Minggu, 04 Februari 2018

DALAM HIDUP KITA HARUS MEMILIH



Bahwa dalam kehidupan kita selalu harus menentukan pilihan, rasanya kita sudah tahu.  Namun seringkali kita tidak mudah menentukan pilihan.  Atau pilihan terpaksa harus diubah karena sesuatu hal yang sangat penting.  Kita boleh membuat rencana dan memang sebaiknya begitu, namun dalam perjalanan rencana itu sangat mungkin harus diubah.

Tahun 2017 praktis saya tidak “menengok” negara lain.  Memang sempat ke Korea Selatan, namun saat itu waktunya sangat pendek dan jadwal acara begitu padat, sehingga praktis tidak dapat “kemana-mana”.  Keinginan untuk melihat home industry yang sangat terkenal di Korea Selatan itupun tidak terlaksana.  Oleh karena itu, sejak akhir tahun saya ingin sekali pada tahun 2018 bisa pergi ke luar negeri.

Nah ketika, beberapa teman di Unesa mengabarkan keinginan mengunjungi Jepang untuk melihat bunga sakura sayapun ingin ikut serta.  Apalagi dapat dikaitkan dengan konferensi internasional yang dilaksanakan Asaihl di univesitas Soka di Tokyo.  Sayapun bersama beberapa teman segera mengirim abstrak sesuai dengan jadwal yang diberikan  Alhamdulillah, abstrak diterima sehingga kami segera menyiapkan full paper dan menyiapkan ini dan itu untuk berangkat.  Apalagi isteri saya juga akan ikut serta.

Ditengah-tengah persiapan itu datang informasi lain yang tidak kalah menyenangkan. Si bungsu hamil dan setelah beberapa kali ke dokter kandungan, diperkirakan kelahiran anak kedua itu antara akhir Februasi dan awal Maret.  Pada hal, konferensi Asaihl di Tokyo itu pada 26-28 Maret 2018.  Kamipun bimbang, apakah akan tetap pergi ke Jepang atau tidak. Toh jarak perkiraan kelahiran dan acara di Tokyo sekitar 2-4 minggu.

Namun demikian, berpengalaman pada kelahiran anak pertama di bungsu, kami jadi ragu.  Saat itu, anak pertamanya-Feya- sempat masuk rumah sakit karena kuning.  Kami semua jadi bingung, apalagi ASI ibunya kurang lancar.  Pada hal ibu mertuanya seorang dokter dan masih tinggal satu rumah.

Pada kelahiran yang akan datang, si bungsu sudah tinggal di rumah sendiri.  Suaminya juga sangat sibuk, karena sebagai akuntan pulangnya selalu sesudah magrib.  Anaknya yang sulung baru menjelang 3 tahun dan tidak terbiasa dengan orang lain.  Oleh karena itu, rasanya kami-orangtua-ingin sekali mendampingi saat kelahiran sampai beberapa minggu, saat semuanya sudah stabil.

Jadinya saya dan isteri bingung.  Di satu sisi ingin ke Jepang, toh abstrak sudah diterima dan tinggal mengirim full paper.  Di lain pihak, ingin mendampingi di bungsu saat melahirkan sampai beberapa minggu di Jakarta.  Nah setelah merenungkan berbagai pertimbangan, akhirnya saya dan isteri memutuskan untuk tidak berangkat ke Jepangdan memilih fokus akan mendampingi si bungsu.

Untunglah, anggota tim yang lain (Prof Roesminingsig dan Pak Daryono) siap untuk berangkat, sehigga paper tetap dapat dipresentasikan.  Apalagi, informasi dari Soka University, 1 orang wakil dari setiap paper yang diterima tidak perlu membayar conference fee yang cukup mahal, yaitu 300 dolar Amerika atau sekitar 5 juta rupiah.  Semoga keduanya berjalan lancar.

Tidak ada komentar: