Suatu saat saya membeli bunga di Pasar Bunga di Surabaya. Yang saya cari adalah bunga yang cocok ditanam di berem (pinggir jalan) depan rumah dan mendapatkan bunga setinggi sekitar 2 meter dengan bunga berwarna merah. Sebagai orang yang tidak punya ilmu tentang tanaman, saya mengagumi bungan tersebut. Batangnya kokoh dengan diameter sekitar 12 cm, cabang yang sangat banyak dan bunga merah menyala hampir di semua pucuk cabang.
Beberapa bulan berikutnya saya kaget mendapati adanya “cabang baru” di pokok batang. Daun pada “cabang baru” tersebut berbeda dengan cabang yang lain. Ketika saya cermati, daun pada “cabang baru” tersebut mirip daun jarak (jarak yang biasanya untuk pagar di kampung). Karena penasaran saya ke Pasar Bunga menemui penjual bunga yang dulu saya membeli. Saya kagum mendapatkan jawaban Bapak Penjual Bunga yang bernama Pak Min dengan usia sekitar 50 tahun tersebut.
Ternyata bunga yang saya beli tersebut merupakan hasil “kotak-katiknya”. Batangnya dari pohon jarak kemudian “ditempel/disambungkan” cabang dari bungan tertentu. Pak Min menjelaskan bahwa pohon jarak adalah yang terbaik sebagai pokok, karena mudah “ditempeli/disambung” dengan berbagai jenis bunga dan juga jarak dapat hidup dengan air minimal ataupun banyak. Pak Min bercerita banyak bagaimana melakukan “kotak-katik” untuk mendapatkan “bunga terbaik”.
Pak Min yang protolan SD dan sudah lama melakukan “kotak-kotik” bunga. Dia sendiri yang memberi istilah kotak-katik (dengan bahasa Jawa “utak-utik”). Bagaimana dia menemukan pohon jarak yang akhirnya dipilih sebagai “batang induk” dari berbagai bunga? Ternyata dia sengaja mencari pohon yang mudah hidup dengan air minimal atau air banyak dan mudah disambung dengan bermacam-macam bunga. Menurutnya tidak kurang dari 5 jenis pohon yang dicoba dan dikotak-katik, yang akhirnya menemukan pohon jarak yang terbaik.
Mendengarkan cerita Pak Min yang antusias, saya teringat cerita tentang Pak Mukibat si penemu ketela mukibat sampai Thomas Afla Edison yang melakukan “eksperimen” panjang sebelum menghasilkan temuan yang fenomenal sesuai zamannya. Kita memerlukan Pak Min-Pak Min lainnya untuk menemukan bunga yang indah, tanaman pangan yang hebat serta temuan-temuan yang mendukung kemajuan bangsa ini. Jika Pak Min yang tidak tamat SD mampu menemukan “inovasi pohon jarak”, bagaimana pendidikan kita mampu melahirkan innovator yang tentunya jauh lebih hebat dibanding Pak Min.
Bagaimana pendidikan mampu menumbuhkan rasa keingintahuan dan kemauan/keberanian eksperimen dalam berbagai bidang. Tampaknya kita perlu meninjau kembali pola pendidikan kita. Kita tidak boleh hanya terpaku pada ujian nasional yang tentu tidak mungkin mengukur rasa ingin tahu dan kemampuan bereksperimen. Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), Lomba Karya Inovasi (LKI) dan sejenisnya perlu ditumbukan secara terencana serta diikuti persiapan pembinaan di level sekolah maupun daerah. Akan sangat baik, jika setiap matapelajaran memberikan dukungan dalam penumbuhan karya inovasi dan karya ilmian remaja tersebut.
Hasil dalam LKIR dan LKI tersebut perlu diperhitungkan sebagai prestasi belajar siswa, termasuk ketika yang berangkutan melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi. Perlu dicari formula untuk memperhitungan hasil LKIR dan LKI dalam penerimaan siswa baru di SMP, SMA/SMK/MA dan penerimaan mahasiswa ke perguruan tinggi serta penerimaan karyawan baru di berbagai instansi. Dengan begitu sekolah akan terdorong untuk melakukan pembinaan kegiatan-kegiatan siswa yang terkait dengan pengembangan inovasi dan penelitian. Semoga
Kamis, 24 Februari 2011
Selasa, 22 Februari 2011
MASIH PERLUKAH PEMISAHAN PENDIDIKAN FORMAL, NON FORMAL DAN INFORMAL?
John Seely Brown yang memberi kata pengatar buku Rethinking Education in the Age of Technology, tulisan Allan Collins dan Richard Halverson (Teachers College Press, 2009) menyatakan: “I am not saying that this kind of learning will replace schooling, but it does allow new forms of both formal and informal learning to emerge around the edges of formal schooling”. Ungkapan tersebut ternyata merupakan rangkuman dan bahkan salah satu point penting dari buku tersebut. Dan bagi kita yang menekuni dunia pendidikan, ungkapan tersebut perlu direnungkan, karena gejalanya juga kita rasakan di Indonesia.
Dengan mengambil contoh di Amerika Serikat, buku tersebut membeberkan fenomena yang sangat menarik. Jamal dari Bermuda yang sangat tertarik saat mengikuti matapelajaran Computer Science di sekolah menengah dan kemudian membaca beberapa buku tentang web design dan berkorespondensi dengan beberapa pengarang via internet. Selesai mengikuti matapelajaran tersebut, Jamal merasa sudah memiliki kemampuan merancang web, kemudian memulai bisnis Web Design dan berhasil.
Contoh lain yang ditunjukkan adalah dari Seymour Papert terhadap cucunya yang berusia 3 tahun yang senang dinosaurus. Orangtuanya membelikan banyak video tentang dinosaurus dan ternyata anak tersebut sungat tahu banyak tentang dinosaurus ketimbang kakeknya, walau dia belum dapat membaca. Masih banyak contoh lain dan sebenarnya juga banyak fenomena seperti itu di Indonesia dan bahkan di sekitar kita.
Apa inti dari fenomena itu? Sekolah bukan satu-satunya tempat untuk belajar. Orang dapat belajar di banyak tempat di luar sekolah. Misalnya melalui kursus, seminar, membaca buku, internet, belajar secara informal kepada orang lain dan sebagainya.
Saya pernah bertanya kepada beberapa teman yang bekerja di perusahaan, pengusaha dan kantor pemerintah: “Berapa persen matapelajaran atau matakuliah dulu cocok dengan apa yang dikerjakan saat ini?”. Hampir tidak ada yang menjawab lebih dari 50%, walaupun profesi mereka berbeda-beda. Lantas ketika “dari mana didapat bekal untuk menangani pekerjaan sekarang ini?”. Jawabannya yang muncul “ya belajar sendiri dan bertanya kepada orang yang lebih ahli”. Artinya, mereka itu mendapatkan pengetahuan dan kemampuan tambahan di luar sekolah.
Nah, bagaimanakan di masa depan? Apakah di era teknologi informasi fenomena tersebut akan berlanjut? Akan semakin kuat atau melemah? Di era teknologi digital seperti sekarang ini, informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber. Internet kini merupakan salah satu sumber informasi yang nyaris tidak terbatas. Kata anak muda sekarang, pengin tahu sesuatu? Tanya saja ke Google yang mampu memberikan sangat banyak, kadang-kadang ribuan sumber informasi yang sedang kita cari.
Dari internet kita juga dengan mudah mendapatkan panduan untuk mengerjakan sesuatu. Jika kucing kita sakit, kita dapat memperoleh petunjuk untuk mengetahuan sakitnya apa dan apa obatnya dan kemana mendapatkan obat tersebut. Jika ingin pergi ke suatu tempat, kita dapat memperoleh panduan beberapa alternative jalur yang dilewati dan kendaraan umum yang digunakan. Sepertinya internet dapat menjadi sumber informasi dalam berbagai hal. Dan, semakin canggih teknologi diduga jenis dan kedalaman informasi seperti itu juga akan semakin baik.
