Jumat, 23 Juli 2021

MENGAPA SEKARANG MASYARAKAT TIDAK PATUH PADA ATURAN?

 Membaca bahwa masyarakat tidak patuh pada aturan saya menjadi bingung.  Konon banyak orang tidak mau memakai masker dengan berbagai alasan.  Ada masyarakat yang tetap menggelar pesta walaupun masa PKKM.  Kalau yang ngotot berjualan, mungkin itu karena keterpaksaan harus menghidupi anak isteri.  Kalau tetap sholat Idul Adha, mungkin itu menjadi keyakinannya. Tetapi yang tidak mau memakai masker, tidak mau memakai helm, tidak mau berhenti walaupun lalu lalu lintas merah, saya kok bingung ya.

Sewaktu kecil dan hidup di kampung, rasanya masyarakat tidak punya aturan tertulis yang mengikat, tetapi kok patuh ya.  Di dekat rumah keluarga saya ada segerombolan ikan lele yang hidup di bawah buk (jembatan kecil masuk dari jalan ke rumah orang).  Tidak ada orang yang berani mengganggu karena diyakini itu “peliharaan yang mbau rekso desa setempat”.   Kita tidak pernah makan dengan duduk di pintu, karena itu menghalangi rizki bagi keluarga. Tidak akan masuk ke mushola kalau tidak punya wudhu.  Dan sebagainya dan sebagainya.

Semua itu tidak ada aturan tertulisnya dan hanya diomongkan orang tua kepada anak-anak. Tetapi memang pada umumnya orangtua juga mentaati larangan tersebut.  Dan biasanya langsung memberitahu jika ada anak-anak lupa.  Saya termasuk yang sering diingatkan ketika dari bermain terus masuk mushola untuk istirahat dan “ndelosor”.  Biasanya, orangtua yang ada di sekitar berteriak: “he ambil air wudhu dulu”.

Apakah itu yang disebut nilai-nilai atau norma kehidupan yang tertanam di masyarakat, sehingga masyarakat merasa yakin itu harus dilakukan?  Jika betul seperti itu, seperti apa ya proses terbentuknya? Mungkin teman-teman yang mendalami sosiologi atau psikologi sosial dapat menjelaskan.

Ketika beberapa kali berkunjung ke rumah Kiki (anak sulung) yang tinggal di Edinburgh, saya menjumpai hal-hal yang mirip.  Tentu wujudnya berbeda. Saya melihat orang tidak menyeberang jalan karena lampu penyeberangan merah.  Pada hal tidak ada satupun mobil atau kendaraan yang lewat. Karena tempat sampah sudah dipilah menjadi tiga, saya lihat semua orang memasukkan ke tempat yang sesuai.  Waktu mengunjungi besar di Orkney (pedesaan) saya ingin mencoba menyetir mobil.  Tidak diijinkan karena mobil mereka hanya boleh disopisi Kiki atau suaminya (Roy).  Apakah itu juga suatu nilai-nilai atau norma kehidupan ya?

Beberapa teman mengatakan, bahwa ketaatan masyarakat kepada aturan terkait dengan pendidikan.  Masyarakat yang terdidik lebih taat aturan dibanding yang kurang terdidik.  Apa betul ya?  Bagaimana dengan contoh di kampung saya, yang saya sebutkan di atas?  Mengapa masyarakat Surabaya atau kota lainnya, yang pastinya lebih terdidik dibanding masyarakat di kampung kurang patuh terhadap aturan?

Jika kita menggunakan kerangkan pikir Lickona bahwa moral itu memiliki tiga level, yaitu moral knowing, moral feeling dan moral action.  Kata Lickona ketiganya merupakan urutan tetapi tidak otomatis.  Orang yang tahun suatu aturan belum tentu merasa harus mentaati.  Orang yang merasa seharusnya mentaati aturan belum tentu benar-benar melaksanakan.

Apakah masyarakat desa yang lugu itu tidak banyak pertimbangan saat menerima informasi tentang aturan (moral knowing), sehingga segera saja merasa harus menjalankan (moral feeling) dan kemudian benar-benar menjalankan (morak action) ya?.  Sementara orang kota banyak pertimbangan, sehingga meskipun tahu ada aturan masih mikir-mikir utung ruginya jika melaksanakan?  Nah ketika merasa tidak mendapatkan keuntungan kemudian, tidak melaksanakannya.  Apa begitu ya?

Atau seperti kata teman bahwa kita saat ini dalam periode transisi.  Pola kehidupan lama sudah terlanjut kita tinggalkan, karena silau dengan pola kehidupan baru.  Sementara pola kehidupan baru belum ditangkap hakekatnya.  Yang ketangkap baru yang “menyenangkan, yg dapat diperoleh secara instan” dan sebagainya. 

