Rabu, 03 Juli 2019

ZONASI DAN AFIRMASI


Bulan Juni lalu, khalayak pendidikan diributkan oleh berita tentang PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) Zonasi.  Di Surabaya dan beberapa daerah lain bahkan terjadi demonstrasi.  Akhirnya Kemendikbud merevisi Permendikbud No. 51/2018 yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan PPDB Zonasi.  Melalui Surat Edaran No. 3/2019, proporsi siswa jalur prestasi yang semula maksimal 5% dinaikkan menjadi 15%, sedangkan jalur zonasi yang semula minimal 90% diturunkan menjadi 80%.  Detik.com menginformasikan kalau Gibernur Jawa Tengah “memodifikasi” proporsi tersebut menjadi 60% untuk zonasi, 20% untuk prestasi, dan 20% untuk kepindahan orang tua.  Apakah perubahan proporsi tersebut meredakan kegelisahan orangtua?  Jujur, saya tidak tahu. 

Seingat saya, PPDB dengan zonasi sudah dilakukan tahun lalu dan juga terjadi keresahan, walaupun tidak sebesar sekarang.  Saya juga  sudah menulis tentang itu di blok ini pada 27 September 2017 dengan judul Kebijakan Zonasi dalam PPDB.  Tulisan ini dimaksudkan untuk melengkapi tulisan tersebut dengan beberapa konsep yang mendasar.

Menurut saya, PPDB Zonasi bukanlah tujuan melainkan alat (means) untuk mencapai tujuan yang sering disebut Pak Mendikbud yaitu pemerataan mutu pendidikan. Kebijakan baik yang layak didukung.  Dalam konteks ini, kata ”pemerataan” tidak dimaknai seperti meratakan lahan saat akan membangun gedung, dengan mengurangi yang tinggi dan menaikkan yang rendah sehingga ketinggian lahan sama di semua titik.  Namun semua siswa mampu berprestasi optimal, sementara mutu sekolah tidak jauh berbeda satu dengan yang lain.


Penelitian John Hettie (2011) menemukan prestasi siswa itu 49% dipengaruhi oleh kemampuan dasar yang dimiliki, 7% oleh orangtua, 30% oleh guru, 7% oleh sekolah, dan 7% oleh teman bermain.  Dengan asumsi bahwa tingkat sosial ekonomi masyarakat terdistribusi merata menurut zonasi tempat tinggalnya, kebijakan PPDB Zonasi akan mendistrbusikan potensi 49% + 7% = 56% potensi peserta didik, yaitu dari kemampuan dasar dan tingkat sosial ekonomi orangtua.  Untuk konteks Indonesia, mungkin asumsi bahwa tingkat sosial ekonomi orangtua terdistribusi secara geografis itu yang perlu diuji.  Di beberapa kota umumnya lokasi perumahan itu seperti tersegmentasi.  Ada perumahan kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah.  Ada juga kantong-kantong kampung lama yang umumnya merupakan tempat tinggal masyarakat tingkat menengah ke bawah.  Keluarga muda yang berasal dari kampung lamapun kalau sudah “berhasil” cenderung bertempat tinggal di perumahan baru.  Mungkin ingin berada di lingkungan yang sesuai dengan tingkat sosial ekonominya.

Yang lebih repot kalau kemudian sekolah-sekolah yang saat ini bagus berada di lokasi perumahan elit atau kelas menengah, sementara sekolah di lokasi kampung lama atau perumahan sederhana mutunya belum bagus.  Di kabupaten diluar kota besar seperti Ponorogo, Bojonegori dan semacam itu, umumnya sekolah yang bagus berada di kota, sedangkan sekolah-sekolah ke desa dan kecamatan luar kota umumnya belum bagus mutunya.  Oleh karena itu, pembuatan zonasi dalam PPDB harus memperhatikan peta mutu sekolah dan tingkat sosial ekonomi masyarakat, sehingga anak-anak dari masyarakat sosial ekonomi rendah juga punya peluang masuk ke sekolah yang bermutu baik.

Mengapa bulan lalu terjadi demonstasi?  Gambar di samping mungkin dapat menjelaskannya. Orangtua yang kaya dan peduli pada pendidikan anaknya, saya duga tidak akan risau dengan PPDB Zonasi.  Jika rumahnya tidak berada di zona sekolah bagus, toh mereka dapat menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang top.  Dikotomi sekolah negeri-swasta sekarang juga semakin hilang.  Pendaftar ke sekolah swasta “bagus” di Surabaya, seperti Al Himah, Muhammadiyah Pucang, Al Falah, TPP Khadijah, Petra, Santa Maria, St Louis, bukan mereka yang tidak diterima di sekolah negeri.  Tetapi, dengan argumentasi tertentu memang orangtua ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut.


Yang berdemo, dugaan saya adalah orangtua yang tingkat ekonominya menengah ke bawah tetapi peduli pada pendidikan anaknya.  Ketika rumah mereka tidak berada di zona sekolah yang “baik”, mereka merasa kehilangan kesempatan.   Apalagi jika mereka merasa sulit untuk bersaing di kuota 5% jalur prestasi.   Saya dapat informasi yang berdemo itu termasuk beberapa guru, karena guru umumnya termasuk kategori masyarakat kelas menengah tetapi sangat peduli pada penddikan anaknya.

Bukankah dengan anak-anak mereka masuk ke sekolah di zonanya yang sekolah mutunya belum bagus akan membuat sekolah tersebut menjadi bermutu?  Betul tetapi tentu perlu waktu, mungkin lima sampai sepuluh tahun, sehingga mereka merasa anaknya akan menjadi tumah sebagai pendongkrak mutu sekolah di zonanya.  Mungkin kita mengatakan, memang setiap kebijakan memerlukan pengorbanan.

Lantas adakah cara untuk mengurangi pengorbanan tersebut, sekaligus menghindari keresahan orangtua?  Menurut saya ada yaitu afirmasi dukungan terhadap sekolah yang mutunya belum bagus.  Pemerintah perlu fokus membantu sekolah-sekolah yang mutunya belum bagus, khususnya yang berada di desa dan zona masyarakat kelas menengah ke bawah.  Sekolah-sekolah di pedesaan dan zona perumahan kelas menengah ke bawah perlu diberi perhatian, agar anak-anak di zona tersebut dididik oleh guru yang bagus dengan sarana yang bagus pula.   Jika mungkin afirmasi dilakukan lebih dahulu sebelum PPDB Zonasi diberlakukan secara ketat. Semoga.




Kamis, 13 Juni 2019

CATATAN DARI VET INTERNATIONAL CONVERENCE-1


Vocational Education and Training (VET) conference di Valencia University Spanyol 2-3 Mei lalu merupakan konferensi internasional ketiga dan pertama di luar Jerman.  Konferensi pertama di Bremen University dan yang kedua di Rostock University, keduanya di Jerman.  Wajar saja, karena konferensi ini merupakan kreasi IJRVET (International Journal for Research on VET) yang bermarkas di Jerman.

Secara akademik ada beberapa paparan yang menarik untuk dicermati dan kita ketahui bersama.  Sebagaimana kita ketahui bahwa terkait dengan pendidikan vokasi terdapat dua aliran utama di dunia ini.  Aliran pertama sering disebut dengan aliran continental dan Jerman merupakan salah satu pusatnya.  Inti pola ini, pendidikan vokasi disiapkan sejak awal dan betul-betul dicocokkan dengan dunia industri yang nanti menggunakan lulusannya.  Konsep link and match yang pernah populer di era Pak Wardiman menjadi Mendikbud diimpor dari Jerman.  Pola ini sering disebut dengan man-power planning approach.

Aliran kedua sering disebut aliran Anglosakson dan Inggris merupakan sumbernya.  Intinya, sekolah tidak menyiapkan untuk bekerja tetapi menyiapkan agar anak pandai, sehingga cepat belajar ketika memulai bekerja. Hasil pendidikan bukan siap kerja tetapi siap latih. Oleh karena itu, aliran ini tidak memiliki pendidikan vokasi sebagaimana aliran continental.  Yang mereka miliki adalah pendidikan karier (career education) dan itu ditempuh setelah mereka memastikan akan bekerja di bidang apa.  Sedangkan pendidikan sebelumnya itu menggunakan pola human development approach.

Perbedaan filosofi itu tampak sekali ketika mereka menyajikan makalah.  Karena yang mengadakan IJRVET dan nama konferensinya bernama VET International Conference (VETIC), sebagian besar pesertanya memang dari negara-negara yang berorientasi ke continental, misalnya Jerman, Swiss dan Spanyol. Namun demikian juga ada peserta dari Inggris, Amerika dan Australia yang termasuk aliran Anglosakson.  Peserta dari Australia dengan bangga menyajikan hasil pengembangan model TAFE yang sukses menyiapkan tenaga kerja professional. Sementara itu peserta dari Jerman dengan bangga menyajikan penelitian yang terkait dengan pengembangan pendidikan vokasi ala Jerman di Afrika dan Amerikan Latin.  Berikut beberapa makalah yang layak untuk dibahas.

Aschenberger dan Loffler dari Austria memaparkan hasil penelitiannya terhadap peserta pendidikan vokasi di universitasnya (semacam politeknik) tetapi jenjang S2 yang tidak mensyaratkan lulusan S1. Judul makalahnya: Educational pathways of applicants for academic continuing education - The treasure within and its contribution to bridge the gap from "ECVET" to "ECTS". Austria termasuk negara yang menganut pola continental, sehingga sangat memperhatikan pendidikan vokasi.  Mahasiswa yang diterima tanpa memiliki ijasah S1 umumnya mereka yang berpengalaman di dunia kerja dan setelah dilakukan RPL dapat disetarakan dengan S1. Hasil penelitian mereka terhadap tiga angkatan, prestasi mereka tidak berbeda dengan signifikan dengan mereka yang memiliki ijasah S1.  Pendalaman kepada mahasiswa menemukan bahwa pengalaman lapangan justru lebih kaya, sehingga sangat membantu ketika mereka mengerjakan proyek di perkuliahan. Bagi yang ingin membaca makalah lengkapnya dapat membuka di link: https://doi.org/10.5281/zenodo.2641717.

Yang sangat menarik studi dua kawan dari Austria itu sebenarnya sangat sederhana dan cakupannya hanya mahasiswa di fakultasnya.  Namun kajiannya sangat dalam serta detail, sehingga dapat menemukan proposisi yang cukup kokoh.   Analisis terhadap prestasi sangat detail, mencakup berbagai aspek dalam capaian pembelajaran yang ditargetkan.  Dengan demikian pembandingan prestasi antara mahasiswa yang memiliki ijasah S1 dan tidak, dapat dilakukan secara detail.  Temuannya juga sangat menarik.  Kemampuan problem solving mahasiwa yang berlatar belakang industri ternyata lebih baik, karena terbiasa mengerjakan tugas seperti itu di lapangan.

Presentasi yang juga menarik dari aliran  Anglosakson oleh Huddleston dan Ashton dari UK dengan judul makalah Working to get work: Freelance work within the creative and cultural sector.  Dua kawan dari Inggris itu memaparkan hasil penelitiannya tentang bagaimana anak-anak muda di Inggris mendapatkan pekerjaan di bidang seni. Seperti yang saya duga mereka itu tidak melalui pendidikan vokasi tetapi pendidikan umum semacam SMA, kemudian magang untuk mendapatkan keterampilan.  Bagaimana perjalanan mereka dalam magang sampai mendapatkan yang mapan itulah yang diteliti.

Apa temuan mereka yang menarik? Ternyata dalam perjalanan selama magang itulah anak-anak muda menemukan dimana passion mereka.  Dengan begitu akhirnya mereka menemukan pekerjaan yang cocok dengan bakat dan minatnya, sehingga enjoy dalam bekerja.  Nah setelah itu baru mereka mengasah kemampuannya baik melalui belajar mandiri, belajar kepada senior, maupun kursus.  Temua itu seakan ingin menguatkan bahwa pendidikan vokasi seharusnya dilakukan setelah dapat dipastikan anak-anak bakat dan minatnya dimana.  Hanya dengan cara itu, mereka akan enjoy dan akhirnya kinerjanya baik.  Makalah secara lengkap dapat diunduh di link: https://doi.org/10.5281/zenodo.2641705.

Presentasi berikutnya yang  juga sangat menarik adalah oleh Baumann dan Wegener dari Jerman dengan judul The Internationalization of VET: German VET Provider Abroad – Transfer vs Pramagtism.   Makalah ini menjelaskan bagaimana Jerman “mengekspor pola VET di negara lain, misalnya di Afrika dan Amerika Latin.  Proyek ini dibiayai oleh pemerintah Jerman (mungkin juga bekerjasama dengan lembaga internasional) dan tampaknya akan menjadi proyek besar.  Makalah lengkap dapat dibaca di link: https://doi.org/10.5281/zenodo.2641013.

Apa yang menarik dari makalah tersebut?  Menurut saya bukan polanya, tetapi secara tersirat Jerman (dan mungkin juga negera lain) menjadikan pendidikan sebagai komoditi yang diekspor.  Sebagaimana barang yang menjadi komoditi berarti “ada harganya” dan sebagainya.  Jadi kalau di masa lalu komodiri itu selalu berwujud benda, misalnya mobil dan hasil pertanian dan sejenisnya, kemudian teknologi juga menjadi komoditi yang diekspor oleh negera maju, ternyata sekolah pendidikan juga sudah menjadi komoditi yang diekspor dengan harga tertentu.  Apakah Indonesia juga ada menjadi tujuan ekspor mereka?  Itulah pertanyaan yang muncul di benak saya.

Senin, 10 Juni 2019

MIT Amaanatul Umah Kauman Ponorogo


Idul Fitri ini saya memaksakan diri untuk pulang kampung.  Sebenarnya waktu mepet-mepet, karena anak saya, Lala bersama suami dan anak-anaknya pulang ke Surabaya via Solo dan sudah singgah di kampung saya di Ponorogo sebelum Idul Fitri. Hari Kamis, lebaran kedua mereka balik ke Solo terus ke Jakarta.  Dengan demikian saya baru punya waktu pulang kampung hari Jum’at, sementara hari Minggu ada rencana mau berkunjung ke tante Fitri, satu-satunya saudara Ibu mertua yang masih hidup.

Ketika lebaran pertama berkumpul di Malang, saya berunding dengan adik, Sidho Hantoko, untuk pulang kampung dan disepakati hari Jum’at terus Sabtunya balik.  Dia yang ngalahi mampir ke Surabaya sebelum sama-sama bermobil ke Ponorogo.  Mungkin dia berpikir kakaknya sudah tua, sehingga perlu dikawal ketika nyopir sendiri Surabaya-Ponorogo. Jadilah kami bermobil ria, berangkat jam 09.15 dari Surabaya.  Semua lancer termasuk mampir makan pecel di Madiun.

Keinginan pulang kampung tahun ini tidak hanya untuk ber-Idul Fitri bersama keluarga, tetapi juga ada acara dengan MIT Amanatul Ummah, sekolah kecil yang kami bina. Madrasah itu berdiri 3 tahun lalu dan menempati gedung SMA Somoroto yang telah lama tutup.  Tahun 1980 kami, saya bersama banyak teman di kampung mendirikan SMA swasta bernama SMA Somoroto tetapi karena berbagai hal akhirnya tutup.  Salah satunya, karena di jarak beberapa ratus meter berdiri SMA Negeri.  Dan mutu SMA Somoroto tidak begitu bagus sehingga tidak mampu bertahan ketika di sekitarnya banyak pilihan.

MITAU (singkatan Madrasah Ibtida’iyah Terpadu Amanatul Ummah) berdiri didorong dan ditopang adik-adik yang bersemangat tinggi untuk membuat sekolah/madrasah dengan menggunakan gedung bekas SMA Somoroto tersebut.  Pilihan jatuh pada bentuk madrasah dan dimulai dari level terendah yaitu MI. Mengapa? Karena di sekitarnya sudah banyak SD negeri dan kami sadar bahwa masyarakat cenderung memilih sekolah yang bernuasa agama.

Bahwa masyarakat sudah tidak membedakan antara sekolah negeri dan swasta, saya sudah faham. Bahwa sekolah bermuatan agama lebih diminati orangtua dibanding sekolah umum, saya sudah mengerti.  Bahwa orangtua lebih senang memilih sekolah yang harus membayar dibanding sekolah yang gratis, saya sudah memahami.  Namun fenomena yang saya temua di MITAU lebaran ini sungguh di luar dugaan.

Ketika Jum’at sore saya sillaturahim kepada kerabat, saya diberitahu sepupu yang mengatakan: “sekolah pak puh yang daftar banyak, sedangkan SD negeri yang di dekatnya tidak dapat murid sehingga digabung dengan SD negeri sebelahnya”.  Saudara yang lain bercerita, guru SD negeri berkeliling ke rumah-rumah mencari murid dengan membawa seragam gratis.  Saudara lainnya lagi bercerita, bahwa SD-nya (maksudnya SD tempat sekolah dahulu) sudah tutup sejak tahun lalu karena tidak mendapatkan murid.