Nah, jika informasi dapat diperoleh dengan mudah di luar sekolah, apakah sekolah masih diperlukan? Saya yakin, sekolah tetap diperlukan karena sekolah bukan sekedar tempat mencari informasi. Sekolah adalah tempat anak memperoleh pendidikan secara utuh. Namun, ke depan persekolahan harus melakukan perubahan mendasar. Pemisahan kelembagaan antara pendidikan formal, non formal dan informal harus ditinjau kembali. Perlu dipikirkan pola pendidikan yang lebih luwes yang dapat memberi “pintu integrasi” antara ketiga jalur pendidikan tersebut. Pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh di pendidikan informal dan non formal seharusnya dapat “diakui” pada jalur pendidikan formal. Siswa di sekolah (pendidikan formal) perlu diberi peluang untuk mengambil “sebagian kurikulum” melalui jalur pendidikan non formal atau informal. Tentu dengan bukti sudah menguasai kompetensi yang ditentukan.
Dengan mengambil contoh di Amerika Serikat, buku tersebut membeberkan fenomena yang sangat menarik. Jamal dari Bermuda yang sangat tertarik saat mengikuti matapelajaran Computer Science di sekolah menengah dan kemudian membaca beberapa buku tentang web design dan berkorespondensi dengan beberapa pengarang via internet. Selesai mengikuti matapelajaran tersebut, Jamal merasa sudah memiliki kemampuan merancang web, kemudian memulai bisnis Web Design dan berhasil.
Contoh lain yang ditunjukkan adalah dari Seymour Papert terhadap cucunya yang berusia 3 tahun yang senang dinosaurus. Orangtuanya membelikan banyak video tentang dinosaurus dan ternyata anak tersebut sungat tahu banyak tentang dinosaurus ketimbang kakeknya, walau dia belum dapat membaca. Masih banyak contoh lain dan sebenarnya juga banyak fenomena seperti itu di Indonesia dan bahkan di sekitar kita.
Apa inti dari fenomena itu? Sekolah bukan satu-satunya tempat untuk belajar. Orang dapat belajar di banyak tempat di luar sekolah. Misalnya melalui kursus, seminar, membaca buku, internet, belajar secara informal kepada orang lain dan sebagainya.
Saya pernah bertanya kepada beberapa teman yang bekerja di perusahaan, pengusaha dan kantor pemerintah: “Berapa persen matapelajaran atau matakuliah dulu cocok dengan apa yang dikerjakan saat ini?”. Hampir tidak ada yang menjawab lebih dari 50%, walaupun profesi mereka berbeda-beda. Lantas ketika “dari mana didapat bekal untuk menangani pekerjaan sekarang ini?”. Jawabannya yang muncul “ya belajar sendiri dan bertanya kepada orang yang lebih ahli”. Artinya, mereka itu mendapatkan pengetahuan dan kemampuan tambahan di luar sekolah.
Nah, bagaimanakan di masa depan? Apakah di era teknologi informasi fenomena tersebut akan berlanjut? Akan semakin kuat atau melemah? Di era teknologi digital seperti sekarang ini, informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber. Internet kini merupakan salah satu sumber informasi yang nyaris tidak terbatas. Kata anak muda sekarang, pengin tahu sesuatu? Tanya saja ke Google yang mampu memberikan sangat banyak, kadang-kadang ribuan sumber informasi yang sedang kita cari.
Dari internet kita juga dengan mudah mendapatkan panduan untuk mengerjakan sesuatu. Jika kucing kita sakit, kita dapat memperoleh petunjuk untuk mengetahuan sakitnya apa dan apa obatnya dan kemana mendapatkan obat tersebut. Jika ingin pergi ke suatu tempat, kita dapat memperoleh panduan beberapa alternative jalur yang dilewati dan kendaraan umum yang digunakan. Sepertinya internet dapat menjadi sumber informasi dalam berbagai hal. Dan, semakin canggih teknologi diduga jenis dan kedalaman informasi seperti itu juga akan semakin baik.
Nah, jika informasi dapat diperoleh dengan mudah di luar sekolah, apakah sekolah masih diperlukan? Saya yakin, sekolah tetap diperlukan karena sekolah bukan sekedar tempat mencari informasi. Sekolah adalah tempat anak memperoleh pendidikan secara utuh. Namun, ke depan persekolahan harus melakukan perubahan mendasar. Pemisahan kelembagaan antara pendidikan formal, non formal dan informal harus ditinjau kembali. Perlu dipikirkan pola pendidikan yang lebih luwes yang dapat memberi “pintu integrasi” antara ketiga jalur pendidikan tersebut. Pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh di pendidikan informal dan non formal seharusnya dapat “diakui” pada jalur pendidikan formal. Siswa di sekolah (pendidikan formal) perlu diberi peluang untuk mengambil “sebagian kurikulum” melalui jalur pendidikan non formal atau informal. Tentu dengan bukti sudah menguasai kompetensi yang ditentukan.
Minggu, 23 Januari 2011
MENGARUSUTAMAKAN PENDIDIKAN KARAKTER
Saya sangat terkejut ketika membaca berita bahwa pada acara National Summit di Hotel Bidakara, Presiden SBY menyebutkan pentingnya pendidikan karakter dan reformasi pembelajaran di sekolah. Sepengetahuan saya, Persiden SBY tidak memiliki anak kandung yang sedang sekolah di SD, SMP, SMA atau kuliah di jenjang S1 dan cucu satu-satunya masih kecil yang tentunya belum sekolah. Artinya Presiden SBY tidak memiliki anak atau cucu yang mungkin bercerita bagaimana pembelajaran di sekolah. Jadi sangat mungkin ada faktor lain atau informasi lain yang masuk ke Presiden tentang pentingnya pendidikan karakter.
Kemungkinannya tentu sangat banyak, tetapi kalau sampai hal itu disebutkan secara eksplisit dalam pidato resmi di National Summit, tentu ada pihak yang dapat meyakinkan Presiden, sehingga hal itu dianggap sangat penting oleh Presiden dan mendesak untuk dilakukan. Saya jadi teringat suatu peristiwa makan siang pada hari Jum’at beberapa hari sesudah Idul Fitri tahun 2009. Saat itu saya diajak makan siang bersama oleh Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA (saat itu sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika). Makan siang sederhana dan diikuti oleh beberapa staf di Kementerian Kominfo.
Yang pokok bukan makan siangnya, tetapi diskusi sesudah makan siang. Setelah selesai makan siang, P Nuh mengajak diskusi santai dan seingat saya waktu itu hadir Prof. Dr. Abdullah Alkaf dan Dr. Son Kuswadi (keduanya saat itu sebagai staf khusus Menkominfo). Nah saat itu dibahas masalah pendidikan dan salah satunya pendidikan akhlak dan perilaku anak-anak kita yang cukup mengkhawatirkan. Seingat saya, saya bercerita tentang masalah nyontek yang sangat serius di sekolah. Dalam beberapa kesempatan bertemu dengan guru, saya bertanya: “jika ulangan dan bapak/ibu guru harus meninggalkan kelas untuk ke kamar kecil, berapa persen anak-anak yang nyontek?”. Sedihnya, para guru pada umumnya menyebutkan hampir seluruhnya, 90%, 80% dan seterusnya. Tidak pernah dijumpai guru yang berani mengatakan, tidak ada yang menyontek atau katakanlah yang menyontek dibawah 50%. Bukankah menyontek itu awal dari kebiasaan hidup menerabas, hidup yang inginnya punya hasil baik tetapi dengan tidak jujur. Bukankah itu indikator kita tidak berhasil atau katakanlah belum berhasil menanamkan kejujuran kepada anak-anak kita. Cerita itu kemudian menjadi diskusi yang panjang. Intinya kami yang saat itu ikut diskusi, sepakat betapa pentingnya pendidikan akhlak untuk memperbaiki perilaku anak bangsa.
Saya tidak tahu apakah saat diskusi itu Pak Nuh sudah tahu akan ditunjuk menjadi Mendiknas atau hanya karena sesama pendidik, kemudian mengajak diskusi tentang pendidikan. Yang pasti, dalam diskusi itu kami yang hadir merasa prihatin terhadap perilaku anak-anak kita. Waktu itu muncul seloroh: “orang tidak jujur sebaiknya tidak perlu pintar, agar tidak pandai berbuat jahat”, dan seterusnya. Intinya semua yang hadir dalam diskusi itu prihatin atas perilaku anak-anak kita, yang menunjukkan bahwa akhlaknya kurang baik.
