Sabtu, 22 Juli 2023

SEKOKAH NEGERI VS SWASTA SEMAKIN TIDAK RELEVAN

 Beberapa hari lalu, sebuah stasiun radio di Surabaya mendiskuasikan PPDB (Penerimaan Peserta DIdik Baru) dengan sistem zonasi yang tahun ini banyak menimbulkan masalah di berbagai daerah.  Banyak orangtua yang protes karena anaknya tidak diterima, pada hal merasa sekolahnya dekat dengan sekolah yang dituju.  Yang diterima justru anak dari yang rumahnya lebih jauh dari sekolah. Di tivi bahkan ditunjukkan adanya orang yang membawa meteran untuk mengukur jarak rumahnya dengan sekolah. Mungkin untuk mendramatisasi bahwa rumahnya hanya beberapa meter dari sekolah tetapi anaknya tidak diterima.

Dari berbagai informasi kemudian diketahui bahwa banyak orang tua yang “kreatif”.  Karena jarak antara rumah dan sekolah menjadi pertimbangan utama diterima-tidaknya dalam PPDB, mereka mencari akal agar “jarak rumahnya dengan sekolah dekat”.  Karena tidak mungkin memindah rumah, maka yang mungkin memindah alamat.  Karena tidak mudah memindah alamat seluruh keluarga, maka yang lebih mudah memindah alamat si anak, dengan cara menitipkan anaknya ke keluarga atau teman yang dekat dengan sekolah yang dituju, walaupun dalam kehidupan sehari-hari sebenarnta anak tersebut tetap tinggal di rumah aslinya.  Muncullah istilah “titip alamat”.

Beberapa hari kemudian stasiun radio yang sama mendiskusikan mengapa banyak SD negeri tidak mendapatkan siswa baru, pada hal gratis. Sementara SD swasta yang lokasinya tidak jauh dari situ tetap mendapatkan siswa baru bahkan beberapa diantaranya menolak pendaftar, walaupun mereka menarik SPP cukup mahal.  Ketika dibuka tanggapan dari pendengar, ternyata muncul pendapat yang berbeda apakah memilih sekolah negeri atau swasta.  Ada yang mengutamakan sekolah negeri karena gratis dengan catatan mutunya baik.  Ada yang mengutamakan mutu walaupun harus membayar. Negeri swasta tidak menjadi pertimbangan.

Merenungi kedua diskusi di radio itu sungguh menarik.  Ketika belum ada sistem zonasi dan saat itu masih ada UN (ujian nasional), sekolah negeri yang mutunya bagus menjadi rebutan.  Bahwa orang tua rela menyumbang sekolah dengan nilai cukup besar agar anaknya diterima. Ketika sumbangan seperti itu dilarang, banyak sekolah yang kreatif.   Yang menerima sumbangan bukan sekolah tetapi Komite Sekolah (organisasi persatuan orangtua siswa).  Nanti Komite yang membelikan sesuatu atau mengadakan acara tertentu untuk sekolah.

Sekolah swasta lebih bebas menarik sumbangan.  Jadi umumnya sekolah swasta yang mutunya bagus menarik sumbangan yang cukup besar dan toh tetap saja pendaftaranya banyak.  Sementara sekolah swasta yang kurang bermutu seringkali kesulitan mendapatkan siswa, walaupun SPP-nya rendah.  Sekolah seperti itu yang protes ketika sekolah negeri menambah kuota siswa baru karena dianggap “mengambil” peluangnya.

Apa yang sebenanya terjadi? Menurut saya fenomena tersebut menunjukkan adanya gejala segmentasi masyarakat dalam memilih sekolah bagi anaknya, seperti pada gambar berikut.

Orangtua yang sangat penduli pada pendidikan anaknya akan berusaha mencari sekolah yang diyakini baik, demi masa depan anaknya.  Negeri atau swasta tidak penting.  Bagi yang kaya, mereka akan memilih sekolah “terbaik” walaupun harus membayar mahal.  Di di daerah tempat tinggalnya sekolah yang diinginkan tidak ada, mereka akan mengirim anaknya ke daerah lain atau bahkan ke luar negeri.   Itulah, mengapa banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya di kota lain atau di negara lain.

Bagi mereka yang ekonominya terbatas tetapi peduli pendidikan anaknya, mereka akan berusaha memasukkan ke sekolah negeri yang mutunya baik, karena gratis. Jika itu tidak mungkin mereka akan mencari sekolah swasta yang mutunya cukup baik, dan SPP-nya terjangkau.

Orangtua yang kaya tetapi kurang peduli pada mutu pendidikan, biasanya memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah favorit atau sekolah yang bergengsi. Negeri swasta tidak penting. Membayar mahal juga tidak masalah, toh ada uang untuk itu.   Orangtua yang secara ekonomi kurang baik dan juga tidak peduli pada pendidikan, akan mengirim anaknya ke sekolah terdekat yang gratis atau murah.  Yang penting anaknya bersekolah, mutunya tidak penting.

Senin, 22 Mei 2023

PENGUKUHAN PROF GANEFRI SEBAGAI DATUAK DJUNJUNGAN NAN BAGADIANG

Sabtu 20 Mei 2023 saya diundang untuk menghadiri Alek Batagak Pangulu Prof Ganefri, PhD Datuak Djunjungan Nan Bagadiang di Rumah Gadang Suku Banuhampu Kabupaten Limapuluh Kota.  Ketika saya cari di google map, ternyata lokasinya di kota Payakumbuh, sebuah kabupaten paling timur utara propinsi Sumatra Barat, berbatasan dengan propinsi Riau.  Sekitar 1.5 jam perjalanan dengan mobil dari Bukit Tinggi.

Jujur saya sangat ingin hadir karena itu merupakan upacara adat yang tidak selalu ada setiap saat. Saya bersama isteri berangkat dari Jakarta dengan Garuda pukul 16.10 dan landing di bandara MInangkabau sekitar pukul 18.00. Dijemput oleh Mas Randi, staf Pascasarjana FMIPA UNP, kami langsung bermobil menuju Bukit Tinggi, agar besuk pagi dapat langsung ke lokasi acara. Bu Prof Sofia, Direktur Sumberdaya Lamdik, sudah lebih dahulu sampai Bukit Tinggi dan memberi informasi bahwa semua hotel yang bagus di Bukit Tinggi penuh dan terpaksa kami harus menginap di hotel kecil, yaitu Hotel Nikita.  Saya sampaikan ke beliau “tidak apa-apa, toh hanya untuk tidur semalam”, karena besuknya pukul 06.30 harus sudah berangkat ke Payakumbuh.