Rabu, 21 Juli 2021

PENDIDIKAN ITU BUKAN SEKEDAR PERSIAPAN BERKERJA

 Minggu lalu saya ikut rapat SC (Steering Committee) Munas ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia).  Rapat yang semula dirancang 2 jam, molor sampai hampir 5 jam.  Disamping materi yang dibahas ternyata berkembang, juga karena peserta rapat adalah kawan lama yang mungkin saja sudah lama tidak bertemu.  Umumnya para dosen senior, hampir semua profesor dan beberapa orang bekas rektor, bahkan ada yang masih menjadi rektor saat ini.  Jadi rapat setengah reuni.

Karena rapat SC, intinya membahas persiapan munas, khususnya kapan Munas akan dilaksanakan, apa yang ingin dibahas dan dihasikan dalam Munas.  Hampir semua peserta ingin agar munas tidak dilaksanakan secara daring, tetapi blended.  Sebagian peserta, khususnya peserta inti hadir di suatu tempat, sedangkan lainnya mengikuti secara daring. Oleh karena itu Munas akan dilaksanakan pada akhir Nopember atau awal Desember, dengan harapan pandemic covid-19.

Diantara produk yang dihasilkan dalam rangkaian Munas adalah tiga konsep yang saling terkait, yaitu: (1) konsep pendidikan di era disrupsi yang dipicu oleh kemajuan teknologi, (2) masukan untuk penyempurnaan Undang-undang Sisdiknas, dan (3) peta jalan pendidikan sampai tahun 2045 saaat HUT Kemerdekaan RI ke 100.  Saya katakan ketiganya saling terkait, karena jika konsep pendidikan di era disrupsi dapat dirumuskan dengan baik, itu salah satu titik berangkat saat menyempurnakan UU Sisdiknas dan juga penyusunan peta jalan pendidikan s.d 2045.

Dalam rapat muncul keresahan bahwa akhir-akhir ini pendidikan direduksi sekedar untuk persiapan untuk bekerja.  Memang betul salah satu tujuan anak menempuh pendidikan adalah agar pada saatnya dapat bekerja guna memenuhi kebutuhan hidupnya, namun hidup itu bukan sekedar bekerja.  Sekian tahun lalu, memang Finch dan Crunkilton menyebutkan adanya education for life dan education for earning a living.  Education for life artinya Pendidikan untuk mempersiapkan anak didik agar pada saatnya dapat hidup dengan baik dan Bahagia.  Education for earning a living arahnya untuk menyiapkan anak didik agar dapat memenuhi kebutuhan hidup, katakanlah bekerja.  Karena hidup itu bukan sekedar bekerja atau bekerja hanyalah sebagian dari kehidupan, maka education for earning a living pada dasarnya bagian dari education for life.

Mengapa peserta rapat resah?  Bukankah dalam kurikulum sekolah kita ada matapelajaran Agama, PPKn dan bahkan Pancasila.  Bahkan Kemendikbud punya sebuah pusat yaitu Pusat Pendidikan Karakter yang tentu tugasnya mengembangkan Pendidikan karakter.  Tampaknya keserahan itu dipicu oleh narasi yang selalu muncul dalam wacana mengapa Pendidikan harus disempurnakan, yang selalu menyebut rendahkan prestasi anak-anak dalam PISA, banyaknya pengangguran, perubahan teknologi sehingga Pendidikan dari disesuaikan, dan sebagainya.  Sangat jarang, ada narasi yang menyebut Pendidikan harus disempurnakan karena maraknya korupsi, maraknya penggunaaan narkoba, kenakanan remana dan sejenisnya.  Kenyataan bahwa menyontek sudah menjadi “kebiasaan”anak-anak juga hampir tidak pernah dibahas.

Bahkan seorang teman mengingatkan ungkapan almarhum Prof Sumitro Djojohadikusumo bahwa anggaran negera yang dikorupsi mencapai 30%.  Juga ada peserta yang menyebut, seandainya pembangunan nasional dilaksanakan dengan baik dan tidak ada korupsi, Indonesia sudah akan sekelas dengan Korea Selatan.  Toh dua negara tersebut memperoleh kemerdekaan hanya selang dua hari. Toh sumberdaya alam kita lebih baik dibanding Korea Selatan.  Orang Indonesia juga tidak kalah pandai, buktinya banyak orang Indonesia yang sukses ketika sekolah di luar negeri.  Anak-anak kita juga sering memenangkan olimpiade.

Mendengarkan keluhan tersebut, saya jadi ingat ungkapan Pak Nuh (Prof Muhammad Nuh) saat mengembangkan pedidikan karakter.  Beliau mengatakan kata tukang kebun sekolah tidak jujur, paling banter mencuri alat kebersihan, kalau tata usaha sekolah tidak jujur paling mencuri kertas, coba kalua kepala sekolah tidak jujur, anggaran sekolah bisa dikorupsi.  Makanya kalau tidak ujur sebaliknya jangan pinter-pinter, biar tidak besar daya rusaknya.

Ungkapan tersebut tentu penyederhanaan agar mudah ditangkap.  Pak Nuh selalu menganut faham “and” bukan “or”.  Artinya yang diharapkan ya jujur dan ya pinter, bukan memilih jujur dan tidak perlu pinter.