Berangkat dari ingatan itu, saya berpikiran mungkin Pak Nuh yang saat menjadi Mendiknas berhasil meyakinkan Presiden SBY akan pentingnya pendidikan karakter. Mungkin juga dugaan saya salah, mungkin juga benar atau mungkin juga banyak masukan ke Presiden dan masukan dari Mendiknas hanya salah satu diantaranya. Yang penting adalah bahwa Presiden sudah menyatakan pentingnya pendidikan karakter dan itu dapat dimaknai, Kemendiknas harus melaksanakannya sebagai kebijakan penting. Dan betul juga, pendidikan karakter menjadi salah satu program 100 hari Kemdiknas.
Ketika tahu bahwa Pendidikan Karakter menjadi program 100 hari Kemdiknas, saya berseloroh: Itu timing-nya pas dan orangnya juga pas. Timing-nya pas, karena semua orang sedang risau tentang perilaku bangsa ini, sehingga pendidikan karakter dapat menjadi salah satu jawaban yang tepat. Orangnya pas, karena Pak Nuh sangat tepat sebagai figur karakter. Selama ini Pak Nuh dikenal sebagai orang yang pandai, santun, sederhana, pekerja keras, selalu menghargai orang lain dan dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Dalam rapat pimpinan di Kemdiknas ditetapkan bahwa yang menjadi penanggung jawab Pendidikan Karakter dalam program 100 hari Kemendiknas adalah Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan) dan unit utama lainnya menjadi mitra kerja pendukung. Oleh karena itu, Prof. Dr. Mansyur Ramli (Kepala Balitbang) segera bergerak cepat mengambil langkah menggelindingkan pendidikan karakter dan menunjuk Dra. Diah….. Sebagai Pembina perguruan tinggi, Ditjen Dikti tentu lebih tepat mendukung dari sisi konsep dan pengembangan serta pelaksanaan di perguruan tinggi. Namun, mungkin karena ingat pembicaraan saat makan malam di Kominfo itu, Pak Nuh secara khusus berpesan agar saya membantu pengembangan pendidikan karakter. Sebagai anak buah tentu saya siap melaksanakan perintah itu, apalagi jika mengingat dalam diskusi sesudah makan siang di Kominfo, kita yang hadir sepakat betapa penting dan mendesaknya pendidikan karakter di sekolah kita.
Kami segera mengadakan komunikasi dengan berbagai pihak, baik para ahli pendidikan, budayawan, praktisi dan para pemerhati pendidikan. Bak gayung bersambut, hampir semua pihak yang kami hubungi menyatakan sepakat dan mendukung pendidikan karakter. Dan yang lebih menggembirakan ternyata sudah banyak orang, sekolah, lembaga pelatihan dan sejenisnya yang sudah merintis pendidikan karakter dengan berbagai variasi nama dan pendekatannya. Oleh karena itu perlu dihimpun pemikiran dan pengalaman berbagai pakar, paktisi dan pemerhati pendidikan karakter. Itulah salah satu alasan dilakukannya Sarasehan Nasional Pendidikan Karakter di Hotel Bidakara, tanggal 14 Januari 2010. Saat itu hadir lebih 200 orang peserta terdiri dari pakar, praktisi dan pemerhati dengan latar belakang yang sangat beragam. Guru, kepala sekolah, pengawas, dosen, ahli pendidikan, pemerhati pendidikan, budayawan, agamawan, ilmuwan dan sebagainya. Walaupun semula peserta dirancancang 200 orang, ternyata yang berminat sangat banyak. Bahkan, pada malam sebelum sarasehan dilaksanakan, masih ada yang menelpun dan setengah “memaksa” untuk ikut. “Tidak usah undangan Mas, kalau sampeyan ijinkan saya besuk akan datang”, begitu permintaan teman tersebut. Tampil sebagai pembicara utama, Prof Yahya Muhaimin, Prof Magnis Suseno dan KH Sukri Zarkasyi (Pimpinan Pondok Gontor). Juga hadir figur ternama antara lain, Brigjen (pur) Soemarno Soedarsono dari Yayasan Jati Diri Bangsa, Mario Teguh dan sebagainya.
Sarasehan dirancang sedemikian rupa, sehingga semua peserta mendapat kesempatan menyampaikan gagasan dan pengalamannya. Oleh karena itu, sesudah penyampaian pemikiran tiga orang pembicara utama, sarasehan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dengan peserta sekitar 25 orang. Ternyata diskusi berjalan baik, semua peserta menyampaikan pendapatnya dengan antusias. Bahkan secara spontan muncul deklarasi tentang Pentingnya Pendidikan Karakter Bangsa yang dibacakan oleh wakil peserta yaitu Pak Irsyad Sudiro (seingat saya beliau juga anggota DPR RI) didampingi Ibu Femy dari Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
Dari dokumen yang kita pelajari, baik berupa acuan hukum yang merupakan landasan yuridis maupun teori dan konsep dari berbagai literatur, pendidikan karakter bukankah hal baru. Jauh sebelum kemerdekaan, Bapak Pendidikan Indonesia (Ki Hajar Dewantara) menyebutkan bahwa pendidikan adalah daya upaya memajukan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita. Jadi jauh-jauh Ki Hajar sudah mengingatkan bahwa salah satu potensi yang harus dikembangkan pada anak-anak adalah karakter. Bahkan jika kita empat pilar pendidikan yang dikenalkan oleh Unesco, yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together, maka pilar ketiga dan pilar ke empat identik dengan karakter.
Jika kita telusur pola pendidikan di awal peradaban, yang pada saat itu banyak dilakukan di padepokan, pondok pesantren dan institusi seperti itu, pendidikan yang menyangkut nilai-nilai kehidupan, watak, budi pekerti dan hal-hal yang seperti itu merupakan bagian pokok. Bahkan kata guru yang berasal dari bahasa Sansekerta bermakna pendidik spiritual, yang disamping mengajarkan hal-hal yang bersifat pengetahuan dan keterampilan juga mengajarkan nilai-nilai kebajikan.
Bagaimana dengan landasan hukum dalam pendidikan? Pasal 3 Undang-undang Sisdiknas menyebutkan bahwa pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tampak sekali bahwa secara yuridis sebagaimana disebutkan pada UU Sisdiknas pendidikan di Indonesia seharus menekankan aspek karakter. Dari delapan aspek yang disebut sebagai tujuan pendidikan, ternyata hampir semua terkait erat dengan karakter. Permendiknas nomor 23 Tahun 2003 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) ternyata mendukung pikiran tersebut. Pencermatan kami, dari 22 butir kompetensi lulusan SMA/MA/SMK, ternyata 11 butir sangat dekat dengan karakter.
Dengan demikian program Pendidikan Karekter yang menjadi salah program utama Kemendiknas bukankah hal baru, karena sudah diamanatkan UU Sisdiknas, Permendiknas 23/2003 dan didukung oleh teori/konsep pendidikan. Yang perlu dilakukan adalah mengarusutamakan pendidikan karakter dalam pelaksanaan pendidikan kita. Harus diupayakan agar pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam pendidikan, baik dalam proses pembelajaran sampai pada penilaian hasil belajar.
Menyadari bahwa istilah karakter memiliki cakupan yang luas dan juga menyadari untuk memulai hal baru dalam pendidikan dikenal prinsip “dimulai dari yang mudah, yang murah dan yang menyenangkan”, maka langkah selanjutnya kami berkerja keras menjabarkan apa itu cakup karakter yang harus dikembangkan dan bagaimana cara mengembangkannya. Topik itu juga yang sudah digali dalam Sarasehan Nasional Pendidikan tanggal 14 Januari 2010 dan juga dari sekolah/lembaga pendidikan yang telah merintisnya. Pak Nuh selalu menyebutkan, karakter tidak hanya tentang berbuat santun tetapi juga memiliki kepenasaranan intelektual (intellectual courioucity), sehingga pemikiran tersebut juga menjadi salah satu pegangan.