Ternyata makan pagi di hotel Nikita baru mulai pukul 07.00 pada hal kami ingin berangkat pukul 06.30, sehingga kami minta secara khusus agar sarapan kami dikirim ke kamar.  Alhamdulillah, Sabtu pagi sekitar pukul 06.00 sarapan dikirim ke kamar, sehingga kami sarapan nasi goreng yang sangat enak, walaupun untuk lidah saya agak pedas. Selesai sarapan, kami segera siap-siap berangkat. Mas Randi juga sudah siap, sehingga kami langsung berangkat.

Lalu lintas Bukit Tinggi-Payakumbuh ternyata cukup padat, karena merupakan rute antara Bukit Tinggi dan Pekanbaru, antara propinsi Sumatra Barat dan Riau.  Jalannya cukup bagus tetapi sempit. Beberapa kali mobil kami harus berjalan pelan di belakang truk, sebelum dapat kesempatan mendahului. Mendekati lokasi acara Mas Randi dapat informasi kalau di tempat acara sudah macet karena banyak mobil tamu.  Saya memberi komentar, ya kalau perlu nanti kita jalan kaki. Dan betul, begitu kami sampai lokasi antrean mobil cukup panjang dan kami harus berhenti sekitar 50 meter dari tempat upacara dan kami harus jalan kaki.

Sambil berjalan saya amati karangan bunga ucapan selamat sangat banyak dan dipasang berjajar sepanjang jalan masuk.  Tidak hanya dari kalangan UNP, tetapi juga dari rektor dari berbagai universitas karena Prof Ganefri menjadi ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri. Juga dari beberapa pejabat Sumatra Barat serta beberapa dari Jakarta.  Dari karangan bunga tersebut menunjukkan bahwa Prof Ganefri adalah seorang tokoh masyarakat.

Begitu sampai lokasi, kami ketemu Dr. Yulkifli, Dekan FMIPA UNP dan tampaknya memang beliau diminta menemami kami.  Di halaman Rumah Gadang ada tenda khusus yang disitu diisi oleh bapak-bapak yang mengenakan pakaian mirip toga guru besar.  Ternyata beliau-beliau itu pada datuak yang mengikuti upacara.  Saya baru faham ternyata jumlah datuak itu cukup banyak, karena dosen UNP yang “bergelar” datuak ada 25 orang.  Pak Yulkufli menjelaskan bahwa datuak itu semacam “ketua suku”, sehingga berapa jumlah datuak menggambarkan jumlah suku di Minangkabau. Prof Ganefri berasal dari suku Banuhampu.  Datuak dipilih dalam musyawarah suku yang berangkutan dan bukan dari keturuan.

Ketika acara dimulai, Prof Ganefri sebagai “calon” datuak datang disambut tarian adat, saya berdiri di dekat pintu masuk Rumah Gadang agar dapat mengambil foto. Ternyata Prof Ganefri mengirim WA agar saya ikut masuk Rumah Gadang.  Tentu saya mau, karena akan dapat melihat langsung bagaimana jalannya upacara.

Rumah Gadang terdiri dari 3 bagian. Paling depan sepertinya untuk tamu perempuan, bagian tengah untuk tamu laki-laki dan bagian dalam untuk datuak yang dikukuhkan. Saya disilahkan duduk di ruang dengan bersama para datuak dan beberapa pejabat tertentu.  Kami semua duduk bersila dan terdiri dari dua lingkaran. Satu lingkaran untuk para datuak.  Lingkaran dimana saya duduk, sepertinya untuk tamu non datuak. Ada Menteri Desa (Gus Halim), ada Wakil Gubernur Sumbar, Ketua DPRD Sumbar, Bupati Limapuluh Kota, Kapolres Payakumbuh dan Ketua Datuak se Sumbar (saya lupa nama resmi jabatan tersebut). Saya duduk diantara Wakil Bupati Sumbar dan Ketua DPRD Sumbar.

Upacara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an disambung dengan do’a oleh salah seorang datuak senior. Setelah itu ada patatah-patitih dari para datuak yang dilaksanakan seperti saut-sautan.  Disampaikan dalam bahasa Minang, sehingga saya tidak faham.  Mungkin dapat menangkap sedikit-sedikit karena bahasa Minang ada kemiripan dengan bahasa Indonesia. Penangkapan saya patatah-patitih itu semacam nasehat atau kata-kata bijak. Namun menurut Pak Ketua DPRD Sumbar yang duduk di sebelah kiri saya, juga ada bagian yang menanyakan apakah calon datuak yang akan dikukuhkan mampu melaksanakan ungkapan bijak yang disampaikan para datual senior tersebut. Patatah-patitih cukup panjang, mungkin lebih dari 1,5 jam. Bahkan menurut Pak Ketua DPRD dapat berlangsung berjam-jam sampai para datuak yakin sang calon datuak dapat melaksanakan ungkapan bijak tersebut.

Setelah patataah-patitih selesai ditandai dengan ungkapan hamdallah oleh seorang datuak senior, upacara dilanjutkan dengan pengukuhan Prof Ganefri sebagai datuak Djunjungan Nan Bagadiang dengan simbul pemasangan “mahkota” berupa ikat kepala yang telah disiapkan. Setelah itu dilanjutkan semacam nasehat dari datuak senior yang memasangkan “mahkota” tersebut.  Ternyata, disamping pengukuhan datuak baru, juga ada penganugerahakan gelar kepada Menteri Desa, dengan sebutan Sutan Khafilah.

