Pada suatu acara saya bertemu dengan teman alumni Unesa yang sekarang menjadi pegitan LSM. Saat itu kita sedang diskusi tentang biaya pendidikan yang oleh beberapa pihak dianggap sangat mahal. Bahkan saat itu muncul pernyataan yang bernada provokatif: “orang miskin dilarang sekolah”. Teman tadi berpendapat bahwa pemerintah harus menjamin semua warga negara untuk memperoleh pendidikan sampai setinggi-tingginya, sesuai dengan keinginannya. Pendapat itu didasarkan pada pasal 28-C UUD 1945 yang menyatakan bahwa “setiap orang berhak mendapatkan pendidikan”. Juga dirujukkan pasal 11 ayat (1) UU Sisdiknas yang menyatakan bahwa “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”. Teman tadi seakan ingin mengatakan bahwa pendidikan (di sekolah/perguruan tinggi, kursus dan sebagainya) merupakan domain publik (public good), sehingga pemerintah wajib memenuhinya untuk kepentingan rakyat banyak. Sekolah dan perguruan tinggi dianalogikan dengan jalan raya (bukan jalan tol) yang harus dibangun dan dipelihara oleh pemerintah/pemerintah daerah untuk kepentingan masyarakat umum.
Di satu sisi pendapat tersebut sungguh bagus. Dengan memperoleh pendidikan pada bidang yang sesuai dengan bakatnya dan jenjang yang sesuai dengan keinginannya, kita yakin seseorang akan mampu mengembangkan potensinya dengan maksimal dan pada akhirnya dapat memerankan diri sebagai pribadi yang mandiri (bekerja dan mampu memenuhi kehidupan sendiri), sebagai warga masyarakat dan warga negara yang baik. Pada gilirannya orang seperti itu akan menjadi sumberdaya insani handal dalam pembangunan bangsa.
Untuk memenuhi harapan mulia tersebut tentu diperlukan biaya yang sangat besar. Saya tidak faham bagaimana menghitungnya. Namun, dengan asumsi unit cost SD/MI 12 juta/tahun dengan jumlah siswa 30 juta orang; unit cost SMP/MTs 15 juta/tahun dengan jumlah siswa 13 juta orang, unit cost SMA/SMK/MA 17 juta dengan jumlah siswa 9 juta orang, dan unit cost perguruan tinggi 20 juta dengan jumlah mahasiswa 6 juta orang, diperlukan anggaran 828 trilyun. Jumlah yang setara dengan 75% APBN, jika diasmusikan APBN kita 1.100 trilyun.
Sangat mungkin anggaran yang sebesar itu (75% APBN) tidak dapat dipikul oleh pemerintah dan juga membuat ketidakseimbangan dalam pengalokasian anggaran antar sektor pembangunan. Membagi-bagi secara merata agar semua jenis dan jenjang pendidikan ditanggung pemerintah, tetapi dengan anggaran terbatas, sehingga unit cost yang dapat diberikan terlalu kecil juga kurang baik. Pola itu seringkali menjadi “meratakan pendidikan yang tidak bermutu”. Memaksanakan agar 75% APBN digunakan untuk pendidikan juga kurang bijak. UUD 1945-pun hanya mengamanatkan 20% dan ternyata itu termasuk gaji guru.
Lantas bagaimana jalan keluarnya? Bukankah kita ingin semua warga negara memperoleh pendidikan yang bagus, yang sesuai dengan minat/bakatnya dan sesuai dengan jenjang yang diinginkan? Belajar dari negara maju, hanya beberapa negara yang membebaskan uang sekolah/kuliah untuk seluruh jenjang sekolah. Setahu saya hanya Jerman dan Perancis. Negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia, setahu saya hanya membebaskan uang sekolah sampa tingkat menengah. Itupun sekolah swasta masih menarik SPP walaupun mereka juga mendapatkan subsidi dari negara. Untuk jenjang perguruan tinggi, baik negeri (state university) maupun swasta (private university) menarik SPP. Biasanya memang perguruan tinggi swasta lebih mahal dibanding perguruan tinggi negeri. Informasi terakhir, Jerman juga sedang memikirkan apakah memang kuliah di perguruan tinggi negeri harus bebas SPP. Kita tidak tahu apa yang terjadi, apakah Jerman merasa berat membebaskan SPP bagi seluruh sekolah/perguruan tinggi atau ada perkembangan lain.
Pendidikan yang setengah-setengah seringkali berakibat buruk. Siswa SMK bidang otomotif yang tidak pernah praktek, karena sekolah tidak memiliki peralatan memadai akan menjadi lulusan “SMK Sastra”, yaitu lulusan SMK dengan kepandaian “mengarang”. Ini tidak berarti pandai mengarang itu kurang baik, tetapi bagi lulusan SMK yang hanya bias mengarang tentang pekerjaan ke-otomotifan, tentu sangat tidak baik. Oleh karena itu, dengan anggaran yang terbatas, lebih baik Indonesia memusatkan perhatian jenjang tertentu.
Pasal 11 ayat (2) UU Sisdiknas menyebutkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun. Berarti biaya pendidikan di jenjang SD dan SMP seharusnya disediakan oleh pemerintah. Sangat mungkin itu terkait dengan wajib belajar. Artinya orangtua bersalah jika tidak menyekolahkan minimal sampai jenjang SMP, sebaliknya pemerintah/pemerintah daerah harus menanggung seluruh biaya untuk pendidian tersebut.
Dengan landasan itu, sebaiknya pendidikan di jenjang SD dan SMP yang difahami sebagai domain public, sehingga seluruh biaya harus ditanggung oleh pemerintah. Tentu dengan mutu yang bagus (standar) yang memerlukan biaya tertentu pula. Artinya kita harus memastikan berapa unit cost standar untuk SD dan SMP yang harus dimasukkan dalam anggaran negara/daerah. Sedangkan pendidikan tinggi (perguruan tinggi) sebaiknya difahami sebagai domain privat dengan alasan yang kuliah hanya orang tertentu, yaitu mereka yang cukup kaya, sehingga mampu membayar. Untuk jenjang SMA dapat dimaknai di tengah-tengah, sehingga ada bagian yang ditanggung pemerintah dan ada bagian yang ditanggung oleh masyarakat/orang tua.
Apakah seluruh biaya pendidikan di jenjang SD dan SMP ditanggung pemerintah, tanpa ada batasan? Sebaiknya ada batasan standarnya. Misalnya ruang standar ruang kelas, standar laboratorium, standar perpustakaan, standar jumlah dan kualifikasi guru dan sebagainya. Standar yang disusun berdasarkan kajian untuk mencapai mutu pendidikan yang baik. Sampai mencapai standar itu, biaya menjadi tanggungan pemerintah. Sedangkan jika masyarakat ingin lebih dari itu, misalnya ingin ruang kelas ber-AC, perpustakaan yang canggih, silahkan kekurangannya ditanggung sendiri. Dengan cara itu terjadi keadilan. Masyarakat kurang mampu dapat menyekolahkan anaknya pada sekolah bermutu baik tanpa harus membayar, sementara orang kaya disilahkan menambah fasilitas, sesuai dengan harapannya. Semoga (muchlas-unesa).
Jumat, 15 April 2011
Kamis, 14 April 2011
TIM SUKSES UN, ANTARA SORGA DAN NERAKA
Tahun ini Unesa menjadi koordinator pengawas Ujian Nasional (UN). Sebagai rektor otomatis saya menjadi penanggung jawab pengawasan UN tersebut. Akibatnya saya sering diundang di berbagai acara, misalnya pada acara Ajang Wadul di TVRI, Kompas TV, RRI, Radio Elshinta dan Suara Surabaya, baik langsung maupun via tilpun. Penanya dan pemberi komentar pada acara tersebut sangat beragam, mulai dari ibu-ibu rumah tangga, guru/pendidik dan para pegiat LSM. Tentu mereka itu orang-orang yang peduli pada pendidikan dan saran maupun komentarnya sangat bagus-bagus.
Komentar dan pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul dan bahkan berulang-ulang adalah adanya tim sukses. Saya juga tahu adanya tim seperti itu. Saya juga tahu bahwa tim itu di satu sisi bertujuan baik, yaitu mengupayakan agar siswa lulus dengan nilai bagus. Namun di lain pihak, kadang-kadang keinginan agar siswa lulus dengan nilai baik itu dilakukan dengan cara-cara yang kurang baik. Bahkan seringkali merugikan siswa itu sendiri. Tulisan singkat berikut ini dimaksudkan untuk memberi masukan kepada Tim Sukses itu.
Seperti halnya menghadapi pekerjaan penting lainnya, untuk menghadapi UN disamping belajar yang baik, menjaga kesehatan agar bugas pada saat ujian, berdoa secara khusuk untuk mendapatkan ridho Illahi, siswa perlu bekal percaya diri. Percaya diri sangat penting karena akan membuat siswa melangkah ke ruang ujian dengan mantap. Ibarat dalam pertandingan sepak bola, pemain memasuki lapangan dengan mantap dan penuh percaya diri. Sebaliknya jika siswa tidak percaya diri akan ragu memasuki ruang ujian dan juga selalu ragu dalam mengerjakan soal, sehingga seakan-akan “kalah sebelum perang”. Keraguan dalam mengerjakan soal akan menghilangkan konsentrasi siswa.
Lantas apa hubungannya antara Tim Sukses dengan rasa percaya diri siswa? Jika Tim Sukses menyiapkan siswa belajar dengan baik, misalnya bersama mereview materi ujian dengan baik, membahas bagian yang belum difahami oleh siswa, berlatih mengerjakan soal-soal yang lalu maupun soal-soal kreasi guru/pakar yang dikembangkan berdasar kisi-kisi ujian, mengajak siswa untuk beribadah dan berdo’a secara khusuk, akan membuat siswa percaya diri. Siswa merasa telah menguasai materi ujian, baik konsep maupun latihan soal, yakin mendapat ridho Illahi karena telah beribadah dan berdo’a dengan tulus, maka mereka akan dengan penuh keyakinan diri memasuki ruang ujian. Sekali lagi rasa percaya diri seperti itu sangat penting untuk menghadapi Ujian Nasional.
Sebaliknya jika Tim Sukses justru sibuk mencari bocoran soal, memberi tahu siswa bahwa akan dicarikan bocoran soal, mengajari bagaimana cara menerima kode-kode contekan dan sebagainya, maka akan membuat siswa tidak percaya akan kemampuan sendiri. Siswa akan merasa menggantungkan dari bocoran soal maupun contekan dari orang lain. Lebih jauh, siswa akan merasa tidak percaya akan bekal yang telah dimiliki walaupun telah belajar keras dan juga beribadah serta berdoa. Apalagi jika kemudian Tim Sukses menjanjikan akan dapat bocoran soal dan atau dapat memberi kode saat siswa mengerjakan soal ujian. Akibatnya sangat mungkin siswa tidak dapat mengerjakan soal UN bukan karena tidak menguasai materi ujian, tetapi lebih disebabkan oleh ketidakpercayaan diri, keragu-raguan dan ketergantungan pada janji bocoran soal maupun contekan dari orang lain. Jika hal itu terjadi, Tim Sukses sebenarnya berperan sebagai Tim Gagal, artinya tidak membuat anak berpotensi sukses tetapi malah berpotensi gagal.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk direnungkan oleh Tim Sukses adalah halal-haram-nya bocoran dan contekan serta dampak selanjutnya pada anak-anak. Bagi yang percaya halal-haram tentu sepakat bahwa soal bocoran dan contekan itu termasuk barang haram. Nah, jika siswa kita mencari dan atau mendapatkan bocoran dan atau contekan, bukankah hasil pengerjaan UN mengandung barang haram? Jika nanti keluar hasilnya, bukankah dalam hasil UN terkandung barang haram? Jika nanti hasil UN masuk ke STTB/ijasah bukankah dalam STTB/ijasah itu terkandung barang haram? Jika dengan STTB/ijasah anak kita bekerja, bukankah dalam perolehan kerja itu terkandung barang haram? Jika dari bekerja itu mendapatkan gaji, bukankah dalam gaji itu terkandung barang haram?
