Sabtu, 13 April 2013

TALAUD: DILUAR DUGAAN


Tahun 2013 ini Universitas Negeri Surabaya melaksanakan program SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal) di empat kabupaten, yaitu Kab. Sumba Timur, Kab. Aceh Singkil, Kab. Talaud dan Kab. Maluku Barat Daya.  Berarti ada tambahan tiga kabupaten dibanding tahun lalu, yang hanya satu kabupaten, yaitu Kab. Sumba Timur.

Pada saat mengantar peserta, saya tidak dapat ikut karena ada acara lain yang tidak dapat saya tinggalkan.  Oleh karena itu, ketika Bu Lutfi (Prof Lutfiah Nurlaela) menawari ikut monitoring dan evaluasi, saya segera menyanggupi.  Melihat lokasi dan jadwal yang disodorkan, saya memilih pergi ke Kab. Talaud.  Pilihan itu karena saya belum pernah ke Talaud dan jadwalnya pas saya agak longgar.

Sebelum berangkat saya bertanya kepada Bu Lutfi, apa yang harus saya bawa.  Apakah saya harus membawa sepatu kets dan sebagainya?  Bu Lutfi menjawab, perlu membawa sepatu kets dan jaket.  Mendapat jawaban itu, saya membayangkan kondisi Kab. Talaud mirip dengan Kab. Sumba Timur, sehingga saya harus membawa sepatu kets dan jaket.  Apalagi saya dapat informasi bahwa di Kab. Talaud saya nanti akan naik rakit, karena ada sungai yang belum ada jembatannya.  Sementara sekolah yang akan dikunjungi berada di seberang sungai tersebut.

Saya membayangkan kondisi Kab. Talaud gersang, jalan-jalan tidak baik, kampung kumuh, kondisi ekonomi masyarakat rendah dan sekolah-sekolah tampak kumuh dan sebagainya.  Oleh karena itu, sejak di Surabaya saya menyiapkan diri menghadapi kondisi tersebut. Termasuk menyiapkan berbagai hal yang terkait untuk menguatkan motivasi pengabdian peserta SM3T.

Namun, begitu menginjakkan kaki di bandara dan dijemput Ibu Susan (Kasi Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga/Dikpora), saya menyadari dugaan saya tersebut jauh dari kebenaran.  Jalan menuju kantor Dinas Pendidikan cukup mulus, rumah-rumah tertata rapid an lahan di kiri dan kanan jalan tampak hijau.  Memang jumlah kendaraan tidak banyak dan kalah banyak dibanding Sumba Timur.  Tetapi alam tampak lebih subur.

Hari itu juga kami (saya, Bu Lutfi, Bu Trisakti, Pak Sulaiman dan P Yoyok) langsung bergerak menuju tempat kami sudah di tunggu peserta SM3T.  Tempatnya di Desa Bulude Selatan.  Kami mulai bergerak dari kantor Dinas Dikpora sekitar pukul 13.30.  Jarak yang cukup jauh, jalan yang rusak parah di bagian pedalaman dan kondisi hari itu hujan, menyebabkan perjalanan lambat dan baru sampai di tujuan sekitar pukul 18.30.

Selama perjalanan saya menyaksikan kanan-kiri jalan dipenuhi kebun kelapa, kebuh cengkih dan kebun pala.  Memang kebun-kebun tersebut tampak masih tradisional dan kurang terawat secara baik.  Misalnya pohon-pohon kelapa banyak yang sudah tua dan tidak tampak peremajaan.  Demikian pula kondisi kebun pala dan kebun cengkih.

Namun pedesaan tampak bersih, banyak sekali bunga ditanam rapi di halaman rumah dan tepi jalan.  Jenis bunga yang paling banyak adalah bunga soka, yang do Surabaya termasuk bunga yang mahal. Halaman rumah ditanami tanaman sayur-sayuran dan tanaman bumbu untuk memasak.  Sekolah tampak bersih, halaman sekolah tertata rapi dengan tanaman bunga di sana-sini.  Kondisi gedung sekolah juga cukup baik, jauh lebih baik dibanding daerah lain, termasuk di pula Jawa.

Masyarakat Talaud ternyata sangat ramah dan memiliki budaya gotong royong yang masih cukup kuat.  Saya dapat informasi, makanan yang disajikan kepada kami dimasak oleh masyarakat sekitar sekolah.  Jika ada tamu ke sebuah keluarga, sudah biasa keluarga di sekitarnya  ikut membantu menyambut dan memberikan hidangan.  Saat saya melintas ada sekelompok orang yang sedang membangun rumah.  Ternyata pola gotong royong masih diterapkan untuk membangun rumah dan juga untuk memisahkan cengkeh dari tangkainya saat panen.

Saya juga melihat banyak antene parabola di rumah penduduk.  Konon hampir setiap rumah memiliki TV dan kultas.  Bahkan beberapa rumah memiliki freezer untuk menyimpan ikan hasil tangkapan.  Oleh karena itu saya meyakini kondisi sosial ekonomi masyarakat Talaud sangat baik.  Sayang, ketika bertanya berapa PAD Kab. Talaud saya tidak mendapatkan jawaban yang jelas.

Dua hari menjelalah Kab Talaud untuk mengunjungi banyak sekolah di Kab. Talaud, dalam benak saya berkecamuk pikiran dan pertanyaan.  Pertama, bagaimana situasi pedesaan tertata sangat rapi dan bersih.  Walaupun jalan banyak yang rusak berat, tetapi pedesaan tertata rapi dengan tanaman bunga di pinggir jalan dan halaman rumah.  Lahan di sekitar rumah penduduk tampak tertanami bunga, buah-buahan seperti jeruk, rambutan, mangga dan sebagainya.  Juga banyak tanaman sayuran dan empon-empon.  Konon itu dampak dari lomba desa yang setiap tahun dilakukan.  Saya masih penasaran, rasanya ada faktor lain yang membuat keadaan desa seperti itu.

Kedua, sekolah-sekolah tampak bersih dan tertata rapi.  Ruang kelas tampak bersih, kamar kecil bersih dan halaman sekolah ditanami banyak bunga.  Rasanya kondisi sekolah-sekolah di Kab. Talaud lebih baik dari sekolah-sekolah di daerah lain, termasuk di Jawa.  Beberapa guru menyatakan hubungan sekolah dengan masyarakat sekitar sangat baik, sehingga masyarakat banyak membantu sekolah.  Termasuk ketika kami datang, Kepala Desa dan warga sekitar ikut menyambut dan ikut menyediakan makanan.