Selanjutnya ada serangkaian sambutan, mulai dari Ketua Datuak Sumbar, Bupati Lima Puluh Kota, Ketua DPRD Sumbar, Wakil Gubernur, Menteri Desa dan diakhiri sambutan dari Prof Ganefri sebagai datuak baru.  Jadi semacam parade sambutan.  Upacara diakhiri dengan makan siang sekitar pukul 12an.  Jadi upacara berjalan sekitar 2,5 jam dan semua yang ada di dalam Rumah Gadang harus duduk besila.  Mungkin berat bagi yang tidak terbiasa.  Selamat Prof Ganefri PhD Datuak Djunjungan Nan Bagadiang.

Senin, 01 Mei 2023

UMROH NUNUT

 Tahun ini merupakan keburutungan bagi saya, karena mendapat tugas mengakreditasi SIM (Sekolah Indonesia di Makkah), sehingga bisa umrah “gratis”.  Apalagi tugas itu dilaksanakan bertepatan dengan bulan Ramadhan.  Dapat dibayangkan betapa saya berutung, karena jika ikut rombongan umrah seperti lazimkan, tentu biayanya sangat mahal.  Memang jatah tugas dinas hanya 4 hari termasuk perjalanan, 1 hari perjalanan berangkat, 2 hari melakukan akreditasi, dan 1 hari perjalanan pulang. Jadi kali ini saya melakukan “umrah nunut” tugas akreditasi.

Karena ingin melakukam umrah, saya dengan Pak Malik (teman sesama bertugas) harus memperpanjang waktu tinggal di Makkah atas biaya sendiri.  Saya menambah 2 hari sedangkan Pak Malik menambah 4 hari karena ingin juga ke Madinah.  Tentu kami harus mencari akal, agar biaya yang diberikan BAN SM cukup untuk menambah hari tersebut.  Untungnya Pak Mubarak (Wakil Kepala SIM yang kelahiran Makkah) dapat mencarikan hotel yang tidak terlalu mahal tetapi lokasinya dekat dengan Masjidil Haram. 

Kami harus mengatur waktu dengan efisien. Oleh karena itu begitu datang di Jeddah hari Minggu pada tanggal 2 April 2023, kami langsung melaksanakan umrah. Kami mengambil miqat di Jeddah dan sekitar jam 10an berangkat ke Makkah dengan diantar oleh Pak Mubarak.  Kami didamping oleh seorang guru Tafidz SIM (Pak Sinsin Rosyidin).  Karena beliau tinggal di Makkah dan tidak ikut ke Jeddah (dijemput di rumahnya di Makkah), maka beliau mengambil miqat di Tan’im. Jadi walaupun sudah mengambil miqat dsi Jeddah kami ikut ke Tan’im.

Alhamdulillah umrah kami berjalan lancar. Sebenarnya lutut kiri saya sakit dan saya menggunakan decker. Bahkan hari Kamis sebelum berangkat, saya ke dokter ortopedi dan diberi obat oles Voltaren dan obat anti sakit untuk diminum kalau terasa nyeri.  Walaupun tahu kalau jama’ah umrah sangat banyak, kami memutuskan untuk tawaf di plataran ka’bah.  Memang penuh jama’ah tetapi jarak putaran tentu lebih pendek dibanding jika tawaf di lantai 2 atau lantai 3.Ketika tawaf saya berusaha berjalan dengan hati-hati agar kaki kiri tidak keseleo.  Ternyata sampai tawaf selesai lutut tidak terasa sakit.  

Selesai melakukan tawaf dan sholat sunah 2 rakaat serta berdo’a, kami dipandu Pak Sinsin menunju lokasi sa’I, yang ternyata sangat banyak jama’ah yang sedang melaksanakan sa’i. Segera kami membaur dengan jama’ah lainnya.  Di tengah-tengah sa’i terdengar adzan dhuhur sehingga kami berhenti ikut sholat dhuhur di lokasi sa’i.  Untunglah kami memiliki wudhu sehingga langsung saja mencari shaft untuk sholat.  Selesai sholat kami mencari tempat air Zamzam untuk membasahi muka dan kepala, sekedar agar lebih segar. Alhamdulillah, sa’I berjalan lancer dan lutut saya tidak sakit.

Selesai sa’i dan sholat sunah 2 rakaat plus berdo’a, kami ingin tahalul. Karena tidak membawa gunting kami meminjam gunting ke jama’ah lain. Pak Malik ternyata ingin potong rambut. Memang sejak pandemi covid 19 beliau memelihara rambut sehingga sampai sebahu.  Pak Sinsin mengajak kami keluar masjid dan mencari tempat potong rambut.  Saya komentari, ternyata untuk potong rambut Pak Malik menunggu umroh lebih dahulu.

Selesai umrah kami dijemput Pak Mubarak dan diantar ke hotel.  Ternyata kamar belum siap, sehingga harus menunggu sekitar 1 jam.  Setelah mendapat kamar dan istirahat sebentar, kami kembali ke masjidil haram untuk sholat ashar, magrib, isya dan tarawaih.  Bagaimana dengan buka puasa?  Tersedia melimpah.  Begitu menjelang magrib, ada orang menggelar plastik di depan shaf dan kemudian banyak jamaah yang meletakkan kurma, roti dan sebagainya di depan setiap jamaah. Ada juga yang menawari teh hangat.  Pokoknya makanan untuk buka puasa melimpah.

Bagaimana dengan pelaksanaan sholat tarawih?  Ini pertama kali saya ikut sholat tarawih di masjdil haram. Informasi yang selama ini saya dapat, sholat tarawih di masjdil haram 23 rakaat, mungkin mirip di kampung saya. Oleh karena itu, saya dan Pak Malik sudah siap untuk tarawih 23 rakaat, walaupun sangat mungkin surah yang dibaca imam panjang-panjang, sehingga waktu sholat menjadi lama.  Ternyata saya keliru.  Bahwa surat yang dibaca imam panjang-panjang memang benar, tetapi saya agak bingung karena setelah selesai 10 rakaat diselingi sholat janazah dan setelah itu sholat 2 rakaat berikutnya dengan surat pendek-pendek.  Di akhir rukuk kedua ada do’a yang cukup panjang.  Setelah itu sholat lagi tetapi hanya 1 rakaat dan salam.  Jadi tarawih di masjidil haram yang saya ikuti minggu sore itu bukan 23 rakaat dan juga bukan 11 rakaat tetapi 13 rakaat. Sepuluh sholat tarawih plus 3 rakaat dengan dua salam untuk witir.

Senin pagi2 sekali kami sudah ke masjidil haram untuk shalat tahajud disambung sholat subuh dan shalat dhuha.  Setelah itu pulang ke hotel dan siap-siap untuk ke SIM melakukan tugas akreditasi. Bagaimana kondisi SIM sudah saya ceritakan pada tulisan yang lalu.  Sore harinya berbuka bersama di rumah salah satu walimurid yang kebetulan namanya sama dengan nama belakang saya (Samani) dan beliau kebetulan berasal dari Tulungagung sama denga nasal ayah saya.  Aktivitas kami untuk hari Selasa pada dasarnya sama dengan hari Senin, tetapi buka bersama dilaksanakan di sekolah bersama guru dan siswa.

Pada hari Rabu kami ingin umrah kedua, tetapi mendadak Pak Duta Besar Indonesia untuk Saudi Arabia mengunjungi SIM dan ingin bertemu kami berdua. Jadi umrah kedua kami tunda hari Kamis. Mungkin Pak Dubes dapat informasi kalau Pak Malik dan saya kenal baik dengan Sekjen Kemdikbud yang akan datang ke SILN Riyadh, Jeddah dan Makkah.  Saat ketemu dan ngobrol, beliau minta kami hadir di rapat dengan Sekjen Kemdikbud dan membantu meyakinkan agar Pemerintah memprioritaskan pengembangan SILN di Saudi Arabia.  Seperti saya ceritakan di tulisan sebelumnya, memang saat rapat secara khusus kami diminta untuk menyampaikan pemikiran tentang SILN tersebut.

Hari Kamis kami umrah yang kedua dan mengambil miqat di Tan’im dengan diantar oleh Pak Mubarak.  Kami umrah berdua saja (saya dengan Pak Malik) dan alhamdulillah berjalan lancar.  Hanya saat mencari jalan dari pelataran ka’bah ke lokasi sa’i sempat tersesat, sehingga harus keluar masjid dahulu lalu masuk lagi. Itupun tidak menemukan jalan ke lokasi sa’i di lantai 1, sehingga kami melaksanakan sa’i di dilantai 2.  Kebetulan juga, karena dapat melihat orang-orang yang melaksanakan sa’I lantai atasnya lagi dengan scooter listrik.  Saya sengaja tidak mengenakan decker pada umrah kedua dan alhamdulillah lutut saya tidak sakit.

Hari jum’at kami menghadiri rapat yang dihadiri Dubes RI untuk Saudi Arabia, Sekjen Kemdikbud, Sekjen Kemlu, Sek utama Kemsekneg dan seluruh pimpinan dan guru SIM, seperti telah saya ceritakan pada tulisan yang lalu.  Selesai rapat, kami (Pak Sutikno, Pak Mubarak, Pak Malik dan saya) ingin sholat jum’at di Masjidil Haram.  Dengan disopiri Pak Mubarak, kami berusaha mencari jalan masuk ke lokasi Masjidil Haram. Sayang semua jalan masuk ke arah itu ditutup, sehingga akhirnya kami sholat jum’at di masjid lain.

Setelah sholat jum’at kami ke hotel dan check out.  Pak Malik diantar ke stasiun kereta api, karena akan ke Madinah dan Pak Sutikno diantar ke SIM, sedangkan Pak Mubarak dan saya menghadiri buka bersama IKAMA (Ikatan Keluarga Madura) di Makkah.  Menarik sekali.  Ternyata jumlah orang Madura di Makkah sangat banyak dan ada yang sudah generasi ketiga.  Makanan yang disajikan juga ada yang khas Madura, yaitu sate kambing dan bubur Madura.

Selesai buka bersama dan sholat magrib berjama’ah (saya menjamak  dengan sholat isya) kami langsung ke bandara untuk kembali ke tanah air. Sampai bandara saya kaget karena yang antre check in panjang sekali dan sebagian besar jama’ah umrah.  Untungnya saya punya GFF (Garuda Frequent Flyer Platinum) dan ada Pak Mubarak yang dapat berkomunikasi dengan petugas check in dengan berbahasa Arab.  Alhamdulillah check in lancar, bahkan saya diberi jatah air Zamzam. Penerbangan jam 00.30 berjalan lancar, transit di Jakarta juga lancar, sehingga selepas magrib saya mendapat di bandara Juanda

Minggu, 23 April 2023

SILN DI MAKKAH

SILN (Sekolah Indonesia di Luar Negeri) adalah “sekolah negeri” atau sekolah milik pemerintah yang berada di luar negeri untuk memberi kesempatan anak-anak Indonesia yang ikut orangtuanya tinggal di luar negeri.  Salah satunya di Makkah, sehingga dalam sehari-hari disebut SIM (Sekolah Indonesia Makkah).  Di Saudi Arabia ada tiga SILN yaitu SIM, SIJ (Sekolah Indonesia di Jeddah) dan SIR (Sekolah Indonesia di Riyadh).

Sebagaimana saya tuliskan sebelumnya, saya berkesempatan melakukan akreditasi ke SIM dengan Pak Abdul Malik, khususnya untuk jenjang SMA.  Sebenarnya dua tahun lalu saya sudah pernah melakukan akreditasi ke SIM tetapi dilakukan secara daring, karena waktu itu sedang terjadi pandemi covid 19.  Tahun  lalu dijadwalkan lagi tetapi karena sesuatu hal tidak terlaksana dan baru tahun ini terlaksana.  Pelaksanaannya pada bulan Ramadhan, sehingga teman-teman berkomentar “pas sekali, karena dapat kesempatan umrah juga di bulan Ramadhan”.

Sebagaimana seharusnya, sebelum berangkat saya sudah membaca data-data tentang SIM, khususnya SMA.  Apalagi sudah melakukan akreditasi secara daring dua tahun lalu.  Namun begitu sampai di Makkah dan diskusi dengan para pimpinan sekolah, guru, siswa dan wali murid saya jadi sangat terkesan, karena SIM didirikan dengan penuh perjuangan.  Oleh karena itu, secara kelakar saya menyebut “seharusnya SIM ditambah huruf P di belakangnya, sehingga menjadi SIMP, kependekan dari Sekolah Indonesia Makkah Perjuangan”.

