Kamis, 28 September 2023

SERASA MENJADI TURIS KAYA

Sudah agak lama saya dengan isteri ingin berlibur melepaskan kejenuhan bekerja.  Kami berdua pernah diskusi bagaimana kalau berlibur ke Bali, menginap di hotel yang berlokasi di tepi pantai, sehingga dapat berjalan-jalan di pantai sambil menikmati sunset. Sayangnya sulit menemukan waktu yang cocok. Belum lagi mesti berhitung berapa budget yang harus dikeluarkan, agar dapat hotel yang nyaman.  Nah ketika LAMDIK punya program Penyamaan Persepsi sekaligus melakukan Asesemen Kecukupan pertama bagi asesor batch 4 dan dirancang dilaksanakan di Denpasar saya sangat sangat senang.  Apalagi jadwal mengajar isteri juga pas longgar sehingga bisa ikut.

 
Agar efisien, sebelum mengikuti acara Penyamaan Persepsi saya memutuskan untuk melakukan monev (monitoring dan evaluasi) pelaksanaan akreditasi di dua universitas di Denpasar, yaitu Universitas Mahasaraswati dan Universitas PGRI Mahadewa.  Kami melakukannya bertiga dan ditemani dua orang staf. Jadi kami berlima, yaitu Pak Aceng, Pak Muhdi, mbak Wati, Mas Rizal dan saya. Karena dalam satu hari harus melakukan monev di dua universitas, kami memutuskan harus dapat memulainya pukul 08.00, sehingga saya harus berangkat dari Surabaya pukul 06.00 dengan pesawat Super Air Jet. Alhamdulillah penerbangan dan perjalanan dari bandara Ngurah Rai ke Universitas Mahasaraswari juga lancar, sehingga kami hanya terlambat beberapa menit.

Monev berjalan lancar dan jujur saya kaget ketika semua dosen di kedua universitas tersebut menilai sistem IT, instrumen dan asesor LAMDIK sangat baik.  Dalam hati saya bertanya-tanya apakah mereka “takut” mendapat nilai jelek sehingga harus memuji LAMDIK. Tetapi ketika saya minta mereka memberikan alasan mengapa menilai baik, mereka memberikan contoh yang masuk akal.  Misalnya mengapa mereka menilai sistem IT LAMDIK baik karena mudah mengisikan data. Mereka juga mudah mendapatkan jawaban ketika ada masalah.  Mengapa menganggap instrument LAMDIK baik, karena mudah difahami dan cocok dengan prodi kependidikan. Bahkan mereka menitip pesan, agar instrument tidak dirubah walaupun ada Permendikbudristek nomer 53 Tahun 2023.  Mengapa menganggap asesor LAMDIK baik, karena “tidak galak” dan bahkan banyak memberikan bimbingan, misalnya dalam melaksanakan microteaching dan mengembangkan kurikulum.  Asesor juga melaksanakan Asesmen Lapangan (AL) sesuai dengan jadwal. Yang juga sangat menarik, di Universitas Mahasaraswati ada program studi yang sudah selesai AL tetapi belum masuk ke Majelis Akreditasi sehingga belum diumumkan hasilnya.  Saya tanyakan kepada Ketua Prodi berapa perkiraan skor yang diperoleh.  Ternyata tidak jauh berbeda dengan skor yang diberikan oleh asesor saat AL.  Artinya pemahaman asesor dengan dosen tidak jauh berbeda.

Apakah semuanya acara monev berjalan mulus?  Tidak.  Pertama, kami tidak sempat sarapan (makan pagi) saat di bandara Ngurah RAi karena mengejar waktu. Untuk “mengganjal” perut terpaksa segera makan kue yang disuguhkan saat monev di Universitas Mahasaraswati.  Untungnya kami bertiga, sehingga dapat bergantian ketika melakukan diskusi dengan pada dosen.  Kedua, kami salah memperhitungkan waktu sholat Jum’at. Berdasarkan informasi di Google, kami memperkirakan perjalanan dari Universitas PGRI Mahadewa ke masjid sekitar 15 menit. Oleh karena itu monev di universitas itu diatur selesai pukul 12.00.  Ternyata jaraknya jauh dan lalu lintas padat.  Akhirnya kami memutuskan musafir saja dan tidak ikut sholat Jum’at.