Kajian terhadap berbagai literatur menghasilkan pemahaman bahwa karakter dapat dirujuk dari teori pendidikan, psikologi, sosiologi dan sosial budaya serta dari prinsip-prinsip kehidupan menurut ajaran agama. Yang sangat menarik, kajian dari berbagai teori itu ternyata bermuara pada hasil yang hampir sama dan dapat digambarkan dalam bentuk empat lingkaran yang memiliki bagian interseksi. Dari satu sisi, karakter dapat bersumber dari hal-hal yang berasal dari hati dan bersumber dari pikiran/nalar. Di sisi lain, karakter terkait dengan hal-hal yang bersifat intra persersonal dan yang terkait dengan inter personal.
Mengingat sudah banyak sekolah dan lembaga pendidikan/pelatihan yang melaksanakan pendidikan karakter dengan berbagai variasi nama maupun pendekatannya, maka kami bersepakat mengambil beberapa sekolah dijadikan contoh pengalaman bagi yang lain. Akhirnya dibuatlah buku kecil berjudul “Pendidikan Karakter: Pengalaman Insipiratif dari Sekolah”, yang bersisi 10 pengalaman, 2 TK, 2 SD, 2 SMP, 2 SMA dan 2 SMK. Masing-masing sekolah disertai film pendek (sekitar 8 menit) yang berisi rekaman apa saja dilakukan masing-masing sekolah dalam mengembangkan pendidikan karakter.
Ketika buku kecil dan film pendek tersebut selesai dibuat dan ditunjukkan dan atau diputar dalam beberapa kesempatan rapat, ternyata banyak pihak yang ingin memiliki. Akhirnya diputuskan, sementara Kemdiknas belum dapat menggandakan, soft copy buku dan film tersebut diunggah dalam web Kemdiknas dan atau Dikti dan juga diberikan kepada beberapa lembaga/pihak yang memerlukan. Sangat menggembirakan, ternyata ada pihak yang baik hati dengan menggandakan soft copy tersebut dalam bentuk CD dan membagi-bagikan secara gratis ke sekolah-sekolah.
Sungguh menarik. Ternyata melaksanakan pendidikan karekter tidak memerlukan fasilitas khusus apalagi istimewa. Yang diperlukan adalah: (1) teladan dari guru, karyawan dan pimpinan sekolah, (2) dilakukan secara konsisten dan secara terus menerus, disertai dengan (3) penanaman nilai-nilai kehidupan sebagai acuan mengapa kita melakukan itu. Semua sekolah yang sudah melaksanakan menyatakan bahwa: “semua guru adalah guru pendidikan dan oleh karena itu harus memasukkan/menyelipkan dalam kegiatan pembelajarannya (intervensi), dan karakter ditumbuhkan lewat kebiasaan kehidupan keseharian di sekolah (habituasi)”. Budaya sekolah (school culture) merupakan kunci cari keberhasilan pendidikan karakter. Dengan demikian makin yakin bahwa semua sekolah dan lembaga pendidikan akan melaksanakannya.
Yang sangat mengejutkan, ternyata pendidikan karakter merupakan kepedulian banyak kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian serta lembaga swasta. Suatu saat Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mengundang rapat tentang pendidikan karakter yang dihadiri oleh kementerian di bawah koordinasinya. Ternyata semua yang hadir menyatakan punya program yang terkait dengan pendidikan karakter dan Kementerian Budaya dan Pariwisata (Budpar) punya direktorat khusus untuk menanganinya. Bahkan menurut informasi, kementerian lain seperti Dalam Negeri, Luar Negeri juga punya program serupa. Akhirnya diadakan rapat dengan mengundang berbagai kementerian dan bahkan juga mengundang Kwarnas Pramuka dan Yayasan Jatidiri Bangsa yang ternyata sudah lama mengembangkan pendidikan karakter.
Setelah beberapa kali rapat koordinasi antar kementerian dan lembaga, disusun program Pembangunan Karakter Bangsa yang merupakan program nasional lintas kementerian dan lembaga. Mungkin karena yang sudah memiliki draft adalah Kemdiknas, maka akhirnya draft desain induk Pendidikan Karakter Kemdiknas yang dijadikan bahan awal menyusun desain induk Pembangunan Karakter Banga. Tim inti Kemdiknas juga yang menjadi Tim Inti antar kementerian dan lembaga yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koodinator Kesejahteraan Rakyat.
Walaupun sampai saya mengakhiri tugas sebagai Direktur Ketenagaan program Pengarusutamaan Pendidikan Karakter masih dalam taraf awal, tetapi saya yakin akan berjalan dengan baik, karena didukung oleh semua pihak. Bahkan dalam rapat dengan Komisi X DPR RI, sebagian besar mereka mendukung program tersebut dan mengusulkan agar mendapat dukungan alokasi dana yang memadai.
Yang tampaknya perlu segera dikerjakan(disamping kegiatan lain) adalah bagaimana agar pendidikan karakter masuk dalam pengembangan sekolah secara utuh. Dua hal yang rasanya penting: Pertama, secara periodik guru dan sekolah perlu membuat laporan evaluasi diri (self evaluation) tentang karakter siswa yang diajar/dibimbingnya dalam kehidupan keseharian di sekolah. Laporan dibuat setiap semester dan secara sederhana. Misalnya seberapa kejujuran, tanggung jawab, kedisipilan, kebersian, kepedulian dan kreativitas siswa. Laporan dibuat dengan jujur dan yang menjadi perhatian adalah perkembangan dari waktu ke waktu. Bukankah itu yang menjadi tanggung jawab kita sebagai pendidik.
Kedua, bagaimana agar budaya sekolah yang menunjukkan karakter semua warga sekolah dapat menjadi komponen penting dalam akreditasi sekolah. Jika kita yakin bahwa pendidikan karakter itu penting dan strategi pokok dalam pendidikan karakter adalah budaya sekolah, logikanya budaya sekolah menjadi salah satu komponen penting dan pembinaan sekolah dan itu tentunya perlu masuk dalam akreditasi sekolah.Di samping masalah konten tersebut, koordinasi akan menjadi masalah penting sekaligus krusial dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Mengapa? Semua atau paling tidak sebagian besat unit kerja di Kemdiknas, khususnya “unit kerja operasional” akan memiliki program yang terkait dengan pendidikan karakter. Oleh karena itu penyelarasan antar unit kerja akan sangat penting. (diambil dari buku "Tiga Setengah Tahun Bersama Ditnaga")
Kemungkinannya tentu sangat banyak, tetapi kalau sampai hal itu disebutkan secara eksplisit dalam pidato resmi di National Summit, tentu ada pihak yang dapat meyakinkan Presiden, sehingga hal itu dianggap sangat penting oleh Presiden dan mendesak untuk dilakukan. Saya jadi teringat suatu peristiwa makan siang pada hari Jum’at beberapa hari sesudah Idul Fitri tahun 2009. Saat itu saya diajak makan siang bersama oleh Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA (saat itu sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika). Makan siang sederhana dan diikuti oleh beberapa staf di Kementerian Kominfo.
Yang pokok bukan makan siangnya, tetapi diskusi sesudah makan siang. Setelah selesai makan siang, P Nuh mengajak diskusi santai dan seingat saya waktu itu hadir Prof. Dr. Abdullah Alkaf dan Dr. Son Kuswadi (keduanya saat itu sebagai staf khusus Menkominfo). Nah saat itu dibahas masalah pendidikan dan salah satunya pendidikan akhlak dan perilaku anak-anak kita yang cukup mengkhawatirkan. Seingat saya, saya bercerita tentang masalah nyontek yang sangat serius di sekolah. Dalam beberapa kesempatan bertemu dengan guru, saya bertanya: “jika ulangan dan bapak/ibu guru harus meninggalkan kelas untuk ke kamar kecil, berapa persen anak-anak yang nyontek?”. Sedihnya, para guru pada umumnya menyebutkan hampir seluruhnya, 90%, 80% dan seterusnya. Tidak pernah dijumpai guru yang berani mengatakan, tidak ada yang menyontek atau katakanlah yang menyontek dibawah 50%. Bukankah menyontek itu awal dari kebiasaan hidup menerabas, hidup yang inginnya punya hasil baik tetapi dengan tidak jujur. Bukankah itu indikator kita tidak berhasil atau katakanlah belum berhasil menanamkan kejujuran kepada anak-anak kita. Cerita itu kemudian menjadi diskusi yang panjang. Intinya kami yang saat itu ikut diskusi, sepakat betapa pentingnya pendidikan akhlak untuk memperbaiki perilaku anak bangsa.