Mengapa demikian?  Ternyata SIM apa awalnya didirikan oleh komunitas masyarakat Indonesia yang tinggal di Makkah, dengan lembaga Ma’arif.  Bukan oleh Pemerintah Indonesia seperti SILN pada umumnya.  Pendirinya Ma’arif, tetapi secara organisasi bukan merupakan bagian dari Ma’arif yang ada di Indonesia.  Mungkin secara pribadi, para pengurus Ma’arif pendiri SIM tersebut juga warga NU, tetapi secara organisasi Ma’arif Makkah tersebut berdiri sendiri. Komunitas orang Indonesia yang merasa anak-anaknya harus sekolah, sementara tidak mudah untuk bersekolah di sekolah lokal, membuat mereka  bertekad mendirikan “sekolah Indonesia”/

Pak Sinsin, salah satu guru senior dan pendiri SIM menceritakan bagaimana perjuangan awal pendirian SIM.  Bahkan sempat “ditangkap” oleh pihak keamanan di Makkah karena dicurigai.  Dalam perkembangannya Ma’arif Makkah kerepotan mengurus SIM dan diserahkan kepada Pemerintah.  Oleh karena itu saat ini SIM menjadi “SILN” sebagaimana SILN SILN lainnya.

Berbeda dengan SILN di negara lain yang biasanya menjadi tempat sekolah anak-anak para diplomat atau ekspatriat Indonesia, SIM dan konon juga SIJ dan SIR merupakan tempat anak-anak TKI (tenaga kerja Indonesia) yang berkerja di Saudi Arabia.  Nah karena sebagian besar TKI bukankah tenaga profesional dengan gaji besar sebagaimana ekspatriat, maka SIM tidak dapat menggantungkan keuangan dari hanya sumbangan orangtua siswa.  Mungkin itu juga yang menyebabkan Ma’arif Makkah akhirnya menyerahkan SIM ke Pemerintah.

 Sebagai kota suci, di Makkah ada peraturan khusus yang sangat ketat, sehingga pengelolaan SIM tidak dapat dilakukan secara leluasa dan itulah tantangan Pemerintah Indonesia. Beberapa aturan yang harus dipecahkan antara lainL Pertama, di kota Makkah tidak boleh ada sekolah negeri dari negara lain. Oleh karena itu secara hukum Saudi Arabia, SIM merupakan “sekolah swasta” dan karena itu “dibawah pembinaan sekolah swasta lokal”.  Jadi SIM memiliki “induk” sekolah negeri lokal dan untuk itu harus membayar cukup besar kepada sekolah induknya. Selain itu sebagai sekolah swasta, SIM diawasi secara ketat oleh “Dinas Pendidikan setempat”.  Pada saat kami datang, SIM belum dapat melaksanakan pembelajaran luring karena baru menambah ruangan dan menurut inspeksi “Dinas Pendidikan setempat” beberapa ruang harus dicat kembali dahulu sebelum melaksanakan pembelajaran luring.  Siswa lak-laki dan perempuan juga harus dipisah, sehingga SIM memiliki “dua gedung”, walaupun “menempel” satu dengan lainnya. Guru laki2 tidak boleh mengajar siswa perempuan dan juga sebaliknya.

Karena diserahkan ke Pemerintah, maka di mata Pemerintah Indonesia SIM adalah SILN (sekolah negeri) sebagaimana SILN lainnya. Namun karena secara formal tidak boleh SILN di Makkah, maka SIM seakan-akan menjadi bagian dari SIJ.  Kepala sekolahnya juga dirangkap oleh kepala sekolah SIJ (Sutikno, SPd, MPd). Namun karena jarak Makkah-Jeddah cukup jauh, sehingga tidak mungkin Pak Sutikno bolak-balik Jeddah-Makkah, maka sehari-hari yang menjadi “kepala SIM” adalah Pak Mubarak, LC dan secara formal disebut wakil kepala sekolah senior, karena di bawah Pak Mubarak ada wakil kepala sekolah seperti lazimnya di Indonesia.  Jadi manajemen di SIM sangat khas. Sehari-hari dikelola secara otonom oleh manajemen dibawah kepemimpinan Pak Mubarak, secara hukum Saudi Arabia dibawah naungan sekolah lokal dan punya kepala sekolah dirangkap kepala sekolah induknya, dan secara hukum Indonesia merupakan bagian SIJ dan kepala sekolahnya dirangkap oleh kepala SIJ.

Akibat dari kebijakan Pemerintah Arab Saudi tersebut, sampai saat ini SIM tidak punya guru negeri sebagaimana SILN lainnya.  Memang saat ini ada dua orang tetapi status resminya guru SIJ yang diperbantukan di SIM.  Guru lainnya semua “guru tetap SIM” semacam “guru tetap Yayasan” di sekolah swasta di Indonesia.  Oleh karena itu, SIM memerlukan biaya operasional cukup besar untuk menggaji guru. Apalagi jumlah siswa per rombel kecil, akibat siswa laki-laki dan perempuan harus dipisah.

Kedua, di kota suci Makkah tidak diijinkan pemerintah negara lain memiliki properti.  Akibatnya sampai saat ini SIM tidak memilki gedung sendiri.  Gedung yang digunakan merupakan sewa dan sangat mungkin suatu saat tidak dapat diperpanjang.  Nah, gedung yang disewakan umumnya gedung yang dirancang untuk perumahan (apartmen), sehingga ukuran ruangannya kecil-kecil.  Untungnya jumlah setiap rombel di SIM sedikit, maksimal 11 orang, sehingga ruang dengan ukuran sekitar 4 x 4 m masih memadai untuk ruang kelas.

Gedung SIM yang saat ini digunakan tidak memiliki halaman, sedangkan aturan di Makkah siswa tidak boleh berada di luar sekolah.  Akibatnya siswa tidak memiliki lapangan untuk olahraga, upacara dan acara sejenisnya.  Semua kegiatan seperti itu terpaksa di lakukan di lantai basement yang tentu luasnya sangat terbatas.