Jum’at sore dan Sabtu pagi LAMDIK belum punya kegiatan, karena Penyamaan Persepsi baru dimulai Sabtu jam 14.00.  Oleh karena saya dan isteru memanfaatkan waktu Jum’at sore dan Sabtu pagi untuk berjalan menyusuri pantai Kuta. Kebetulan kami menginap di hotel Inna Kuta yang lokasinya mepet pantai. Jadi saya dengan isteri menggunakan waktu pagi dan sore hari untuk berjalan menyusuri pantai Kuta, sambil menikmati sunset. Saya juga memanfaatkan kesempatan untuk belajar menjadi fotografer mengambil gambat sunset.  Yang mengagetnya, ternyata ada teman yang mengambil foto dan bahkan video saat kami berdua saat berjalan di pantai.  File dikirim via WA dengan ungkapan “pantas dicontoh”.  Mungkin maksudnya, sudah tua tapi rukun berjalan bersama di pantai.

Kegiatan Penyamaan Persepsi dimulai pukul 08.00 pagi dan pukul 17.00 sudah istirahat. Akhirnya Sabtu sore, Minggu pagi dan Minggu sore juga saya manfaatkan untuk jalan-jalan di pantai.  Sungguh menyenangkan.  Saya merasa seperti turis yang kaya, sehingga dapat menginap di hotel cukup baik, berlokasi tepat di tepi pantai Kuta dan tidak perlu memikirkan biayanya. Apalagi saya dan isteri mendapat kamar nomer 2338 yang jendelanya menghadap pantai dan konon kamar yang termasuk mahal sewanya. Dalam hati saya bersyukur dan terima kasih kepada teman-teman di LAMDIK yang mengatur acara di Denpasar.

Ketika lima kali jalan-jalan di pantai Kuta dan saat sore saya melihat ribuan orang melakukan hal yang sama, saya berpikir layak kalau saat Pandemi Covid 19 masyarakat Bali seakan merasa “kiamat”.  Bayangkan, seandainya jumlah orang yang jalan-jalan dan santai di pantai Kuta itu 2.000 orang dan setiap orang mengeluarkan biaya 200 ribu untuk makan dan minum setiap hari, berarti di sekitar Kuta terbelanjakan uang 400 juta rupiah. Jumlah uang yang sangat besar, sehingga jika itu hilang akan sangat berdampak terhadap kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari pariwisata tersebut.

Rasa gembira bertambah saat menyaksikan kegiatan Penyamaan Persepsi berjalan lancar dan mendapat laporan dari Prof. Ekohariadi sebagai Ketua Divisi Akreditasi bahwa hampir semua prodi yang di AK sudah dapat diselesaikan.  Para asesor batch 4 yang baru pertama kali melaksanakan AK menyatakan senang dan merasa dapat belajar banyak dari asesor yang lebih “senior” yang sudah beberapa kali melaksanakan akreditasi. Semoga tahap selanjutnya, yaitu AL bagi prodi tersebut juga berjalan lancar.

Minggu, 10 September 2023

ETIKA PENELITIAN

Selasa tangal 29 Agustus 2023 saya diundang oleh Universitas Ciputra Surabaya (UC) untuk menyampaikan pengalaman tentang etika penelitian.  Saya agak kaget menerima permintaan tersebut, karena: (1) Saya sudah pensiun sebagai dosen PNS sehingga intensitas saya dalam penelitian sudah jauh menurun. Bukan karena tidak kepengin meneliti, tetapi fasilitas untuk itu sudah sangat terbatas. Memang saya masih menjadi dosen dengan NIDK, tetapi hak dan kuwajibannya hanya untuk bidang pendidikan, katakankah memberi kuliah dan membimbing penyusuan skripsi/tesis/disertasi. (2) Dengan usian di atas 70 tahun tentu saya harus menghemat enersi, sehingga menghindari penelitian lapangan yang harus mengumpulkan data sendiri.

Etika penelitain sebenarnya sudah banyak dibahas oleh berbagai buku.  Gambar di sebelah saya ambil dari suatu situs tertentu, dan itu saya pilih karena paling sederhana dan mudah difahami. Pertama, jujur (honesty), artinya peneliti tidak boleh bohong dan tidak boleh menyembunyikan sesuatu data/ informasi yang seharus dibuka kepada publik. Tentu dengan memperhatikan nilai/norma yang berlaku. Kedua obyektif, artinya dalam memberikan penilaian harus apa adanya dan tidak dipengaruhi oleh subyektivitas.  Obyektif dalam penelitian kuantitatif dipadankan dengan valid atau sahih dan dalam penelitian kualitatif dipadankan dengan keabsahan data. Ketiga akurat, artinya dalam pengukurannya harus akurat.  Ibarat menimbang emas jangan menggunakan timbangan beras karena kurang akurat, demikian pula jika mengukur persetujuan orang terhadap suatu gagasan jangan hanya ditanya setuju atau tidak, karena ada yang sangat setuju atau sekedar setuju dan juga da yang tidak setuju atau bahkan ada yang sangat tidak setuju. Ke-empat efisien, artinya penelitan harus fokus pada apa masalah yang ingin ditemukan dan tidak melebar kemana-mana.  Dalam bahasa lain, penelitian tidak perlu terlalu luas tetapi harus mendalam dan itu artinya fokus pada apa yang ingin ditemukan.

Apakah pelanggaran etika yang sering terjadi dalam penelitian?  Menurut pengalaman saya membimbing mahasiswa, ada tiga jenis yaitu plagitasi, falsifikasi dan fabrikasi.  Tentang plagiasi semua orang faham yang artinya menyontek tulisan orang lain. Yang seringkali lebih mengganggu mengutip dari kutipan tetapi tidak menyebutkan yang dikutip.  Pernah saya mencurigai mahasiswa yang mengutip artikel di suatu jurnal, tetapi ketika saya tanya isi jurnal secara utuh tidak dapat menjawab. Ternyata yang bersangkutan mengutip dari tulisan orang yang mengutip jurnal tersebut.  Tetapi dia “mengaku” mengutip langsung ke jurnalnya.

Falsifikasi yang sering terjadi adalah mengubah data dan itu sering ketika datanya tidak normal kemudian diubah agar normal sehingga memenuhi syarat untuk dianalisis dengan metoda tertentu.  Atau kadang-kadang ketika hipotesis yang diajukan tidak terbukti, kemudian datanya diubah agar menjadi terbukti. Kejadian tersebut terjadi karena si peneliti tidak tahu kalau ada metoda analisis lain yang tidak mensyaratkan datannya normal.  Yang bersangkutan juga tidak faham bahwa hipotesis tidak harus terbukti di lapangan. Yang penting harus dapat menjelaskan beberapa kemungkinan mengapa tidak terbukti. Bahkan hipotesis yang tidak terbukti membuka peluang untuk menyempurnakan teori yang digunakan untuk membangun hipotesis tersebut.

Apa yang disebut fabrikasi?  Mengarang data, pada hal yang bersangkutan tidak melakukan pengumpulan data. Biasanya kejadian seperti itu ketika si peneliti pernah melihat penelitian sejenis dan tahu bentuk dan skala datanya seperti apa.  Berdasarkan itu kemudian yang bersangkutan mengarang data penelitiannya.  Bagi penguji atau penelitian yang berpengalaman data hasil fabrikasi mudah terlihat karena biasanya ada yang janggal.

