yang sedang haus.  Tidak memerlukan ‘modal’ karena air zam-zam sudah tersedia di tanki-tanki kecil.

Apakah penyediaan buka puasa yang saya amati di masjid Nabawi juga ada di Makah?  Saya menduga ya.  Oleh karena itu ketika tahu kalau Sabtu siang berangkat ke Makah, saya berniat agar pada hari Senin berikutnya dapat menyaksikan itu. Namun sayang, pada Senin 27 Januari 2020 saya tidak mendapatkan tempat yang bisa melihat banyak jama’ah.  Menjelang sholat Magrib Masjidil Haram sangat penuh dan saya kebagian di lantai dasar, di belakang bagian masjid yang sedang dibangun.  Saat itu saya berada di dekat jama’ah yang berpakaian putih dan tampak bersih serta rapi.  Nah, saat menjelang waktu buka mereka berbagi kurma dan roti.  Memang tidak banyak, karena sepertinya itu hanya lebihan yang dipakai buka mereka sendiri.

Minggu, 16 Februari 2020

Umroh 3: Terawang dari Kacamata Pariwisata


Teman saya mengatakan orang ibadah umroh seperti wisatawan yang tidak rewel.  Bahkan Yuswohadi dalam buku Middle Class Muslim Marketing menyebut umroh kini banyak dikemas dikaitkan dengan wisata religi. Yang tentu niat ibadah kental dalam semua acaranya.  Mungkin saya juga termasuk yang seperti itu.  Ketika di Madinah maupun di Makah, jama’ah termasuk saya, akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk ibadah di masjid, seperti sholat, dzikir, baca Al Qur’an, thawaf dan sebagainya, sehingga tidak terlalu memikirkan layanan yang diberikan.  Apalagi pembimbing seringkali mengingatkan bahwa niatnya umroh itu untuk ibadah.

Ketika umroh kali ini, saya mengamati nuansa wisata memang kentara.  Saya tidak tahu alasannya, tetapi semua rombongan mesti diajak untuk kunjungan ke beberapa tempat, yang punya sejarah terkait dengan haji maupun perjuangan Rosul dalam menegakkan dan menyebarkan Islam.   Nah, ketika berkunjung ke masjid Quba, Jabal Tsur, Jabal Uhud, padang Arofah dan sebagainya pedagang ternyata sangat banyak.  Bahkan di Jabal Uhud banyak anak-anak usia sekitar 10-15 tahun dan berwajah Afganistan atau sekitarnya yang menawarkan dagangan sambil berlari-lari.  Kebun kurma yang selalu menjadi tempat berbelanja di Madinah juga telah menjelma menjadi semacam took besar.  Lantai dasar dan basement hotel tempat jamaáh menginap baik di Madinah dan di Makah merupakan mall atau pertokoan dan juga da supermarketnya.

Mengamati itu saya mencoba mereka-reka kalkulasi dari sisi pariwisata secara amatiran.  Daya tampung masjid Nabawi itu 600.000 orang dan dalam situasi tertentu dapat menampung 1.000.000 orang. Pada hal selama saya di Madinah masjid selalu penuh.  Anggaplah berisi 90%, berarti ada 540.000 jamaáh di Madinah.  Konon jama’ah di Makah lebih banyak.  Katakanlah di Makah 1,5 kalinya atau sekitar 750.000.  Berarti ada 1,25 juta jama’ah setiap hari di Makah dan Madinah.  Mereka memerlukan penginapan di sekitar masjid Nabawi dan Masjidil Haram, yang tentu tarifnya cukup tinggi.  Mereka juga makan di hotel, karena tidak mau memikirkan masak.  Mereka tentu juga berbelanja, paling tidak untuk oleh-oleh.

Menurut seorang teman yang mengurusi umroh, hotel di sekitar masjid Nabawi dan Masjidil Haram selalu penuh dan bahkan harus pesan jauh-jauh hari.  Mungkin itu betul. Hotel tempat saya menginap, baik di Madinah maupun di Makah penuh jama’ah umroh.  Umumnya dari Indonesia dan Malaysia.  Pada hal hotel ‘kelas menengah atas’ sehingga tentu cukup mahal.  Lokasi sekeliling masjid Nabawi dan Masjidil Haram konon telah habis untuk hotel dan itupun katanya selalu penuh.  Mungkin benar.  Jika ada 750.000 orang jama’ah secara Bersama-sama di Makah, anggap saja 80% atau 600.000 orang ingin menginap di dekat masjid, berapa hotel yang diperlukan.  