Dua masalah pokok tersebut yang dicarikan jalan keluar, agar siswa di SIM dapat belajar secara optimal sebagaimana SILN di negara lain.  Saat bertemu dan berdiskusi dengan Duta Besar RI untuk Saudi Arabia, Sekjen Kemdikbud, Sekjen Kemlu dan Sekretaris Utama KemSesneg, kami sampaikan bahwa cara-cara tradisional (formal) tampaknya sulit dan harus dicari terobosan khusus.  Mengapa demikian?  Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, termasuk anak-anak Indonesia yang berada di Makkah.  Mereka pada umumnya berasal dari keluarga menengah ke bawah, sehingga tidak dapat mengatasinya secara individual. Oleh karena itu kehadiran negara menjadi tumpuan bagi mereka. Semoga.

Minggu, 09 April 2023

NAIK PESAWAT, BELI SATU TIKET DAPAT TIGA KURSI

Tanggal 2 April 2023 saya mendapat tugas ke Saudi Arabia untuk melakukan akreditasi Sekolah Indonesia Makkah (SIM).  Tiket penerbangan dibelikan oleh Koperasi yang ada di Kantor Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Jakarta.  Saya bertugas bersama Pak Malik (Dr. Ir. Abdul Malik, MA).  Kami sepakat naik Garuda yang berangkat dari Jakarta pukul 00.30 tengah malam.  Jadi tanggal 1 April lewat 30 menit.

Mengapa memilih penerbangan itu?  Ya, alasan klasiknya nasionalisme biar dapat membantu “membesarkan” Garuda, sebuah maskapai BUMN yang “baru sakit” dan sampai sekarang belum pulih. Kedua, dengan berangkat tengah malam, pukul 05.45 sudah sampai Jeddah, dengan harapan hari itu yang kebetulan hari minggu dapat umrah, sebelum besuk paginya (Senin tgl 3 April 2023) mulai bertugas. Jadi ngiras-ngirus, ya bertugas tetapi juga dapat umrah.  Teman-teman berkomentar umrah gratis alias umrah dibayari negara.

Ketika sampai bandara dan ingin check in di counter Garuda, saya diberitahu petugasnya bahwa saya terbang dengan Saudi Arabia Air, joint operation dengan Garuda.  Kaget juga, karena saya tidak memperhatikan kode penerbangan pesawatnya.  Setelah saya melihat tiket ternyata betul, kode penerbangangannya 4 angka. Tidak 3 angka seperti Garuda.  Saya diantar oleh isteri dan anak-cucu (Bim-Lala-Freya dan Bragi) pindah ke counter Saudi Air.  Check in lancar dan saya datang awal, sehingga dapat giliran pertama. Saya bersama Gus Malik (begitu saya biasa memanggil Pak Malik), minta diberi kursi yang di lorong, agar mudah kalau perlu ke toilet.Juga kalau ada yang depannya longgar.  Alhamdulillah, dipenuhi petugas. Saya dapat kuri 54 D dan Gus Malik 54 E.

Saat biarding saya kurang perhatian, yang jelas sangat cepat.  Nah begitu pintu pesawat ditutup, pramugari mengumumkan bahwa pesawat kosong dan penumpang boleh pindah ke kursi lain.  Kesempatan baik. Saya segera pindah ke kursi 53 C, dengan harapan kursi 53 A dan 53 B tidak terisi, sehingga nanti bisa tidur selama penerbangan.  Alhamdulillah, kesampaian.  Saya dapat tidur selonjor dengan nyenyak di 3 kursi pesawat.  Coba tidak dapat seperti itu, tentu capai karena terbang selama sembilan jam non stop.

Juga ada yang menarik terbang dengan Saudi Air.  Pramugari dan pramugaranya orang Indonesia. Dari wajahnya hanya seorang pramugari yang mungkin orang Arab dan keturunan Arab, tetapi yang bersangkutan berbahasa Indonesia fasih layaknya orang Indonesia. Makanan yang disajikan dengan masakan Indonesia. Mungkin karena take off di Jakarta atau karena sebagian besar penumpangnya orang Indonesia.

Tanggal 8 April 2023 pukul 00.30 saya pulang dengan pesawat Garuda.  Saya pulang sendirian, karena Pak Malik ke Madinah dahulu sebelum balik ke Indonesia.  Saya cek di tiket tertulis kode penerbangan GA 983, berarti  pulang dengan pesawat Garuda.  Saya dapat info dari Pak Mubarak, kalau Garuda di terminal Haji beda dengan Saudi Air yang di terminal internasional.  Alhamdulillah Pak Mubarak (wakil kepala SIM) mengantarkan, karena menurut informasi di terminal Haji agak ruwet dan jarang ada taksi.  Apalagi menurut informasi teman yang visitasi ke Riyadh dan sudah pulang lebih dahulu pesawat Garuda penuh dengan jamaah umrah.

Saya datang ke terminal Haji sekitar pukul 21.30 dan kaget karena yang antri check in sangat panjang dan sebagaian besar jamaah umrah dengan koper besar-besar.  Saya punya GFF platinum dan dibantu pak Mubarak yang lancar berbahasa Arab, sehingga dapat chek di jalur khusus dan mendapat kursi nomor 22 D.

Ketika boarding kurang teratur karena jamaah tidak mau antre satu-satu. Jumlahnya juga sangat banyak. Saya tidak kaget karena sudah mengalami kejadian seperti itu ketika umrah.  Mungkin sebagian jamaah belum terbiasa naik pesawat, sehingga takut tidak kebagian tempat kalau dapat antrean di belakang.

Setelah semua masuk dan pintu pesawat menjelang ditutup, saya melihat kursi 22 A,B,C kosong. Demikian pula kuri 21 A,B,C, sehingga saya bertanya ke pramugara boleh saya pindah ke 22 C. Alhamdulillah boleh dan sampai pesawat mulai bergerak tidak ada penumpang yang pindah ke 22 A dan 22 B, sehingga akhirnya saya dapat tidur selonjor di atas 3 kursi pesawat, seperti berangkatnya.  Alhamdulillah.  Jadi tebang Jakarta-Jeddah pergi-pulang, saya dapat tidur nyenyak di atas 3 kursi.  Pada hal hanya memberi 1 kursi dan itupun kelas ekonomi.