Karakter tidak hanya jujur atau baik kepada orang lain (being nice), tetapi juga disiplin, taat pada norma dan aturan yang berlaku, kerja keras tanggung jawab dan sebagainya. Apakah hal-hal tersebut belum diajarkan di sekolah?  Jawabnya “sudah”.   Apakah sudah berhasil?  Jawabnya “belum”.  Sayangnya kekurangberhasilan Pendidikan karakter sangat jarang dinarasikan saat membahas Pendidikan kita.  Akibatnya pelaksanaannya di sekolah juga sangat normatif.

Lantas apa yang dilakukan oleh Pusat Pendidikan Karakter Kemendikbud?  Jujur saya tidak tahu.  Saya juga belum pernah mendengar programnya di sekolah.  Ketika Kemendikbud menegembangkan berbagai program baru yang diberi nama Merdeka Belajar, saya juga tidak mendengar adanya penekanan pada aspek karakter dan juga tidak mendengar keterlibatan Pusat Pendidikan Karakter.  Semoga saja itu karena saya yang tidak tahu dan semoga masalah karakter juga mendapat perhatian seperti halnya kebekerjaan

Jumat, 16 Juli 2021

Menyongsong Era Sekolah Digital

Pada bulan Mei lalu saya memuat tulisan pendek berjudul “Selamat Datang Education 6.0” yang merupakan pemahaman saya berdiskusi dengan Pak Abdulkadir Baradja, pendiri Sekolah Al Himah.  Al Hikmah akan merekonstruksi ulang pola pendidikannya, khususnya di SMA dengan mengadopsi blended learning dan project based learning.  Sebagaimana diketahui Al Hikmah sudah memiliki Al Hikmah Boarding School di daerah Batu Malang, yang bukan sekedar sekolah berasrama tetapi mengembangkan minat dan bakat anak secara maksimal. Menurut Pak Edy Kuncoro - kepala sekolahnya – sejak awal anak-anak diidentifikasi bakat dan minatnya, kemudian apa yang dipelajari dikaitkan dengan bakat dan minat tersebut.  Tidak terbatas pada teori untuk memahami problem dan modelling pemecahan masalah di sekolah, tetapi juga belajar langsung kepada ahlinya di lapangan.


Ternyata gagasan semacam itu juga berkembang di tempat lain.  Baru-baru ini di WAG yang saya ikut, muncul stiker atau gambar tentang Sekolah Virtual Nusantara Cemerlang dan tawaran Pesoda Edu Academy tentang Pembelajaran Online.  Dugaan bahwa pandemi covid-19 akan mempercepat kelahiran “sekolah digital” mulai menjadi kenyataan.  Pengalaman mengikuti pembelajaran online selama lebih satu tahun lebih tampaknya meyakinkan para siswa dan orangtuanya bahwa pembelajaran online dapat berfungsi, walaupun banyak kendala.  Kalangan pendidikan juga mulai menyadari bahwa pembelajaran online dapat menjadi salam satu moda dalam proses pendidikan.  Bahkan kalangan pebisnis juga mulai meliriknya sebagai bisnis layanan sosial yang menjanjikan.  Apalagi jika melihat captive market di Indonesia.

Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana siswa dapat belajar secara optimal.  Beberapa pertanyaan memerlukan jawaban.  Apakah pembelajaran online dapat sepenuhnya menggantikan pembelajaran tatap muka?  Jika diyakini pembelajaran online dapat menggantikan pembelajaran tatap muka untuk ranah kognitif, bagaimana dengan ranah afektif yang juga sangat penting untuk pengembangan karakter/akhlak dan juga ranah psikomotor yang sangat penting untuk beberapa matapelajaran.  Jika ternyata pembelajaran online belum sepenuhnya dapat menggantikan pembelajaran tatap muka, bagaimana memadukan keduanya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas memerlukan jawaban yang jujur dan sangat mungkin tidak dapat dijawab secara instan saat ini.  Sepanjang yang saya tahu dan baca, belum ada sekolah formal (SD s.d. SLTA) yang berpengalaman menggunakan pembelajaran online secara penuh.  Kemdikbud pernah punya program SMP Terbuka, tetapi itu dengan format yang berbeda.  Program itu diperuntukkan bagi siswa yang bertempat tinggal di daerah terpencil sehingga tidak dapat setiap hari ke sekolah.  Mereka terdaftar di SMP Induk, tetapi sehari-hari belajar di tempat tinggalnya dengan dibimbing oleh instruktut setempat.  Sesekali mereka belajar di SMP Induk, misalnya seminggu sekali.  Jadi walaupun Namanya SMP Terbuka, tetapi pembelajarannya tatap muka.

Kita memang punya Universitas Terbuka (UT), namun itu di tingkat universitas yang asumsinya mahasiswa sudah dewasa dan faham bagaimana cara belajar bagi dirinya.  Itupun masih dibantu tutorial yang prakteknya seperti kuliah tatap muka oleh dosen/instruktur yan biasanya diambil dari dosen daerah setempat.  Saya tidak tahu persis, apakah di negara lain sudah ada sekolah (sampai setaraf SMA) yang menerapkan pembelajaran online secara penuh. Dalam buku 21st Century Skills tulisan Bernie Tilling dan Thoma Fadel menunjukkan pola pembelajaran di The Napa New Tech High School ditunjukkan bagaimana sekolah tersebut menerapkan project based learning dengan memanfaatkan informasi di e-library dan dunia internet, tetapi siswa hadir di sekolah untuk mengerjakan proyek tersebut.  Guru mendampingi sebagai fasilitator.