Data tentang jumlah jama’ah tersebut tentu dapat memberikan gambaran berapa besar uang yang perputas di daerah itu.  Sewa kamar, makan di hotel maupun restoran di sekitarnya, belanja oleh-oleh dan barang lainnya. Jika dibuat sederhana, setiap orang menghabiskan uang 1,5 juta perhari, untuk sewa kamar hotel, makan siang, akan malam dan keperluan lain, maka setiap hari ada uang 600.000 x 1,5 juta rupiah atau 900 milyar rupiah atau 0,9 trilyun rupiah uang jama’ah yang dibelanjakan di Makah.  Di Madinah mungkin sedikit lebih rendah.  Dengan asumsi jama’ah di Madinah 540.000 orang dan 80% menginap di hotel, dengan tarif yang sama, maka uang jama’ah yang dibelanjakan di Madinah 0,8 x 540 x 1,5 juta = 648 milyar rupiah.  Jadi kalau uang jama’ah yang dibelanjakan di Makah dan di Madinah akan 1.540 milyar ataa 1,5 trilyun rupiah.  Jumlah yang sangat besar, sehingga masuk akal jika kedua kota itu menjadi incaran pengusaha.  Apalagi jama’ah atau wisatan religion itu tidak rewel.

Ketika data di atas saya sampaikan kepada teman, yang bersangkutan langsung menyatakan itulah hasil do’an Nabi Ibrahim, yang termuat di Al Qur’an Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).  Saya menimpali, itulah salah satu miracle Al Qur’an.

Tulisan ini mohon tidak dimaknai saya mengatakan umrah sebagai sebuah aktivitas wisata.  Tetapi sebagai pencermatan pola pikir penyedia jasa wisata ketika mereka melihat meningkatkannya jama’ah umroh.  Sebagai sering dimuat di berbagai media, pengusaha  selalu mencermati fenomena di masyarakat dan kemudian mencari peluang bisnis yang dapat dimunculkan.

Senin, 03 Februari 2020

Umroh 2: Belajar Keberagaman

Delapan hari di Madinah dan Makah saya banyak belajar, khususnya tentang keberagaman.  Tahun 2015 (kalau tidak keliru) saya sudah menulis tentang ini, tetapi kali ini rasanya saya lebih banyak lagi belajar.  Mungkin pada tahun 2015 saya hanya 2 hari di Madinah dan 2 hari di Makah, sementara kali ini dua kali lipat, sehingga saya memiliki waktu lebih banyak untuk mengamati.  Atau mungkin usia yang semakin tua, sehingga lebih mudah memahami perbedaan.  Atau mungkin juga memang kondisi saat ini berbeda dengan tahun 2015.  Oleh karena itu, saya ingin berbagi dengan pembaca.

Ketika berada di dalam masjid, baik Masjid Nabawi maupun Masjidil Haram, dan bahkan ketika di halaman, saya memperhatikan jama’ah.  Dari postur tubuh, warna kulit, wajah, rambut dan pakaian sangat beragam.  Tentu saya tidak dapat mengenali dengan tepat, tetapi hanya mengira-ira berdasar informasi dan bacaan seadaanya. Mulai jama’ah katakankah ras Melayu, mungkin dari Indonesia, Malaysia, Brunai dan sekitarnya.  Secara fisik mungkin sama atau paling tidak sangat mirip. Postus tubuhnya tidak terlalu besar, berkulit sawo matang, mata oval dan hidung relatif kecil.  Cara berpakaian juga hampir sama.  Yang membedakan mungkin kopiah, karena hanya orang Indonesia yang memakai songkok hitam.  Itu tidak semua, karena juga banyak yang memakai kopiah putih. Yang membedakan biasanya tas dan tanda pengenal.

Jama’ah dari Asia Timur, misalnya dari Cina dan mungkin Jepang dan Korea, dengan postur sedang atau sedikit lebih besar dibanding oleh Melayu, raut muka lebih bulat, berkulit putih, mata sipit, rambut lurus dan yang laki-laki berjangut tipis dan lurus. Umumnya memahami celana kombor putih dan baju mirip baju koko juga berwarna putih. Ada yang memakai kopiah putih tetapi juga ada yang menggunakan kafiyeh yang diubelkan di kepada.  Pengamatan saya, jumlah jamaah dari Asian Timur tidak banyak. Yang relative agak banyak teman-teman dari Cina bagian Barat, mungkin yang sering disebut Uighur.