Penerbangan berjalan lancar dan alhamdulillah landing di bandara Cengkareng pukul 14/06 WIB. Ketika membagi makanan setelah peswat terbang dengan stabil, pramugari mengumumkan makanan tersebut sebagai makan saur bagi yang berpuasa.  Pramugari juga mengumumkan saat insyak tiba dan saat waktunya sholat subuh dan dhuhur tiba.

Minggu, 15 Januari 2023

APAKAH BER-DWIBAHASA TIDAK MENJADI MASALAH BAGI ANAK KECIL?

Saat ini saya memiliki cucu yang tinggal serumah. Panggilannya Juna. Usianya lima tahun dan sekolah di TK-A.  Sejak usia empat tahun, orangtuanya ingin menyekolahkan.  Namun karena masa pandemi dan sekolah (termauk TK dan KB) menggunakan pola belajar daring, keinginan itu belum dilaksanakan.  Ketika kami berdiskusi menyimpulkan anak masuk KB itu terutama belajar bersosilasi saja.  Kalau belajarnya daring menjadi tidak efektif.  Oleh karena itu, orangatuanya memutuskan tidak jadi masuk KB, tahun berikutnya saja masuk TK.  Konskwensinya mengajari sendiri di rumah. Tahun 2022 baru Juna masuk TK.

Saya sering memperhatikan tingkah laku cucu kecil itu, khususnya cara berbicara dan permaninan kesukaannya.  Menurut saya agak khas.  Orangtuanya membiasakan menggunakan bahasa Inggris ditambah lagi sering melihat film Blibi (kalau tidak keliru) dan juga film di TV lainnya yang sepertinya khusus untuk anak-anak kecil.  Akhirnya komunikasi sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa Inggris.  Mungkin dapat disebut “bahasa ibunya” bahasa Inggris.


Nah, ketika sudah ada keinginan memasukan ke KB/TK mulailah dibiasakan berbahasa Indonesia.  Akhirnya berbahasa “ campuran”.  Namun tetap bahasa Inggris lebih dominan. Mungkin karena banyak istilah yang Juna lebih tahu dalam bahasa Inggris. Saat Juna ikut tidur di kamar saya.  Mula-mula bermain kemudian ikut tidur.  Ketika bangun, kalimat yang pertama diucapkan ternyata berbahasa Inggris.  Ketika kami tanggapi, sampai cukup lama dia terus saja berbahasa Inggris.  Bahkan ketika kami tanggapi dengan bahasa Indonesia tetap saja dia berbahasa Inggris.  Baru setelah agak lama mulai menggunakan bahasa Indonesia dan campuran.

Saya jadi bertanya-tanya.  Apakah bahasa ibu Juna itu bahasa Inggris, walaupun di anak orang Indonesia dan tinggal di Surabaya? Memang oleh orangtuanya dibiasakan berbagasa Inggris, tetapi orang-orang sekitar berbahasa Indonesia, Apakah bahasa ibu itu “tercetak” dibawah sadar sehingga ketika tanpa sadar berbicara menggunakan bahasa ibu?  Saya jadi teringat cerita almarhum kerabat yang saat kecil dan termasuk sekolah menggunakan bahasa Belanda.  Karena memang beliau lahir dan sekolah di jaman penjajahan Belanda dan kebetulan orangtuanya “pejabat pemerintahan” di jaman itu, yang konon harus pandai berbahasa Belanda.  Suatu saat beliau bercerita, kalau harus menjelaskan sesuatu yang rumit, yang terpikir di benak adalah uraian dalam bahasa Belanda dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia.  Tentu proses penterjamah berlangsung di otak.  Mungkin sama dengan kita, jika harus berbicara bahasa Inggris, yang awal terpola di benak adalah dalam bahasa Indonesia baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Merenungkan itu, muncul pertanyaan “apakah Juna tidak mengalami kesulitan ketika masuk TK”.  TK yang dipilih oleh orangtuanya TK yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia.  Memang Juna sudah “pandai” berbahasa Indonesia, namun jika harus menjelaskan sesuatu yang agak sulit, biasanya menggunakan bahasa Inggris.  Apalagi untuk nama-nama benda, warna dan sejenisnya Juna lebih sering menggunakan istilah Inggris.  Jika nonton video, juga selalu film dengan pengantar bahasa Inggris. 

Kerisauan saya muncul karena pernah mendapat cerita kalau anak seringkali mengalami masalah ketika harus ber-dwibahasa (bilingual) dalam kehidupan sehari-hari. Isteri saya yang kebetulan dosen bahasa Inggris juga tidak dapat meyakinkan kalau Juna tidak akan mengalami masalah jika harus ber-dwibahasa.  Oleh karena itu, sejak Juli lalu mencermati bagaimana Juna sehari-hari, termasuk mencari info kalau di sekolah. Kebetulan saya kenal petinggi TK tempat Juna sekolah.

Hasil saya mengamati selama sekitar 6 bulan, ternyata Juna tidak mengalaman masalah yang berarti.  Bahkan akhir-akhir ini lebih sering berbicara bahasa Indonesia dibanding bahasa Inggris.  Memang untuk beberapa istilah Juna tetap menggunakan istilah Inggris, misalnya menyebut airport dan bukan bandara, swimming bukan berenang dan sebagainya.  Bahkan ketika ada temannya isteri saya datang ke rumah dan oleh isteri saya dikenalkan dengan bahasa Inggris, Juna ingin berbahasa Indonesia.  Informasi yang saya dapat dari gurunya, Juna juga tidak mengalami kesulitan bergaul dengan teman-temannya menggunakan bahasa Indonesia.

Bagaimana dengan bahasa Inggrisnya?  Apakah tergerus?  Ternyata tidak. Buktinya saat diajak ngomong dengan bahasa Inggris tetap lancar.  Saya beberapa kali mencoba ngajar ngobrol berpindah bahasa.  Misalnya semula ngobrol dengan bahasa Indonesia, kemudian pindah dengan bahasa Inggris atau sebaliknya.  Ternyata tidak apa-apa.  Memang seperti perlu waktu “pindah bahasa”.  Jadi ketika awalnya ngobrol dengan bahasa Inggris dan kemudian saya akan pindah dengan bahasa Indonesia, beberapa saat awal Juna tetap menggunakan bahasa Inggris walaupun saya menggunakan bahasa Indonesia.  Tetapi itu tidak lama. Mungkin hanya dua atau tidak kalimat, berikutnya menggunakan bahasa Indonesia.

