Sabtu, 06 Juli 2013

PELAJARAN DARI TIMOR LESTE

Seperti saya uraian sebelumnya, tanggal 1 s.d. 3 Juli 2013 saya ke Timor Leste, memenuhi undangan Direktur Katilosa untuk menandatangani MoU, sekaligus melaksanakan pelatihan Pendidikan Inklusif bagi para kepala sekolah di Distrik Baucau.  Waktu tiga hari saya manfaatkan juga untuk mengamati situasi sosial kemasyarakatan, khususnya dalam bidang pendidikan.  Saya juga memanfaatkan untuk bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman di Dili dan di Baucau.

Berikut ini pelajaran yang dapat dipetik dari Timor Leste.  Pertama, sepanjang perjalanan dari Dili ke Baucau saya menyaksikan bahwa lahan di kiri dan kanan jalan terkesan gersang.  Walaupun masih ada hujan, tetapi banyak lahan yang hanya ditumbuhi rumput atau semak yang tidak subur.  Sepertinya tanah disana mengandung kapur, sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, walaupun pada musim hujan.  Bahkan ada beberapa bukit yang seperti betul-betul gundul.

Kedua, kondisi sosial ekonomi tampaknya “masih memprihatinkan”.   Saya menyaksikan pola pertanian di sepanjang perjalanan masih sangat tradisional.  Pak Lorentino juga mengakui kondisi  tersebut.  Dia bercerita ketika naik mobil dari Yogyakarta ke Solo menjumpai pertanian yang sangat maju.  Oleh karena itu, Pak Lorentino ingin mengundang petani dari Klaten untuk mengajari petani petani di Timor Leste.

Saya juga menyaksikan banyak orang yang mandi di sungai dan pulangnya membawa air dalam jirigen.  Melihat itu, saya teringat kebiasaan masyarakat di kampung saya pada tahun 1960an. Saya bertanya apakah orang Timor Leste tidak memiliki sumur?  Ternyata memang belum.  Artinya upaya untuk memiliki sumber air bersih belum menjadi tradisi masyarakat.  Mereka masih menggunakan apa yang ada atau yang nampak di depan mata.

Sebagian besar rumah beratap rumbai atau daun alang-alang atau sejenis itu.  Pada umumnya lantai dari tanah.  Dinding rumah terbuat dari papan atau semacam sesek. Halaman juga tampak kumuh dan belum dimanfaatkan untuk menanam sesuatu atau keperluan lainnya.  Kebersihan tampaknya belum menjadi tradisi masyarakat.

Namun demikian di kota Dili terdapat rumah dan gedung bagus dan bahkan terkesan mewah.  Kantor pemerintahan yang baru dibangun juga tampak mewah.  Beberapa kompleks pertokoan juga sedang dibangun dengan kondisi cukup baik.  Ketika menuju Baucau saya ditunjukkan rumah pribadi Pak Ramos Horta dan rumah kediaman Pak Xanana Gusmau yang cukup megah.

Kesenjangan tampaknya cukup terlihat antara elit dan masyarakat pada umumnya.  Mungkin ini ciri masyarakat yang baru mulai tumbuh.  Kalangan elit mampu menangkap kesempatan, sehingga segera melejit.  Mereka itulah yang mampu membangun rumah bagus.  Sementara sebagian besar masyarakat yang tidak mampu menangkap peluang itu tetap hidup serba kekuarangan.

Yang lebih mengejutkan saya, Timor Leste belum memiliki mata uang sendiri.  Mata uang yang digunakan adalah dolar Amerika Serikat.  Hampir semua barang sehari-hari, seperti mie instan, makanan kecil, semen, besi beton dan sebagainya berasal dari Indonesia.  Konon dikapalkan dari Surabaya.  Akibatnya harga barang-barang seperti itu lebih mahal dibanding di Indonesia.

Ketiga, pendidikan di Timor Leste juga masih memprihatinkan.  Menurut Menteri Pendidikan Timor Leste, saat pisah dari Indonesia banyak sekali guru-guru yang kembali ke tempat asal.  Pada hal saat itu sebagian besar guru di Timor Leste berasal dari daerah lain.  Akibatnya Timor Lester kekurangan guru.  Lebih parah lagi, guru yang pergi itu sebagian besar guru MIPA yang tidak mudah dicari dari tenaga setempat.