Ketiga, jalan rusak berat. Yang baik hanya di sekitar ibu kota kabupaten dan ibu kota kecamatan Beo.  Banyak jembatan yang utus atau sungai yang belum ada jembatannya.  Pada hal kebun kelapa, kebuh cengkih dan kebun pala tersebar di selurih daerah.  Hasil tangkapan ikan juga sangat banyak.  Banyak “gunungan” buah kelapa di tepi jalan dan banyak yang keluar tunasnya.  Mungkin terlalu lama menunggu angkutan. Terpaksa hasil kebun tersebut dipikul atau diangkut dengan gerobak sampai jalan yang dapat dilalui truk.  Sangat mungkin biaya angkut jadi sangat mahal.  Hasil tangkapan ikan juga hanya untuk konsumsi lokal.

Ke empat, teknologi pertanian dan pengolahan hasil pertanian dan perikanan tampaknya belum menyentuh Kab. Talaud.  Pola tanam perkebunan kelapa, pala dan cengkih masih tampak tradisional dan tidak tampak ada peremajaan.  Kebun sepertinya tidak terpelihara dengan baik.  Melihat tingginya pohon kelapa yang mencapai lebih 30 meter dan pohon cengkih yang sudah 25 meter-an, semestinya sudah dimulai peremajaan.  Lokasi pohon kelapa yang “berserakan” menunjukkan itu tanaman lama yang belum diatur. 

Kelima, kondisi sarana-prasarana sekolah tampak sangat baik.  Namun jumlah guru sangat kurang.   SMP Negeri dan SMP Satu Atap yang saya kunjungi sangat kekurangan guru.  Ada SMP Negeri yang tidak memiliki guru bidang studi tertentu, misalnya IPA dan Bahasa Inggris.  Juga ada SD Negeri yang gurunya hanya dua orang termasuk kepala sekolah.  Banyak sekolah yang mengangkat guru honorer yang rata-rata tamatan SMA.

Dari kelima catatan tersebut, dapat dihipotesiskan bahwa Kab. Talaud memiliki modal kuat tetapi belum diolah dengan baik.  Kebun kelapa, cengkih dan pala serta ikan laut merupakan sumberdaya alam yang sangat besar.    Hanya saja, keduanya belum diolah dengan sentuhan teknologi yang memadai.  Dukungan prasarana ekonomi juga belum memadai.  Budaya masyarakat juga sangat baik.  Hanya saja, pendidikan belum ditangani dengan baik.  Jika pendidikan di Kab. Talaud maju, saya yakin akan mengubah pola pikir dalam berkebun maupun [ara nelayan.  Semoga menjadi pemikiran bagi pihak-pihak yang terkait.

Sabtu, 06 April 2013

KHAWATIR MENGHADAPI UN


Akhir-akhir ini demam menghadapi Ujian Nasional (UN) tampak mewabah. Dalam dua minggu ini, saya sudah mengisi lima  kali acara yang terkait dengan UN.  Dua kali diundang saat acara do’a bersama dan tiga kali diminta untuk memberi motivasi.  Rasanya saya kok seperti menjadi “dukun” bagi mereka yang risau menghadapi UN.

Saat bertemu dengan para kepala untuk memberi motivasi, saya menayangkan foto siswa yang sedang mengerjakan UN, guru yang sedang mengajar dan orangtua siswa yang mengantar anaknya mendaftar sekolah.  Saya tanyakan kepada para guru, siapa diantara tiga orang tersebut (siswa, guru dan orangtua) yang paling takut dan khawatir menghadapi UN?  Hampir serempak mereka menjawab: “guru”.  Ketika saya tanyakan, setelah guru siapa yang juga khawatir?  Mereka menjawab: “orangtua”.

Mendengar jawaban itu saya lantas ingat keluhan Rektor ITS (Prof Triyogi Yuwono) yang tahun ini salah satu putranya akan ikut UN SMA.  Beliau sangat risau, karena putranya tidak begitu rajin belajar.  Beliau bercerita, ketika ditegur putranya menjawab dengan ringan: “Kenapa sih, kok ribut amat, wong UN gitu saja kok”.   Saya menduga peristiwa seperti itu, banyak terjadi pada keluarga lainnya.  Orangtua begitu khawatir dan meminta putranya lebih rajin belajar.  Sementara sang putra menganggap UN itu ringan dan belajar yang dilakukan selama ini sudah cukup.

Mengapa fenomena tersebut terjadi?  Untuk memudahkan memahami, berikut ini analoginya. Saat melaju, sopir dengan tenangnya mengemudikan mobil.  Namun seringkali justru penumpang yang khawatir?  Kenapa?  Karena sopir tahu pasti apa yang dilakukan dengan berbagai pertimbangannya.  Sementara penumpang yang tidak faham mengapa itu terjadi, sehingga takut.  Mirip itu, guru dan orangtua khawatir karena tidak faham apa yang telah dan akan dilakukan siswa untuk menghadapi UN.  Sementara siswanya sendiri tenang-tenang, karena faham apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan untuk menghadapi UN.

Tentu ada siswa yang ceroboh menghadapi UN.  Siswa seperti itu tidak belajar dengan baik, tetapi tetap tenang-tenang saja.  Mirip itu, juga ada sopir yang kurang terampil dan bahkan “ugal-ugalan”.  Sopir seperti itu akan mengemudikan mobil se-enaknya tanpa memperhatikan keselamatan penumpang.   Namun, saya yakin jumlah siswa yang ceroboh dan sopir yang ugal-ugalan tersebut tidak terlalu banyak.  Jadi guru dan orangtua yang khawatir, bukan hanya yang siswanya kurang persiapan.  Guru dan orangtua yang anaknya rajin belajarpun ikut khawatir.  Mirip penumpang bis, yang walaupun sopirnya ahli seringkali tetap khawatir.

Saya dapat memahami kekhawatiran guru dan orangtua seperti digambarkan di atas.  Namun sebaiknya tidak berlebihan, yang justru berpengaruh negatif terhadap psikologis siswa.  Kekhawatiran yang berlebihan, kadang-kadang menjadi “ketidakpercayaan” guru terhadap siswa dan “ketidakpercayaan”  kepada anaknya. 

Untuk menghadapi UN atau ujian dalam bentuk apapun, diperlukan dua bekal pokok.  Pertama, penguasaan materi UN.  Belajar yang rajin dan latihan mengerjakan soal-soal adalah bagian dari memperkuat penguasaan materi UN.  Kedua, kemantapan psikologis menghadapi UN.  Dengan bekal kepercayaan diri yang kuat/mantap, siswa akan dapat mengerjakan UN dengan tenang.  Sebaliknya, jika kepercayaan diri tidak mantap seringkali siswa akan “grogi” dalam mengerjakan UN. Akibatnya siswa tidak dapat mengerjakan UN dengan baik.

Kekhawatiran guru dan orangtua yang berlebihan, apalagi kemudian diperlihatkan secara menyolok kepada siswa, dapat menurunkan kepercayaan diri si siswa.  Dan jika itu terjadi, justru menimbulkan dampak negatif bagi siswa yang telah bekerja keras menyiapkan diri.  Oleh karena itu, khawatir boleh tetapi jangan berlebihan.  Dan sebaiknya guru dan orangtua tidak menampakkan kekhawatiran itu kepada siswa atau anaknya.  Berilah dukungan psikologis, agar siswa/anak melangkah dengan mantap memasuki ruang UN. Semoga.

Kamis, 28 Maret 2013

BIRO PERJALANAN UMRAH: ANTARA AKTIVITAS KEAGAMAAN DAN BISNIS


Antrean calon jamaah haji semakin panjang dari tahun ke tahun.  Di awal tahun 2000-an, calon jamaah haji hanya menunggu sekitar 2 tahun untuk dapat berangkat.  Artinya jika kita mendaftar tahun 2001, kita akan  dapat berangkat tahun 2003.  Konon untuk daerah Surabaya, sekarang masa tunggu 12 tahun. Jadi kalau kita mendaftar haji pada tahun 2013 ini, kita baru dapat berangkat tahun 2025.  Ya ampun lama sekali.

Mungkin itu yang menjadi salah satu penyebab banyaknya orang melaksanakan umrah.  Tentu ada sebab lain, misalnya “derajat keislaman” masyarakat semakin baik dan kemampuan ekonomi masyarakat juga semakin meningkat.  Dua faktor itu, saya tarik dari gambaran di kampus secara sederhana.  Kalau ada wisuda di Unesa, diantara sekitar 1.750-an wisudawan perempuan, hanya sekitar 10% yang tidak memakai jilbab. Di saat perkuliahan juga seperti itu.  Sebagian besar mahasiswi memakai jibab. Sepertinya jilbab sudah menjadi bagian dari pakaian mereka. Mudah-mudahan itu indikator derajat keislamannya semakin naik.

Pada saat acara wisuda, jumlah mobil pengantar tidak dapat dihitung lagi.  Kampus penuh sesak dan sering macet di pintu masuk atau pintu keluar.  Jika di masa lalu banyak bemo yang disewa, kini rata-rata mobil yang datang itu jenis Kijang, Avansa, Escudo dan sebagainya.  Tidak terlihat lagi “bemo pelat kuning” yang disewa untuk mengantar wisudawan.  Bahkan saya kaget ketika ada mahasiswa S1 kuliah membawa mobil sendiri.  Semoga itu indikator ekonomi orangtua mahasiswa semakin baik.

Meningkatnya jumlah orang yang ingin haji dan umrah tampaknya mengundang “dunia bisnis” memasukinya.  “Ada gula semutpun datang”, mungkin pameo itu cocok.  Sekarang banyak travel biro yang melayani ibadah haji plus dan ibadah umrah.  Pada awalnya travel biro biasa, tetapi sekarang juga melayani ibadah haji plus dan ibadah umrah juga.  Bahkan ada yang “bergeser” layanan ibadah haji plus dan umrah menjadi garapan utamanya.

Di samping travel biro, sekarang banyak pengajian atau masjid yang juga memberikan bimbingan ibadah haji dan umrah.  Biasanya disebut KBIH.  Nah, antara KBIH dan travel biro kini bekerja sama.  Sepertinya ada semacam pembagian tugas, urusan perjalanan dan sebagainya menjadi tanggung jawab travel biro, sedangkan urusan memandu jama’ah selama menjalankan ibadah haji atau umrah menjadi tanggung jawab KBIH.  Soal pembagian yang lain, saya tidak tahu dan juga tidak ingin tahu.

Apakah itu tidak boleh?  Boleh, bahkan baik, karena melayani orang beribadah tentunya mendapat “nilai ibadah” pula. Demikian pula pembagian tugas, sesuai dengan kompetensi masing-masing.  Semoga niat yang lebih kuat adalah melayani orang lain beribadah dan bukan sekeder bisnis seperti biasanya. Nah, sepertinya disitulah masalah yang muncul.  Bergabungnya “dua lembaga” sepertinya tidak diikuti dengan manajemen yang baik.  Tidak begitu jelas, siapa yang menjadi penanggung jawab utama dan siapa yang sebagai pendukung.

Dari cerita beberapa teman yang melakasanakan ibadah umrah muncul fenomena yang perlu mendapat perhatian.  Bukan untuk mencela atau menyalahkan, tetapi agar lebih profesional. Layanan perjalanan yang kurang baik atau tidak sesuai dengan “janji” brosur dapat menyebabkan jama’ah “nggerundel” dan tidak lagi tenang hatinya saat menjalankan ibadah.  Misalnya perjalanan yang tidak sesuai dengan jadwal di brosur, kondisi hotel dan makanan yang tidak seperti yang diinformasikan, dan sebagainya.

Pada saat hal seperti itu terjadi, biasanya pihak KBIH atau pembimbing ibadah meminta agar jama’ah sabar dan tawakal.  Bukankah ibadah haji dan umrah adalah ibadah yang melatih dan menuntut kesabaran.  Ibadah yang menunut kita berserah diri secara total kepada Sang Khalik. Ibadah yang meladani Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.  Nasehat itu betul, tetapi tentunya tidak boleh dipakai sebagai “tameng” ketidakprofesionalan” pelaksanaan travel biro.

Pada saat hal itu terjadi, sepertinya pihak travel tidak banyak berperan. Dan bahkan seakan berlindung dibalik “otoritas” pembimbing ibadah.  Pada hal, semestinya hal itu menjadi tanggung jawab pihak travel biro. Ketidak sesuaian jadwal penerbangan sangat mungkin karena kurang lincahnya travel biro mengurus atau kurang cepatnya menginformasikan kepada jama’ah sehingga mereka kaget. Ketidak sesuaikan kondisi hotel dan makanan sepertinya terjadi karena brosur “terlalu melebihkan” atau tidak menjelaskan bahwa beda standar antara di Indonesia dan Makah dan Madinah.  Misalnya, ketika brosur menyebutkan hotelnya “bintang 5” atau “bintang 4” dan tidak diberi penjelasan apa-apa, maka jama’ah akan membayangkan sekelas hotel Sangrila, hotel Hilton, hotel Mencure dan selevel itu.  Pada hal kenyataannya tidak.

Pihak pembimbing haji dan umrah seringkali tidak memahami masalah seperti tadi, mungkin merasa bukan tanggungjawabnya.  Pada hal, prakteknya pembimbing jama’ah itulah yang setiap saat berhadapan dan memberi penjelasan kepada jama’ah.  Biasanya jama’ah tidak “berani” komplain, karena ingat nasehat pembimbing yang harus sabar dan tawakal.  Namun, dari beberapa cerita teman, banyak yang sebenarnya nggrudel.

Tampaknya sisi bisnis cukup kuat dalam urusan tersebut.  Upaya meningatkan efisiensi cukup kuat, sehingga travel biro melakukan berbagai cara. Disitulah terjadinya perbedaan antara apa yang tertulis di brosur dengan apa yang terlaksana di lapangan.  Mungkin bukan yang disengaja dari awal, artinya sengaja membohongi calon jama’ah, tetapi keinginan meningkatkan efisiensi menyebabkan distorsi dalam pelaksanaan. Toh dari pengalaman, jama’ah akan “ditenangkan” oleh KBIH dengan nasehat agar sabar dan berserah diri secara total.  Profesionalitas menjadi kurang mendapat perhatian.  Perpaduan membantu ibadah dan urusan bisnis tampaknya perlu dikelola dengan profesional.  Semoga ke depan semakin baik.

Selasa, 26 Maret 2013

ANAK PENJUAL GASING DI ISTANBUL


Ini pertama kali saya ke Turki.  Beberapa kali teman dari Pasiad (lembaga pendidikan Turki yang mengelola beberapa sekolah di Indonesia) menawari saya untuk berkunjung ke Turki.  Namun karena berbagai hal belum juga kesampaian.  Nah, ketika ditawari mampir ke Turki setelah melaksanakan ibadah umrah, saya mengiyakan.  Toh penerbangan dari Jedah ke Istanbul hanya sekitar  2 jam.

Menginjakkan kaki di Istanbul saya harus mengacungkan jempol.  Kotanya bersih, tamannya sangat bagus dan dipenuhi dengan berbagai macam bunga.  Bunga tulip yang sedang mekar tampak sangat indah. Konon setiap tahun, pemerintah kota Istanbul menanam bunga tulip tidak kurang dari 6,6 juta batang untuk mempercantik kota.  Transportasi macet mirip Jakarta dan Surabaya.  Hanya bedanya ada trem yang menolong masyarakat yang harus bepergian dengan tergesa-gesa dalam kota.

Menunjungi peninggalan kesultanan Otoman, Hagia Sophia, Masjid Biru, Masjid Ayub, Masjid Sulaimania membuat saya semakin terkagum.  Peninggalan sejarah itu terpelihara baik dan dijaga keasliannya.  Pengelolaan wisata religi dengan pengunjung ribuan orang juga dilakukan dengan baik.  Tampaknya pariwisara religi telah dikelola dengan bagus dan ditunjang dengan penyediaan sarana dan prasarana yang bagus pula.  Tidak mengherankan jika pengunjungnya ribuan orang dan sampai harus antre panjang untuk masuk.

Ketika berkunjung ke grand bazaar, semacam pertokoan tempat membeli oleh-oleh saya juga kagum.  Saya tidak menemukan penjual yang bukan orang Turki.  Pertokoan sederhana (tidak seperti mal di Indonesia) tetapi mirip dengan Pasar Turi.  Hanya berlantai satu dan konon didirikan abad ke 16. Bersih dan pengaturannya rapi. Yang dijual sangat beragam, tetapi sepertinya memang dikhususkan untuk oleh-oleh (sovernir) bagi wisatawan.

Kalau ada yang kurang pas menurut saya adalah pengaturan masuk masjid.  Di Istanbul masjid-masjid bersejarah berfungsi untuk tempat ibadah, sekaligus untuk tujuan wisata.  Masjid Biru, Masjid Ayub, Masjid Sulaimania berfungsi ganda semacam itu.  Kita dapat sholat di masjid tersebut, tetapi pengunjung non-muslim juga boleh masuk.  Nah, pintu masuknya menjadi satu dan antre, sehingga menjadi “kurang nyaman” bagi orang yang akan sholat.  Bagi yang belum terbiasa, seperti aneh.  Sementara ada orang sholat, tetapi disekitarnya banyak wisatawan yang melihat-lihat masjid.  Mungkin juga ada yang melihat orang sholat.

Di pelataran halaman atau sekitar tempat wisata tersebut banyak “penjual asongan”, yang menawarkan kaos, souvenir, jaket dan sebagainya.  Yang menarik perhatian saya adalah beberapa anak remaja kecil berumur sekitar 12-15 tahunan menawarkan gasing.  Dengan lincahnya beberapa anak itu mendemonstrasikan cara bermain gasing turki sambil menawarkan: “one lira-one lira”. Beberapa anak menurunkan tawarannya: “five lira for six.”  Cara menawarkan sangat agresif dan tampak sudah terlatih.  Demikian pula cara memainkan gasing.

Fenomena itu terjadi di beberapa tempat, sehingga membuat saya bertanya-tanya.  Apakah mereka sedang berjualan betulan.  Artinya mereka berkerja untuk mencari uang dengan berdagang gasing?  Melihat pakaian dan bersihnya anak-anak tersebut, saya menduga mereka dari keluarga cukup berada.  Karena berbeda dengan pedagang asongan dewasa yang sepertinya memang sedang mencari uang.  Bahasa Inggris anak-anak itu juga cukup fasih.  Sayang, saya tidak sempat bertanya kepada mereka karena mereka sibuk menawarkan dagangan dan saya juga tidak punya waktu banyak.