Terhadap yang saya paparkan praktis tidak ada yang mempertanyakan. Namun pada saat diskusi ternyata justru muncul pertanyaan yang menarik.  Ada yang menyampaikan pernah mendapat tawaran dari suatu perusahaan yang dapat membantu dalam pemilihan sampel dan pengumpulan data.  Perusahaan tersebut menyatakan mempunyai ribuan data orang dengan tingkat pendidikan, pekerjaaan dan sebagainya. Dengan begitu sangat mundah mencari subyek penelitian atau informan yang cocok.  Terhadap infomasi itu kemudian berkembang diskusi, dari mana perusahaan tersebut mendapat data. Bukankah data pribadi seperti itu bersifat rahasia. Jangan-jangan data tersebut merupakan data tidak legal, artinya diperoleh dengan cara tidak sah.

Seorang dosen UC yang lain justru bercerita ketika bekerjasama dengan peneliti senior di negara maju pernah ditanya ethical clearance, ketika mengumpulkan data penelitiannya.  Artinya apakah dalam mengumpulkan data mememuhi standar etika yang berlaku.  Dengan kata lain, etika dalam pengumpulan data juga harus mendapat perhatian.  Mendengar penjelasan itu, saya jadi teringat ketika menguji disertasi S3 tentang proses pembelajaran di Akademi Kemiliteran.  Promovendus meminta taruna mengisi kuesioner untuk “menilai” proses belajar-mengajar oleh dosen dan setiap taruna menyebutkan nama dalam kuesioner tersebut.  Secara berkelakar saya menyebutkan pasti tidak ada taruna yang menilai proses belajar-mengajar dosennya tidak baik. Taruna pasti takut mengatakan yang sebenarnya karena dapat diketahui oleh dosen dan itu akan sangat beresiko bagi yang bersangkutan.

Pertanyaan lain yang muncul bagaimana etika bagi dosen pembimbing/promotor yang ingin namanya masuk di artikel yang ditulis bimhingannya.  Sebenarnya itu sudah merupakan kelaziman di dunia internasional. Namun, dosen pembimbing sebagai co-writer dan bukan first writer.  Bagaimana kalau seorang dosen yang membimbing beberapa mahasiswa kemudian ingin memanfaatkan datanya untuk dianalisis dengan cara lain yang berbeda dengan yang dikerjakan oleh mahasiswa.  Menurut saya itu boleh, selama disebutkan dari mana data yang digunakakan.  Saya beberapa kali menggunakan data hasil akreditasi BAN SM dan juga LAMDIK untuk saya analiais dan menjadi artikel d jurnal. Tentu harus seijin yang “memiliki” data, sebagai sebuah ethical clearance.

Menjelang usai muncul pertanyaan, bagaimana kalau ada dosen senior yang meminta yuniornya memasukkan namanya dalam suatu artikel yang sedang ditulis. Dengan berkelakar saya mengatakan “kalau tida ikut bekerja apakah layak mendapat upah”.  Maksudnya kalau senior tersebut tidak ikut terlibat dalam penelitian, apa yang pantas namanya dicantumkan.  Respons saya ditanggapi oleh peserta lain bahwa hal seperti itu terjadi dan yang Yunior tidak berani menolak.  Semoga itu hanya merupakan kasus dan tidak banyak terjadi di negeri ini.

Kamis, 27 Juli 2023

VIETNAM MENJADI PERHATIAN DUNIA

Akhir-akhir ini Vietnam menjadi perbincangan masyarakat internasional.  Banyak barang yang aslinya produk Jepang, Korea Selatan dan beberapa negara maju lainnya, kini dengan merk yang sama tetapi dibuat atau dirakit di Vietnam. Dalam dunia olahraga, Vietnam juga sudah diperhitungkan, paling tidak di tingat Asean. Beberapa orang Vietnam juga sudah mulai menjadi tenaga profesional di lembaga internasional, walaupun belum menduduki jabatan strategis.  Pada hal kita tahu, dibanding negara-negara di Asean lainnya (kecuali Myanmar), Vietnam termasuk paling belakang memulai pembangunan, setelah dilanda peperangan.  Seorang kawan mengatakan, Vietnam itu seperti raksasa yang baru bangun tidur terus menggeliat mengagetkan orang di sekitarnya.