Belum ada atau belum pernah, bukan berarti tidak bisa.  Dengan perkembangan teknologi, misalnya teknologi virtual reality (VR), augmented reality (AR) dan sebagainya bukan tidak mungkin dikembangkan berbagai wahana belajar yang menyerupai keadaan yang sebenarnya.  Namun demikian, yang ingin dipesankan dalam tulisan pendek ini “kita tidak boleh coba-coba dalam pendidikan”, kita tidak boleh menjadikan siswa sebagai “kelinci percobaan”.  Pendidikan itu sifatnya irreversible, tidak dapat dikembalikan.  Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang komprehensif sebelum diterapkan secara massif.  Tentu diperlukan enersi dan dana yang cukup besar, sehingga sebaiknya pemerintah mendukung adanya upaya mengembangkan penelitian seperti itu.  Mari kita songsong sekolah digital, mari kita songsong pendidikan 6.0, yang dikembangkan oleh anak-anak bangsa.

Senin, 12 Juli 2021

TERNYATA ILMU ITU ADA MAZHABNYA

 

Minggu lalu bimbingan saya, Pak Ali Mustofa-dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ujian terbuka di program studi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya dan lulus dengan sangat baik. Sayang waktu kuliahnya melebihi 3,5 tahun, sehingga walaupun IPK-nya sangat tinggi Pak Ali Mustofa tidak cum laude.  Judul disertasinya Pengaruh Kepemimpinan Instruksional, Inovasi Manajemen, Etos Sekolah dan Community Engagement terhadap School Improvement pada Madrasah Tsanawiyah di Jawa Timur.

Menurut saya disertasi Pak Ali merupakan salah satu disertasi yang sangat baik.  Oleh karena itu hampir semua penguji puas dan memuji disertasi Pak Ali.  Bahkan Prof Ahyak dan UIN Tulungagung sebagai penguji luar mengatakan hasil penelitian disertasi Pak Ali layak masuk di jurnal internasional bereputasi. Prof. Yatim mengatakan pembahasan teori sangat bagus dengan mengkaji teori-teori mutakhir dari jurnal-jurnal terbaru.  Saya memuji kesungguhan Pak Ali karena saat disarankan untuk menganalisis temuan, khususnya saat beberapa hipotesis tidak terbukti, beliau melakukan dengan sungguh-sungguh.

Kajian kepemimpinan yang dilakukan Pak Ali Mustofa bertumpu pada teori-teori dari Scheerens dan Hallinger.  Memang dalam penelitian kuantitatif, kita boleh mendasarkan hipotesis pada teori-teori tertentu, asal didukung oleh argumentasi yang rasional mengapa menggunakan teori itu.  Argumen Pak Ali memilih teori dari Scheerens dan Hallinger dikaitkan dengan perilaku masyarakat madrasah yang sangat paternalis.  Menurut saya cukup dapat difahami.

Ketika ujian sudah selesai dan promovendus dinyatakan lulus sebagai promotor saya diminta memberikan semacam nasehat kepada doktor baru.  Itu tradisi yang berlaku di Unesa dan juga beberapa universitas lain.  Saat mengawali nasehat pendek, saya bertanya kepada Dr. Ali Mustofa apakah percaya dalam dunia keilmuan ada mazhab-mazhab seperti dalam keberagamaan.  Sebagai dosen UIN dan doktor pastilah faham tentang itu dan seperti yang saya harapkan Pak Ali menjawab, percaya.  Nasehat saya, ketika melakukan penelitian kuantitatif dan membangun hipotesis memang seseorang boleh mengacu kepada “mazhab” tertentu, namun tetap harus ingat ada mazhab yang lain.  Dalam bahasa sederhana, Scheerens dan Hallinger berada pada mazhab “struktural” yang dalam menjalankan manajemen mementingkan jalur-jalur struktur dan cenderung ke instruksi secara hirarkhi.  Sementara di ujung lain yang ada beberapa ahli yang lebih menekankan pada penumbuhan kesadaran dari dalam yang dilewatkan pada budaya (school culture). Leithwood dan Percy barangkali termasuk kelompok ini.

Ketika mengajar, maka berbagai “mazhab” dalam manajemen sekolah harus dibahas secara proposional, sehingga mahasiswa faham ada teori A, teori B, teori C dan sebagainya.  Termasuk kelebihan dan kekurangannya jika dikaitkan dengan suatu kondisi tertentu. Biarkan mahasiswa nanti dapat memilah dan memilih ketika akan menerapkannya, sesuai dengan konteks yang dihadapi.  Bukankan teori kepemimpinan situasional mengajarkan itu. Semoga.

