Kamis, 24 September 2026

Pendidikan Menurut Dahlan Iskan

 Tanggal 23 pagi, secara tidak sengaja saya ketemu Pak Dahlan Iskan di bandara Juanda. Saya datang lebih dahulu. Ketika mendengar orang datang dan duduk di deretan kursi sebelah kiri saya, sayapun menoleh. Ternyata Pak Dahlan Iskan. Saya yakin semua orang, paling tidak sebagian besar tahu siapa beliau.  Dengan menggunakan kaos “oblong” warna hitam, celana krem dengan membawa tas kain kecil, semacam kantong warna hitam.  Sweater warna abu-abu dikalungkan begitu saja. Mungkin bagi yang tidak kenal, bertanya-tanya kok ada orang di ruang tunggu Garuda dengan penampilan santai dan terkesan sederhana. Bagi yang tahu, ya memang begitu keseharian Pak Dahlan.

 Saya yakin Pak Dahlan tidak kenal saya, walaupun pernah mengundang beliau untuk memberi ceramah di acara wisuda Unesa. Saya menyapa, memperkenalkan diri dan duduk di sampingnya. Seperti biasanya, Pak Dahlan merespons dengan akrab, sambil mengambil telor rebus dari tas kain, kemudian mengupas dan memakannya tanpa risau dilihat orang lain. 

 


Awalnya saya bertanya atau lebih tepatnya berkomentar kalau Pak Dahlan seringkali berpikir sebelum orang lain memikirkan. Contohnya Disway yang sekarang menjadi salah satu Harian Digital yang dibaca banyak orang. Saya tidak tahu jumlah pembacanya. Seingat saya awalnya Disway itu semacam catatan harian atau tulisan pribadi yang disebarluaskan. Kemudian saya bertanya, bagaimana masa depan koran dan sejenisnya ke depan.  Beliau mengatakan peran media, tivi dan sebagainya akan semakin kecil.  Saya menyela, itu akan digantikan media sosial (medsos) yang menurut saya sulit untuk membedakan mana yang valid dan mana yang hoax. Bagaimana cara menapisnya ya?  Pak Dahlan secara jujur mengatakan sampai saat ini belum ada sistemnya.

Setelah itu, obrolan bergeser ke pendidikan.  Menurut beliau, salah satu cara menapis informasi yang tidak semuanya valid adalah kemampuan berpikir kritis dan untuk itu pendidikan memegang peran sangat penting. Guru dan cara mengajar harus berubah total.  Guru tidak lagi boleh mengajar dalam arti menyelaskan ini-itu kepada murid.  Guru tidak boleh merasa lebih pandai dari murid, sehingga merasa harus menjelaskan apa yang murid belum tahu.  Toh, di era digital pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber. Guru  harus perannya menjadi mentor, yang mendampingi siswa mencari pengetahuan, membanding-bandingkan dan menemukan mana yang paling valid. 

Pak Dahlan bercerita pernah ketemu dosen dari Malang yang mengeluhkan sulitnya mendorong siswa untuk bertanya.  Pada hal bertanya akan menumbuhkan keingintahuan, mendorong yang bersangkutan mencari informasi.  Dan jika itu dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis akan membuat seseorang mampu menemukan apa yang dicari dan bahkan membangun pengetahuan baru.

Saya menyela, apakah itu diakibatkan budaya kita ya?  Budaya yang membiasakan anak selalu menurut apa yang dikatakan orangtua. Kalau begitu kita perlu mengubah budaya kita.  Pak Dahlan setuju, budaya harus diubah, Tetapi itu tidak mudah dan terlalu panjang urusannya. Yang lebih mudah adakah melalui pendidikan, karena pendidikan relatif lebih mudah dikendalikan. Seperti ingin memberi penekanan, Pak Dahlan kembali mengatakan guru harus berubah. Tidak lagi menerangkan, tetapi mendorong siswa bertanya, menjadi mentor memunculkan pertanyaan dan mencari informasi untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Tampaknya Pak Dahlan sudah memiliki data, mengapa cara kerja guru harus berubah.  Katanya, keluarga beliau memiliki puluhan madrasah dan sudah diamati pula bagaimana guru-guru di madrasah tersebut bekerja (mengajar).  Menurut Pak Dahlan sekitar 60% guru tersebut tidak benar caranya bekerjanya.  Bahkan jika tidak mau berubah, sudah pantas mereka diberhentikan.  Namun memang tidak mudah mengubah cara kerja yang sudah mandarah daging. Bukankah selama ini “mengajar” itu dimaknai menjelaskan sesuatu kepada murid. Jadi tugas guru itu menjelaskan apa yang belum diketahui oleh murid.

Mencoba mencerna apa yang dijelaskan, saya menanyakan apa yang penting dipelajari di pendidikan.  Menurut Pak Dahlan, yang paling penting adalah metoda berpikir.  Dengan metoda berpikir yang baik, pengetahuan dapat dipelajari.  Jika metoda berpikirkan salah, akan “nggrambyang” dan bahkan sampai pada simpulan yang salah. Mencoba mencerna penjelasan itu, saya jadi teringat uraian di Buku Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills) dari Depdikbud sekitar awal tahun 2000an.  Di buku tersebut disebutkan tahapan berpikir untuk memahami  sesuatu atau bahkan memecahkan suatu masalah.  Dimulai dengan menggali berbagai informasi yang terkait, membanding-bandingkan dan menganalisis mana yang valid, mengaitkan satu dengan lainnya, sehingga menjadi simpulan yang dapat dipertanggung jawabkan.

 Jumlah matapelajaran kita terlalu banyak, apalagi metoda belajarnya tidak tepat akhirnya nggelambyar.  Berapa jumlah matapelajaran yang ideal?  Menurut Pak Dahlan, maksimal 5 buah. Apa itu?  Ya, mirip apa yang diujiakan di PISA ditambah dengan Agama sebagai panduan akidah dan moral.  Mungkin, ini tafsir saya, matapelajarannya Agama, Bahasa (fokusnya pada literasi), Matematika, Sains, plus semacam Project Works yang menggambungkan ke empatnya untuk memecahkan problem sehari-hari.  Apa sudah ada sekolah yang menerapkan, paling tidak berinovasi ke arah sana?  Kata Pak Dahlan sudah ada, yaitu sebuah madrasah di Cirebon dan di Bandung.  Tentu dengan gayanya masing-masing.

 Ketika saya mengatakan ingin belajar, untuk madrasah kecil di kampung saja, dengan semangat Pak Dahlan mengatakan “ayo dimulai dengan semangat revolusi biar pendidikan kita baik”.  “supaya hidup ini bermanfaat”.  Ajakan yang terdengar semacam cambukan untuk mulai berbuat sesuatu. Sayang panggilan boarding terdengar, sehingga kami harus berpisah. Semoga suatu saat bisa ketemu lagi dan belajar dari Pak Dahlan yang orang media ternyata sudah lebih dahulu mulai berinovasi dibanding saya yang orang pendidikan.