Saya tidak tahu apakah saat diskusi itu Pak Nuh sudah tahu akan ditunjuk menjadi Mendiknas atau hanya karena sesama pendidik, kemudian mengajak diskusi tentang pendidikan. Yang pasti, dalam diskusi itu kami yang hadir merasa prihatin terhadap perilaku anak-anak kita. Waktu itu muncul seloroh: “orang tidak jujur sebaiknya tidak perlu pintar, agar tidak pandai berbuat jahat”, dan seterusnya. Intinya semua yang hadir dalam diskusi itu prihatin atas perilaku anak-anak kita, yang menunjukkan bahwa akhlaknya kurang baik.
Berangkat dari ingatan itu, saya berpikiran mungkin Pak Nuh yang saat menjadi Mendiknas berhasil meyakinkan Presiden SBY akan pentingnya pendidikan karakter. Mungkin juga dugaan saya salah, mungkin juga benar atau mungkin juga banyak masukan ke Presiden dan masukan dari Mendiknas hanya salah satu diantaranya. Yang penting adalah bahwa Presiden sudah menyatakan pentingnya pendidikan karakter dan itu dapat dimaknai, Kemendiknas harus melaksanakannya sebagai kebijakan penting. Dan betul juga, pendidikan karakter menjadi salah satu program 100 hari Kemdiknas.
Ketika tahu bahwa Pendidikan Karakter menjadi program 100 hari Kemdiknas, saya berseloroh: Itu timing-nya pas dan orangnya juga pas. Timing-nya pas, karena semua orang sedang risau tentang perilaku bangsa ini, sehingga pendidikan karakter dapat menjadi salah satu jawaban yang tepat. Orangnya pas, karena Pak Nuh sangat tepat sebagai figur karakter. Selama ini Pak Nuh dikenal sebagai orang yang pandai, santun, sederhana, pekerja keras, selalu menghargai orang lain dan dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Dalam rapat pimpinan di Kemdiknas ditetapkan bahwa yang menjadi penanggung jawab Pendidikan Karakter dalam program 100 hari Kemendiknas adalah Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan) dan unit utama lainnya menjadi mitra kerja pendukung. Oleh karena itu, Prof. Dr. Mansyur Ramli (Kepala Balitbang) segera bergerak cepat mengambil langkah menggelindingkan pendidikan karakter dan menunjuk Dra. Diah…..
Kami segera mengadakan komunikasi dengan berbagai pihak, baik para ahli pendidikan, budayawan, praktisi dan para pemerhati pendidikan. Bak gayung bersambut, hampir semua pihak yang kami hubungi menyatakan sepakat dan mendukung pendidikan karakter. Dan yang lebih menggembirakan ternyata sudah banyak orang, sekolah, lembaga pelatihan dan sejenisnya yang sudah merintis pendidikan karakter dengan berbagai variasi nama dan pendekatannya. Oleh karena itu perlu dihimpun pemikiran dan pengalaman berbagai pakar, paktisi dan pemerhati pendidikan karakter. Itulah salah satu alasan dilakukannya Sarasehan Nasional Pendidikan Karakter di Hotel Bidakara, tanggal 14 Januari 2010. Saat itu hadir lebih 200 orang peserta terdiri dari pakar, praktisi dan pemerhati dengan latar belakang yang sangat beragam. Guru, kepala sekolah, pengawas, dosen, ahli pendidikan, pemerhati pendidikan, budayawan, agamawan, ilmuwan dan sebagainya. Walaupun semula peserta dirancancang 200 orang, ternyata yang berminat sangat banyak. Bahkan, pada malam sebelum sarasehan dilaksanakan, masih ada yang menelpun dan setengah “memaksa” untuk ikut. “Tidak usah undangan Mas, kalau sampeyan ijinkan saya besuk akan datang”, begitu permintaan teman tersebut. Tampil sebagai pembicara utama, Prof Yahya Muhaimin, Prof Magnis Suseno dan KH Sukri Zarkasyi (Pimpinan Pondok Gontor). Juga hadir figur ternama antara lain, Brigjen (pur) Soemarno Soedarsono dari Yayasan Jati Diri Bangsa, Mario Teguh dan sebagainya.
Sarasehan dirancang sedemikian rupa, sehingga semua peserta mendapat kesempatan menyampaikan gagasan dan pengalamannya. Oleh karena itu, sesudah penyampaian pemikiran tiga orang pembicara utama, sarasehan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dengan peserta sekitar 25 orang. Ternyata diskusi berjalan baik, semua peserta menyampaikan pendapatnya dengan antusias. Bahkan secara spontan muncul deklarasi tentang Pentingnya Pendidikan Karakter Bangsa yang dibacakan oleh wakil peserta yaitu Pak Irsyad Sudiro (seingat saya beliau juga anggota DPR RI) didampingi Ibu Femy dari Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
Dari dokumen yang kita pelajari, baik berupa acuan hukum yang merupakan landasan yuridis maupun teori dan konsep dari berbagai literatur, pendidikan karakter bukankah hal baru. Jauh sebelum kemerdekaan, Bapak Pendidikan Indonesia (Ki Hajar Dewantara) menyebutkan bahwa pendidikan adalah daya upaya memajukan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita. Jadi jauh-jauh Ki Hajar sudah mengingatkan bahwa salah satu potensi yang harus dikembangkan pada anak-anak adalah karakter. Bahkan jika kita empat pilar pendidikan yang dikenalkan oleh Unesco, yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together, maka pilar ketiga dan pilar ke empat identik dengan karakter.
Jika kita telusur pola pendidikan di awal peradaban, yang pada saat itu banyak dilakukan di padepokan, pondok pesantren dan institusi seperti itu, pendidikan yang menyangkut nilai-nilai kehidupan, watak, budi pekerti dan hal-hal yang seperti itu merupakan bagian pokok. Bahkan kata guru yang berasal dari bahasa Sansekerta bermakna pendidik spiritual, yang disamping mengajarkan hal-hal yang bersifat pengetahuan dan keterampilan juga mengajarkan nilai-nilai kebajikan.
Bagaimana dengan landasan hukum dalam pendidikan? Pasal 3 Undang-undang Sisdiknas menyebutkan bahwa pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tampak sekali bahwa secara yuridis sebagaimana disebutkan pada UU Sisdiknas pendidikan di Indonesia seharus menekankan aspek karakter. Dari delapan aspek yang disebut sebagai tujuan pendidikan, ternyata hampir semua terkait erat dengan karakter. Permendiknas nomor 23 Tahun 2003 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) ternyata mendukung pikiran tersebut. Pencermatan kami, dari 22 butir kompetensi lulusan SMA/MA/SMK, ternyata 11 butir sangat dekat dengan karakter.
Dengan demikian program Pendidikan Karekter yang menjadi salah program utama Kemendiknas bukankah hal baru, karena sudah diamanatkan UU Sisdiknas, Permendiknas 23/2003 dan didukung oleh teori/konsep pendidikan. Yang perlu dilakukan adalah mengarusutamakan pendidikan karakter dalam pelaksanaan pendidikan kita. Harus diupayakan agar pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam pendidikan, baik dalam proses pembelajaran sampai pada penilaian hasil belajar.
Menyadari bahwa istilah karakter memiliki cakupan yang luas dan juga menyadari untuk memulai hal baru dalam pendidikan dikenal prinsip “dimulai dari yang mudah, yang murah dan yang menyenangkan”, maka langkah selanjutnya kami berkerja keras menjabarkan apa itu cakup karakter yang harus dikembangkan dan bagaimana cara mengembangkannya. Topik itu juga yang sudah digali dalam Sarasehan Nasional Pendidikan tanggal 14 Januari 2010 dan juga dari sekolah/lembaga pendidikan yang telah merintisnya. Pak Nuh selalu menyebutkan, karakter tidak hanya tentang berbuat santun tetapi juga memiliki kepenasaranan intelektual (intellectual courioucity), sehingga pemikiran tersebut juga menjadi salah satu pegangan.