Minggu, 11 Juli 2021

BOLA ITU BUNDAR DAN DIPLOMASI PENDIDIKAN

 

Minggu-minggu ini WAG atau obrolan di kalangan teman-teman saya tidak lepas dari Piala Eropa dan Copa America.  Masing-masing teman memiliki jago sendiri-sendiri dan mengulas pertandingan dengan caranya sendiri-sendiri.  Untuk Copa America relative tidak banyak variasi jago.  Tampaknya Argentina dan Brasil sejak awal telah diunggulkan oleh banyak teman. Walaupun deg-degan juga muncul ketika Argentina harus adu penaliti dengan Kolumbia.  Namun untuk Piala Eropa bola betul-betul bundar.

Pada babak awal, banyak teman-teman yang menjagokan Perancis dengan julukan Pangeran Biru dan Jerman dengan julukan Der Panser.  Tapi seiring perjalanan dan kedua tim tersebut tersingkir, analisis amatiran berkembang macam-macam.  Saya sebut amatiran karena memang yang banyak berkomentar adalah mereka yang tidak punya pengalaman bermaik bola.


Ketika Perancis dikalahkan oleh Swiss dan Jerman dikalahkan oleh Inggris, banyak teman-teman saya yang beralih menjagokan Inggris.  Berbagai alasan dikemukakan. Ada yang yakin karena tempat pertandingannya di Inggris sehingga tim akan mendapatkan moral yang kuat dan ada pula yang mengemukan macam-macam alasan.  Bahkan konon Pak Menpora juga menjagokan Inggris dan semula juga menjagokan Perancis.  Saya tidak tahu apakah Pak Menpora memang ahli sepekbola atau tidak.

Rasanya hampir tidak ada teman yang menjagokan Itali, walaupun Itali melaju ke babak final setelah mengalahkan Spanyol di semi final.  Tadi malam (pagi) ketika petandingan menjelang dimulai dan  Italia bertemu dengan Inggris, WAG teman-teman masih dipenuhi pujian untuk Tim Inggris. Apalagi ketika Inggris berhasil mencetak gol di awal pertandingan.  Namun seiring dengan pertandingan berjalan dan Tim Italia lebih banyak menguasai bola, komentar-komentar mulai bergeser. Bahkan ada yang mulai mengatakan kalau pola permainan itu berlangsung terus, Italia yang akan menjadi juara.

Ketika keadaan seimbang 1-1 sampai akhir babak perpanjangan waktu dan pertandingan harus dilanjutkan dengan adu pinalti, banyak teman-teman saya yang mengatakan Italia yang akan menang. Banyak argument yang diajukan. Ada yang mengatakan kipper Italia lebih hebat, ada yang mengatakan Tim Italia memiliki pemain dengan tembakan lebih baik, bahkan ada yang mengatakan Italia itu biasa membawa dukun ketika pertandingan bola.  Nah, ternyata saat adu pinalti, Italia benar-benar menang.

Saya bukan ahli sepak bola bahkan hanya bermain bola jeruk atau gulungan gedebog saat kecil di kampung jadi lebih banyak menjadi pendengar, baik di WAG ataupun obrolan langsung.  Yang saya coba memahami bukan permainan bola yang memang saya tidak punya pengetahuan memadai tentang itu, tetapi justru pada bagaimana pola pikir teman-teman dari obrolan selama dua kejuaraan sepak bola berlangsung.

Tampaknya pendapat atau pandangan teman-teman itu sangat dipengaruhi image yang ada di benak masing-masing.  Argumen yang diajukan, baik yang semula menjagokan Perancis maupun Jerman ternyata punya punya “sentuhan” dengan kedua negara tersebut.  Mungkin juga karena teman-teman itu pada umumnya bukankah orang yang benar-benar memiliki keahlian dalam sepak bola, sehingga “analisis” (kalau dapat disebut begitu) tidak benar-benar didasari oleh persepakbolaan tetapi oleh faktor-faktor yang yang melekat pada masing-masing orang.  Hal ini memperkuat konsep bahwa respons seseorang terhadap suatu input sangat dipengaruhi oleh frame of thought yang dimilikinya.  Sementara frame of thought itu terbentuk dari pengalaman yang dimilikinya.

Merenungkan ini saya jadi ingat kata-kata Dubes Myanmar sekian tahun lalu, saat saya diundang ke sana untuk mengisi kuliah umum di Pusat Studi Sejarah SEAMEO.  Saat itu Pak Dubes menceritakan alasan mendirikan Sekolah Indonesia Internasional Yangoon (SIIY) di Keduataan Besar Indonesia di Myanmar.  Sekolah itu perluasan dari Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) di Yangoon.  Jika di SILN muridnya pada anak-anak staf kedutaan besar dan anak orang Indonesia yang bekerja di Myanmar, murid SIIY adalah anak-anak Myanmar dan sebagian besar dari kalangan menengah.