Jadi Tim Sukses UN itu berpotensi dapat sorga jika membantu siswa menyiapkan diri dengan baik dan caranya juga baik. Sebaliknya Tim Sukses UN juga berpotensi dapat neraka jika ternyata cara membantu siswa juga membuat anak gagal dan atau membuat hasil UN anak-anak mengandung barang haram.
Ada sebuah metapora, ada seseorang yang meninggal, sebut saja namanya Fulan. Nah, “di alam sana”, di Fulan “diadili” dan ditanya mengapa makanan yang dimakan mengandung barang haram, karena pekerjaan diperoleh dengan ijasah yang mengandung barang haram. Fulan protes, karena itulah satu-satunya ijasah tertinggi yang dimiliki dan tentu itu yang digunakan untuk mendapatkan pekerjaan. Pokoknya Fulan mencoba membantah. Namun, seluruh anggota badannya menjelaskan memang dulu saat UN mendapatkan bocoran dan contekan. Singkatnya Fulan tidak dapat mengelak dan diputuskan masuk neraka. Setengah fustrasi Fulan berkata: “Baik saya menerima putusan masuk neraka, tetapi Tim Sukses UN yang mengajari dan membantu saya mendapatkan bocoran dan contekan mohon juga dimasukkan neraka”. Semoga itu tidak terjadi kepada kita.
Komentar dan pertanyaan yang akhir-akhir ini sering muncul dan bahkan berulang-ulang adalah adanya tim sukses. Saya juga tahu adanya tim seperti itu. Saya juga tahu bahwa tim itu di satu sisi bertujuan baik, yaitu mengupayakan agar siswa lulus dengan nilai bagus. Namun di lain pihak, kadang-kadang keinginan agar siswa lulus dengan nilai baik itu dilakukan dengan cara-cara yang kurang baik. Bahkan seringkali merugikan siswa itu sendiri. Tulisan singkat berikut ini dimaksudkan untuk memberi masukan kepada Tim Sukses itu.
Seperti halnya menghadapi pekerjaan penting lainnya, untuk menghadapi UN disamping belajar yang baik, menjaga kesehatan agar bugas pada saat ujian, berdoa secara khusuk untuk mendapatkan ridho Illahi, siswa perlu bekal percaya diri. Percaya diri sangat penting karena akan membuat siswa melangkah ke ruang ujian dengan mantap. Ibarat dalam pertandingan sepak bola, pemain memasuki lapangan dengan mantap dan penuh percaya diri. Sebaliknya jika siswa tidak percaya diri akan ragu memasuki ruang ujian dan juga selalu ragu dalam mengerjakan soal, sehingga seakan-akan “kalah sebelum perang”. Keraguan dalam mengerjakan soal akan menghilangkan konsentrasi siswa.
Lantas apa hubungannya antara Tim Sukses dengan rasa percaya diri siswa? Jika Tim Sukses menyiapkan siswa belajar dengan baik, misalnya bersama mereview materi ujian dengan baik, membahas bagian yang belum difahami oleh siswa, berlatih mengerjakan soal-soal yang lalu maupun soal-soal kreasi guru/pakar yang dikembangkan berdasar kisi-kisi ujian, mengajak siswa untuk beribadah dan berdo’a secara khusuk, akan membuat siswa percaya diri. Siswa merasa telah menguasai materi ujian, baik konsep maupun latihan soal, yakin mendapat ridho Illahi karena telah beribadah dan berdo’a dengan tulus, maka mereka akan dengan penuh keyakinan diri memasuki ruang ujian. Sekali lagi rasa percaya diri seperti itu sangat penting untuk menghadapi Ujian Nasional.
Sebaliknya jika Tim Sukses justru sibuk mencari bocoran soal, memberi tahu siswa bahwa akan dicarikan bocoran soal, mengajari bagaimana cara menerima kode-kode contekan dan sebagainya, maka akan membuat siswa tidak percaya akan kemampuan sendiri. Siswa akan merasa menggantungkan dari bocoran soal maupun contekan dari orang lain. Lebih jauh, siswa akan merasa tidak percaya akan bekal yang telah dimiliki walaupun telah belajar keras dan juga beribadah serta berdoa. Apalagi jika kemudian Tim Sukses menjanjikan akan dapat bocoran soal dan atau dapat memberi kode saat siswa mengerjakan soal ujian. Akibatnya sangat mungkin siswa tidak dapat mengerjakan soal UN bukan karena tidak menguasai materi ujian, tetapi lebih disebabkan oleh ketidakpercayaan diri, keragu-raguan dan ketergantungan pada janji bocoran soal maupun contekan dari orang lain. Jika hal itu terjadi, Tim Sukses sebenarnya berperan sebagai Tim Gagal, artinya tidak membuat anak berpotensi sukses tetapi malah berpotensi gagal.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk direnungkan oleh Tim Sukses adalah halal-haram-nya bocoran dan contekan serta dampak selanjutnya pada anak-anak. Bagi yang percaya halal-haram tentu sepakat bahwa soal bocoran dan contekan itu termasuk barang haram. Nah, jika siswa kita mencari dan atau mendapatkan bocoran dan atau contekan, bukankah hasil pengerjaan UN mengandung barang haram? Jika nanti keluar hasilnya, bukankah dalam hasil UN terkandung barang haram? Jika nanti hasil UN masuk ke STTB/ijasah bukankah dalam STTB/ijasah itu terkandung barang haram? Jika dengan STTB/ijasah anak kita bekerja, bukankah dalam perolehan kerja itu terkandung barang haram? Jika dari bekerja itu mendapatkan gaji, bukankah dalam gaji itu terkandung barang haram?
Jadi Tim Sukses UN itu berpotensi dapat sorga jika membantu siswa menyiapkan diri dengan baik dan caranya juga baik. Sebaliknya Tim Sukses UN juga berpotensi dapat neraka jika ternyata cara membantu siswa juga membuat anak gagal dan atau membuat hasil UN anak-anak mengandung barang haram.
Ada sebuah metapora, ada seseorang yang meninggal, sebut saja namanya Fulan. Nah, “di alam sana”, di Fulan “diadili” dan ditanya mengapa makanan yang dimakan mengandung barang haram, karena pekerjaan diperoleh dengan ijasah yang mengandung barang haram. Fulan protes, karena itulah satu-satunya ijasah tertinggi yang dimiliki dan tentu itu yang digunakan untuk mendapatkan pekerjaan. Pokoknya Fulan mencoba membantah. Namun, seluruh anggota badannya menjelaskan memang dulu saat UN mendapatkan bocoran dan contekan. Singkatnya Fulan tidak dapat mengelak dan diputuskan masuk neraka. Setengah fustrasi Fulan berkata: “Baik saya menerima putusan masuk neraka, tetapi Tim Sukses UN yang mengajari dan membantu saya mendapatkan bocoran dan contekan mohon juga dimasukkan neraka”. Semoga itu tidak terjadi kepada kita.
Rabu, 13 April 2011
TANGGUH MENGANTAR SESEORANG SUKSES
Rabu tanggal 5 April 2011 lalu saya kedatangan teman lama, yaitu Ir. Misbahul Huda. Saya mengenal beliau sudah cukup lama dan sering berdiskusi, khususnya saat beliau menjadi Rektor Universitas Al Falah Surabaya. Saya tahu beliau orang muda yang cerdas dan suskes dalam bisnis serta aktif dalam kegiatan sosial. Insinyur Elektro dengan predikat cumlaude lulusan UGM itu dikenal sebagai orang dibalik kesuksesan percetakan Jawa Pos (PT Temprina Media Grafika). Setahu saya, disamping direktur utama PT Temprina, Misbahul Huda juga sebagai direktur utama Pabrik Kertas Adiprima Suraprinta, direktur utama Power Plant milik Jawa Pos, direktur utama JP Book. Ingat saya beliau juga memegang pimpinan di beberapa perusahaan lain.
Kedatangan Mas Huda, begitu biasa saya biasa memanggil, sebenarnya untuk urusan kerjasama Unesa dengan Jawa Pos untuk acara “Hari Pendidikan” Mei mendatang, yang antara lain akan menggelar lomba robot untuk anak-anak berkebutuhan khusus (siswa SLB) dan acara untuk teman-teman guru. Karena teman lama, maka pertemuan menjadi ajang kangenan dan cerita “ngalor ngidul”. Sebagai orang yang lebih tua, saya banyak bertanya bagaimana perkembangan bisnis Mas Huda dan apa saja yang dikerjakan di luar urusan bisnis. Termasuk saya sampaikan saat beliau “dirasani” oleh beberapa orang pada saat ada pengajian di rumah teman yang kebetulan berdekatan dengan rumah beliau.
Pada saat pulang, saya dihadiahi 3 buku yang salah satunya berjudul “Mission Ini Possible” (bukan Mission Impossible) tulisan beliau sendiri. Malamnya buku tersebut saya abaca dan isinya sungguh sangat bagus dan banyak didasarkan atas pengalaman beliau. Mirip buku motivasi diri untuk memompa motivasi pembaca. Uraian kalimatnya sangat mengalir dengan diberi ilustrasi keseharian, sehingga mudah difahami. Besuknya saya langsung sms untuk meminta beliau memberikan motivasi kepada para mahasiswa Unesa. Uraian berikut ini adalah salah satu butir penting dari buku tersebut.
Kalau boleh memilih satu mutiara penting dalam buku itu ialah “sukses itu ditopang oleh ketangguhan usaha yang dilandasi keinginan berkadar 24 karat”. Mas Huda memberi banyak ilustrasi dari pengalaman pribadi maupun rekannya. Misalnya ketika pabrik kertas yang dipimpinnya mengalami problema pecah komponen mesin saat digenjot untuk produksi puncak. Ahli dari pabrikan Jerman dan Jepang (atau China) juga tidak mampu memperbaiki. Pada saat itu muncul keinginan kuat (istilahnya 24 karat, mungkin meminjan istilah emas 24 karat) untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia lebih hebat dan mampu mengatasi. Oleh karena itu muncul ide “mengusir bule”, yaitu menyuruh ahli Jerman dan Jepang tersebut pulang dan problem itu akan diatasi oleh teknisis Jawa Pos sendiri. Sungguh luar biasa. Setelah berjuang keras, konon hampir tidak pernah istirahat, akhirnya para teknisi itu mampu merancang ulang komponen yang selalu pecah itu dan akhirnya pabrik kertas itu mampu mencapai produksi puncak. Masih banyak contoh lain yang dapat pembaca baca sendiri di buku itu.