Benarkah Juna tidak mengalami hambatan?  Ada hambatan, tetapi tidak signifikan. Apa itu? Istilah.  Mungkin terlanjur terbiasa menggunakan nama-nama benda atau kegiatan dengan istilah Inggris, maka walaupun berbahasa Indosia tetapi menggunakan istilah tersebut.  Namun setelah dikenalkan istilah Indonesianya, Juna juga tidak kesulitan.  Artinya, ber-dwibahasa ternyata tidak menjadi masalah bagi anak kecil.

Jumat, 13 Januari 2023

ANWAR IBRAHIM

Tadi malam saya mendapatkan kirim video pidato Anwar Ibrahim di CT Crop  Leadership Forum. Saya memutarnya beberapa kali, lebih dari tiga kali, karena jujur saya kagum.  Memang beliau baru beberapa bulan menjadi Perdana Menteri sehingga belum tahu bagaimana implementasi dari apa yang disampaikan pidato tersebut.  Namun kalau diingat bahwa Anwar Ibrahim sudah pernah menjadi menteri dan wakil perdana menteri, juga pernah menjadi pimpinan organisasi kepemudaan dan pimpinan organisasi politik, rasanya yang diucapkan itu berasal dari hatinya.

Mengapa saya kagum?  Menurut saya pengetahuan Anwar Ibrahim sangat luas, mungkin melebihi pada akademisi di kampus kita.  Beliau fasih berbicara tentang perdebatan Al Ghazali dengan Ibnu Rusyd, mengkritisi konsep Spengler tentang kemerosotan dunia Barat (the decline of the west), pemikian Fukuyama tentang akuntabilitas demokrasi dan sebagainya.  Anwar Ibrahim sepertinya juga membaca tulisan tokoh dari Indonesia, karena menyebut Soekarno, Hatta, Natsir, Sutan Syahrir, Soedjatmoko dan sebagainya.  Beliau juga menyebut buku Manusia Indonesia  yg ditulis Mochtar Lubis dan puisi Taufiq Ismail yang berjudul Aku Malu Jadi Orang Indonesia.  Semua itu disampaikan dengan mengalir tanpa teks, sehingga dapat diduga itu semua sudah dikuasainya.

Beberapa hal-hal penting yang dapat saya catat. Pertama, perhatian beliau terhadap demokrasi dan keadilan yang substantial.  Bukan di permukaan.  Anwar Ibrahim mengatakan demokrasi itu harus akuntabel. Pemilu tidak hanya dilihat dari kertelaksanaan, tetapi harus dapat dipertanggungjawabkan apakah yang orang yang terpilih itu benar terpilih dengan cara yang benar dan apakah setelah terpilih benar-benar mengemban amanah rakyat pemilihnya.  Walaupun tidak menyebutkan, tampaknya Ibrahim menengarai selama ini ada pemilu yang tidak jujur dan suara dapat “dibeli”, sehingga yang terpilih sebenarnya bukanlah yang dikendaki oleh rakyat banyak.  Akhirnya setelah terpilih juga tidak mengemban amanah rakyat. 

Berkali-kali Anwar Ibrahim menyampaikan bahwa pembangunan politik dan ekonomi ujungnya adalah keadilan sosial.  Pertumbuhan itu penting tetapi jika tidak disertai dengan keadilan justru akan menimbulkan kesenjangan dan jika itu terjadi sebenarnya tidak sesuai dengan tujuan bernegara.  Anwar juga menyebutkan tidak setuju jika semua hanya dilihat dari data statistik.  Diberikan contoh, bahwa orang bangga karena angka kemiskinan tinggal 15% tanpa melhat apa di dalam 15% itu.  Coba kita berada di kelompok yang 15% itu, pasti akan memberikan simpulan yang berbeda.

Kedua, beliau sangat memperhatikan kemanusiaan (humanity) dan kerendahhatian (humility).  Ketika menyinggung saat di penjara, beliau mengataan penderitaan yang dialami dalam penjara itu relatif lebih ringan dibanding yang dirasakan rakyat banyak.  Memang mereka tidak dipenjara tetapi kemiskinan yang dialami mereka menyebabkan tidak dapat makan secara baik, dan anak-anak mereka tidak dapat memperoleh pendidikan yang baik.

Mengutip Eliot, Anwar Ibrahim mengatakan bahwa kerendahhatian tidak pernah berhenti (humility is endless).  Mengambil contoh bagaimana seorang pejabat juga harus merasa tidak tahu semua hal, sehingga harus mau mendengar pendapat dan nasehat dari orang lain. Beliau memberi contoh bagaimana merasa mendapat pengetahuan saat Presiden Jokowi menyampaikan konsep hilirisasi dan penguatan UMKM.  Walaupun telah membaca sangat banyak buku, Anwar merasa mendapat pengetahuan baru dari Pak Jokowi. Anwar Ibrahim mengundang teman-teman untuk memberi nasehat apa yang sebaiknya dilakukan sebagai perdana Menteri.

Ketiga, Anwar Ibrahim ternyata sangat faham tentang konsep dasar pendidikan.  Dia mengingatkan spesialisasi memang penting, tetapi jangan sampai melupakan konsep dasar pendidikan yang utuh yang tujuannya untuk meningkatkan martabat manusia.  Pendidikan harus dapat menumbuhkan kemanusian (humanity), kasih sayang kpd orang lain (compassion), dan prinsip-prinsip keadilan (principle of justice).

Anwar Ibrahim juga menyebutkan pentingnya kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dalam pendidikan.  Dengan ilustrasi perdebatan antara Al Ghazali dan Ibnu Rusyd, bagaimana sebarusnya orang Islam berpikir kritis. Jika mengutip Al Qur’an harus jelas surat apa, ayat berapa dan apa maknanya.  Jika mengutip hadits harus jelas sanatnya dan sebagainya.  Dengan begitu orang tidak mudah terperangkat dalam pemahaman sempit yang kemudian menjadi ekstrim.