Di SIIY anak-anak juga belajar Bahasa Indonesia (bahasa pengantar pembelajaran Bahasa Inggris) dan bahkan belajar Pancasila.  Menurut Pak Duber, SIIY merupakan salah satu pintu diplomasi mengenalkan dan membangun ikatan batin generasi muda Myanmar dengan Indonesia.  Dan tampaknya berhasil.  Saya sempat berjumpa alumni SIIY yang sekarang sedang sekolah penerbang.  Yang bersangkutan bercerita manfaat sekolah di SIIY dan bahkan memuji Indonesia. 

Saya juga teringat Kyai Prof. Dr. Asep Syaifuddin, MA pengasuh sekolah dan universitas Amanatul Ummah, yang memberi beasiswa kepada mahasiswa dari berbagai negara.  Berapa besar beasiswa yang diberikan?  Saya tidak tahu pasti, menurut Kyai Asep pokoknya cukup untuk makan ala pondok. Mungkinkan program beasiswa dari negara-negara lain untuk orang Indonesia juga bertujuan seperti itu? Semoga menjadi pembelajaran kita semua.

Minggu, 04 Juli 2021

GELOMBANG KEDUA COVID 19: PEMBELAJARAN YANG MAHAL

 Bahwa ada kemungkingan terjadi gelombang kedua dari pandemic covid-19 sudah dikemukakan banyak orang.  Beberapa negara juga telah mengalami.  India dan Inggri adalah contoh, namun dengan intensitas yang sangat berbeda.  Pemerintah Indonesia tampaknya juga melalukan antisipasi dengan melarang masyarakat mudik di saat Idul Fitri.  Penyekatan dilakukan di berbagai tempat ketika larangan itu mulai diberlakukan.  Namun toh, gelombang kedua tetap terjadi dan sampai hari ini belum diketahui kapan berakhir. Bahkan beberapa orang mengatakan, hari ini belum mencapau puncaknya.

Selaku orang awam, dalam hati saya bertanya-tanya.  Mengapa ini terjadi dan sepertinya lebih “gawat” dibanding yang pertama.  Apakah memang semua negara akan mengalami gelombang kedua dalam pandemic covid-19 ini?  Data menunjukkan, pada periode pertama puncaknya bulan Januari dan baru turun menjadi terendah bulan Mei.  Jadi proses penurunannya memerlukan wakatu 3 bulan.  Nah, jika bulan Juli ini menjadi puncak dan periode penurunannya sama dengan yang lalu berarti gelombang kedua baru selesai pada bulan Nopember 2021. 

Jujur saya tidak dapat membayangkan seperti apa akibatnya.  Tidak hanya bagi masyarakat tetapi juga bagi pemerintah.  Dengan PPKM tentu secara ekonomi banya pihak yang terdampak, khusunya bagi masyarakat kelas bawah.  Jika di warung, orang tidak boleh makan di tempat, saya tidak dapat membayangkan bagaimana penurunan pendapatannya. Bukan berarti saya tidak setuju dengan aturan di PPKM, saya setuju. Yang saya pikirkan bagaimana kehidupan pedagang makanan kelas bawah tersebut.

Walaupun bukan ahli ekonomi dan juga bukan pejabat, saya dapat membayangkan ketika ekonomi jeblok seperti sekarang ini tentu pendapatan negara yang mengandalkan pajak juga akan jeblok. Disisi lain, pemerintah harus mengeluarkan biaya sangat besar untuk menanggulangi covid-19.  Yang saya dengar pemerintah sudah mulai kedodoran untuk membayar biaya rumah sakit, karena pasien covid-19 ditanggung negara.  Belum lagi untuk bantuan sosial yang tentu memerlukan anggaran sangat besar.

Dilhat dari kacamata Pendidikan, pandemic covid-19 ini merupakan pembelajaran yang sangat mahal.  Kita harus mampu memetic pembelajaran darinya.  Kata pepatah, jangan sampai terantuk batu yang kedua kalinya.  Nah, lantas apa pembelajaran yang dapat kita petik? Bukan setiap peristiwa yang kita temui pada hakekatnya suatu pelajaran dari Allah swt. Mari kita melakukan refleksi dan mengingat kejadian sejak awal munculnya virus corona.

Pertama, seingat saya virus corona mulai muncul dalam pemberitaan sekitar Januari 2020.  Saat itu kebetulan saya sedang melaksanakan ibadah umroh dan berita tentang virus corona di Wuhan China sudah mulai gencar, sehingga ketika melihat jamaah dari China saya berpikir “lha ini mereka sehat wal-afiat”.  Tetapi semakin hari berita itu semakin banyak dan tampaknya semakin serius.

Namun demikian, kita bangsa Indonesia tampaknya begitu percaya diri, corona tidak ada masuk ke Indonesia.  Ada tokoh yang mengatakan virus corona tidak tahan panas dan karena Indonesia daerah tropism aka tidak dapat masuk ke Indonesia.   Tokoh lain, mungkin berkelakar, karena kita makan nasi kucing maka corona tidak mempan kepada badan kita. Nah, kelakar itu hilang bak ditelan bumi ketika ada seorang wanita muda (seingat saya seorang penari) terpapar.  Konon karena tertular temannya yang orang Jepang.  Itu kasus pertama yang terditeksi, tetapi mungkin juga sebenarnya sudah ada orang lain, yang terpapar tetapi tidak terlaporkan.   Baru setelah itu berkembang, masyarakat mulai heboh dan kalau tidak salah pertengahan Maret mulai ada pembatalan kegiatan ini dan itu. Saat itu saya sedang di Jakarta menghadiri serangkaian acara, di Dikti, DI GTK dan di Yayasan Pak Ponco Sutowo.  Hanya acara ketiga yang tetap berjalan, walaupun dengan peserta terbatas, sedang pertama dan kedua dibatalkan.  Selesai acara, saya juga langsung pulang ke Surabaya.