Mengapa perlu keinginan 24 karat sebagai modal sukses? Itu pertanyaan yang muncul di benak saya saat awal membaca. Ternyataitu dijelaskan dengan acuan psikologi. Menurut Mas Huda, keinginan 24 karat, artinya betul-betul suatu keinginan “murni” yang tumbuh dari dalam diri akan berkembang di alam bawah sadar manusia. Nah, alam bawah sadar itu ternyata mampu berperan sebagai enersi yang tidak habis untuk berusaha sekuat tenaga.
Mungkin ilustrasi dari tempat lain, adalah teroris yang mengendong bom bunuh diri dan berjalan menuju tempat peledakan. Meskipun tahu bahwa dia akan mati bersama ledakan bom tadi, toh dia terus melangkah tanpa ada rasa takut. Bahkan jika itu gagal agar diulangi lagi. Seakan-akan meledakan bom bunuh diri itu harus diusahakan apapun taruhannya.
Mas Huda tampaknya ingin meyakinkan pembaca bahwa usaha keras itu lebih penting dibanding sekedar bakat atau kemampuan. Mas Huda seakan ingin meyakinkan bahwa kita semua pasti bias, asalkan mau bekerja keras (tentunya juga harus bekerja cerdas). Ilustrasi yang diberikan adalah saat para teknisi pabrik kertas tersebut “mengawinkan” dua bagian mesin yang berasal dari pabrikan yang berbeda. Tanpa kenal lelah para teknisi “lokal” tersebut terus mencari cara agar dua bagian mesin kertas yang berasal dari pabrikan berbeda itu dapat digandengkan. Dan hasilnya memang bias, tentu setelah melalui percobaan yang tidak terhitung jumlahnya. Mirip Thomas A Edison yang melakukan lebih dari 1.000 kali untuk menghasilkan bola lampu listrik.
Apa yang dapat dipetik dari mutiara Mas Huda tersebut, khususnya bagi pendidikan? Pertama, bagaimana kita mendorong siswa atau anak-anak kita berani bermimpi, berani bercita-cita. Mimpin atau cita-cita yang 24 karat, sehingga bersemi di bawah alam bawah sadar dan pada saatnya menjadi energi yang ternilai untuk menggapainya. Kedua, bagaimana mendorong anak-anak dan siswa kita untuk pantang menyerah saat melakukan sesuatu. Semangat pantang menyerah (yang disertai kerja cerdas) terbukti mampu mengantar sukses. Istilahnya please do the best, then God will take the rest.
Tentu mimpi yang disebutkan di atas haruslah mimpi yang rasional. Artinya cita-cita yang dilandasi oleh rasional yang baik. Artinya secara rasional memang itu mungkin. Saya yakin kita semua memiliki bekal rasional itu, sehingga mampu memastikan bahwa sesuatu yang kita mimpikan itu mungkin tercapai atau tidak. Ungkapan “sulit tetapi mungkin” itu sudah cukup untuk indikator bahwa itu layak menjadi mimpi yang rasional. Semoga.
Kedatangan Mas Huda, begitu biasa saya biasa memanggil, sebenarnya untuk urusan kerjasama Unesa dengan Jawa Pos untuk acara “Hari Pendidikan” Mei mendatang, yang antara lain akan menggelar lomba robot untuk anak-anak berkebutuhan khusus (siswa SLB) dan acara untuk teman-teman guru. Karena teman lama, maka pertemuan menjadi ajang kangenan dan cerita “ngalor ngidul”. Sebagai orang yang lebih tua, saya banyak bertanya bagaimana perkembangan bisnis Mas Huda dan apa saja yang dikerjakan di luar urusan bisnis. Termasuk saya sampaikan saat beliau “dirasani” oleh beberapa orang pada saat ada pengajian di rumah teman yang kebetulan berdekatan dengan rumah beliau.
Pada saat pulang, saya dihadiahi 3 buku yang salah satunya berjudul “Mission Ini Possible” (bukan Mission Impossible) tulisan beliau sendiri. Malamnya buku tersebut saya abaca dan isinya sungguh sangat bagus dan banyak didasarkan atas pengalaman beliau. Mirip buku motivasi diri untuk memompa motivasi pembaca. Uraian kalimatnya sangat mengalir dengan diberi ilustrasi keseharian, sehingga mudah difahami. Besuknya saya langsung sms untuk meminta beliau memberikan motivasi kepada para mahasiswa Unesa. Uraian berikut ini adalah salah satu butir penting dari buku tersebut.
Kalau boleh memilih satu mutiara penting dalam buku itu ialah “sukses itu ditopang oleh ketangguhan usaha yang dilandasi keinginan berkadar 24 karat”. Mas Huda memberi banyak ilustrasi dari pengalaman pribadi maupun rekannya. Misalnya ketika pabrik kertas yang dipimpinnya mengalami problema pecah komponen mesin saat digenjot untuk produksi puncak. Ahli dari pabrikan Jerman dan Jepang (atau China) juga tidak mampu memperbaiki. Pada saat itu muncul keinginan kuat (istilahnya 24 karat, mungkin meminjan istilah emas 24 karat) untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia lebih hebat dan mampu mengatasi. Oleh karena itu muncul ide “mengusir bule”, yaitu menyuruh ahli Jerman dan Jepang tersebut pulang dan problem itu akan diatasi oleh teknisis Jawa Pos sendiri. Sungguh luar biasa. Setelah berjuang keras, konon hampir tidak pernah istirahat, akhirnya para teknisi itu mampu merancang ulang komponen yang selalu pecah itu dan akhirnya pabrik kertas itu mampu mencapai produksi puncak. Masih banyak contoh lain yang dapat pembaca baca sendiri di buku itu.
Mengapa perlu keinginan 24 karat sebagai modal sukses? Itu pertanyaan yang muncul di benak saya saat awal membaca. Ternyataitu dijelaskan dengan acuan psikologi. Menurut Mas Huda, keinginan 24 karat, artinya betul-betul suatu keinginan “murni” yang tumbuh dari dalam diri akan berkembang di alam bawah sadar manusia. Nah, alam bawah sadar itu ternyata mampu berperan sebagai enersi yang tidak habis untuk berusaha sekuat tenaga.
Mungkin ilustrasi dari tempat lain, adalah teroris yang mengendong bom bunuh diri dan berjalan menuju tempat peledakan. Meskipun tahu bahwa dia akan mati bersama ledakan bom tadi, toh dia terus melangkah tanpa ada rasa takut. Bahkan jika itu gagal agar diulangi lagi. Seakan-akan meledakan bom bunuh diri itu harus diusahakan apapun taruhannya.
Mas Huda tampaknya ingin meyakinkan pembaca bahwa usaha keras itu lebih penting dibanding sekedar bakat atau kemampuan. Mas Huda seakan ingin meyakinkan bahwa kita semua pasti bias, asalkan mau bekerja keras (tentunya juga harus bekerja cerdas). Ilustrasi yang diberikan adalah saat para teknisi pabrik kertas tersebut “mengawinkan” dua bagian mesin yang berasal dari pabrikan yang berbeda. Tanpa kenal lelah para teknisi “lokal” tersebut terus mencari cara agar dua bagian mesin kertas yang berasal dari pabrikan berbeda itu dapat digandengkan. Dan hasilnya memang bias, tentu setelah melalui percobaan yang tidak terhitung jumlahnya. Mirip Thomas A Edison yang melakukan lebih dari 1.000 kali untuk menghasilkan bola lampu listrik.
Apa yang dapat dipetik dari mutiara Mas Huda tersebut, khususnya bagi pendidikan? Pertama, bagaimana kita mendorong siswa atau anak-anak kita berani bermimpi, berani bercita-cita. Mimpin atau cita-cita yang 24 karat, sehingga bersemi di bawah alam bawah sadar dan pada saatnya menjadi energi yang ternilai untuk menggapainya. Kedua, bagaimana mendorong anak-anak dan siswa kita untuk pantang menyerah saat melakukan sesuatu. Semangat pantang menyerah (yang disertai kerja cerdas) terbukti mampu mengantar sukses. Istilahnya please do the best, then God will take the rest.
Tentu mimpi yang disebutkan di atas haruslah mimpi yang rasional. Artinya cita-cita yang dilandasi oleh rasional yang baik. Artinya secara rasional memang itu mungkin. Saya yakin kita semua memiliki bekal rasional itu, sehingga mampu memastikan bahwa sesuatu yang kita mimpikan itu mungkin tercapai atau tidak. Ungkapan “sulit tetapi mungkin” itu sudah cukup untuk indikator bahwa itu layak menjadi mimpi yang rasional. Semoga.
Senin, 11 April 2011
BELAJAR DARI TSUNAMI DI JEPANG
Beberapa minggu ini kita disuguhi berita tentang tsumani yang sangat hebat di Jepang. Gambar dan film di televisi menunjukkan betapa hebatnya tsunami meluluhlantakkan kota atau daerah di tepi pantai. Tsunami itu mampu membawa kapal naik ke darat dan menghempaskan untuk menambrak kolom penyangga jalan layang. Tsunami menghanyutkan mobil yang tampak seperti mobil mainan, merobohkan rumah bahkan mampu menyeret pesawat dan menambrakannya pada bangunan di lapanan terbang.
Di samping gambar dan film, kita juga disuguhi informasi naratif, komentar para pakar dan bahkan beberapa stasiun televisi menggelar talk show tentang tsunami, tentu dari sudut pandangnya masing-masing. Koran maupun majalah juga menjadikan tsunami di Jepang tersebut sebagai berita utama untuk berhari-hari. Obrolan di saat minum kopi/teh, saat istirahat di kantor, di ruang guru/dosen juga diwarnai oleh topik tsunami. Bahkan tsunami di Jepang menjadi ilustrasi berbagai seminar dan kuliah.
Lantas apa sebenarnya pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa tsunami di Jepang itu? Paling tidak ada pelajaran yang dapat dipetik (lesson learned) untuk kita bangsa Indonesia. Pertama, kesiapan pemerintah dan masyarakat Jepang menghapi bencana. Begitu gempa terjadi dan diketahui akan menimbulkan tsunami, pemerintah dan instansi yang bertanggungjawab mengingatkan masyarakat bahwa akan datang tsunami dalam sekian menit. Masyarakat diminta segera menyelamatkan diri. Dari televisi kita juga menyaksikan betapa masyarakat Jepang siap menyelematkan diri. Sepertinya masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan, jika tsunami datang.
Mengapa dapat terjadi seperti itu? Ternyata pengetahuan apa tanda-tanda tsunami dan bagaimana cara menyelematkan diri jika ada tsunami telah diajarkan dan menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat Jepang. Latihan-latihan menyelamatkan diri sudah dilatihkan sejak anak di TK. Sepertinya Jepang sadar betul bahwa setiap saat tsunami dapat datang dan masyatakat harus siap menghadapinya. Pemahaman seperti itu telah menjadi “milik” masyarakat, sehingga mereka siap melakukannya.