Sabtu pagi pukul 08.30 kami, para pendiri sekolah dan para guru berkumpul untuk ber-Idul Fitria sambil mengobrolkan perkembangan MITAU.  Ada dua hal yang membuat saya kaget.  Pertama, Pak Wito, adik sepupu saya, salah satu pendiri sekolah dan juga mantan lurah, menyampaikan bahwa dari 39 orang yang dahulu bahu membahu mendirikan SMA Somorot tinggal 13 orang.  Artinya yang lain sudah dipanggil menghadap Sang Khalik. Dua bekas ketua Yayasan juga almrahum, yaitu Mas Muhadi Suyono (mantan Bupati Ponorogo) dan Mas Mahfud Wibisono.  Tiga mantan kepala sekolah jugan sudah wafat, yaitu Pak Asiroj, Pak Islam Iskandar dan Pak Iman Surono.

Ketika Pak Widodo, salah satu generasi muda yang menokohi pendirian MITAU, melaporkan perkembangan MITAU membuat kejuatan kedua.  Beliau menyampaikan tahun ini pendafar mencapai 56 orang.  Namun yang 4 orang terpaksa “ditolak” karena guru SD negeri sebelah datang ke MITAU menyampaikan bahwa 4 anak tersebut sudah menerima seragam gratis dari sekolahnya, sehingga mohon tidak diterima di MITAU. Apalagi pendaftar ke SD negeri itu hanya 8 orang, sehingga jika yang 4 orang diterima di MITAU berarti tinggal 4 orang.

Menurut saya fenomena ini sangat baik dan pemerintah yang menangani bidang pendidikan perlu melakukan kajian mendalam.  Mengapa?  Pertama, orangtua termasuk yang tinggal di pedesaan seperti di kampung saya, sudah memilih sekolah yang membayar (karena swasta) dibanding SD negeri yang gratis dan bahkan diberi seragam.  Ini berarti kesadaran akan pentingnya pendidikan yang baik sudah sampai pada akar rumput.

Kedua, mereka lebih memilih sekolah yang bermuatan agama dibanding “sekolah umum” dengan alasan jika anak-anak mendapat pendidikan agama cukup, maka karakter mereka akan lebih baik.  Artinya kesadaran akan pentinya karakter dalam pendidikan sudah sampai ke akar rumput. Bahkan di pedesaan yang bukan daerah santripun kesadaran itu telah tumbuh.

Bertolak dari fenomena tersebut, sudah saatnya dilakukan “reorentasi pendidikan” agar tidak untuk hal-hal akademik, apalagi sekedar memenuhi tuntutan ujian.  Perlu dikaji secara mendalam, apa sebenarnya tujuan pendidikan kita.  Apalagi di era digital yang semuanya berubah dengan cepat.  Google dan EY tidak lagi mensyaratkan ijasah ketika menerima karyawan baru.  Apalagi berbagai penelitian mutakhir menyimpulkan bahwa ke depan dua kemampuan pokok yang diperlukan adalah memacahkan masalah secara kreatif (solving problem creatively) dan hidup dan bekerna sama secara harmonis (living dan working together in a harmony).

Kamis, 09 Mei 2019

SHOLAT JUM’AT DI EROPA


Dua minggu di Eropa saya sempat sholat jum’at di dua tempat dan situasi dan kondisinya jauh berbeda.   Tanggal 26 April 2019 saya sholat jum’at di kampus Univeritas Heriot Watt, tempat Kiki-anak saya bekerja.  Universitas tersebut tidak memiliki masjid, dan sholat jum’at-nya di sebuah hall asrama mahasiswa.  Karena hari itu saat-saat liburan, menurut Kiki lokasi sholat jum’at dipindah ke hall yang lebih kecil, tidak seperti biasanya di hal besar.  Lokasinya hanya sekitar 5 menit jalan kaki dari kantor Kiki.

Saya sholat jum’at bersama Roy, menantu saya.  Informasinya sholat jum’at dimulai pukul 13.30, sehingga dari rumah kami (saya, isteri, Roy dan Kiki) berangkat pukul 11.30 naik mobil disopiri Roy.  Mobil diparkir di dekat kantor Kiki, dan kami berjalan kaki menuju hall tempat sholat dengan berjalan kaki.  Jalan menyusuri jalan di pinggir lapangan olahraga yang pada saat ini ada seorang yang sedang lari berkeliling.  Agar mudah kami sudh berwudhu dari rumah.

Kami datang agak awal, sehingga petugas masih menata ini dan itu, walupun sudah ada beberapa jama’ah yang sudah tiba.  Sholat jum’at dimulai tepat pukul 13.30 dan tidak ada adzan di awalnya. Jumlah jamaah saya perkirakan sekitar 200 orang dan sebagian besar “berwajah” Timur Tengah, walaupun juga ada yang “putih” dan “hitam” tetapi jumlahnya sedikit.  Saya menduga sebagian besar mahasiswa, karena usianya masih muda dengan rata-rata bercelana jin.  Ternyata ada jama’ah perempuan namun hanya sekitar 6 orang termasuh ana-anak.

Khotibnya  berasal Pakistan dan khotbah disampaikan dalam bahasa Inggris.  Saya tahu dari Pakistan, karena sempat menyampaikan “kalau di kampung halamannya Pakistan ada tradisi begini-begini.  Khotib tersebut masih muda, saya menduga usianya tiga puluhan atau awal empat puluhan.  Berpakaian rapi dengan memakai jas tanpa dasi dan tidak bersorban maupun berpeci. Mungkin karena mejelang bulan Romadhon, khotbah menjelaskan makna puasa sebagai latihan kesabaran.  Sabar untuk menahan lapar dan minum walapun didekatnya ada makanan dan minuman.  Sabar jika ada godaan dan menurut khatib Rasul menganjurkan kita mengataka “saya berpuasa” jika ada orang berbuat tida baik kepada kita.

Setelah selesai sholat jum’at ternyata hujan rintik-rintik, sehingga saya dan Roy berjalan cepat-cepat, setengah berlari kembali ke kantor dimana Kiki dan ibunya menunggu.  Untunglah hujan di Skotlandia hanya tipis sehingga kami tidak basah.  Apalagi kami memakai jaket karena memang saat itu suhu sekitar 15 derajat.  Kami juga berjalan di bawah pohon-pohon di pinggir jalan, sehingga sedikit banyak juga terlindung dari hujan.