Jadi apa pelajaran pertama yang dapat dipetik?  Kita seperti meremehkan sesuatu yang tidak remeh. Mungkin juga karena pengetahuan kita belum banyak tentang virus corona, sehingga kita menganggapnya enteng.  Sayangnya ketika para pakar sudah mulai mengingatkan bahaya virus itu, kita masih saja mengabaikan.  Baru setelah banyak orang terpapar dan korban mulai berjatuhan, kita seakan terkaget-kaget.

Kedua, ketika pandemi covid-19 sudah berlangsung dan pemerintah mengeluarkan panduan bagaiamana berperilaku misalnya pakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan sebagainya, ternyata banyak diantara kita yang mengabaikan.  Menurut beberapa informasi di medos, banyak alasan mereka. Ada yang mengatakan lupa, merasa sulit bernapas jika memakai masker dan bahkan ada yang tidak percaya adanya virus covid-19.  Konon ada juga yang mengatakan “soal hidup mati itu urusan Yang Maha Kuasa”.  Bahkan ada yang dengan yakin mengatakan “lho tetap sehat, walapun kemana-mana dan tidak memakai masker”.

Jujur saya tidak mampu memahami argument tersebut. Bahwa hidup-mati itu urusan Allah swt itu sudah pasti. Namun menurut saya, toh kita diamanahi memelihara badan kita dan menggunakan masker, mencuci tangan dan sebagainya itu merupakan upaya memeliharan tubuh tersebut.  Sangat mungkin orang yang tetap sehat walaupun kemana-mana tanpa masker tersebut sebenarnya terpapar virus corona-19, namun kondisinya tetap sehat atau disebut OTG.  Nah, yang berbahaya OTG dapat menulari orang lain.  Banyak informasi, orang yang tidak pernah kemana-mana terpapar dan ternyata tertular anaknya yang sering pergi.

Apa pelajaran yang dapat dipetik dari kasus-kasus tersebut?  Tampaknya kita terlalu egois. Memang dirinya tidak merasa sakit, tetapi lupa kalua sangat mungkin menjadi pembawa virus kemana-mana dan akhirnya menulari orang di dekatnya.

Ketiga, beberapa hari lalu penjual nasi goreng yang mangkal di dekat rumah anak saya di Bintaro terpapar. Memang setiap sore beliau tetap buka melayani pembeli. Mungkin juga tertular pembeli atau entah dimana tertularnya.  Yang saya bayangkan, kalua beliau sakit terus tidak berjualan bagaimana nasib dia dan keluarganya.  Memang di masyarakat kita masih banyak saudara kita yang “bekerja hari ini untuk makan besuk”.  Itulah sebabnya saya bisa memahami ketika pemerintah tidak memutuskan lock down total dalam pengertian tidak boleh ada aktvitas yang sifatnya tidak urgen.

Merenungkan fenomena tersebut, saya membayangkan Korea Selatan yang ketika terkena problem ekonomi sekian tahun lalu, para pejabat ramai-ramai menyumbangkan gajinya, para orang kaya ramai-ramai menyumbang untuk mengatasi problem tersebut. Saya kok belum mendengar hal seperti itu ya?  Yang saya dengan Yayasan/Lembaga Sosial yang gencar mengumpulkan donasi untuk masyarakat yang terdampak.  Namun saya juga sangat gembira ketika melihat beberapa orang membawa nasi bungkus kemudian membagikan kepada orang abang becak, pembersih jalan dan sebagainya.  Tampaknya, diperlukan “Gerakan” untuk membantu saudara kita yang kesulitan akibat pandemi ini.  Semoga.

Kamis, 24 Juni 2021

MBKM DAN HEUTAGOGI

Jujur saya baru faham apa yang dimaksud Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari penjelasan Prof. Nizam (Dirjen Dikti) beberapa hari lalu.  Saat itu memang kami ngobrol santai bersama beberapa kawan, karena merasa kawan lama.  Nah di pertemuan semacam reuni sambil makan siang itu terjadi dialog santai tetapi dapat masuk ke hal-hal yang substansial. Apalagi dalam pertemuan itu ada Pak Nuh, Pak Yazidi, Pak Kacung, Pak Kemi yang sama-sama pernah mengalami bagaimana mengembangkan gagasan di Senayan.

Dari dialog itu saya menyimpulkan sebenarnya MBKM itu penerapan konsep heutagogy di era flat education yang dipicu oleh revolusi industri 4.0.  Dalam konsep heutagogy, siswa dan mahasiswa yang merancang kurikulum yang ingin dipelajari (individual based curriculum development).  Jadi dalam MBKM diinginkan mahasiswa menentukan sendiri apa yang ingin dipelajari.