Pihak yang bertanggungjawab tampak juga siap menghadapi perstiswa tersebut, terbukti tidak terlambat memberi peringatan kepada masyarakat. Info yang saya dapat, sekitar 20 menit sebelum tsunami datang, pemerintah menyiarkan lewat berbagai media bahwa tsunami akan datang dalam waktu 20 menit dan masyarakat agar menyelematkan diri, Peringatan terus diulang-ulang dengan perhitungan mundur.
Apa sesungguhnya dibalik itu semua? Menurut saya adalah rasa tanggung jawab yang begitu besar dari pemerintah atau pihak yang bertangung jawab. Tampaknya Jepang berhasil menumbuhkan rasa bertanggung jawab yang besar kepada petugas atau orang-orang yang menangani bencana. Memang kemampuan memprediksi akan terjadi tsunami didukung oleh penguasaan iptek yang maju di Jepang. Tetapi kemampuan memberikan peringatan yang begitu menyeluruh dan terus menerus, tentu didukung rasa tanggung jawab untuk menyelamatkan masyarakat. Dari sudut pandang pendidikan, muncul pertanyaan: bagaimana cara Jepang menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar
Kedua, ketangguhan masyakat Jepang dalam menghadapi bencana sungguh sangat mengagumkan. Tayangan di televisi menunjukkan petugas di Jepang yang tampak bekerja keras mengatasi bencana tsunami dan membantu mengevakuasi korban. Tidak tampak sama sekali wajah putus asa. Beberapa pakar menjelaskan itu disebabkan psinsip hidup “gambaru” yang berarti pantang menyerah, berjuang sampai titik darah penghabisan. Semangat kerja keras dan pantang menyerahkan yang tampaknya berhasil ditumbuhkan atau dipelihara di masyarakat Jepang. Mungkin memang semangat semacam itu telah lama ada dan turun temurun. Kita mengenal harakiri dan kamikaze atau apa namanya, yang artinya kurang lebih rela mati demi membela kebenaran atau bahkan kadang-kadang karena malu.
Bagaimana mempertahankan prinsip hidup seperti itu? Konon ketika kehidupan masyarakat membaik semangat juang seringkali menurun. Ada ungkapan bahwa tumbuhan yang kuat adalah tumbuhan yang hidup di tanah gersang. Pelaut yang tangguh adalah yang biasa berlayar di laut yang ganas. Seakan hanya orang yang hidup dalam situasi yang “ganas” atau penuh perjuangan yang akan menjadi tangguh mengahadapi tantangan.
Keadaan ekonomi di Jepang demikian makmur, tetapi peristiwa tsunami menunjukkan bahwa daya juang mereka sangat tangguh dan tidak menurun karena membaikkan perekonomian mereka. Pertanyaannya: bagaimana Jepang dapat menanamkan daya juang kepada masyarakat, sehingga tidak luntur walaupun kehidupan ekonomi sudah sangat baik.
Ketiga, kedisiplinan masyarakat Jepang sungguh patut dicontoh. Ditengah-tengah bencana tsunami, masyarakat Jepang masih antre dengan tertib. Bandingkan dengan kebiasaan kita saat akan naik bus, masuk lift atau lainnya. Memang kita sudah tahu bahwa masyarakat Jepang terkenal disiplin, tetapi jika itu tetap dilakukan di saat kalut akibat bencana, membuktikan bahwa sikap disiplin telah merasuk menjadi budaya dan bukan sekedar karena aturan.
Kesediaan orang Jepang untuk antre dalam situasi kalut karena bencana sekaligus menunjukkan kepedulian kepada hak orang lain. Saya jadi teringat cerita tentang anak SD di Jepang yang sedang makan siang di sekolah. Roti yang disediakan memang sejumlah siswa kelas tersebut dan siswa dibiarkan mengambil sendiri. Ketika ada siswa yang mengambil roti agak awal dan mengambil satu buah, ditanya apakah tidak lapar. Dia menjawab lapar. Ketika ditanya, mengapa hanya mengambil satu. Jawabannya sungguh mengegetkan, kalau ambil dua, nanti ada teman yang tidak kebagian. Artinya, anak tersebut walaupun lapar hanya mengambil saytu buah roti, karena peduli kepada temannya. Agar temannya tetap kebagian roti untuk makan siang. Pertanyaan yang muncul, bagaimana Jepang berhasil menumbuhkan disiplin dan peduli kepada orang lain.
Ketika kita sedang mengarus-utamakan pendidikan karakter, pertanyaan, bagaimana menumbuhkan tanggung jawab, tangguh menghadapi cobaan, disiplin dan peduli kepada orang lain, menjadi sangat penting. Bukankah empat karakter orang Jepang, yaitu tanggung jawab, tangguh, disiplin dan peduli juga cocok untuk kita kembangkan. Ada baiknya kita belajar atau paling tidak menjadikan bahan banding, bagaimana Jepang berhasil mengembangkan karakter tersebut. Tidak ada jeleknya kita belajar kepada orang lain yang sudah lebih dahulu berhasil. Semoga.
Di samping gambar dan film, kita juga disuguhi informasi naratif, komentar para pakar dan bahkan beberapa stasiun televisi menggelar talk show tentang tsunami, tentu dari sudut pandangnya masing-masing. Koran maupun majalah juga menjadikan tsunami di Jepang tersebut sebagai berita utama untuk berhari-hari. Obrolan di saat minum kopi/teh, saat istirahat di kantor, di ruang guru/dosen juga diwarnai oleh topik tsunami. Bahkan tsunami di Jepang menjadi ilustrasi berbagai seminar dan kuliah.
Lantas apa sebenarnya pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa tsunami di Jepang itu? Paling tidak ada pelajaran yang dapat dipetik (lesson learned) untuk kita bangsa Indonesia. Pertama, kesiapan pemerintah dan masyarakat Jepang menghapi bencana. Begitu gempa terjadi dan diketahui akan menimbulkan tsunami, pemerintah dan instansi yang bertanggungjawab mengingatkan masyarakat bahwa akan datang tsunami dalam sekian menit. Masyarakat diminta segera menyelamatkan diri. Dari televisi kita juga menyaksikan betapa masyarakat Jepang siap menyelematkan diri. Sepertinya masyarakat sudah tahu apa yang harus dilakukan, jika tsunami datang.
Mengapa dapat terjadi seperti itu? Ternyata pengetahuan apa tanda-tanda tsunami dan bagaimana cara menyelematkan diri jika ada tsunami telah diajarkan dan menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat Jepang. Latihan-latihan menyelamatkan diri sudah dilatihkan sejak anak di TK. Sepertinya Jepang sadar betul bahwa setiap saat tsunami dapat datang dan masyatakat harus siap menghadapinya. Pemahaman seperti itu telah menjadi “milik” masyarakat, sehingga mereka siap melakukannya.
Pihak yang bertanggungjawab tampak juga siap menghadapi perstiswa tersebut, terbukti tidak terlambat memberi peringatan kepada masyarakat. Info yang saya dapat, sekitar 20 menit sebelum tsunami datang, pemerintah menyiarkan lewat berbagai media bahwa tsunami akan datang dalam waktu 20 menit dan masyarakat agar menyelematkan diri, Peringatan terus diulang-ulang dengan perhitungan mundur.
Apa sesungguhnya dibalik itu semua? Menurut saya adalah rasa tanggung jawab yang begitu besar dari pemerintah atau pihak yang bertangung jawab. Tampaknya Jepang berhasil menumbuhkan rasa bertanggung jawab yang besar kepada petugas atau orang-orang yang menangani bencana. Memang kemampuan memprediksi akan terjadi tsunami didukung oleh penguasaan iptek yang maju di Jepang. Tetapi kemampuan memberikan peringatan yang begitu menyeluruh dan terus menerus, tentu didukung rasa tanggung jawab untuk menyelamatkan masyarakat. Dari sudut pandang pendidikan, muncul pertanyaan: bagaimana cara Jepang menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar
Kedua, ketangguhan masyakat Jepang dalam menghadapi bencana sungguh sangat mengagumkan. Tayangan di televisi menunjukkan petugas di Jepang yang tampak bekerja keras mengatasi bencana tsunami dan membantu mengevakuasi korban. Tidak tampak sama sekali wajah putus asa. Beberapa pakar menjelaskan itu disebabkan psinsip hidup “gambaru” yang berarti pantang menyerah, berjuang sampai titik darah penghabisan. Semangat kerja keras dan pantang menyerahkan yang tampaknya berhasil ditumbuhkan atau dipelihara di masyarakat Jepang. Mungkin memang semangat semacam itu telah lama ada dan turun temurun. Kita mengenal harakiri dan kamikaze atau apa namanya, yang artinya kurang lebih rela mati demi membela kebenaran atau bahkan kadang-kadang karena malu.
Bagaimana mempertahankan prinsip hidup seperti itu? Konon ketika kehidupan masyarakat membaik semangat juang seringkali menurun. Ada ungkapan bahwa tumbuhan yang kuat adalah tumbuhan yang hidup di tanah gersang. Pelaut yang tangguh adalah yang biasa berlayar di laut yang ganas. Seakan hanya orang yang hidup dalam situasi yang “ganas” atau penuh perjuangan yang akan menjadi tangguh mengahadapi tantangan.
Keadaan ekonomi di Jepang demikian makmur, tetapi peristiwa tsunami menunjukkan bahwa daya juang mereka sangat tangguh dan tidak menurun karena membaikkan perekonomian mereka. Pertanyaannya: bagaimana Jepang dapat menanamkan daya juang kepada masyarakat, sehingga tidak luntur walaupun kehidupan ekonomi sudah sangat baik.
Ketiga, kedisiplinan masyarakat Jepang sungguh patut dicontoh. Ditengah-tengah bencana tsunami, masyarakat Jepang masih antre dengan tertib. Bandingkan dengan kebiasaan kita saat akan naik bus, masuk lift atau lainnya. Memang kita sudah tahu bahwa masyarakat Jepang terkenal disiplin, tetapi jika itu tetap dilakukan di saat kalut akibat bencana, membuktikan bahwa sikap disiplin telah merasuk menjadi budaya dan bukan sekedar karena aturan.
Kesediaan orang Jepang untuk antre dalam situasi kalut karena bencana sekaligus menunjukkan kepedulian kepada hak orang lain. Saya jadi teringat cerita tentang anak SD di Jepang yang sedang makan siang di sekolah. Roti yang disediakan memang sejumlah siswa kelas tersebut dan siswa dibiarkan mengambil sendiri. Ketika ada siswa yang mengambil roti agak awal dan mengambil satu buah, ditanya apakah tidak lapar. Dia menjawab lapar. Ketika ditanya, mengapa hanya mengambil satu. Jawabannya sungguh mengegetkan, kalau ambil dua, nanti ada teman yang tidak kebagian. Artinya, anak tersebut walaupun lapar hanya mengambil saytu buah roti, karena peduli kepada temannya. Agar temannya tetap kebagian roti untuk makan siang. Pertanyaan yang muncul, bagaimana Jepang berhasil menumbuhkan disiplin dan peduli kepada orang lain.
Ketika kita sedang mengarus-utamakan pendidikan karakter, pertanyaan, bagaimana menumbuhkan tanggung jawab, tangguh menghadapi cobaan, disiplin dan peduli kepada orang lain, menjadi sangat penting. Bukankah empat karakter orang Jepang, yaitu tanggung jawab, tangguh, disiplin dan peduli juga cocok untuk kita kembangkan. Ada baiknya kita belajar atau paling tidak menjadikan bahan banding, bagaimana Jepang berhasil mengembangkan karakter tersebut. Tidak ada jeleknya kita belajar kepada orang lain yang sudah lebih dahulu berhasil. Semoga.