Melihat itu, saya tadi teringat adanya anak-anak remaja di orchard road Singapore yang juga menawarkan berbagai barang.  Saat itu saya mendapat penjelasan bahwa mereka itu siswa sekolah selevel SMP yang melaksanakan salah satu matapelajaran sekolah.  Mungkin mirip pelajaran kewirausahaan di Indonesia.  Konon, target utamanya adalah mampu menjual barang kepada orang yang tidak dikenal.  Oleh karena itu mereka “berjualan” di orchard road yang banyak turisnya.  Konsepnya mampu meyakinkan pihak lain tentang dagangan merupakan salah modal penting dalam berwirausaha.

Tampak sekali Singapore yang ingin menumbuhkan wiraswastawan dengan sungguh-sungguh, memulainya dari sekolah selevel SMP dengan target yang cukup berat itu.  Dan tampaknya hasilnya nyata.  Proporsi penduduk Singapore yang berwiraswasta cukup besar dan kita tahu bagaimana perusahaan-perusahaan di negara kecil itu mampu menancapkan kaki di Indonesia.

Mungkinkah hal yang mirip dilakukan di Turki?  Jadi anak-anak yang menawarkan gasing itu sebenarnya anak sekolah yang berpraktek berwirausaha?  Saya tidak tahu jawaban pastinya.  Namun mengamati keprofesionalan orang Turki dalam mengelola pariwisata dan bagusnya grand bazaar yang penjualkan hanya orang Turki, sangat mungkin dugaan tersebut benar.  Sudah saatnya kita memikirkan dan mau belajar ke negara lain, ketika ingin menumbuhkan wirausahawan di negara ini.  Bukankah kita ingin menumbuhkan semangat wirausaha kepada generasi muda.  Semoga.

Sabtu, 23 Maret 2013

DAYA TARIK PARIWISATA RELIGI LEBIH KUAT?


Sekian tahun lalu saya pernah diskusi dengan seorang teman tentang fenomena pariwisata di Pulau Bali.  Bali merupakan tujuan wisata paling menarik di Indonesia, baik untuk wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing.  Coba tanya anak-anak muda, kalau diberi bonus untuk berwisata dalam negeri tanpa membayar pilih kemana?  Saya yakin, sebagian besar akan menjawab ke Bali.  Demikian juga kaum orang tua.

Konon banyak orang asing yang tahu tentang Bali dan bahkan pernah ke Bali.  Tetapi mereka tidak tahu Indonesia.  Paling tidak, baru tahu Indonesia ketika di Bali. Mereka tidak tahu kalau Bali itu salah satu pulau di Indonesia.  Kalau toh mereka tahu, ya hanya tahu Bali itu di Indonesia.  Mungkin mereka pernah ke Bali, tetapi sama sekali tidak tertarik berkunjung ke wilayah lainnnya.

Topik diskusi saya dengan seorang teman tadi, mengapa Bali menjadi tujuan wisata yang begitu menarik.  Apakah pemandangan alamnya yang sangat bagus? Atau pantai Kuta yang konon bagus untuk serving? Atau adanya tarian Bali yang banyak macamnya?  Atau adanya upaca Ngaben yang kolosal itu?  Atau iklan wisata ke Bali begitu kuat, sehingga orang yang semula tidak tertarik menjadi tertarik?

Dari diskusi santai itu, saya sampai pada kesimpulan orang senang berwisata ke Bali karena budaya Bali yang khas.  Kalau pemandangan alam, rasanya Sumatra Barat dan Papua tidak kalah dengan Bali.  Pantainya indah?  Rasanya juga tidak.  Mungkin pantai di Jayapura dan Kupang tidak kalah indah.  Di Sulawesi Tenggara akan temoat serving yang lebih bagus.  Tariannya beragam?  Rasanya tari-tarian di Jawa lebih banyak dibanding di Bali.  Upacara ngaben khas?  Iya, tetapi toh upacara ngaben tidak ada setiap saat. Orang tetap datang ke Bali, walupun waktu itu tidak ada acara ngaben.

Lantas mengapa kami, saya dengan teman tadi, sampai pada kesimpulan orang datang ke Bali karena Budaya?  Budaya Bali sangat khas.  Budaya Bali bersumber dari ajaran Agama Hindu yang menyatu dengan adat-istiadat membuat kehidupan di Bali sangat khas. Di setiap sudut desa ada pura.  Upacara keagamaan sangat banyak.  Tarian dikaitkan dengan nilai-nilai keagamaan, sehingga seringkali mengadung ritual yang khas.

Budaya seperti itu akhirnya membentuk tata cara bermasyarakat, pola pertanian, pola kesenian dan segala aspek pola kehidupan menjadi sangat khas.  Coba kita amati, lukisan, patung, pola pertanian dan peternakan, cara memandang pohon besar, batu besar dan apa saja selalu diwarnai dengan nilai-nilai keagamaan.

Mungkin saja kita tidak menyadari itu.  Ketika kita ke Kuta kok ada pecalang yang menjaga pantai, sehingga menarik perhatian.  Kemana kita pergi selalu ketemu pura besar maupun kecil.  Kemanapun kita pergi kita selalu ketemu orang Bali yang berpakaian khas, karena ada upacara.  Menurut kami, itulah yang menyebabkan Bali menarik untuk dikunjungi.  Belum lagi, masyarakat Bali yang sangat terbuka dan tidak melarang wisatawan untuk membaur dengan masyarakat dalam berbagai aktivitas.  Dan itu ternyata merupakan salah satu nilai-nilai religi.

Muncul pertanyaan, jika Bali menjadi tujuan wisata karena budaya, apakah daerah lain yang memiliki budaya khas juga menjadi tujuan wisata kuat?  Jawabnya ya. Coba kita perhatian Jogya, Toraja dan Pagaruyung.  Ketiganya merupakan tujuan wisata yang menarik.  Jika berwisata ke Jawa Tengah tentu kita akan ke Jogya, Prambanan dan Borobudur.  Jika kita ke Sumatar Barat, tentu Pagaruyung merupakan tujuan wisata yang kuat.  Jika kita ke Sulawesi Selatan, pasti ingin ke Toraja.  Jadi ketiganya menjadi tujuan wisata kuat, karena budaya di daerah itu menghasilkan sesuatu yang khas.