Bagaimana dengan prodi tempat kuliah?  Misalnya, mahasiswa masuk ke prodi Teknik Mesin atau Matematika.  Mahasiswa harus menentukan karier apa yang nanti akan ditekuni setelah lulus dengan ijazah S1 Teknik Mesin atau S1 Matematika.  Nah berdasarkan pilihan karier itu, dapat diketahui bekal kemampuan apa yang diperlukan. Bekal kemampuan itu harus dipelajari dari matakuliah apa atau pengalaman kerja praktik apa atau bahkan pengalaman hidup seperti apa?  Jawaban dari pertanyaan itulah yang menjadi dasar seseorang merancang kuirkulum bagi dirinya.  Dengan demikian mahasiswa memperoleh bekal yang benar-benar cocok untuk karier yang diinginkan.

 

Memahami itu, tampaknya masih banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk dapat menerapkan MBKM dengan baik.  Pertama, si mahasiswa harus dapat menentukan karier atau pekerjaan apa yang diinginkan setelah lulus nanti. Misalnya lulusan S1 Teknik Mesin ingin berkarier dimana?  Di industri (lazimnya di bagian produksi, karena jarang yang industri yang memiliki R&D besar) atau ingin berkarier di lembaga penelitian atau ingin berkarier di bidang bisnis permesian atau bahkan ingin mendirikan UMKM bidang permesinan.  Memang semuanya berbasis Teknik Mesin, tetapi bekal untuk menekuni beberapa jenis karier tersebut di atas memerlukan bekal yang tidak tepat sama.

Jika lulusan S1 Teknik Mesin berkarier di industri permesinan tentu tidak menjadi teknisi.  Kalau toh mengawali sebagai teknisi tikdak akan lama.  Mungkin akan segera menjadi foreman dan bahkan kepala divisi. Dengan demikian memerlukan bekal di luar ke-Teknik Mesin-an, misalnya bagaimana memimpin anak buah.  Jika yang bersangkutan ingin mendirikan UMKM bidang permesinan, maka bekal “bisnis” tidak kalah penting, misalnya tentang keuangan-perbankan, marketing dan sebagainya.

Kedua, diperlukan penasehat akademik (PA) yang memahami berbagai jenis karier bagi mahasiswanya.  Jika mahasiswa mengatakan ingin berkarier di bidang tertentu (misalnya mahasiswa S1/D4 Teknik Mesin ingin berkarier di bisnis permesinan), PA harus dapat menunjukkan matakuliah ini yang diambil, baik di prodinya sendiri atau di prodi lain (misalnya masalah keuangan yang ada di prodi Manajemen Fakultas Ekonomi) atau bahkan praktik di industri mana yang relevan.

Ketiga, kurikulum harus ditata ulang.  Jika diasumsikan program S1/D4 terdiri 144 sks dan dalam MBKM memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk kuliah di luar prodi bahkan kerja praktik di industry selama semester senilai 40 sks, maka beban SKS yang tersisa 104 SKS.  Jika dikurangi lagi beban SKS matakuliah umum, seperti Pancasila, Bahasa Indonesia dsb, misalnya 10 SKS, sehingga matakuliah pokok di prodi tinggal 94 SKS.  Berarti bekal pokok tentang Teknik Mesin harus selesai dengan 94 SKS.  Nah disini diperlukan kecerdasan sekaligus kearifan.  Kecerdasan untuk menemukan materi esensial dan mendasar yanh harus dikuasai oleh lulusan S1 Teknik Mesin, kearifan diperlukan agar rela jika “bidang keahlian” kita tidak termasuk materi esensial, sehingga tidak menjadi matakuliah wajib bagi mahasiswa.

Ke-empat, di luar matakuliah wajib sebesar 94 sks tersebut, kurikulum program studi harus menyediakan sederet matakuliah pilihan, yang dapat dipilih oleh mahasiswa sesuai dengan karier yang diidamkan.  Apakah perkuliahan matakuliah pilihan diselengarakan di prodi Teknik Mesin?  Menurut saya tidak harus.  Jika mahasiwa perlu menempuh matakuliah marketing, ya biarkan diambil di Fakultas Ekonomi.  Atau bahkan boleh juga ditempuh melalui magang di perusahaan.  Namun demikian harus ada dosen yang bertanggungjawab terhadap matakuliah tersebut, yang tugasnya mengarahkan kemana kemampuan marketing dapat dipelajari dan memantau bagaimana mahasiswa menempuhnya.

Jadi bahwa dalam MBKM mahasiswa punya kesempatan menempuh 40 SKS dimana saja, bukan berarti semau-maunya.  Tetapi yang sesuai dengan kemampuan yang diperlukan guna menjalani karier yang telah dipilih.  Harus dihindari mahasiswa menempuh matakuliah atau praktik industry “seketemunya” yang justru bertentangan dengan konsep heutagogy.  Semoga.