Sabtu, 12 Maret 2011
The Power of Co-Creation:
Buku The Power of Co-Creation: Built it with them to boost growth, productivity, and profits oleh Venkat Ramaswamy dan Francis Gouillart (Free Press, 2011) memaparkan bagaimana Nike (produknya yang kita kenal adalah sepatu), Starbucks (produknya yang kita kenal gerai kopi) dan beberapa perusahaan lain yang berhasil menerapkan co-creation sehingga mampu berkembang pesat, produktif dan meraup keuntungan yang besar.
Kalau dicermati dengan baik, ternyata yang disebut co-creation adalah melibatkan konsumen dan stakeholders konsumen ke dalam platform perusahaan. Cara yang digunakan perusahaan bermacam-macam, tetapi intinya mengajak/melibatkan/mendorong konsumen dan stakeholders terlibat aktif dalam berinovasi dalam menyempurnakan produk dan servis perusahaan agar sesuai dengan kebutuhan konsumen. Media interaksi yang digunakan sangat beragam, antara melalui pertemuan langsung seperti seminar dan diskusi, lewat web, mailist dan sebagainya.
Sungguh menarik, ajakan tersebut ternyata disambut baik oleh konsumen, terbukti sangat banyak konsumen dan stakeholders yang mengikuti acara yang dirancang perusahaan. Bahkan konsumen dan stakeholders banyak yang kemudian secara berkelompok mengembangkan lebih lanjut acara tersebut agar lebih sesuai dengan minat dan waktu mereka. Wakil perusahaan tinggal hadir, karena segalanya diatur oleh mereka. Semua acara tersebut diarahkan agar konsumen dan stakeholders dapat memberi masukan bahkan ikut merancang penyempurnaan produk maupun servis perusahaan. Yang sangat menarik keikutsertaan konsumen dan stakeholders dalam merancang penyempurnaan produk tersebut, kemudian mengubah mereka menjadi konsumen yang loyal bahkan menjadi pemasar kepada orang lain. Mereka tidak lagi sekedar menjadi konsumen, tetapi sekaligus menjadi tenaga pemasaran tanpa menuntut bayaran.
Bagaimana hal itu dapat terjadi? Mereka yang memberi masukan dan terlibat aktif dalam penyempurnaan produk dan atau servis tersebut, kemudian merasa “ikut memiliki” produk dan atau servis yang dihasilkan. Selanjutnya mereka merasa menjadi bagian dari perusahaan, sehingga terdorong untuk ikut memasarkan produk dan servis yang diracangnya. Bahkan kemudian mereka seakan menjadi relawan perusahaan dalam menyempurnakan produk dan servis berikutnya agar sesuai dengan dinamika kebutuhan konsumen dan sekaligus memasarkan hasilnya.
Penerapan co-creation tidak hanya berfungsi sebagai wahana need assessment dalam upaya menyempurnakan produk dan servis agar sesuai kebutuhan dan harapan konsumen. Lebih jauh dari itu co-creation ternyata mampu membuat konsumen dan stakeholders merasa menjadi bagian dari perusahaan. Itu yang mungkin menyebabkan beberapa perusahaan bersedia menyeponsori adanya club-club pengguna produknya, misalnya HD Club, VW Club, Honda Club dan sebagainya. Nampaknya anggota club-club seperti itu kemudian menjadi pelanggan yang loyal dan bahkan merasa menjadi bagian atau anggota dari perusahaan, sehingga dengan sukarela terlibat dalam berbagai kegiatan.
Terinspirasi dari buku tersebut dan juga pengalaman di tempat lain, Unesa memulai acara “open house” dengan mengundang sivitas akademika (dosen, karyawan, mahasiswa). Dalam acara tersebut sivitas akademika diundang untuk mengajukan pendapat dan bahkan kritik bagaimana memperbaiki universitas. Sungguh menarik, responsnya sangat bagus. Mahasiswa yang oleh beberapa teman dikawatirkan akan memberikan pendapat atau kritik yang “nakal” ternyata justru sangat bagus pemikirannya. Misalnya gagasan jum’at bersih yang melibatkan pimpinan, dosen, karyawan dan mahasiswa. Juga bagaimana meningkatkan mutu perkuliahan. Mendapati kenyataan seperti itu, saya sampai pada kesimpulan bahwa mahasiswa itu (paling tidak di Unesa) cerdas dan berkepribadian baik. Buktinya, gagasan dan kritik disampaikan dengan santun dan semuanya sangat berbobot.
Saat open house, saya sengaja memberikan nomor HP dan alamat email, serta mengundang peserta untuk tilpun, sms dan ber-email untuk mengajukan pendapat. Hasilnya sangat menggembirakan, walaupun kemudian membuat saya harus menyisihkan waktu untuk menjawab. SMS dan email masuk sangat banyak, dengan berbagai masukkan. Tentu isinya sangat bervariasi, mulai yang memberikan saran sampai yang protes. Namun, secara umum isinya cukup baik dan konstruktif, walaupun bahasanya kadang-kadang menyentak. Yang lebih menggembiarakan, ketika sms dan email itu direspons, berikutnya muncul usulan-usulan yang semakin konstruktif. Sekali lagi saya yakin pada dasarnya mahasiswa Unesa memiliki keinginan untuk memperbaiki kampus.
Ketika gagasan jum’at bersih dengan melibatkan sivitas akademika sebagaimana diusulkan mahasiswa di saat open house diujicoba secara terbatas, ternyata sambutan mahasiswa sungguh luar biasa. Mahasiswa di suatu jurusan, yang selama ini dikenal gedungnya paling “kumuh” justru sangat aktif. Karena sebagian dari mereka, jum’at pagi ada kuliah pembersihan dalam ruangan sudah dimulai kamis malam. Ketika jum’at pagi saya mengunjungi gedung tersebut menjadi kaget, kok sudah bersih dan ternyata sudah dibersihkan kemarin sore. Sungguh luar biasa.
Di saat jum’at pagi bersama-sama membersihkan halaman gedung kuliah muncul celetukan dari beberapa orang, antara lain: “awas kalau ada yang mengotori akan saya lempar batu”. Yang lain menyambung: “pokoknya kalau ada yang buang sampah sembarangan, kita teriaki saja”. Yang lain berkomentar: “kalau bersih ternyata gedung kita cantik ya”. “ini kan ide mahasiswa, pokoknya jum’at bersih itu dari mahasiswa untuk kampus tercinta”. Masih banyak celetukan lain. Intinya mahasiswa senang bersama-sama membersihkan gedung kuliah. Mereka juga sangat bangga dengan mengatakan bahwa kegiatan itu gagasan mahasiswa.
Semangat membersihkan gedung seperti disebutkan di atas ternyata juga terjadi pada karyawan. Karyawan yang membersihkan gedung, setelah selesai melakukan senam pagi. Walaupun sudah berkeringat, tampak sekali karyawan bersemangat membersihkan gedung sambil bercanda. Pengamatan saya, memang beberapa orang yang tampak kurang bersemangat, namun jumlahnya sangat sedikit. Rata-rata mereka melakukan kegiatan bersih-bersih dengan ceria. Saat selesai dan makan kacang hijau yang disediakan oleh kantor, celetukan yang muncul juga mirip dengan mahasiswa.
Dari fenomena tersebut di atas dapat disimpulkan, paling tidak untuk sementara di Unesa, konsep co-creation yang diajukan oleh Ramaswamy dan Gouillart yang didasarkan atas pengalaman di Nike dan Starbuck, ternyata juga dapat diterapkan di dunia pendidikan. Semoga.
Kalau dicermati dengan baik, ternyata yang disebut co-creation adalah melibatkan konsumen dan stakeholders konsumen ke dalam platform perusahaan. Cara yang digunakan perusahaan bermacam-macam, tetapi intinya mengajak/melibatkan/mendorong konsumen dan stakeholders terlibat aktif dalam berinovasi dalam menyempurnakan produk dan servis perusahaan agar sesuai dengan kebutuhan konsumen. Media interaksi yang digunakan sangat beragam, antara melalui pertemuan langsung seperti seminar dan diskusi, lewat web, mailist dan sebagainya.
Sungguh menarik, ajakan tersebut ternyata disambut baik oleh konsumen, terbukti sangat banyak konsumen dan stakeholders yang mengikuti acara yang dirancang perusahaan. Bahkan konsumen dan stakeholders banyak yang kemudian secara berkelompok mengembangkan lebih lanjut acara tersebut agar lebih sesuai dengan minat dan waktu mereka. Wakil perusahaan tinggal hadir, karena segalanya diatur oleh mereka. Semua acara tersebut diarahkan agar konsumen dan stakeholders dapat memberi masukan bahkan ikut merancang penyempurnaan produk maupun servis perusahaan. Yang sangat menarik keikutsertaan konsumen dan stakeholders dalam merancang penyempurnaan produk tersebut, kemudian mengubah mereka menjadi konsumen yang loyal bahkan menjadi pemasar kepada orang lain. Mereka tidak lagi sekedar menjadi konsumen, tetapi sekaligus menjadi tenaga pemasaran tanpa menuntut bayaran.
Bagaimana hal itu dapat terjadi? Mereka yang memberi masukan dan terlibat aktif dalam penyempurnaan produk dan atau servis tersebut, kemudian merasa “ikut memiliki” produk dan atau servis yang dihasilkan. Selanjutnya mereka merasa menjadi bagian dari perusahaan, sehingga terdorong untuk ikut memasarkan produk dan servis yang diracangnya. Bahkan kemudian mereka seakan menjadi relawan perusahaan dalam menyempurnakan produk dan servis berikutnya agar sesuai dengan dinamika kebutuhan konsumen dan sekaligus memasarkan hasilnya.
Penerapan co-creation tidak hanya berfungsi sebagai wahana need assessment dalam upaya menyempurnakan produk dan servis agar sesuai kebutuhan dan harapan konsumen. Lebih jauh dari itu co-creation ternyata mampu membuat konsumen dan stakeholders merasa menjadi bagian dari perusahaan. Itu yang mungkin menyebabkan beberapa perusahaan bersedia menyeponsori adanya club-club pengguna produknya, misalnya HD Club, VW Club, Honda Club dan sebagainya. Nampaknya anggota club-club seperti itu kemudian menjadi pelanggan yang loyal dan bahkan merasa menjadi bagian atau anggota dari perusahaan, sehingga dengan sukarela terlibat dalam berbagai kegiatan.
Terinspirasi dari buku tersebut dan juga pengalaman di tempat lain, Unesa memulai acara “open house” dengan mengundang sivitas akademika (dosen, karyawan, mahasiswa). Dalam acara tersebut sivitas akademika diundang untuk mengajukan pendapat dan bahkan kritik bagaimana memperbaiki universitas. Sungguh menarik, responsnya sangat bagus. Mahasiswa yang oleh beberapa teman dikawatirkan akan memberikan pendapat atau kritik yang “nakal” ternyata justru sangat bagus pemikirannya. Misalnya gagasan jum’at bersih yang melibatkan pimpinan, dosen, karyawan dan mahasiswa. Juga bagaimana meningkatkan mutu perkuliahan. Mendapati kenyataan seperti itu, saya sampai pada kesimpulan bahwa mahasiswa itu (paling tidak di Unesa) cerdas dan berkepribadian baik. Buktinya, gagasan dan kritik disampaikan dengan santun dan semuanya sangat berbobot.
Saat open house, saya sengaja memberikan nomor HP dan alamat email, serta mengundang peserta untuk tilpun, sms dan ber-email untuk mengajukan pendapat. Hasilnya sangat menggembirakan, walaupun kemudian membuat saya harus menyisihkan waktu untuk menjawab. SMS dan email masuk sangat banyak, dengan berbagai masukkan. Tentu isinya sangat bervariasi, mulai yang memberikan saran sampai yang protes. Namun, secara umum isinya cukup baik dan konstruktif, walaupun bahasanya kadang-kadang menyentak. Yang lebih menggembiarakan, ketika sms dan email itu direspons, berikutnya muncul usulan-usulan yang semakin konstruktif. Sekali lagi saya yakin pada dasarnya mahasiswa Unesa memiliki keinginan untuk memperbaiki kampus.
Ketika gagasan jum’at bersih dengan melibatkan sivitas akademika sebagaimana diusulkan mahasiswa di saat open house diujicoba secara terbatas, ternyata sambutan mahasiswa sungguh luar biasa. Mahasiswa di suatu jurusan, yang selama ini dikenal gedungnya paling “kumuh” justru sangat aktif. Karena sebagian dari mereka, jum’at pagi ada kuliah pembersihan dalam ruangan sudah dimulai kamis malam. Ketika jum’at pagi saya mengunjungi gedung tersebut menjadi kaget, kok sudah bersih dan ternyata sudah dibersihkan kemarin sore. Sungguh luar biasa.
Di saat jum’at pagi bersama-sama membersihkan halaman gedung kuliah muncul celetukan dari beberapa orang, antara lain: “awas kalau ada yang mengotori akan saya lempar batu”. Yang lain menyambung: “pokoknya kalau ada yang buang sampah sembarangan, kita teriaki saja”. Yang lain berkomentar: “kalau bersih ternyata gedung kita cantik ya”. “ini kan ide mahasiswa, pokoknya jum’at bersih itu dari mahasiswa untuk kampus tercinta”. Masih banyak celetukan lain. Intinya mahasiswa senang bersama-sama membersihkan gedung kuliah. Mereka juga sangat bangga dengan mengatakan bahwa kegiatan itu gagasan mahasiswa.
Semangat membersihkan gedung seperti disebutkan di atas ternyata juga terjadi pada karyawan. Karyawan yang membersihkan gedung, setelah selesai melakukan senam pagi. Walaupun sudah berkeringat, tampak sekali karyawan bersemangat membersihkan gedung sambil bercanda. Pengamatan saya, memang beberapa orang yang tampak kurang bersemangat, namun jumlahnya sangat sedikit. Rata-rata mereka melakukan kegiatan bersih-bersih dengan ceria. Saat selesai dan makan kacang hijau yang disediakan oleh kantor, celetukan yang muncul juga mirip dengan mahasiswa.
Dari fenomena tersebut di atas dapat disimpulkan, paling tidak untuk sementara di Unesa, konsep co-creation yang diajukan oleh Ramaswamy dan Gouillart yang didasarkan atas pengalaman di Nike dan Starbuck, ternyata juga dapat diterapkan di dunia pendidikan. Semoga.
Kamis, 03 Maret 2011
BUDAYA SEKOLAH SEBAGAI KUNCI PENDIDIKAN
Buku karangan Bernie Trilling dan Charles Fadel berjudul “21st Century Skills: Learning for Life in Our Times” (Jossey-Bass, 2009) diberi sebuah prolog yang sangat menarik. Prolog itu menceritakan ada tamu para pejabat penting dari Kementerian Pendidikan China yang mengunjungi Napa New Tech High School di Northern California, sebuah sekolah yang terkenal dengan inovasi project approach dalam pembelajaran. Tamu tersebut melihat sebuah ruang kelas yang mirip perpaduan antara ruang konferensi di perusahaan dan studio produksi media. Di ruang tersebut, mereka mendapat penjelasan beberapa inovasi yang dikerjakan siswa.
Dalam pertemuan setelah itu, Mr. Zheng salah satu delegasi bertanya: “Dimana di sekolah ini Anda mengajarkan kreativitas dan inovasi?” “Saya ingin tahu bagaimana Anda mengajarkan itu”. “Kami ingin siswa kami belajar hal itu”. Direktur sekolah tersebut, Mr Paul, menarik napas panjang, menyusun jawaban, kemudian tersenyum dan menjawab dengan pelan: “Saya mempunyai beberapa berita tidak bagus dan juga beberapa berita bagus”. “Berita yang kurang bagus, bahwa hal itu tidak ada dalam kurikulum kami”. “Itu terkandung dalam udara yang kita hirup atau mungkin terkandung dalam air yang kita minum”. “Itu ada dalam budaya kami, dalam kewirausahaan, dalam keinginan kami untuk menemukan sesuatu yang baru, dalam kemauan kami menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan………”. “Seperti di China, sekolah kami juga harus fokus ke materi ajar yang nanti diujikan pada ujian akhir sekolah yang dapat menentukan masa depan siswa”. “Namun sekolah kami dapat menumbuhkan semangat inovasi dan kreativitas melalui project yang dikerjakan siswa”. “Kami yakin, kemampuan itu sangat penting untuk dapat sukses memecahkan permasalahan di era teknologi dan global”.
“Lantas, apa isi berita yang menggembirakan?”, lanjut Mr. Zheng. Mr. Paul: “Berita baiknya, dengan diberi peluang dan dorongan yang tepat, ternyata siswa kami dapat belajar dengan penuh kreativitas dan inovasi”. “Dan itu memerlukan guru yang bagus, untuk menemukan keseimbangan antara belajar fakta, prinsip, teori untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi”.
Apa yang dapat dipetik dari prolog buku tersebut, khususnya bagi pendidikan di Indonesia? Ternyata sekolah di Amerika juga terjebak kepada keharusan menyelesaikan kurikulum yang untuk mengerjakan soal-soal pada ujian akhir sekolah. Mirip dengan di Indonesia, sekolah juga mengeluh karena harus berpacu menyelesaikan kurikulum yang nanti akan diujikan pada Ujian Nasional maupun Ujian Sekolah. Namun, Napa New Tech High School yakin bahwa sekolah harus dapat menumbuhkan kreativitas dan daya inovasi siswa, kemampuan yang sangat diperlukan di era mendatang. Oleh karena itu, Napa New Tech High School mencari cara agar siswa tetap belajar materi yang ada di kurikulum, tetapi juga tumbuh kreativitas dan inovasinya.
Melalui pola pembelajaran project approach ternyata keinginan tersebut dapat tercapai. Melalui pembelajaran project approach, siswa dapat belajar isi kurikulum dan sekaligus mengembangkan daya kreativitas dan inovasi. Dalam setiap matapelajaran, siswa mendapat tugas kelompok untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari dengan menggunakan konsep dan teori yang telah dipelajari. Nah, dalam mengerjakan tugas tersebut, siswa didorong untuk menyelesaikan masalah secara kreatif dan menemukan inovasi baru. Karena setiap matapelajaran memberikan tugas kelompok untuk memecahkan masalah kehidupan keseharian secara kreatif dan inovatif, maka penumbuhan kreativitas dan inovasi seakan telah menjadi budaya di Napa New Tech High School. Melalui pola tersebut, kurikulum dapat diselesaikan dan siswa dapat mengerjakan ujian akhir dengan baik, dan bersama dengan itu, kreativitas dan inovasi siswa juga berkembangan dengan baik.
Di Indonesia sebenarnya juga ada beberapa sekolah yang menerapkan pola project work, walaupun tidak tepat sama dengan di Napa New Tech High School. Setahu saya, Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya (SAIMS) dan SMP Muhammadiyah Gresik Kota Baru (GKB) menerapkan project work walaupun tidak untuk setiap matapelajaran, tetapi merupakan tugas gabungan untuk seluruh matapelajaran. Prestasi kedua sekolah tersebut dalam UASBN dan UN juga sangat bagus, berarti isi kurikulum dapat terselesaikan dengan baik. Dari pengematan saya, kreativitas siswa di kedua sekolah tersebut juga tumbuh dengan baik.
Jadi kreativitas dan inovasi dapat ditumbuhkan lewat pola pembelajaran yang dilakukan secara konsisten sehingga menjadi budaya sekolah. Pola itu ternyata tidak mengganggu penyelesaian isi kurikulum dan bahkan membantu pencapaiannya. Yang diperlukan adalah kreativitas guru untuk menemukan pola pembelajaran yang tepat. Siswa ternyata cukup cerdas, sehingga tidak semuanya harus dijelaskan oleh guru. Project dapat dirancang sedemikian rupa agar mendorong (mungkin juga memaksa) siswa belajar sendiri. Project dapat dirancang untuk mengaitkan materi kurikulum dengan kehidupan sehari-hari, sehingga pemahaman siswa lebih baik. Project dapat dirancang untuk mengaitkan isi satu matapelajaran dengan matapelajaran lain, sehingga pemahaman siswa menjadi lebih utuh. Yang penting, tugas project untuk memecahkan masalah keseharian secara kreatif, jika dilakukan secara terencana dan konsisten dapat menumbuhkan daya kreativitas dan inovasi siswa. Semoga.
Dalam pertemuan setelah itu, Mr. Zheng salah satu delegasi bertanya: “Dimana di sekolah ini Anda mengajarkan kreativitas dan inovasi?” “Saya ingin tahu bagaimana Anda mengajarkan itu”. “Kami ingin siswa kami belajar hal itu”. Direktur sekolah tersebut, Mr Paul, menarik napas panjang, menyusun jawaban, kemudian tersenyum dan menjawab dengan pelan: “Saya mempunyai beberapa berita tidak bagus dan juga beberapa berita bagus”. “Berita yang kurang bagus, bahwa hal itu tidak ada dalam kurikulum kami”. “Itu terkandung dalam udara yang kita hirup atau mungkin terkandung dalam air yang kita minum”. “Itu ada dalam budaya kami, dalam kewirausahaan, dalam keinginan kami untuk menemukan sesuatu yang baru, dalam kemauan kami menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan………”. “Seperti di China, sekolah kami juga harus fokus ke materi ajar yang nanti diujikan pada ujian akhir sekolah yang dapat menentukan masa depan siswa”. “Namun sekolah kami dapat menumbuhkan semangat inovasi dan kreativitas melalui project yang dikerjakan siswa”. “Kami yakin, kemampuan itu sangat penting untuk dapat sukses memecahkan permasalahan di era teknologi dan global”.
“Lantas, apa isi berita yang menggembirakan?”, lanjut Mr. Zheng. Mr. Paul: “Berita baiknya, dengan diberi peluang dan dorongan yang tepat, ternyata siswa kami dapat belajar dengan penuh kreativitas dan inovasi”. “Dan itu memerlukan guru yang bagus, untuk menemukan keseimbangan antara belajar fakta, prinsip, teori untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi”.