Namun beberapa bulan lalu, saya berubah pendapat.  Itu dimulai ketika suatu sore (mungkin dapat disebut juga malam), saya bersama beberapa teman menyertasi Pak Nuh (Mendikbud) berkunjung ke Tebuireng.  Setelah silaturahim dengan Gus Sholah (pemimpin pondok Tebuireng/adik almarhum Gus Dur) dan menikmati suguhan makan malam, sekitar jam 10an kami diantar melihat makam  Gus Dur.  Masya Allah penziarah sangat banyak.  Kata Gus Sholah, pada hari-hari biasa penziarah sekitar 2-3 ribu orang.  Kalau malam Jum’at dan Minggu biasa sampai 10 ribu orang.

Saya jadi berpikir, begitu kuatnya minat masyarakat berziarah. Sampai akhirnya pemerintah mengatur dan memberikan fasilitas.  Dibuatkan pintu khusus, agar kehadiran penziarah tidak megganggu aktivitas pondok pesantren. Konon juga sedang mulai dibangun fasilitas parkir bis agar tidak mengganggu lalu lintas.  Juga muncul penjualan makanan dan oleh-oleh, sehingga menjadi aktivitas ekonomi yang sangat potensial.

Melihat itu, saya jadi ingat kunjungan ziarah ke makam Walisonggo.  Memang tidak sebanyak penziarah ke Gus Dur.  Namun rasanya juga cukup banyak.  Pada hal, tidak pernah ada iklan atau pengemasan wisata ke lokasi seperti itu.  Kalau toh boleh dikatakan ada promosi, hanyalah di pengajian-pengajian yang mengajak berziarah dengan alasan religius.  Jadi wisata religi tampaknya tidak kalah kuat menariknya. 

Mirip dengan itu, juga terjadi wisata religi yang lain, misalnya penziarah ke Petilasan Jayabaya di Kediri, petilasan Raja Brawijaya di Trowulan Mojokerto, Gunung Kawi di Malang, Gua Maria, dan tempat lain. Tentu dengan segmen pasar yang berbeda.  Tetapi logikanya sama, yaitu mereka mengunjungi tempat tersebut karena terkait unsur religi yang dipercayai.

Keyakinan itu menjadi semakin kuat, saat saya mencermati jama’ah umrah di Madinah dan Makah.  Saya tidak punya data yang akurat.  Tetapi dengan penuhnya masjid Nabawi saat sholat fardu, saya menduga jumlah jama’ah tidak kurang dari 5 ribu orang.  Dengan membudaknya jama’ah sholat di masjidil Haram, saya menduga jumlah jama’ah bisa mencapa 8 ribu orang.   Dan mereka itu umumnya juga melakukan wisata religi, seperti ke Arafah, Jabal Nur, Jabal Tsur, Jabal Uhud, masjid Quba dan sebagainya.  Semua lokasi itu terkait dengan sejarah Islam dan kemudian seakan menjadi bagian dari wisata religi.

Pada hal tidak pernah ada promosi untuk umrah.  Juga tidak ada promosi untuk gunung-gunung batu tanpa pepohonan atau padang pasir yang gersang.  Secara fisikal, lokasi tersebut jauh dari indah.  Saya yakin, mereka yang datang bukan ingin menikmati keindahan.  Mereka berkunjung ke gunung-gunung tersebut karena ingin “napak tilas” perjalanan Nabi Muhammad dan sejarah Islam.  Jadi terkait dengan keyakinan keagamaan.

Kembali pada kasus Bali, Jogya dan Toraja, budaya yang khas itu juga terkait dengan religi.  Budaya Bali dipengaruhi sangat kuat oleh Agama Hindu.  Toraja dengan makam-makam yang khas juga dipengaruhi oleh “Agama Todolo”, yaitu kepercayaan masyarakat Toraja tempo dulu.  Candi Borobudur merupakan salah satu produk Agama Buda.  Candi Prambanan produk Agama Hindu.  Budaya Jogya yang khas terkait dengan kraton yang dipengruhi kuat oleh Agama Islam yang mengakomodasi ajaran-ajaran Kejawen. 

Saya membayangkan berapa devisa yang didapat Arab Saudi dengan kedatangan jama’ah umrah.  Belum jama’ah haji yang sangat banyak dan bahkan pemerintah Arab Saudi membatasi.  Jama’ah umrah dan haji seakan menjadi captive market bagi hotel, toko sovernir, rumah makan dan tentu saja biro perjalanan.

Pada hal, infra struktur layanan perhotelan, transportasi dan makanan tidaklah istimewa.  Bahkan dapat dikatakan kurang memadai.  Fasilitas dan layanan hotel bintang 5 di Madinah dan Makah hanya setara dengan hotel bintang 3 di Indonesia.  Lalu lintas sangat semrawut.  Yang baik adalah jalan-jalan lebar dan mulus. Namun karena perilaku berkendara semrawut, akhirnya sering macet.  Tapi toh, jumlah jama’ah umrah terus meningkat.

Tampaknya wisastawan religi tidak mengutamakan layanan.  Namanya juga berziarah. Mereka lebih mengutamakan “manfaat spiritual” setelah melaksanakan kunjungan tersebut.  Oleh karena itu, kualitas layanan menjadi nomor dua.  Namun, kalau instrastruktur dasar seperti jalan, penginapan, transportasi dan rumah makan tersedia secara memadai, saya yakin penziarah akan semakin banyak.  Semoga teman-teman yang menekuni dunia pariwisata memikirkannya

Kamis, 21 Maret 2013

TIDAK ADA SATUPUN LAMPU YANG MATI


Bahwa masjid Nabawi itu besar dan indah rasanya sudah banyak orang yang tahu.  Masjid yang dibangun Nabi Muhammad itu semula kecil dan sederhana, namun seiring dengan banyaknya jamaah yang datang dan seiring kemajuan teknologi, kini masjid diperbesar, diperindah dan dipermodern.  Halaman yang luas, kini diberi payung raksana yang dibuka pada siang hari dan ditutup pada malam hari.

Sound sistem masjid Nabawi, menurut saya sangat bagus.  Saya tidak mengerti seperti apa teknologinya.  Tetapi yang saya rasakan, suara di setiap sudut masjid sama kerasnya.  Tidak keras tetapi suara imam sampai di seluruh pojok masjid dengan derajat kekerasan yang kurang lebih sama. Tida ada “kemresek”,  apalagi ngadat.