Kajian terhadap berbagai literatur menghasilkan pemahaman bahwa karakter dapat dirujuk dari teori pendidikan, psikologi, sosiologi dan sosial budaya serta dari prinsip-prinsip kehidupan menurut ajaran agama. Yang sangat menarik, kajian dari berbagai teori itu ternyata bermuara pada hasil yang hampir sama dan dapat digambarkan dalam bentuk empat lingkaran yang memiliki bagian interseksi. Dari satu sisi, karakter dapat bersumber dari hal-hal yang berasal dari hati dan bersumber dari pikiran/nalar. Di sisi lain, karakter terkait dengan hal-hal yang bersifat intra persersonal dan yang terkait dengan inter personal.
Mengingat sudah banyak sekolah dan lembaga pendidikan/pelatihan yang melaksanakan pendidikan karakter dengan berbagai variasi nama maupun pendekatannya, maka kami bersepakat mengambil beberapa sekolah dijadikan contoh pengalaman bagi yang lain. Akhirnya dibuatlah buku kecil berjudul “Pendidikan Karakter: Pengalaman Insipiratif dari Sekolah”, yang bersisi 10 pengalaman, 2 TK, 2 SD, 2 SMP, 2 SMA dan 2 SMK. Masing-masing sekolah disertai film pendek (sekitar 8 menit) yang berisi rekaman apa saja dilakukan masing-masing sekolah dalam mengembangkan pendidikan karakter.
Ketika buku kecil dan film pendek tersebut selesai dibuat dan ditunjukkan dan atau diputar dalam beberapa kesempatan rapat, ternyata banyak pihak yang ingin memiliki. Akhirnya diputuskan, sementara Kemdiknas belum dapat menggandakan, soft copy buku dan film tersebut diunggah dalam web Kemdiknas dan atau Dikti dan juga diberikan kepada beberapa lembaga/pihak yang memerlukan. Sangat menggembirakan, ternyata ada pihak yang baik hati dengan menggandakan soft copy tersebut dalam bentuk CD dan membagi-bagikan secara gratis ke sekolah-sekolah.
Sungguh menarik. Ternyata melaksanakan pendidikan karekter tidak memerlukan fasilitas khusus apalagi istimewa. Yang diperlukan adalah: (1) teladan dari guru, karyawan dan pimpinan sekolah, (2) dilakukan secara konsisten dan secara terus menerus, disertai dengan (3) penanaman nilai-nilai kehidupan sebagai acuan mengapa kita melakukan itu. Semua sekolah yang sudah melaksanakan menyatakan bahwa: “semua guru adalah guru pendidikan dan oleh karena itu harus memasukkan/menyelipkan dalam kegiatan pembelajarannya (intervensi), dan karakter ditumbuhkan lewat kebiasaan kehidupan keseharian di sekolah (habituasi)”. Budaya sekolah (school culture) merupakan kunci cari keberhasilan pendidikan karakter. Dengan demikian makin yakin bahwa semua sekolah dan lembaga pendidikan akan melaksanakannya.
Yang sangat mengejutkan, ternyata pendidikan karakter merupakan kepedulian banyak kementerian dan lembaga pemerintah non kementerian serta lembaga swasta. Suatu saat Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mengundang rapat tentang pendidikan karakter yang dihadiri oleh kementerian di bawah koordinasinya. Ternyata semua yang hadir menyatakan punya program yang terkait dengan pendidikan karakter dan Kementerian Budaya dan Pariwisata (Budpar) punya direktorat khusus untuk menanganinya. Bahkan menurut informasi, kementerian lain seperti Dalam Negeri, Luar Negeri juga punya program serupa. Akhirnya diadakan rapat dengan mengundang berbagai kementerian dan bahkan juga mengundang Kwarnas Pramuka dan Yayasan Jatidiri Bangsa yang ternyata sudah lama mengembangkan pendidikan karakter.
Setelah beberapa kali rapat koordinasi antar kementerian dan lembaga, disusun program Pembangunan Karakter Bangsa yang merupakan program nasional lintas kementerian dan lembaga. Mungkin karena yang sudah memiliki draft adalah Kemdiknas, maka akhirnya draft desain induk Pendidikan Karakter Kemdiknas yang dijadikan bahan awal menyusun desain induk Pembangunan Karakter Banga. Tim inti Kemdiknas juga yang menjadi Tim Inti antar kementerian dan lembaga yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koodinator Kesejahteraan Rakyat.
Walaupun sampai saya mengakhiri tugas sebagai Direktur Ketenagaan program Pengarusutamaan Pendidikan Karakter masih dalam taraf awal, tetapi saya yakin akan berjalan dengan baik, karena didukung oleh semua pihak. Bahkan dalam rapat dengan Komisi X DPR RI, sebagian besar mereka mendukung program tersebut dan mengusulkan agar mendapat dukungan alokasi dana yang memadai.
Yang tampaknya perlu segera dikerjakan(disamping kegiatan lain) adalah bagaimana agar pendidikan karakter masuk dalam pengembangan sekolah secara utuh. Dua hal yang rasanya penting: Pertama, secara periodik guru dan sekolah perlu membuat laporan evaluasi diri (self evaluation) tentang karakter siswa yang diajar/dibimbingnya dalam kehidupan keseharian di sekolah. Laporan dibuat setiap semester dan secara sederhana. Misalnya seberapa kejujuran, tanggung jawab, kedisipilan, kebersian, kepedulian dan kreativitas siswa. Laporan dibuat dengan jujur dan yang menjadi perhatian adalah perkembangan dari waktu ke waktu. Bukankah itu yang menjadi tanggung jawab kita sebagai pendidik.
Kedua, bagaimana agar budaya sekolah yang menunjukkan karakter semua warga sekolah dapat menjadi komponen penting dalam akreditasi sekolah. Jika kita yakin bahwa pendidikan karakter itu penting dan strategi pokok dalam pendidikan karakter adalah budaya sekolah, logikanya budaya sekolah menjadi salah satu komponen penting dan pembinaan sekolah dan itu tentunya perlu masuk dalam akreditasi sekolah.Di samping masalah konten tersebut, koordinasi akan menjadi masalah penting sekaligus krusial dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Mengapa? Semua atau paling tidak sebagian besat unit kerja di Kemdiknas, khususnya “unit kerja operasional” akan memiliki program yang terkait dengan pendidikan karakter. Oleh karena itu penyelarasan antar unit kerja akan sangat penting. (diambil dari buku "Tiga Setengah Tahun Bersama Ditnaga")
Kamis, 13 Januari 2011
PERLU PARADIGMA BARU DALAM MERANCANG PENDIDIKAN
Tahun 2008 Tony Wagner menulis buku berjudul The Global Achievement Gap. Dalam buku itu Wagner mengungkapkan kerisauannya tentang isi pendidikan yang tertinggal jauh dari tuntutan kehidupan. Dari serangkaian riset yang dia lakukan, Wagner mengajukan the survival skills, yaitu critical thinking and problem solving, collaboration across network and leading by influence, agility and adaptability, initiative and entrepreneurialism, effective oral and written communication, accessing and analyzing information dan curiosity and imagination. Tahun 2009 muncul lagi buku berjudul 21st Century Skills oleh Bernie Trilling & Charles Fadel, yang nadanya sangat mirip yaitu menggungat bahwa pendidikan saat ini sudah using dan harus diubah. Trilling & Fadel mengajukan tiga skills yang harus ditumbuhkan di sekolah, yaitu learning and innovation skill yang terdiri dari creativity and inoovation, critical thinking and problem solving, communication and collaboration, digital literacy skills yang mencakup information literacy, media literacy, ICT literacy, dan career and life skills yang mencakup flexibility and adaptability, initiative and self direction, social and cross cultural skills, productivity and accountability, leadership and responsibility.
Mengapa pendidikan saat ini dianggap usang dan digugat tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan kehidupan di masyarakat? Bukankah pendidikan bertujuan untuk memgembangkan potensi anak didik, sehingga siap menghadapi tantangan dalam kehidupan nyata? Apakah kita salah dalam merancang pendidikan, sebagaimana diuangkap oleh Charles Handy dalam artikelnya Finding Sense in Uncertainty?
Sebenarnya hal di atas sudah diduskusikan secara intens pada tahun 2002an dan bahkan di era Mendikas Pak Malik Fajar pernah diterbitkan naskah berjudul Kecakapan Hidup (Life Skills). Naskah itu intinya menjelaskan bahwa kita harus melakukan perubahan paradigma dalam merancang pendidikan. Pendidikan bukan diarahkan untuk mengumpulkan pengetahuan/informasi semata, tetapi harus diarahkan untuk mengembangkan life skills. Dengan life skills diharapkan anak didik mampu menghadapi dan mengarungi kehidupan dengan baik.
Di era informasi sekarang ini, informasi dalam diperoleh dengan mudah lewat berbagai sumber. Kini berkembang kelakar, kalau ingin dapat informasi tanya saja kepada Mbah Google. Artinya internet dapat member segala informasi yang diperlukan. Oleh karena itu, apsek life skills yang perlu dikembangkan adalah kecakapan menganalisis informasi tersebut secara kritis untuk memecahkan masalah secara kreatif dan bijak. Iptek berkembang secara cepat, sehingga sangat mungkin apa yang dipelajari sekarang akan segera usang, oleh karena itu belajar secara mandiri (self learning, self direction dan initiative) harus dikembangkan dalam pendidikan.
Dalam praktek kehidupan, tidak ada fenomena yang dapat dijelaskan melalui satu bidang ilmu secara tuntas. Selalu diperlukan beberapa bidang ilmu untuk menjelaskan atau menganalisis suatu fenomena. Oleh karena itu, siswa perlu berlatih membedah suatu fenomena yang terjadi di sekitar sekolah dengan menggunakan referensi berbagai matapelajaran secara komprehensif. Pola ini merupakan hal baru tetapi perlu dimulai. Selama ini siswa belajar matapelajaran secara terpisah, seakan tidak ada hubungan satu dengan yang lain.
Dalam kehidupan, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan keseharian, seseorang selalu berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain. Bahkan ke depan bekerja dalam tim merupakan pola kerja yang semakin kental. Oleh karena itu pendidikan harus mengembangkan aspek social skills, yang intinya kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama. Semoga.
Mengapa pendidikan saat ini dianggap usang dan digugat tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan kehidupan di masyarakat? Bukankah pendidikan bertujuan untuk memgembangkan potensi anak didik, sehingga siap menghadapi tantangan dalam kehidupan nyata? Apakah kita salah dalam merancang pendidikan, sebagaimana diuangkap oleh Charles Handy dalam artikelnya Finding Sense in Uncertainty?
Sebenarnya hal di atas sudah diduskusikan secara intens pada tahun 2002an dan bahkan di era Mendikas Pak Malik Fajar pernah diterbitkan naskah berjudul Kecakapan Hidup (Life Skills). Naskah itu intinya menjelaskan bahwa kita harus melakukan perubahan paradigma dalam merancang pendidikan. Pendidikan bukan diarahkan untuk mengumpulkan pengetahuan/informasi semata, tetapi harus diarahkan untuk mengembangkan life skills. Dengan life skills diharapkan anak didik mampu menghadapi dan mengarungi kehidupan dengan baik.
Di era informasi sekarang ini, informasi dalam diperoleh dengan mudah lewat berbagai sumber. Kini berkembang kelakar, kalau ingin dapat informasi tanya saja kepada Mbah Google. Artinya internet dapat member segala informasi yang diperlukan. Oleh karena itu, apsek life skills yang perlu dikembangkan adalah kecakapan menganalisis informasi tersebut secara kritis untuk memecahkan masalah secara kreatif dan bijak. Iptek berkembang secara cepat, sehingga sangat mungkin apa yang dipelajari sekarang akan segera usang, oleh karena itu belajar secara mandiri (self learning, self direction dan initiative) harus dikembangkan dalam pendidikan.
Dalam praktek kehidupan, tidak ada fenomena yang dapat dijelaskan melalui satu bidang ilmu secara tuntas. Selalu diperlukan beberapa bidang ilmu untuk menjelaskan atau menganalisis suatu fenomena. Oleh karena itu, siswa perlu berlatih membedah suatu fenomena yang terjadi di sekitar sekolah dengan menggunakan referensi berbagai matapelajaran secara komprehensif. Pola ini merupakan hal baru tetapi perlu dimulai. Selama ini siswa belajar matapelajaran secara terpisah, seakan tidak ada hubungan satu dengan yang lain.
Dalam kehidupan, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan keseharian, seseorang selalu berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain. Bahkan ke depan bekerja dalam tim merupakan pola kerja yang semakin kental. Oleh karena itu pendidikan harus mengembangkan aspek social skills, yang intinya kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama. Semoga.
Jumat, 31 Desember 2010
PENDIDIKAN MENYONGSONG TAHUN 2011
Tanggal 30 Desember 2010 kemarin saya ditanya wartawan Jawa Pos, tentang masalah apa dalam bidang pendidikan yang perlu mendapat perhatian di tahun 2011. Berikut ini pendapat yang sampaikan kepada wartawan tersebut. Sebelum mengajukan pemikiran, saya ingin menyampaikan apresiasi yang tulus kepada Bu Risma (Bu Walikota) dan Pak Bambang DH (Pak Wakil Walikota) yang memberikan perhatian besar pada bidang pendidikan dan juga berbagai inovasi yang dilakukan. Terlepas berhasil atau belum, perhatian dan keberanian melakukan inovasi merupakan modal besar dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Ada dua masalah yang perlu mendapat pemecahan dalam pendidikan, khususnya di Surabaya. Pertama tentang pemerataan mutu. Saya yakin semua setuju bahwa pendidikan merupakan salah satu tangga mobilitas sosial. Anak seorang dari keluarga kurang beruntung (dalam aspek sosial ekonomi) tetapi mendapatkan pendidikan yang baik, akan memperoleh modal untuk memperbaiki tingkat sosial ekonomi. Nah, kalau kita dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada anak-anak dari keluarga kurang beruntung, pada saatnya kita akan dapat mengentas kemiskinan. Tidak hanya kepada anak-anak yang bersangkutan, tetapi juga kepada keluarganya sesuai dengan budaya extended family.
UUD 1945, pasal 28 C menyebutkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan guna meningkatkan kualitas hidupnya. Dengan demikian pemerintah perlu mengupayakan agar semua orang, termasuk anak-anak dari keluarga kurang beruntung untuk memperoleh pendidikan yang bermutu yang pada saatnya menjadi sarana untuk mengentas diri dan keluarganya dari keadaan semula.
Pada saat ini dapat dikatakan semua anak-anak sudah mengenyam pendidikan dasar. Namun kita harus jujur bahwa kesenjangan mutu pendidikan antar sekolah di Surabaya cukup lebar. Ada sekolah yang bermutu bagus dan biasanya siswa di sekolah seperti itu berasal dari keluarga yang mampu. Sebaliknya juga ada sekolah yang kondisinya kurang baik dan seringkali siswanya banyak dari keluarga kurang mampu. Sudah saatnya Pemkot Surabaya memberikan perhatian khusus pada sekolah seperti itu untuk mengurangi kesenjangan mutu pendidikan yang diterima warga Surabaya. Jika upaya itu dilakukan, berarti pemkot memenuhi kuwajiban menjamin anak-anak mendapatkan pendidikan yang bermutu, mengurangi kesenjangan mutu pendidikan, dan sekaligus dalam jangka panjang akan mengurangi jumlah keluarga miskin.
Masalah kedua yang perlu dipecahkan adalah isi pendidikan. Saya menghindari istilah kurikulum, karena seringkali kurikulum dimaknai sempit sebagai daftar mata pelajaran. Yang saya maksud isi pendidikan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa guna mengembangkan pengetahuan, karakter dan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan. Banyak keluhan bahwa isi pendidikan saat ini sudah using dan tidak sesuai dengan tuntutan kehidupan di masyarakat. Charles Handy (1997) menyebutkan bahwa pendidikan di sekolah saat ini didasarkan asumsi-asumsi masa lalu. Dari studi yang mendalam Wagner (2008) menyebutkan saat ini terdapat gap yang lebar antara apa yang dipelajari di sekolah dengan apa yang sebenarnya diperlukan anak ketika pada saatnya memasuki kehidupan nyata di masyarakat dan dunia kerja.