Ketika saya sampaikan khotbah baik, Kiki menjelaskan kalau di Universitas Heriot Watt khotib itu karyawan universitas dan disamping menjadi khatib jum’at juga bertugas menjadi semacam konselor keagamaan.  Jadi di universitas ada “khatib” untuk Islam, Katholik dan Kriten Protestan. Tiga agama yang jumlah warganya cukup banyak di kampus tersebut.  Dipilih yang masih muda agar dapat mudah berkomunikasi dengan mahasiswa.  Berbahasa Inggris secara baik menjadi persyaratan untuk menjadi khatib.

Kesan saya pelaksanaan sholat jum’at di Heriot Watt sangat sederhana.  Tidak ada mimbar untuk khotbah seperti di masjid kita.  Sebagai gantinya ada beberapa bangku olahraha yang ditumpuk dan ditutupi dengan sajadah.  Khotbah jum’at relatif pendek dan bersifat general tetapi mengena.  Pelaksanaan sholat-nya sama dengan di Indonesia dan bacaan surah-surahnya mirip di “masjid Al Awabin” di kampung dekat rumah saya, yang kata orang itu tata cara NU.  Namun sesudah selesai sholat imam tidak memimpin do’a seperti di masjid Al Awabin, sehingga mirip di Al Azis yang juga di dekat rumah saya, yang kata orang itu tata cara Muhammadiyah.

Pengalaman sholat jum’at berikutnya di masjid dekat kampus Valencia University.  Hari jum’at pagi saya berusaha mencari masjid dengan menanyakan kepada panitia, tetapi mereka tidak tahu.  Namun isteri saya dapat menemukan di Google map, sehingga waktu break makan siang (13.30-15.00) saya keluar kampus untuk mencarinya dan ketemu. Alhamdulillah. Lokasi masjid hanya berjalan sekitar 500 meter dari lokasi konferensi dan di jalan raya.  Di gerbang masjid, saya bertanya ke jama’ah, jam berapa sholat jum’at dimulai dan dijawab pukul 14.30.

Masjidnya cukup besar dan bersih.  Ada mimbar dengan tangga yang cukup tinggi.  Saat saya masuk sudah ada sekitar 25 orang jama’ah yang sudah di dalam.  Saya mencoba mengamati jamaah yang sudah ada dan juga jamaah yang baru datang.  Rata-rata orang berwajah Timur Tengah atau saya tidak dapat membedakan antara orang Timur Tengah dengan orang Spanyol.  Seperti pernah saya ceritakan pengamatan saya orang Spanyol sangat mirip dengan orang Mesir dan sebagainya. Ada jamaah yang berkulit hitam, tetapi tidak banyak sedangkan dari Asia mungkin hari itu hanya saya.

Khotbah dimulai pukul 14.30an.  Khotibnya memakai baju gamis dengan sorban khas orang Arab dan saya menduga memang orang Arab yang sudah sepuh (senior). Ketika naik tangga mimbar tampak pelan-pelan dengan menekankan tongkatnya pada anak tangga sehingga berbunyi “duk-duk-duk”.  Ada adzan setelah khotib mengucapkan salam. Persih seperti di kampung saya.  Khotbah disampaikan dalam bahasa arab dengan bersemangat.  Sayang saya tidak mengerti dan dalam hati saya menyesal, mengapa dahulu tidak belajar bahasa arab.   Khotbahnya cukup panjang, sampai pukul 15.05.  Jadi kira-kira 35 menit.  Juga seperti di masjid kampung saya, ketika khotbah ada “kotak infaq berkeliling”.  Bedanya yang berkeliling bukan kotak atau kaleng, tetapi orang (jamaah) yang membawa tas kain terbuka.

Menjelang khotbah berakhir saya mencoba melihat berkeliling.  Ternyata masjid penuh, sehingga jumlah jamaah saya kira lebih dari 300 orang.  Tata cara sholat seperti masjid Al Awabin dan setelah selesai sholat imam juga memimpina do’a.  Yang saya tidak faham, setelah itu imam berdiri dan menyampaikan sesuatu.  Saya saya tidak faham, apakah itu pengumunan atau arahan kepada jamaah.

Mengikuti sholat jum’at dua minggu di Eropa saya mendapatkan kesan yang sangat berbeda, walaupun keduanya di lingkunan kampus.  Yang di Edinbrugh di sebuah hal dalam kampus, di Valencia di masjid di luar kampus tetapi sangat dekat.  Di Edinbrugh suasananya sangat khas kampus, sedangkan di Valencia mirip di kampung saya.   Mengapa demikian, jujur saya tidak tahu. Di Valencia tidak ada orang yang dapat menjelaskan karena jamaah yang saya tanya ternyata tidak bisa berbahasa Inggris, sementara panitian konferensi tidak tahun dimana lokasi masjid.

Selasa, 30 April 2019

PASAR KLIWON DI CORDOBA


Karena baru pertama ke Spanyol dan tahu tentang Spanyol hanya dari bacaan yang sangat terbatas, maka saya ingin sekali melihat tradisi keseharian orang Spanyol.  Oleh karena itu begitu ada informasi bahwa di Cordoba ada Sunday Market (Pasar setiap hari Minggu) saya langsung ingin melihatnya. Apalagi informasinya di pasar itu ada sekitar 240 stan dan dijual berbagai barang produk lokal. Jarak tempat tinggal dengan pasar tersebut hanya sekitar 25 menit jalan kaki, sehingga terjangkau dengan jalan kaki pelan-pelan.  Suhu udara saat itu juga sekitar 27-30 derajat sehingga sudah biasa bagi orang Surabaya.