 Bahwa jamaah masjid Nabawi ribuan bahkan jutaan orang dapat difahami.  Saya tidak punya informasi berapa rata-rata jumlahnya.  Yang jelas selalu memenuhi masjid yang sangat besar itu.  Layanan masjid juga sangat bagus.  Di dalam masjid tersedia air zamzam yang diletakkan di drum-drum kecil.  Ada yang dingin dan ada yang tidak dingin.  Kalau kita haus tinggal ambil gelas plastic yang ada di dekat drum itu, pencel keran drum, minum dan letakkan gelas bekas ditempat yang disediakan.  Kalau pulang juga boleh mengambil air zam-zam tersebut untuk diminum di penginapan.

Yang menarik untuk dicermati, lampu-lampu di masjid sangat banyak dan indah.  Dan yang mengherankan tidak ada satupun lampu yang mati.  Waktu menyalakan sepertinya tidak bareng.  Ada yang diyalakan sepanjang waktu.  Ada yang dinyalakan waktu sore (asar) dan pagi (subuh), dan ada yang hanya dinyakan waktu malam (isya).  Namun yang saya lihat saat dinyalakan semua lampu hidup.  Artinya tidak ada satupun lampu yang dinyalakan tetapi tidak menyala.  Entah lampunya mati atau ada kerusakan.  Jadi intinya semua lampu menyala, jika memang dinyalakan.

Saya juga mengamati, tembok, pilar-pilar dan lantai sangat bersih.  Tidak tampak debu yang menempel.  Saya beberapa kali bersandar di pilar saat membaca Al Qur’an dan tiangnya bebas dari debut.  Gantungan lampu yang berwarna kuning (konon dilapis emas) juga tampak bersih mengkilat.  Tidak ada coretan di tembok ataupun pilar.  Tembok dan pilar sangat sederhana hiasan dan tata warnanya, tetapi tampak bersih dan terpelihara.

Untuk  lantai saya mengamati selalu dipel setiap malam.  Saat setelah sholat Isya dan sebagian besar jamaah sudah pada keluar (jam 22an) robongan alat pembersih (pengepel dengan mesin) masuk ke dalam masjid.  Petugas vacuum karpet terus bekerja sepanjang waktu.  Namun saya tidak tahu kapan pilar-pilar itu dibersihkan.  Dan juga bagaimana dan kapan lampu dan gantungannya yang jumlahnya sangat banyak itu dibersihkan.

Dalam hati timbul pertanyaan, bagaimana manajemen pemeliharaan masjid Nabawi ya.  Masjid sebegitu besar dengan jamaah ribuan orang dan tidak pernah terputus.  Konon masjid ditutup jam 23 dan dibuka  lagi jam 03 dini hari.  Perilaku jama’ah juga sangat beragam, karena mereka datang dari berbagai negara.  Petugas pembersian sepertinya juga bukan orang Saudi Arabia.  Mungkin orang-orang dari Afrika atau dari Pakistan dan Banglades.

Saya yakin ada konsep manajemen pemeliharaan masjid yang bagus dan kemudian dilaksanakan secara konsisten.  Memang dana tidak menjadi masalah bagi pemerintah Arab Saudi.  Tetapi kalau manajemennya tidak bagus saya ragu apakah uang yang banyak dapat membuat situasi fisik gedung dan sarana masjid begitu prima.  Dengan pula layanannya.  Bagaimana itu dapat terjadi?

Saya menduga, sekali lagi menduga ada beberapa faktor yang menjadi penopang fenomena tersebut.  Pertama, memang ada tekat kuat dari pemerintah untuk memberikan layanan terbaik kepada jamaah.  Buktinya, segala keperluan jama’ah selama di lingkungan masjid disediakan dengan kondisi yang prima.  Air minum ada, toilet sangat bersih, karpet tebal dan bersih, lampu sangat terang untuk membaca di segala sudut masjid.  Bahkan di halaman disediakan blower yang pada siang hari (waktu panas) keluar semburan air dan dihembus bolwer.  Oleh karena terasa sejuk di sekitar blower tersebut.

Kedua, ada konsep manajemen yang bagus.  Alur pekerjaan pemeliharaan sepertinya sangat prima.  Saya melihat penyedopan debu pada karpet berjalan sepanjang waktu.  Dan sungguh menarik bagaimana mereka melakukan pekerjaan di saat aktivitas di masjid tidak pernah berhenti.  Hanya untuk pengepelan sepertinya menggunakan mesin dan dilakukan di malam hari.

Ketiga, tentu didukung dengan dana besar.  Mungkin pemerintah Arab Saudi secara ekonomi juga sangat diuntungkan dengan kedatangan jamaah.  Bayangkan kalau setipa hari ada 5-10.000 jamaah, berarti turisme yang luar biasa besar.  Apalagi pemerintah Arab Saudi tidak perlu membuat kegiatan pemasaran untuk jama’ah haji maupun umrah.

Ke-empat, konsep pemeliharaan dan layanan yang bagus tadi dilaksanakan secara konsisten.  Saya melihat petugas masjid (biasanya disebut askar) tegas.  Misalnya setiap selesai sholat, dilakukan pengaturan jama’ah yang ke raudah.  Untuk dilakukan penyekatan lokasi dengan semacam kain pembatas tebal.  Siapapun tidak boleh melanggar aturan pembatas itu.  Demikian juga saat dilakukan pengepelan lantai atau pemvakuman karpet, semua orang disitu harus pindah.  Saya lihat, pengawas (mandor) yang mengawasi pekerja juga terus mengontrol pekerjaan anak buahnya.

Kita perlu belajar bagaimana manajemen pemeliharaan seperti itu.  Bukankah di Indonesia terkenal belum punya tekat untuk menyiapkan dan menangani pemeliharaan.  Kita lebih suka membuat saja gedung dan fasilitas baru, dari pada memelihara yang sudah ada.  Semoga kita dapat belajar ke Takmir Masjid Nabawi.