Saya mencermati apa yang dirisaukan oleh Handy maupun Wagner juga terjadi di Indonesia. Bahkan beberapa pakar dan pengamat juga sering mengungkapkan. Sekolah saat ini seakan merupakan dunia lain yang tidak ada hubungannya dengan masyarakat. Apa yang dipelajari di sekolah seringkali tidak sesuai dengan apa yang nantinya diperlukan saat anak didik saat sudah dewasa dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Sekolah seakan hanya untuk sekolah dan bukan untuk menyiapkan anak didik mengarungi kehidupan luas di masyarakat.
Surabaya sebagai kota metropolitan dan dikenal berani melakukan berbagai inovasi, sudah saatnya mencermati dan memecahkan fenomena seperti. Sudah saatnya dilakukan inovasi pendidikan agar di sekolah anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan apa yang nanti diperlukan saat yang bersangkutan terjun dalam kehidupan di masyarakat.\
Ada dua masalah yang perlu mendapat pemecahan dalam pendidikan, khususnya di Surabaya. Pertama tentang pemerataan mutu. Saya yakin semua setuju bahwa pendidikan merupakan salah satu tangga mobilitas sosial. Anak seorang dari keluarga kurang beruntung (dalam aspek sosial ekonomi) tetapi mendapatkan pendidikan yang baik, akan memperoleh modal untuk memperbaiki tingkat sosial ekonomi. Nah, kalau kita dapat memberikan pendidikan yang bermutu kepada anak-anak dari keluarga kurang beruntung, pada saatnya kita akan dapat mengentas kemiskinan. Tidak hanya kepada anak-anak yang bersangkutan, tetapi juga kepada keluarganya sesuai dengan budaya extended family.
UUD 1945, pasal 28 C menyebutkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan guna meningkatkan kualitas hidupnya. Dengan demikian pemerintah perlu mengupayakan agar semua orang, termasuk anak-anak dari keluarga kurang beruntung untuk memperoleh pendidikan yang bermutu yang pada saatnya menjadi sarana untuk mengentas diri dan keluarganya dari keadaan semula.
Pada saat ini dapat dikatakan semua anak-anak sudah mengenyam pendidikan dasar. Namun kita harus jujur bahwa kesenjangan mutu pendidikan antar sekolah di Surabaya cukup lebar. Ada sekolah yang bermutu bagus dan biasanya siswa di sekolah seperti itu berasal dari keluarga yang mampu. Sebaliknya juga ada sekolah yang kondisinya kurang baik dan seringkali siswanya banyak dari keluarga kurang mampu. Sudah saatnya Pemkot Surabaya memberikan perhatian khusus pada sekolah seperti itu untuk mengurangi kesenjangan mutu pendidikan yang diterima warga Surabaya. Jika upaya itu dilakukan, berarti pemkot memenuhi kuwajiban menjamin anak-anak mendapatkan pendidikan yang bermutu, mengurangi kesenjangan mutu pendidikan, dan sekaligus dalam jangka panjang akan mengurangi jumlah keluarga miskin.
Masalah kedua yang perlu dipecahkan adalah isi pendidikan. Saya menghindari istilah kurikulum, karena seringkali kurikulum dimaknai sempit sebagai daftar mata pelajaran. Yang saya maksud isi pendidikan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa guna mengembangkan pengetahuan, karakter dan keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan. Banyak keluhan bahwa isi pendidikan saat ini sudah using dan tidak sesuai dengan tuntutan kehidupan di masyarakat. Charles Handy (1997) menyebutkan bahwa pendidikan di sekolah saat ini didasarkan asumsi-asumsi masa lalu. Dari studi yang mendalam Wagner (2008) menyebutkan saat ini terdapat gap yang lebar antara apa yang dipelajari di sekolah dengan apa yang sebenarnya diperlukan anak ketika pada saatnya memasuki kehidupan nyata di masyarakat dan dunia kerja.
Saya mencermati apa yang dirisaukan oleh Handy maupun Wagner juga terjadi di Indonesia. Bahkan beberapa pakar dan pengamat juga sering mengungkapkan. Sekolah saat ini seakan merupakan dunia lain yang tidak ada hubungannya dengan masyarakat. Apa yang dipelajari di sekolah seringkali tidak sesuai dengan apa yang nantinya diperlukan saat anak didik saat sudah dewasa dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Sekolah seakan hanya untuk sekolah dan bukan untuk menyiapkan anak didik mengarungi kehidupan luas di masyarakat.
Surabaya sebagai kota metropolitan dan dikenal berani melakukan berbagai inovasi, sudah saatnya mencermati dan memecahkan fenomena seperti. Sudah saatnya dilakukan inovasi pendidikan agar di sekolah anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan apa yang nanti diperlukan saat yang bersangkutan terjun dalam kehidupan di masyarakat.\
Sabtu, 13 Desember 2008
brief introduction in his birthday, by his son
born in 1951, young Muchlas lived as part of local farmers, in the beautiful village called ponorogo. without leaving his duty as a young farmer, he gaze his education without hesitated, reading school book while watching his cattle were one of his daily activites.
Finished his high school, young Muchlas decided to continue his study in capital city of east java, Surabaya. Working for living while studying in bachelor degrees temptated and made young Muchlas respect the time, and other peoples. Organization was one of his favorite things in university, from speaking voice for other student un-hear voice, to struggling for student rights, and leading student organization for better future.
finished his bachelor degrees in machine engineering didn't stop Muchlas hunger for education and information. Find his interest in eduction area, Muchlas took his Master and Phd in educational area, and finised in "Cum Laude". Again, those titles didn't stop him to study, and finally his given tittle of Proffesor for all his effort.
Beside those historical stories, Muchlas save his time to his beloved family member. Married to his junior in college named Dwijani Ratnadewi who gave birth to three children, Rizki Fitria, Reza Rahmadian, and Aldila Rahma Putri. Muchlas was really strict if talk about education and religion, not because he already achieved high education, but only for one reason, for their children greater future.
We as his children, even didn't know how to repay his sweat and care, or even we'll never can. Only wish and pray that we can give in this birthday celebration. No cakes, no candles, or no party didn't mean we forget about this special day, Dad. We have replace the cake with wishes and pray, we change the candle into our smile and voices, and we have the party in our hugs for you Dad.
we proud to be your son, not as proffesor son, or as a director son, but we proud to be our Dad son's. Selamat ulang tahun Pah, semoga panjang umurnya!!
Ti,Ta,La
Finished his high school, young Muchlas decided to continue his study in capital city of east java, Surabaya. Working for living while studying in bachelor degrees temptated and made young Muchlas respect the time, and other peoples. Organization was one of his favorite things in university, from speaking voice for other student un-hear voice, to struggling for student rights, and leading student organization for better future.
finished his bachelor degrees in machine engineering didn't stop Muchlas hunger for education and information. Find his interest in eduction area, Muchlas took his Master and Phd in educational area, and finised in "Cum Laude". Again, those titles didn't stop him to study, and finally his given tittle of Proffesor for all his effort.
Beside those historical stories, Muchlas save his time to his beloved family member. Married to his junior in college named Dwijani Ratnadewi who gave birth to three children, Rizki Fitria, Reza Rahmadian, and Aldila Rahma Putri. Muchlas was really strict if talk about education and religion, not because he already achieved high education, but only for one reason, for their children greater future.
We as his children, even didn't know how to repay his sweat and care, or even we'll never can. Only wish and pray that we can give in this birthday celebration. No cakes, no candles, or no party didn't mean we forget about this special day, Dad. We have replace the cake with wishes and pray, we change the candle into our smile and voices, and we have the party in our hugs for you Dad.
we proud to be your son, not as proffesor son, or as a director son, but we proud to be our Dad son's. Selamat ulang tahun Pah, semoga panjang umurnya!!
Ti,Ta,La
Langganan:
Postingan (Atom)