Jama’ah dari Asia Selatan, India, Pakistan dan Bangglades sangat banyak.  Jujur saya tidak dapat membedakan ketiganya, kecuali yang dari India-khususnya ibu-ibu karena memakai semacam giwang di hidung.  Posturnya lebih tinggi dan kurus, berkulit sawo matang dan sedikit lebih gelap dibanding jama’ah dari Melayu. Raut muka oval, cederung tirus.  Umumnya memelihara janggut panjang yang seringkali kurang rapi. Bercelana dengan panjang tengah-tengah antara lutut dan mata kaki dengan baju khasnya.  Lebih pendek dari gamis tetapi lebih panjang dibanding baju takwa. Di bagian samping krowak seperti baju lengan panjang kita.  Menggunakan ikat kepala semacam kafiyeh yang diubelkan.  Kadang-kadang kafiyehnya sangat besar, sehingga ubelan di kepalanya cukup besar dan kurang rapi.  Demikian juga pakaiannya.

Jama’ah dari Asia tengah, misalnya dari Afganistan, Kazakstan, Usbekisten, Tajikistan dan sekitarnya juga cukup banyak.  Posturnya besar seperti orang Eropa,  Raut wajahnya cenderung tirus, walaupun tidak setirus orang Eropa.  Mungkin tengah-tengah antara orang Asia Timur dengan orang Eropa.  Kulitnya putih dengan rambut hitam yang cenderung lurus.  Sebagian besar memelihara jangut tetapi pendek dan diatur rapi.  Bajunya mirip dengan jama’ah dari Asia Timur, hanya kainnya lebih tebal dan banyak yang bajunya bertuliskan negaranya.  Jadi mudah dikenali, oh ini teman dari Afganistan, ini dari Usbekitan dan seterusnya.  Umumnya mereka datang ke masjid secara kelompok.

Jama’ah dari Turki juga mudah dikenali. Posturnya seperti perpaduan Arab dan Eropa.  Berkulit kuning (bukan putih), rambut hitam, raut muka oval agak tirus, dengan rambut hitam.  Ibu-ibu, mohon maaf, umumnya gemuk.  Pakaian mereka mirip dengan jama’ah dari Asia Tengah, dengan celana kombor dan baju semacam gamis tetapi pendek. Yang membedakan hanya jam’ah Turki umumnya menggunakan kafiyeh yang diubetkan ke kepada dengan rapi.  Umumnya juga datang secara kelompok. 

Secara tidak sengaja di Masjidil Haram saya duduk berdekatan dengan sekelompok jama’ah yang memakai gamis berwarna putih gading, rapid an tampak bersih.  Mereka menggunakan kopiah putih dililit dengan kafiyek putih dengan sangat rapi. Semula saya mengira mereka dari daerah Yordan atau sekitarnya. Namun ketika berkenalan, ternyata mereka dari Turki.  Dalam kelompok itu sepertinya ada yang senior ada yang yunior.  Yang yunior sangat hormat kepada yang senior.  Bakan jama’ah Turki yang lain tampak juga hormat.  Saya tidak tahu, apakah mereka ini semacam tokoh atau kyai untuk istilah di Indonesia.  Yang pasti ternyata, di Turki cara berpakaian jama’ah juga tidak sama.

Jama’ah dari Saudi Arabia dan sekitarnya mudah dikenali, karena selalu memakai baju gamis putih dengan kafiyeh.  Wajahnya juga khas, berhidung mancung, mata hitam tajam, dengan rambut hitam ikal. Sementara yang wanita memakai abaya hitam. Jujur saya tidak dapat membedakan, maka yang warga negara Saudi, mana yang Uni Emirat Arab dan sebagainya.  Umumnya mereka datang individual, tidak berkelompok.  Mungkin karena “di kampung” sendiri, sehingga tidak perlu kuatir apa-apa.

Bagaimana tata cari sholat? Tentu secara global, mulai takbiratul ihram dan seterusnya sampai salam sama.  Namun detailnya, bagaimana melakukannya sangat beragam.  Misalnya bagaimana cara mengangkat tangan saat takbiratul ihram sangat beragam.  Ada yang diangkat sejajar telinga dan cukup lama.  Ada yang diangkat sejajar pundak dan juga ada yang setinggi dada dengan sangat cepat.

Saat membaca Alfatihah dan surat (mungkin karena saya tidak mendengar), ada yang bersedekap dan ada yang tangannya lurus (lepas kebawah).  Cara bersedekapnya juga sangat beragam.  Ada yang di tengah dada, ada yang miring ke kanan, ada yang agak ke bawah. Saat dalam posisi itu ada yang tampak serius, ada yang sambil mengelus janggut, ada yang bolak-balik membetulkan baju, ada yang sambil menata kafiyeh dan sebagainya.