Apa yang dapat dipetik dari prolog buku tersebut, khususnya bagi pendidikan di Indonesia? Ternyata sekolah di Amerika juga terjebak kepada keharusan menyelesaikan kurikulum yang untuk mengerjakan soal-soal pada ujian akhir sekolah. Mirip dengan di Indonesia, sekolah juga mengeluh karena harus berpacu menyelesaikan kurikulum yang nanti akan diujikan pada Ujian Nasional maupun Ujian Sekolah. Namun, Napa New Tech High School yakin bahwa sekolah harus dapat menumbuhkan kreativitas dan daya inovasi siswa, kemampuan yang sangat diperlukan di era mendatang. Oleh karena itu, Napa New Tech High School mencari cara agar siswa tetap belajar materi yang ada di kurikulum, tetapi juga tumbuh kreativitas dan inovasinya.
Melalui pola pembelajaran project approach ternyata keinginan tersebut dapat tercapai. Melalui pembelajaran project approach, siswa dapat belajar isi kurikulum dan sekaligus mengembangkan daya kreativitas dan inovasi. Dalam setiap matapelajaran, siswa mendapat tugas kelompok untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari dengan menggunakan konsep dan teori yang telah dipelajari. Nah, dalam mengerjakan tugas tersebut, siswa didorong untuk menyelesaikan masalah secara kreatif dan menemukan inovasi baru. Karena setiap matapelajaran memberikan tugas kelompok untuk memecahkan masalah kehidupan keseharian secara kreatif dan inovatif, maka penumbuhan kreativitas dan inovasi seakan telah menjadi budaya di Napa New Tech High School. Melalui pola tersebut, kurikulum dapat diselesaikan dan siswa dapat mengerjakan ujian akhir dengan baik, dan bersama dengan itu, kreativitas dan inovasi siswa juga berkembangan dengan baik.
Di Indonesia sebenarnya juga ada beberapa sekolah yang menerapkan pola project work, walaupun tidak tepat sama dengan di Napa New Tech High School. Setahu saya, Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya (SAIMS) dan SMP Muhammadiyah Gresik Kota Baru (GKB) menerapkan project work walaupun tidak untuk setiap matapelajaran, tetapi merupakan tugas gabungan untuk seluruh matapelajaran. Prestasi kedua sekolah tersebut dalam UASBN dan UN juga sangat bagus, berarti isi kurikulum dapat terselesaikan dengan baik. Dari pengematan saya, kreativitas siswa di kedua sekolah tersebut juga tumbuh dengan baik.
Jadi kreativitas dan inovasi dapat ditumbuhkan lewat pola pembelajaran yang dilakukan secara konsisten sehingga menjadi budaya sekolah. Pola itu ternyata tidak mengganggu penyelesaian isi kurikulum dan bahkan membantu pencapaiannya. Yang diperlukan adalah kreativitas guru untuk menemukan pola pembelajaran yang tepat. Siswa ternyata cukup cerdas, sehingga tidak semuanya harus dijelaskan oleh guru. Project dapat dirancang sedemikian rupa agar mendorong (mungkin juga memaksa) siswa belajar sendiri. Project dapat dirancang untuk mengaitkan materi kurikulum dengan kehidupan sehari-hari, sehingga pemahaman siswa lebih baik. Project dapat dirancang untuk mengaitkan isi satu matapelajaran dengan matapelajaran lain, sehingga pemahaman siswa menjadi lebih utuh. Yang penting, tugas project untuk memecahkan masalah keseharian secara kreatif, jika dilakukan secara terencana dan konsisten dapat menumbuhkan daya kreativitas dan inovasi siswa. Semoga.
Selasa, 01 Maret 2011
DAPATKAN UN MENGGANTIKAN SNMPTN?
Dapatkan UN menggantikan SNMPTN, sehingga perguruan tinggi tidak perlu mengadakan seleksi masuk? Dapatkan perguruan tinggi menggunakan nilai UN sebagai bahan seleksi masuk, persis seperti seleksi masuk SMA yang menggunakan nilai UN SMP dan seleksi masuk SMP yang menggunakan nilai UASBN sebagai bahan seleksi? Bukankah dengan begitu dapat dilakukan penghematan besar?
Wacana itu sebenarnya sudah mulai didiskusikan beberapa tahun lalu, pada saat Pak Bambang Sudibyo menjadi mendiknas. Seingat saya beberapa kali Pak Bambang Sudibyo menyampaikan gagasan itu dan memberikan contoh kasus di beberapa negara dimana perguruan tinggi menggunakan skor ujian nasional bahkan ujian sekolah sebagai bahan seleksi masuknya.
Beberapa pihak yang mendukung gagasan tersebut dengan memberikan gambaran bahwa anak-anak yang memperoleh skor tinggi di UN, biasanya juga dapat masuk ke perguruan tinggi favorit melalui jalur SNMPTN. Dengan demikian diduga skor UN akan paralel dengan skor SNMPTN, sehingga mestinya skor UN sudah mewakili atau menggantikan skor SNMPTN. Di pihak lain, ada yang kurang setuju dengan gagasan tersebut, karena tujuan kedua tes/ujian tersebut berbeda. Ada lagi yang kurang setuju, karena meragukan kredibilitas UN. Beberapa tahun terakhir ini, pemerintah melibatkan pengawasan UN dengan maksud agar kredibilitasnya baik. Apakah jika UN kredibel lantas SNMPTN dapat dihapus dan seleksinya masuk perguruan tinggi menggunakan skor UN? Itulah yang perlu dikaji secara baik.
UN (ujian nasional) berfungsi sebagai evaluasi akhir suatu jenjang pendidikan dan diarahkan untuk mengecek daya serap terhadap kurikulum yang berlaku. Dalam bahasa lain, UN pada dasarnya ingin mengukur ketercapaian kompetensi sebagaimana diamanatkan oleh kurikulum. Oleh karena itu soal-soal UN dibuat atas dasar isi kurikulum. Jika siswa menguasai seluruh isi kurikulum, maka seharusnya yang bersangkutan mendapatkan skor 100. Jika siswa menguasai 90% kurikulum seharusnya yang bersangkutan mendapatkan skor 90. Dengan demikian, jika proses pembelajaran berjalan dengan baik dan banyak siswa yang menguasai seluruh isi kurikulm, maka sebagian besar siswa mendapat skor 100 atau mendekati 100. Jika kondisi seperti itu digambarkan secara grafis akan membentuk kurva yang juling ke kanas. Artinya sebagian besar siswa berasa di sebelah kanan, yaitu mendekati skor maksimal.
Karena tujuannya untuk mengecek daya serap kurikulum, maka perbedaan skor antar siswa tidak penting dalam UN. Daya bahasa pengembangan tes, daya beda tidak penting dalam soal UN. Yang dipentingkan dalam penyusunan soal adalah validitas isi dan validitas konstruk untuk memastikan sama dengan kompetensi yang dituntut oleh kurikulum. Tingkat kesukaran soal tidak perlu dirisaukan, karena acuan yang digunakan adalah kompetensi sebagaimana dituntut kurikulum. Yang penting kontruk soal sudah sesuai dengan konstruk kompetensi yang dituntut oleh kurikulum.
Apakah hasil UN sangat bagus, dalam pengertian sebagian besar siswa mendapat nilai tinggi atau sebaliknya hasil UN sangat jelek, dalam pengertian sebagian besar siswa mendapat skor rendah, kita tidak dapat menyalahkan soal UN. Sepanjang validitas isi dan validitas konstruk soal tersebut dapat dipertanggungjawabkan, maka sedikit atau banyaknya peserta yang dapat menjawab soal tersebut atau mendapatkan skor tinggi tidak menjadi masalah.
SNMPTN dan juga seleksi masuk pada suatu lembaga pendidikan fungsinya adalah untuk membedakan calon yang yang lebih potensial dan yang kurang potensial untuk sukses dalam menempuh kuliah. Dengan asumsi penguasaan kurikulum SMA merupakan faktor penting dalam kesuksesan kuliah, maka soal-soal SNPTN juga didasarkan pada kurikulum SMA.
Apakah dengan demikian soalnya sama dengan UN? Mestinya tidak. Karena fungsinya untuk membedakan calon, maka dalam penyusunan soal, daya beda soal SNMPTN haruslah bagus. Idealnya dalam SNMPTN tidak ada dua peserta yang mendapatkan skor nilai sama. Oleh karena itu tingkat kesukaran soal SNMPTN sebarusnya memperhatian kemampuan peserta. Jika soal terlalu mudah, hasilnya tidak dapat membedakan anak sangat pandai dengan yang sedikit dibawahnya, karena mereka sama-sama mendapat skor 100. Sebaliknya jika soal terlalu sulit, hasilnya tidak dapat membedakan yang sangat lemah dan sedikit di atasnya, karena sama-sama mendapat nilai yang sama. Tingkat kesukaran soal SNMPTN seharusnya ditengah-tengah, artinya peserta yang kemampuannya ditengah-tengah kelompok akan mendapatkan skor 50. Mereka yang lebih pandai akan memperoleh skor di atas 50 dan yang kurang pandai akan mendapatkan skor di bawah 50. Semakin jauh kemampuan peserta dengan temannya yang di tengah-tengah, seharusnya semakin banyak beda sakornya. Nah, oleh karena itu jika skor-skor nilai peserta SNMPTN digambarkan dalam bentuk grafik akan berupa kurva normal.
Pada suatu pertemuan PTN Jawa Timur di IAIN Sunan Ampel Surabaya, pakar dari ITS melaporkan bahwa korelasi antara skor UN dan SNMPTN tahun 2010 tidak berkorelasi secara signifikan. Saya memberi komentar, yang memang harus tidak berkorelasi. Bahkan jika korelasi antara keduanya signifikan, malah perlu dipertanyakan. Mungkin datanya keliru. Jika datanya benar, berarti soalnya keliru. Mengapa? Bagi yang pernah belajar statistik tentu faham, data yang berbentuk grafik kurva normal dan yang berbentuk juling tentu tidak akan berkorelasi secara signifikan.
Bukankah siswa yang pandai akan mendapat skor tinggi pada UN maupun SNMPTN? Memang, tetapi grafiknya akan berbeda. Karena pada SNMPTN soalnya disusun pada tingkat kesulitan tengah-tengah dan dengan daya beda bagus, sehingga idealnya dapat menghasilkan skor yang berbeda pada setiap peserta dan grafiknya grafik kurva normal. Sementara itu soal UN disusun atas dasar isi kurikulum, sehingga jika proses pembelajarannya bagus, sebagian siswa akan mendapat skor nilai bagus dan grafiknya juling ke kanan, sebaliknya pada sekolah yang proses belajarnya kurang bagus, sebagian besar siswa akan mendapatkan skor rendah dan grafiknya juling ke kiri.
Mungkinkah hasil UN mendapatkan grafik berupa kurva normal? Mungkin, tetapi itu berarti penguasaan materi siswa hanya sekitar 50% dari kurikulum. Sebagian besar siswa memperoleh skor 50 dan hanya sedikit yang memperoleh skor sekitar 80 apalagi 100. Dan jika itu terjadi, berarti proses pendidikan di SMA kurang bagus, buktinya daya serap rata-rata hanya 50%.