Kami, saya, isteri, Kiki dan Roy jalan kaki pelan-pelan ke Sunday Market sambil lihat-lihat kiri kanan.  Mencermati orang yang lalu lalang, saya mendapat kesan bahwa wajah orang Spanyol ada nuansa Timur Tengah-nya.  Saya juga menjumpai nama-nama yang bernuasa Arab, misalnya Al Manzor (nama hotel), Haman (nama salon) dan sebagainya.  Bahkan ketika makan malam di restoran kecil dekat tempat tinggal juga ada menu yang “Arabic”. Mungkin itu akulturasi selama 2 abad Islam memerintah di Spanyol dan Cordoba merupakan ibukota negara saat itu.

Bahwa warna kulit orang Spanyol lebih “gelap” dibanding orang Belanda dan Inggris saya faham.  Bahwa rambut orang Spanyol cenderung hitam dan tidak pirang atau merah seperti orang Jerman dan Skotlandia saya faham, tetapi yang saya lihat wanita di Spanyol lebih “modis” bahkan lebih di banding orang Perancis, apalagi orang Jerman yang tidak pernah pakai lipstik.  Wanita Spanyol dandan pakai lipstik, alis dan sebagainya.  Mereka cenderung mengenakan pakaian yanh ketat dan terbuka, bahkan banyak jalan-jalan memakai laging dan kaos ketat, sehingga lekuk-lekuk badannya kelihatan.  Itu tidak hanya untuk anak-anak remaja, tetapi juga ibu-ibu yang sudah berumur.

Cordoba merupakan daerah wisata, sehingga di hari Senin juga sangat banyak wisatawan. Namun saya menangkap yang banyak wisatawan lokal, karena dari bahasanya saya menangkap mereka umumnya berbicara bahasa Spanyol.   Sepanjang jalan, kiri-kanan dipenuhi toko souvenir dan restoran kecil-kecil.  Kata Kiki, orang Spanyol biasa jalan-jalan dan ketika capai terus duduk dan minum atau makan makanan kecil.  Mungkin itu yang menyebabkan banyaknya restoran-restoran kecil sepanjang jalan.  Bahkan banyak yang tempat makan/minumnya di halaman atau tempat terbuka dengan diberi payung-payung dari kain yang dapat dibuka-tutup.

Kami sempat melewati sebuah gereja dan tampaknya ada pernikahan atau pesta apa, karena di depannya banyak orang berpakaian resmi (jas) dan para wanitanya dandan lengkap.   Namun yang mengherankan sampai saya pulang orang-orang masih banyak yang berdiri di depan pintu gereja itu.  Apakah ada beberapa pernikahan (ingat saya disebut pemberkatan) yang bergantian atau ada kebaktian atau acara lain, jujur saya tidak tahu.  Yang menarik, saat kami makan siang di restoran kecil depan gereja itu, banyak orang yang tadinya berdiri di depan pintu gereja dengan pakaian lengkap, kemudian juga makan di tempat kami makan. 

Sampai di pasar, saya menjumpai sesuatu yang menarik.  Stan untuk jualan hanya berupa stan darurat dengan atap kain persis stan kaki lima di Surabaya.  Antara stan satu dengan lainnya juga tidak ada pembatas yang jelas.  Jadi batasnya ya, hanya berupa lorong kecil sekitar 1 meteran.  Yang dijual sangat beragam.  Sayur mayor, buah-buahan, makanan atau camilan khas Spanyol, baju, sepatu, dan sejeneisnya.  Mirip pasar Pucang di Surabaya.

Yang sangat menarik, penjualkan beteriak-teriak menawarkan dangannya.  Oleh karena itu suasana pasar jadi riuh.  Apalagi juga terjadi tawar menawar antara pembeli dan penjual. Ketika isteri saya membeli buah zaitun yang diasinkan dan asinan dari timun khas Spanyol ditawari untuk ngicipi. Kami juga menemui penjual asparagus yang menjajakan dagangannya dalam gerobak di tengah jalan sambil teriak-terak menawarkan. Mirip pasar Kliwon di Ponorogo.

Apakah pasar itu ada setiap hari?  Ternyata tidak, dan hanya ada pada hari Minggu.  Pada hari lain tempat itu menjadi lapangan terbuka dan seringkali untuk parkir mobil.  Lantas para penjual itu di hari lain kerja apa?  Tidak ada informasi yang jelas, ada yang mengatakan memang seperti tradisinya, sehingga di hari lain penjual mengerjakan pekerjaan lain.  Namun jawaban ini sudah dinalar, lha kalau sayuran atau buah-buahan tidak habis dan harus menunggu satu minggu lain pastilah akan rusak.  Ada informasi ada pasar di tempat lain pada hari-hari lain.  Mirip seperti di Jakarta, ada pasar Minggu, pasar Senin dan seterusnya yang konon di masa lalu hanya pada hari-hari itu pasarnya buka.  Mirip di Ponorogo, kampung saya, ada pasar Kliwon di dekat rumah yang hanya ramai di hari Kliwon, ada pasa Legi di pusat kota yang hanya ramai di hari Legi.  Hari-hari itu disebut “dino pasaran” atau hari waktu pasar ramai.  Apa memang tradisi pasar di Cordoba sama dengan di Indonesia?  Jujur saya tidak mendapatkan informasi. 

Minggu, 28 April 2019

JANTUNG BERDEBAR DI MASJID CORDOBA


Salah satu keinginan saya ke Spanyol adalah untuk mengunjungi “masjid Cordoba” yang sekarang menjadi obyek wisata terkenal.  Mengenang kejayaan Islam di masa lalu.  Yang pernah saya baca di Wikipedia, masjid tersebut dibangun pada masa Dinasti Umayyah, namun setelah Islam kalah perang wilayah tersebut dikuasai oleh bangsa Spanyol yang beragama Kristem, masjid tersebut diubah fungsinya menjadi Katedral Gotik beberap bagian direnovasi dengan gaya arsitektur Moor.