Bagaimana cara rukuk?  Juga sangat beragam, khususnya pada “kedalaman” membungkuk dan itu sangat mungkin juga terkait dengan usia.  Ada jama’ah yang saat rukuk, membungkuk sangat dalam dan kepala seakan menjulur ke bawah.  Ada yang badannya datar dengan kepala sejajar dengan badan.  Ada juga yang hanya sedikit membungkuknya, yang mungkin dengan usia. Waktu membungkuk juga sangat beragam. Ada yang sebentar sekali, tetapi juga da yang sangat lama.

Posisi duduk tahiyat awal maupun akhir ternyata juga sangat beragam, khususnya posisi telapak kaki. Ada yang keduanya ditekuk ke tengah, seperti posisi orang dzikir.  Ada yang ujung telapak kaki kiri dimasukkan di bawah kaki kanan, sementara ujung jari kaki kanan diposisinya tegak.  Ada pula yang telapak kaki kanan diposisikan ke luar.  Bahkan ada yang kedua kakinya dipakai tumpuan duduk dengan ujung telapaknya ditegakkan.

Keberagaman di tas membuat saya semakin faham, walaupun Al Qur’an-nya satu, Hadits yang dibaca mungkin juga sama, tetapi implementasinya dalam sholat dan berpakaian berbeda-beda. Dengan demikian sangat mungkin implementasi dalam kehidupan keseharian juga berbeda-beda, walaupun semua mengatakan berlandaskan Al Qur’an dan Hadits Nabi.  Oleh karena itu saling menghormati perbedaan seperti itu merupakan keniscayaan yang harus kita terima dan amalkan. Semoga.

Minggu, 02 Februari 2020

KOMPETENSI-KONTEN-KARAKTER: Dimuat Kompas.com Tanggal 20 Januari 2020, dengan judul diubah Redaktur menjadi Lionel Messi Gantikan UN 2021 dengan Kompetensi dan Karakter

Ujian Nasional (UN) akan diganti dengan Uji Kompetensi dan Survai Karakter.  UN yang berbasis konten tidak cocok dengan kebutuhan anak-anak menghadapi masa depan, sehingga harus diganti denga uji kompetensi.  Dengan kompetensi, orang akan dapat belajar sendiri apa yang dia perlukan dalam kehidupannya. Begitu kira-kita ungkapan yang saya dengar, ketika beberapa teman membahas kebijakan Kemdikbud.

Apa yang dimaksud kompetensi?  Ternyata, sama dengan apa yang sering disebut dengan istilah 4-C (critical thinking, creativity, communication, collaboration).  Kadang ditambah satu C lagi yaitu confident, sehingga menjadi 5-C.  Ditambang satu C lagi yaitu curiosity, sehingga menjadi 6-C. Bahkan ada yang menambahkan 1-P yaitu problem solving dan 1-E yaitu empathy, sehingga menjadi 6C+1P+1E. 

Jika ditelusur, aspek-aspek kompetensi tersebut telah disebut oleh Tony Wagner (2007) dalam buku The Global Achievement Gap, dan diberi istilah the survival skills.  Bernie Trilling dan Thomas Fadel (2009) menyebutnya dengan istilah 21st century skills for live in our time.  The Economist-Intelligence Unit menyebutnya dengan istilah the future skills.  Kemdikbud (2003) dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) menyebut kemampuan seperti itu dengan istilah generic skills.  Walaupun menggunakan istilah yag berbeda-beda tetapi intinya sama, yaitu kemampuan yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan, apapun profesinya.

Penelitian Samani dkk (2014) yang menggabungkan berbagai konsep dan memverifikasi di lapangan, menyimpulkan dua kemampuan pokok yang diperlukan dalam kehidupan, yaitu memecahkan masalah secara kreatif (solving problem creatively) dan hidup bersama di masayarakat secara harmonis (living together in a harmony).  Kemampuan pertama disebut personal skills karena diperlukan setiap orang walaupun dalam keadaan sendiri, sedangkan kemampuan kedua disebut social skills karena diperlukan ketika yang bersangkutan bekerja dana tau hidup berkelompok.  Critical thinking, creativity, problem solving merupakan bagian bari personal skills, sedangkan communication, collaboration, empathy merupakan bagian dari social skills.  Sementara confident dan empathy lebih merupakan karakter. Namun perlu dicatat, karakter semestinya tidak hanya terkait dengan baik terhadao orang lain, seperti jujur, sabar, suka menolong dan sejenisnya, tetapi juga kerja keras, tangguh dan pantang menyerah (grit) yang menurut penelitian Angela Duckworth (2016) merupakan kunci kesuksesan dalam kehidupan.