Apakah itu berarti UN tidak dapat menggantikan SNMPTN? Jika soal yang digunakan tetap seperti konsep ideal, maka UN tidak dapat menggantikan SNMPTN. Jika diinginkan, maka harus ada perubahan pola soal UN. Penyusunan soal UN juga harus memperhatikan daya beda, sehingga dapat membedakan peserta satu dengan lainnya. Dan itu tidak mudah, karena begitu harus memperhatikan daya beda, tingkat kesukaran soal harus tengah-tengah, yang seringkali tidak sejalan dengan tuntutan kurikulum. Memang masih ada cara penyusunan soal yang memperhatikan daya beda dan juga mengacu pada patokan tingkat kesukaran kurikulum, tetapi kemudian jumlah butir soal menjadi banyak.
Hal lain yang mendapat perhatian jika UN akan menggantikan SNMPTN adalah kondisi siswa. Karena acuannya kurikulum, maka sekolah yang mutunya kurang bagus, logikanya skor yang diperoleh siswa juga kurang bagus, walaupung mungkin diantara mereka ada yang mempunyai kemampuan dasar (sebut saja IQ) bagus. Pada hal, kemampuan dasar seringkali juga berperan bagus dalam kesuksesan studi berikutnya. Kita menyaksikan banyak perguruan tinggi yang menggunakan Tes Potensi Akademik (TPA) untuk tes masuk, dengan asumsi TPA memiliki peran lebih tinggi dibanding penguasaan materi SMA untuk menempuh pendidikan tinggi. Bahkan untuk jenjang S2/S3 hampir semua menggunakan TPA untuk tes masuk.
Oleh karena itu, jika UN akan menggantikan SNMPTN perlu dipikirkan bagaimana untuk anak berpotensi bagus tetapi karena sesuatu belajar di sekolah yang kurang baik. Jika semua siswa SMA punya tes psikologi, maka hasil tes psikologi dapat menjadi pendamping UN saat yang bersangkutan masuk ke perguruan tinggi. Jika siswa tidak memiliki tes psikologi mungkin perlu TPA sebagai penggantinya. Semoga.
Wacana itu sebenarnya sudah mulai didiskusikan beberapa tahun lalu, pada saat Pak Bambang Sudibyo menjadi mendiknas. Seingat saya beberapa kali Pak Bambang Sudibyo menyampaikan gagasan itu dan memberikan contoh kasus di beberapa negara dimana perguruan tinggi menggunakan skor ujian nasional bahkan ujian sekolah sebagai bahan seleksi masuknya.
Beberapa pihak yang mendukung gagasan tersebut dengan memberikan gambaran bahwa anak-anak yang memperoleh skor tinggi di UN, biasanya juga dapat masuk ke perguruan tinggi favorit melalui jalur SNMPTN. Dengan demikian diduga skor UN akan paralel dengan skor SNMPTN, sehingga mestinya skor UN sudah mewakili atau menggantikan skor SNMPTN. Di pihak lain, ada yang kurang setuju dengan gagasan tersebut, karena tujuan kedua tes/ujian tersebut berbeda. Ada lagi yang kurang setuju, karena meragukan kredibilitas UN. Beberapa tahun terakhir ini, pemerintah melibatkan pengawasan UN dengan maksud agar kredibilitasnya baik. Apakah jika UN kredibel lantas SNMPTN dapat dihapus dan seleksinya masuk perguruan tinggi menggunakan skor UN? Itulah yang perlu dikaji secara baik.
UN (ujian nasional) berfungsi sebagai evaluasi akhir suatu jenjang pendidikan dan diarahkan untuk mengecek daya serap terhadap kurikulum yang berlaku. Dalam bahasa lain, UN pada dasarnya ingin mengukur ketercapaian kompetensi sebagaimana diamanatkan oleh kurikulum. Oleh karena itu soal-soal UN dibuat atas dasar isi kurikulum. Jika siswa menguasai seluruh isi kurikulum, maka seharusnya yang bersangkutan mendapatkan skor 100. Jika siswa menguasai 90% kurikulum seharusnya yang bersangkutan mendapatkan skor 90. Dengan demikian, jika proses pembelajaran berjalan dengan baik dan banyak siswa yang menguasai seluruh isi kurikulm, maka sebagian besar siswa mendapat skor 100 atau mendekati 100. Jika kondisi seperti itu digambarkan secara grafis akan membentuk kurva yang juling ke kanas. Artinya sebagian besar siswa berasa di sebelah kanan, yaitu mendekati skor maksimal.
Karena tujuannya untuk mengecek daya serap kurikulum, maka perbedaan skor antar siswa tidak penting dalam UN. Daya bahasa pengembangan tes, daya beda tidak penting dalam soal UN. Yang dipentingkan dalam penyusunan soal adalah validitas isi dan validitas konstruk untuk memastikan sama dengan kompetensi yang dituntut oleh kurikulum. Tingkat kesukaran soal tidak perlu dirisaukan, karena acuan yang digunakan adalah kompetensi sebagaimana dituntut kurikulum. Yang penting kontruk soal sudah sesuai dengan konstruk kompetensi yang dituntut oleh kurikulum.
Apakah hasil UN sangat bagus, dalam pengertian sebagian besar siswa mendapat nilai tinggi atau sebaliknya hasil UN sangat jelek, dalam pengertian sebagian besar siswa mendapat skor rendah, kita tidak dapat menyalahkan soal UN. Sepanjang validitas isi dan validitas konstruk soal tersebut dapat dipertanggungjawabkan, maka sedikit atau banyaknya peserta yang dapat menjawab soal tersebut atau mendapatkan skor tinggi tidak menjadi masalah.
SNMPTN dan juga seleksi masuk pada suatu lembaga pendidikan fungsinya adalah untuk membedakan calon yang yang lebih potensial dan yang kurang potensial untuk sukses dalam menempuh kuliah. Dengan asumsi penguasaan kurikulum SMA merupakan faktor penting dalam kesuksesan kuliah, maka soal-soal SNPTN juga didasarkan pada kurikulum SMA.
Apakah dengan demikian soalnya sama dengan UN? Mestinya tidak. Karena fungsinya untuk membedakan calon, maka dalam penyusunan soal, daya beda soal SNMPTN haruslah bagus. Idealnya dalam SNMPTN tidak ada dua peserta yang mendapatkan skor nilai sama. Oleh karena itu tingkat kesukaran soal SNMPTN sebarusnya memperhatian kemampuan peserta. Jika soal terlalu mudah, hasilnya tidak dapat membedakan anak sangat pandai dengan yang sedikit dibawahnya, karena mereka sama-sama mendapat skor 100. Sebaliknya jika soal terlalu sulit, hasilnya tidak dapat membedakan yang sangat lemah dan sedikit di atasnya, karena sama-sama mendapat nilai yang sama. Tingkat kesukaran soal SNMPTN seharusnya ditengah-tengah, artinya peserta yang kemampuannya ditengah-tengah kelompok akan mendapatkan skor 50. Mereka yang lebih pandai akan memperoleh skor di atas 50 dan yang kurang pandai akan mendapatkan skor di bawah 50. Semakin jauh kemampuan peserta dengan temannya yang di tengah-tengah, seharusnya semakin banyak beda sakornya. Nah, oleh karena itu jika skor-skor nilai peserta SNMPTN digambarkan dalam bentuk grafik akan berupa kurva normal.
Pada suatu pertemuan PTN Jawa Timur di IAIN Sunan Ampel Surabaya, pakar dari ITS melaporkan bahwa korelasi antara skor UN dan SNMPTN tahun 2010 tidak berkorelasi secara signifikan. Saya memberi komentar, yang memang harus tidak berkorelasi. Bahkan jika korelasi antara keduanya signifikan, malah perlu dipertanyakan. Mungkin datanya keliru. Jika datanya benar, berarti soalnya keliru. Mengapa? Bagi yang pernah belajar statistik tentu faham, data yang berbentuk grafik kurva normal dan yang berbentuk juling tentu tidak akan berkorelasi secara signifikan.
Bukankah siswa yang pandai akan mendapat skor tinggi pada UN maupun SNMPTN? Memang, tetapi grafiknya akan berbeda. Karena pada SNMPTN soalnya disusun pada tingkat kesulitan tengah-tengah dan dengan daya beda bagus, sehingga idealnya dapat menghasilkan skor yang berbeda pada setiap peserta dan grafiknya grafik kurva normal. Sementara itu soal UN disusun atas dasar isi kurikulum, sehingga jika proses pembelajarannya bagus, sebagian siswa akan mendapat skor nilai bagus dan grafiknya juling ke kanan, sebaliknya pada sekolah yang proses belajarnya kurang bagus, sebagian besar siswa akan mendapatkan skor rendah dan grafiknya juling ke kiri.
Mungkinkah hasil UN mendapatkan grafik berupa kurva normal? Mungkin, tetapi itu berarti penguasaan materi siswa hanya sekitar 50% dari kurikulum. Sebagian besar siswa memperoleh skor 50 dan hanya sedikit yang memperoleh skor sekitar 80 apalagi 100. Dan jika itu terjadi, berarti proses pendidikan di SMA kurang bagus, buktinya daya serap rata-rata hanya 50%.
Apakah itu berarti UN tidak dapat menggantikan SNMPTN? Jika soal yang digunakan tetap seperti konsep ideal, maka UN tidak dapat menggantikan SNMPTN. Jika diinginkan, maka harus ada perubahan pola soal UN. Penyusunan soal UN juga harus memperhatikan daya beda, sehingga dapat membedakan peserta satu dengan lainnya. Dan itu tidak mudah, karena begitu harus memperhatikan daya beda, tingkat kesukaran soal harus tengah-tengah, yang seringkali tidak sejalan dengan tuntutan kurikulum. Memang masih ada cara penyusunan soal yang memperhatikan daya beda dan juga mengacu pada patokan tingkat kesukaran kurikulum, tetapi kemudian jumlah butir soal menjadi banyak.
Hal lain yang mendapat perhatian jika UN akan menggantikan SNMPTN adalah kondisi siswa. Karena acuannya kurikulum, maka sekolah yang mutunya kurang bagus, logikanya skor yang diperoleh siswa juga kurang bagus, walaupung mungkin diantara mereka ada yang mempunyai kemampuan dasar (sebut saja IQ) bagus. Pada hal, kemampuan dasar seringkali juga berperan bagus dalam kesuksesan studi berikutnya. Kita menyaksikan banyak perguruan tinggi yang menggunakan Tes Potensi Akademik (TPA) untuk tes masuk, dengan asumsi TPA memiliki peran lebih tinggi dibanding penguasaan materi SMA untuk menempuh pendidikan tinggi. Bahkan untuk jenjang S2/S3 hampir semua menggunakan TPA untuk tes masuk.
Oleh karena itu, jika UN akan menggantikan SNMPTN perlu dipikirkan bagaimana untuk anak berpotensi bagus tetapi karena sesuatu belajar di sekolah yang kurang baik. Jika semua siswa SMA punya tes psikologi, maka hasil tes psikologi dapat menjadi pendamping UN saat yang bersangkutan masuk ke perguruan tinggi. Jika siswa tidak memiliki tes psikologi mungkin perlu TPA sebagai penggantinya. Semoga.
Langganan:
Postingan (Atom)