Kondisi gedung sekolah juga tampak kurang terawat.  Menurut Pak Lorentino gedung sekolah seperti itu dibangun saat masih bersatu dengan Indonesia.  Saat ini Timor Leste belum mampu membangun banyak sekolah baru.  Bahkan sepertinya memelihara sarana sekolah yang sudah ada juga tidak mudah.

Ketika pagi hari Di Dili maupun di Baucau saya melihat banyak anak yang berangkat sekolah.  Banyak dari mereka yang hanya membawa sebuah buku tulis.  Mirip seperti yang saya temukan di pedalaman Sumba Timur.  Ternyata mereka tidak memiliki buku pelajaran. Mirip di kampung saya tahun 1970an. Dapat dibayangkan bagaiama kesulitan sekolah, ketika anak-anak tidak memiliki buku pelajaran.

Yang lebih unik, seperti diceritakan Pak Lorentino, buku pelajaran menggunakan bahasa Portugis, tetapi guru mengajarkan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Tetun.   Mengapa demikian?  Karena banyak guru yang tidak lancar berbahasa Portugis, apalagi siswanya.  Para guru pada umumnya lulusan sekolah ketika masih bersatu dengan Indonesia.  Jadi wajar kalau tidak dapat berbahasa Portugis. Akibatnya, ketika pemerintah Timor Leste memutuskan bahasa pengantar di sekolah menggunakan bahasa Portugis, mereka kesulitan.

Apa yang dapat dipelajari dari gambaran di atas?  Keputusan politik, yaitu pemisahan Timor Timur dari Indonesia dapat dilakukan dengan cepat.  Namun dampak sosial kemasyarakatan ternyata memerlukan penyelesaian yang panjang.  Waktu 13 tahun belum cukup untuk menyelesaikan.  Masalah bahasa dalam pendidikan dan mata uang merupakan contoh nyata.  Semoga menjadi pelajaran bagi kita. 

3 komentar:

de'nino mengatakan...

Kenapa Timor leste ga minta bantuan ke negara barat aja, spt Aussie dkk?
Kenapa malah minta bantuan ke RI yg dulu (dan sekarang) mereka caci maki sebagai penjajah?
Bkannya mereka yg ngebet minta Tim-Tim dulu lepas dari RI? Skrng negara Aussie dkk malah kabur meninggalkan rakyat Timor Leste yg malah semakin nelangsa, eh malah mereka ngemis2 ke kita minta di bantu. (wani piro?) Cuma satu kesan ane, gak tahu malu..

AA Properti mengatakan...

Timorleste akan terbelenggu kemiskinan dlm waktu yg sangat lama mungkin ratusan tahun. Semua itu karena minimnya SDA dan SDM yg dipunyai serta pola pikir masyarakatnya. Negara idolanya yaitu portugal saja sampe sekarang masih menjadi salah satu negara termiskin di eropa. Timorleste adalah potret negara gagal. Seandainya smua barang kebutuhan hidup tidak disuplai dari indonesia mungkin rakyatnya sudah kelaparan krn harga tentu semakin tidak terjangkau kalau didatangkan dari negara lain yg lebih jauh.

Agungsaharr Jawa Timur mengatakan...

Assalamualaikum...
saya AGUNGSAHAR seorang supir angkot di jawa timur ingin mengucapka banyak terimah kasih kepada AKI KOMO atas bantuan AKI. kini impian saya selama ini sudah jadi kenyataan dan berkat bantuan AKI KOMO pula yang telah memberikan angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D dan alhamdulillah berhasil tembus.sekali lagi makasih yaa AKI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma sedikit dan akhirnya saya menang.Berkat angka gaib hasil ritual AKI KOMO saya sudah buka usaha peternakan ayam dan istri saya juga buka warung makan dirumah. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya,bagi anda yg ingin seperti saya silahkan HUB AKI KOMO di nomor hpnya di: 085 319 483 234 ramalan AKI KOMO memang memiliki ramalan GAIB” yang dijamin 100% tembus, sekali lagi terima kasih banyak Aki, seumur hidup saya tidak akan melupakan kebaikan AKI KOMO Demikian kisah nyata dari saya tanpa rekayasa,hanya ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman senasib.