Lantas apa hubungannya dengan konten dan karakter? Untuk membahasnya, saya ingin mengajukan pertanyaan:  Ketika Leonel Messi sukses membuat gol kemampuan apa yang diterapkan?  Saya yakin dia memerlukan critical thinking untuk memahami situasi lapangan saat itu, creativity untuk menemukan posisi tembak yang paling ideal.  Dia juga harus memiliki keterampilan menggiring bola dan menembakkan ke gawang lawan. Inilah konten yang dimiliki oleh Messi dalam bermain bola.  Messi pasti juga memiliki karakter hebat, misalnya kerja keras, pantang menyerah, tidak emosi walaupun diganjal lawan dan sebagainya.  Jadi performa hebat Messi dalam bermain bola, didukung oleh kompetensi, konten dan karakter.  Performa adalah interseksi antara ketika aspek tersebut, seperti tampak pada Gambar berikut. Pola ini tentu tidak hanya berlaku pada pemain bola, tetapi juga profesi lain, misalnya insinyur, dokter dan guru.

Performa akan maksimal jika ditunjang oleh ketiga aspek tersebut secara poporsional, sesuai dengan karateristik tugas yang dihadapi seseorang. Yang pasti tidak mungkin performa akan baik kalau salah satu dari aspek tersebut tidak ada.  Dengan kata lain, ketiga aspek terebut diperlukan, sehingga harus ditumbuh-kembangkan dalam pendidikan.

Dalam konteks pendidikan, ketiganya tidak dapat dilepaskan. Sepertinya pesan Ki Hajar Dewantara pengembangan aspek intellect, karakter dan raga tidak dapat dipisahkan agar anak kita tumbuh dengan sempurna.  Konten dapat diibaratkan sebagai wahana, sedangkan kompetensi dan karakter sebagai isi.  Wahana, dalam konteks pendidikan, dapat berupa matapelajaran, tugas, proyek dan sejenisnya.  Tidak dapat dibayangkan bagaimana menumbuhkan critical thinking tanpa wahana, misalnya magnet dalam IPA atau Perang Diporegoro dalam IPS.  Tidak dapat dibayangkan mengembangkan karakter percaya diri tanpa wahana misalnya tugas yang sederhana dan anak pasti dapat mengerjakan. Dengan demikian antara kompetensi, karakter dan konten tidak perlu dipertentangkan.  Yang perlu dicari bentuknya adalah wujud performa, yang mengandung ketiganya.  Bagaimana wujud pembelajaran yang dapat mengembangkannya.  Misalnya bagaimana dirancang ketika siswa SMP memperlajari topik magnet di IPA, mengapa suatu benda mengandung magnet, mengapa yang tidak. Bagaimana menggunakan magnet untuk keperluan sehari-hari, dan sebagainya. Ketika belajar topik Perang Diponegoro, siswa didorong berpikir mengapa Diponegoro melawan Belanda, bagaimana seandainya Diponegoro justru menang dalam perang tersebut.  Jika pembelajaran IPA dan IPS tersebut dikerjakan dalam bentuk tugas kelompok, bagaimana karakter sabar, tenggang rasa dan juga kerja keras dapat ditumbuhkan.

Jika AKSI akan menggantikan UN, bagaimana soal-soal AKSI dapat mengukur kompetensi dalam wadah konten.  Misalnya dapat mengukur critical thinking, creativity dan problem solving dalam konten persamaan kwadrat di Matematika SMP.  Dapat mengukur kompetensi yang sama dalam topik Pemerintahan Daerah di PPKn. Dan sebagainya.

Lebih dari itu, perlu dirancang upaya bagaimana agar guru mampu melaksanakan konsep tersebut. Tidak hanya tahu teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan di kelas.  Tidak hanya yang terkait dengan pembelajaran, tetapi juga bagaimana mengukur ketercapaikan targetnya, sehingga dapat melaksanakan remidial bagi yang belum mencapai dan pengayaan bagi yang melaju lebih dahulu.

Terkait dengan karakter, perlu dicatat bahwa pendidikan karakter yang paling efektif adalah melalui budaya sekolah (Samani dan Haryanto, 2011).  Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak dapat diserahkan kepada guru agama dan PPKn saja, tetapi semua guru adalah guru karakter. Lebih dari itu, karakter tidak dapat diajarkan melalui ceramah tetapi harus ditularkan, sehingga semua guru harus menjadi contoh bagaimana berkarakter yang baik.