Oleh karena itu begitu mendapat kesempatan mengikuti TVET International Conference di Valencia Univ, saya mengatur waktu ada sebelumnya dapat ke Cordoba.  Saya terbang dari Edinbrugh Sabtu tgl 27 April pagi-pagi dan mendarat di Malaga sekitar pukul 11 waktu setempat.  Selanjutnya naik kereta api ke Cordoba setelah makan siang dulu di stasiun Malaga.  Sampai Cordoba sudah sore, sekitar pukul 15an.  Turun dari kereta disambung dengan taksi yang hanya bisa berhenti di tepi jalan, karena penginapan saya di Jewis centre, kawasan yang konon dahulu daerah kaum Yahudi.  Lokasinya di gang sempit dan mobil tidak dapat masuk.  Jadi saya, anak dan menantu mesti jalan sekitar 50 meter sambal menarik koper.  Sorenya istirahat sambil mencari informasi tentang Cordoba.

Kami dapat informasi kalau ada tradisi tidur siang di masyarakat Spanyol.  Infonya semua toko dari kantor tutup anatara jam 13.00 s.d 17.00, karena orangnya istirahat tidur siang.  Mendengar informasi itu, saya jadi teringat diskusi antara Ustad Taufiq AB dengan Pak Latif Burhan sekian tahun lalu.  Pak Taufiq menyampaikan kalau Nabi Muhammad biasa tidur siang dan itu baik bagi kesehatan.  Sebaliknya Pak Latif mengatakan tidur siang itu dilarang, masak di jam kantor tidur. Mungkinkah kebiasaan itu yang sekarang menjadi tradisi di Cordoba, mengingat Cordoba dahulu merupakan ibukota Spanyol di era Islam.

Apa kaitannya tidur siang dengan pergi ke masjid Cordoba?  Saya takut jam 13.00 masjid ditutup, sedangkan jam 09.00 baru dibuka.  Apalagi informasinya pengunjung sangat banyak dan harus antri waktu masuk. Juga jumlah orang di dalam masjid dibatasi, sehingga jika dirasa penuh pengunjung lain diharuskan menunggu di luar dahulu.  Oleh karena itu kami memutuskan untuk ke masjid Cordoba pagi-pagi. Kami berangkat jam 08.10 dengan harapan dapat masuk rombongan pertama.   Dan betul, pada pukul 08.45an kami sampai ke gerbang sudah ada sekitar 20 orang yang antri, pada hal pintu belum dibuka, sehingga saya dengan istri, anak dan menantu masuk rombongan pertama.


Begitu dibuka, rombongan masuk gerbang dan diarahkan ke bagian penjualan tiket di sudut halaman masjid.  10 euro per orang.  Sambil membeli tiket saya sempat mengamati halaman masjid yang dikelilingi pagar setinggi 15 meteran, mirip benteng.  Di halaman ada beberapa pohon kurma, banyak pohon jeruk Spanyol dan cemara pecut.  Juga ada menara yang semula saya kira menara masjid ternyata ada genta atau bel besar, berarti “milik” gereja.  Atau mungkin semula menara masjid tetapi setelah masjid berubah menjadi katedral diubah menjadi menara gereja dan diberi  genta.

Setelah membeli tiket, kami masuk ke dalam masjid.  Sepertinya pintu utama yang asli ditutup, dan pengunjung masuk melalui pintu samping yang paling kanan.  Begitu masuk, saya menyadari betapa megah masjid Cordoba.  Sebagai bangunan yang dibuat pada abda ke 8, menurut saya sudah sangat megah.  Pola bangunan ada kemiripan dengan masjidil haram, dengan lengkungan-lengkungan antar tiang yang terbuat dari marmer.

Melihat ornamen masjid, tampak sekali dominasi kritiasi, karena banyak hiasan lukisan dan patung seperi lazimnya gereja. Saya berusaha mencari peninggalan Islam yang khas dan menemukan lokasi imaman (tempat imam sholat).   Masih utuh, tetapi dipagari besi dan ada penjaga di dekatnya.  Tidak boleh lagi sholat di situ.  Lama saya berdiri dan merenung, mencoba berkotemplasi bagaimana situasi saat masjid masih berfungsi dahulu.  Jantung saya terasa berdegub.  Saya membayangkan betapa perjuangan untuk membangun masjid sebesar itu di abad ke depalan yang tentunya teknologi masih sederhana.  Lantai masjid dari marmer,begitu pula tiangnya, yang tentu harganya mahal dan pembuatannya tidak mudah.



Di dekat imaman ada semacam batu putih tipis selebar 1 x 2 meter bertuliskan huruf Arab gundul yang jujur saya tidak dapat membacanya.  Artefak itu ditutupi dengan kaca, sehingga pengunjung hanya dapat melihat dari jarak sekitar 2 meter.  Di dekatnya juga ada “jam matahati” yang ditempelkan di tembok.  Sayang tidak dapat dilihat berfungsi atau tidak, karena didekatnya ada lampu, sehingga banyangan yang tampak di jam itu bukan dari sinar matahari melainkan dari lampu tersebut.

Kira-kita ditengah masjid, saya menjumpai sesuatu yang saya duga itulah tanda utama bahwa masjid diubah fungsinya menjadi katedral.  Sepertinya ada bagian masjid yang dibongkar dan disitu dibuat semacam mihrab tempat pastur menyampaikan kotbah. Tampak sekali ornamen asli masjid yang tentu bernuasa Islam dan ornament gereja yang dihiasi gambar dan patung.  Lantai mihrab maupun atapnya dibuat lebih tinggi.  Atap bagian mihrab itu sangat mungkin dibuat dengan memotong atap masjid yang asli, karena langit-langitnya jauh lebih tinggi dibanding langit-langit masjid aslinya.

Di dekat mihrab itu saya menjumpai kursi berderat dan dipagari dengan tali merah.  Ternyata lokasi itu untuk acara kebaktian.  Ada tiga lokasi seperti itu.  Saya tidak dapat informasi apakah dibuat tiga karena ada tiga ordo yang berbeda.  Yang jelas dengan adanya tanda itu berarti  masjid itu masih berfungsi sebagai gereja, walupun sampai saja keluar sekitar pukul 11an tidak ada aktivitas kebaktian. 