Rabu, 20 Maret 2013

BUDAYA KITA TUTUR


Pernahkan Anda mencermati apa yang dilakukan banyak orang ketika lagi nunggu bis, nunggu kereta, di ruang tunggu pesawat, di dalam kereta atau dalam pesawat?   Umumnya ngobrol atau bercanda.  Fenomena itu juga saya jumpai bersama rombongan umrah sepanjang perjalanan.  Dua buku tulisan Agus Mustofa yang dibagikan (setiap jamaah disuruh memilih dua buku secara gratis) saat manasik, tampaknya tidak menarik untuk dibaca.  Ngobrol tampaknya lebih menyenangkan.  Dan mungkin itu aktivitas bagus juga.  Dapat mengakrabkan teman yang baru kenal,  menghilangkan kejenuhan dan mengakrabkan kekeluargaan bagi yang pergi bersama keluarga.  Mungkin saat dirumah jarang punya waktu bersama-sama lebih dari 10 jam.

Memang sekarang juga banyak orang Indonesia yang membaca koran atau majalah saat nunggu sesuatu atau dalam perjalan naik kereta atau pesawat.  Ada juga yang membaca buku, tetapi jumlahnya tidak banyak.  Itulah sebabnya sekarang banyak pedagang asongan yang menawarkan koran atau majalah di terminal, stasiun dan bandara.  Bahkan beberapa penerbangan memberi koran secara gratis sekita penumpang masuk pesawat.

Apakah itu hanya ciri khas orang Indonesia?  Saya tidak faham. Mungkin mereka yang mendalami sosiologi dan antropologi atau bidang sejenis itu yang dapat menerangkan. Yang saya amati, kalau turis asing ke Indonesia dan naik kereta atau pesawat biasanya membaca sepanjang perjalanan.  Biasanya buku yang dibaca tebal dan sepertinya buku sejenis novel.  Demikian pula kalau kita naik kereta di Eropa hampir semua penumpang membaca dan hampir tidak ada yang ngobrol.  Bahkan di Belanda ada gerbong kereta yang ditulisi “Gerbong Tenang”, maksudnya jangan rebut atau berbicara keras di dalam gerbong tersebut.

Mengapa kita senang ngobrol dan tidak suka membaca?  Mungkin itulah yang oleh beberapa orang disebut bahwa budaya kita bukan budaya tulis tetapi budaya tutur.  Masyarakat kita tidak terbiasa menuliskan apa yang dia ketahui atau apa yang dia pikirkan.  Yang biasa dilakukan adalah apa yang diketahui atau yang dia pikirkan itu dituturkan (disampaikan secara lisan) kepada orang lain.

Apakah itu jelek?  Menurut saya tidak, karena menuturkan secara lisan juga salah satu cara berbagai pengalaman dan berbagi pemikiran.  Bahkan budaya tutur mungkin berkontribusi terhadap keramahan masyarakat kita.  Hanya saja, daya jangkauan penuturan secara lisan sangat terbatas hanya kepada orang yang dijumpai.  Itu berbeda dengan seandainya apa yang diketahui dan dipikirkan itu ditulis akan dibaca orang banyak.  Bahkan di era internet itu akan dibaca oleh orang “sedunia”.

Budaya tutur yang kita miliki juga membuat banyak nilai-nilai luhur yang hilang, paling tidak berpotensi untuk  hilang.   Ketika saya masih kecil dan tinggal di kampung ada kebiasaan yang disebut dengan “MOCOPAT”.  Ketika ada orang melahirkan, sampai bayi berumur 5 hari (sepasar) atau bahkan 35 hari (selapan), setiap malam ada jagongan.  Setelah isya, bapak-bapak berkumpul di rumah keluarga yang baru [unya bayi dan menembangkan apa yang disebut Mocopat tadi.

Saya pernah mencermati apa yang ditembangkan tadi.  Nadanya sederhana da tidak diiringi alat musik apapun.  Namun isi tembang itu berupa petuah dan harapan tentang kebahagian dan harapan kesuksesan sang bayi.  Tentu dengan bahasa simbul (sanepo) seperti biasanya penyampaikan harapan dalam budaya Jawa.  Sangat indah dan sangat filosofis.

Nah, kebiasaan Mocopat itu kini hampir tidak pernah lagi dilakukan.  Dan karena tidak ada tulisan atau buku yang mengabadikan, sangat mungkin pada saatnya akan punah.  Hal yang sama akan terjadi pada PRANOTO MONGSO dan sebagainya.  Saya masih ingat, almarhun ayah saya memberi tahu, kalau gadung dan uwi (jenis tumbuhan yang merambat) sudah keluar batangnya, yaitu menyebul dari tanah dan menjalar ke pohon terdekat, itu artinya sudah mendekati “labuh” atau awal musim hujan.  Dan kalau batang tersebut sudah keluar daunnya itu artinya labuh sudah datang.

Sayang nasehat seperti itu tidak ditulis dan hanya disampaikan secara lisan dan turun temurun.  Pada hal itu “ilmiah” karena keluarnya batang gadung dan keluarnya daun tadi konon terkait dengan kelembaban udara.  Ketika mendekati musin bujan dan udara lembab akan memancing tumbuhnya batang gadung dan seterusnya.

Budaya tutur yang kita miliki mungkin juga menyebabkan kita kurang senang dan terbiasa membacab dab menulis.  Itu mungkin juga berkontribusi sedikitnya karya tulis dari bangsa kita, temasuk tulisan ilmah (buku dan artikel) dari para ilmuwan.  Bahkan mungkin juga terkait dengan apa yang pernah saya tulis bahwa kemampuan menulis kita rendah.  Konon paling rendah dibanding negara tetangga.

Pada surat pertama yang diturunkan ke Nabi Muhammad adalah perintah membaca.  Saya yakin membaca dalam konteks tersebut juga dimaksudkan untuk menulis.  Apa yang dibaca kalau tidak ada yang ditulis?  Jadi membaca dan menulis adalah ajaran penting dalam Islam.  Dan yakin itu juga berlaku bagi agama lain.  Bahkan dalam peradaban umat manusia.

Jika pemikiran kita ingin diketahui orang banyak, jika budaya kita ingin dapat bertahan lebih baik, maka kita harus mulai menumbuhkan budaya tulis.  Tentu tidak harus dengan membuang budaya tutur, karena budaya tutur juga punya manfaat.  Misalnya menjadikan kita lebih ramah, karena terbiasa ngobrol dengan orang lain.  Jika budaya tulis dapat ditumbuhkan bersama mempertahankan budaya tutur, mungkin kita akan menjadi bangsa yang ramah sekaligus bangsa yang pemikirannya dikenal oleh bangsa lain.  Semoga.