Di dinding sekeliling masjid, kecuali sekitar imaman, semuanya menuasa kristiasi yang dipenuhi dengan gambar dan patung-patung.  Namun demikian jika melihat ke tengah nuansa masjid masih tampak dominan.  Bentuk tiang dan penyangga atap lekat dengan bentuk masjid.  Ruangan besar yang datar tanpa pembatas juga merupakan bentuk khas masjid.

Sabtu, 27 April 2019

FORMALITAS VS BERMAKNA: SAFETY BRIEFING DI PESAWAT


Sekian waktu lalu, di blok ini, saya pernah mempertanyakan safety briefing di pesawat. Ingat saya waktu itu saya naik Lion Air atau Wings Air.  Seperti lazimnya, ketika penumpang sudah naik semua dan pintu pesawat ditutup dan pesawat mulai bergerak tetapi sebelum masuk runway, pramugari selali memberikan penjelasan tentang keamanan dalam pesawat yang biasa disebut safety briefing.  Yang saya keluhkan, penyelasan itu tidak bermakna.  Paling tidak bagi orang setua saya.  Mengapa? Karena disampaikan dengan sangat cepat dan seringkali tidak ada titik-komanya.  Saya yang sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia saja, tidak faham penjelasan itu yang dalam bahasa Indonesia.  Apalagi orang yang dalam keseharian menggunakan bahasa daerah atau orang asing.

Bukankah selalu dijelaskan dalam dua bahasa?  Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris?  Betul.  Tetapi bahasa Inggrisnya lebih tidak jelas.  Di samping pronunciation-nya tidak tepat, juga disampaikan dengan sangat cepat dan seperti tidak faham mana kalimat yang utuh.  Itulah sebabnya saat itu saya mengatakan, sepertinya safety briefing itu sekedar formalitas untuk memenuhi undang-undang penerbangan sipil.  Mirip orang naik motor menggunakan helm yang tidak ditalikan.  Sudah memenuhi undang-undang lalu lintas, tetapi tidak bermakna bagi keselamatan.

Nah, pagi tanggal 27 April 2019 saya terbang dari Edinbrugh (Skotlandia) ke Malaga (Spanyol) menggunakan pesawat Jet2.com.  Jenis penerbangan murah (biasa disebut low cost carrier), seperti Lion Air, Citilink dan sejenisnya.  Saya menggunakan penerbangan itu cari yang murah, apalagi saya terbang dengan istri, anak dan menantu.  Begitu naik pesawat, saya mencoba mendengarkan safety briefing apakah seperti di Lior Air karena sama-sama penerbangan murah.  Ternyata tidak.  Safety briefing disampaikan dengan jelas.  Saya orang Indonesia yang sehari-hari berbahasa Indonesia dapat menangkap safety briefing yang disampaikan dalam bahasa Inggris.

Mengapa berbeda ya?  Itulah yang saya pikirkan atau lebih tepatnya saya pertanyakan.  Apakah itu terkait dengan aturan di perusahaan penerbangan yang berbeda?  Atau itu terkait dengan budaya?  Jujur saya tidak faham.  Oleh karena itu saya mencoba mengaitkan dengan beberapa fenomena lain, baik di bandara maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mengamati pramugari yang menjual makanan dalam pesawat.  Sambil pengin membeli the hangat, karena pukul terbang pukul 06.30 sehingga pukul 04.30 sudah berangkat dari rumah (rumah anak).  Sangat pagi untuk ukuran orang Edinbrugh.  Jadi belum sempat sarapan.  Namun untuk berhemat, kami membawa roti dan pisang untuk dimakan di pesawat.  Namun seperti aturan yang lazim di penerbangan internasional, tidak diperbolehkan membawa cairan lebih dari 100 cc.  Jadi makanan membawa dari rumah, tetapi minuman membeli di pesawat.

Pramugarinya relatif masih muda dan tidak seperti pramugari di Amerika yang biasanya sudah senior (untuk tidak menyebut tua), namun pakaiannya sederhana dan salah seorang rambutnya digelung lucu, mirip dengan gelungan almarhum ibu saya di kampung.  Tampilannya ramah dan tampak sekali tidak terlalu formal.

Ketika mereka lewat mendorong kereta makanan/ minuman di dekat saya, saya ingin segera pesan the.  Namun saya amati mereka membawa catatan dan hanya berhenti di deretan kursi tertentu.  Kiki, anak saya berbisik pramugari masih melayani penumpang yang sudah pesan makanan/minuman secara online.  Oh, ternyata soal makanan atau minuman saja harus pesan online jika ingin dapat duluan atau pasti dapat karena tidak kehabisan….Tunggu cerita kehabisan tiket kereta. Selesai melayani pesanan online, mereka berkeliling lagi dan penumpang dapat membeli makanan atau minuman.  Ngomongnya jelas dan mau menjelaskan apa makanan atau minuman yang dijual.

Ketika pesawat menjelang mendarat di Malaga, ada penguman sangat menarik.  Pramugari mengumumkan 30 menit lagi pesawat mendarat, penumpang yang ingin ke toilet dipersilahkan sekarang.  Kurang 20 menit dan kurang 10 menit pesawat mendarat pramugari kembali memberi pengumuman dengan setengah bercanda, adalah yang belum sempat ke toilet.  Diminta menahan dan siap-siap untuk mendarat.

Kesan saya pramugari di Jet2.com, meskipun pesawat kelas murah, memberikan safety briefing dan penjelasan lain dengan jelas.  Tampaknya mereka memahami penumpang dari berbagai bangsa, sehingga memerlukan penjelasan dengan baik.  Mungkin pramugari Jet2.com mementingkan makna penjelasan yang diberikan dan bukan sekedar memenuhi formalitas.