Dalam bidang pendidikan, hasil harmonized test score siswa Vietnam juga mengagetkan bahwa ahli.  Gambar berikut menunjukkan harmonized test score siswa Vietnam melampaui negara-negara di Asean, keculai Singapore yang memang terkenal memiliki pendidikan dengan mutu sangat baik.  Hasil tersebut juga melampaui  China, Turkey, Argentina, India dan Afrika Selatan.  Pada hal dari sisi ekonomi yang diindikatori dengan GDP per kapita Vietnam lebih miskin dari negara-negara tersebut.  Jika mutu SDM merupakan salah satu faktor kemajuan bangsa dan pendidikan merupakan salah satu pilar utama peningkatan mutu pendidikan, maka apa yang terjadi di Vietnam menarik untuk dikaji. Majalah The Economist 29 Juli 2023 secara khusus membahas masalah tersebut.


Dari berbagai bacaan dan pengamatan ketika berkunjung ke Vietnam, berikut ini yang saya duga menjadi faktor utama mengapa mutu pendidikan di Vietnam sangat baik.

 

1.   Rasa Percaya Diri Orang Vietnam Sangat Tinggi

Kalau kita bertemu dan berdiskusi dengan teman dari Vietnam, kita akan merasakan bertapa orang Vietnam sangat percaya diri.  Mereka mengakui bahwa negaranya miskin tetapi yakin akan pada saatnya akan menjadi negara besar.  Mereka sering membanggakan bahwa hanya bangsa Vietnam mampu mengalahkan negara besar, yaitu Amerikan Serikat.  Dan ternyata itu memang secara sistematis ditumbuhkan di sekolah.  Cerita dalam Perang, bahwa tentara bersama-sama rakyat Vietnam mampu mengusir Amerika Serikat telah menjadi pengetahuan anak-anak kecil. Guru setingkat SD sepertinya secara sistematis menanamkan pengetahuan tersebut, sehingga menumbuhkan rasa percara diri pada siswanya. Kalau meminjam istilah yang digunakan oleh Carrol Dweck, pendidikan di Vietnam sejak di tingkat bawah sudah menumbuhkan growth mindset, yang sangat penting dalam mengembangkan diri selanjutnya.

 

2.  Walaupun Masih Miskin, tetapi Kesadaran akan Pentingnya Pendidikan Sangat Bagus Di Masyarakat Vietnam. 

Walaupun miskin orang Vietnam ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang bermutu.  Oleh karena itu akan berusaha dengan segala cara agar anaknya dapat masuk ke sekolah yang diyakini bermutu bagus. Mungkin itu diilhami oleh ungkapan Ho Chi Minh, founding father Vietnam yang mengatakan “For the sake of ten years’ benefit, we must plant trees. For the sake of a hundred years’ benefit, we must cultivate the people”.  Sebenarnya ungkapan tersebut bukan asli dari Ho Chi Minh, karena sama dengan ungkapa di China.  Namun karena siswi masyarakat di Vietnam sangat paternalistik, mereka meyakini itu pesan dari Sang Pendiri Negaranya.

 

Kesadaran masyarakat tersebut akhir-akhir ini dikapitalisasi oleh kebijakan pemerintah, dengan mengatakan bahwa orangtua harus bergandeng tangan dengan sekolah dalam menangani pendidikan.  Orang tua harus dengan sungguh-sungguh memantau dan bahkan mendampingi anaknya belajar.  Mungkin juga ini diilhami oleh pengalaman Shanghai yang juga melibatkan secara aktif orang tua dalam proses pendidikan dan terbukti mampu meningkatkan mutu pendidikan.

 

3.     Pembelajaran di Sekolah Sangat Efektif.

Ketika berkunjung ke sekolah-sekolah di Vietman kita akan menyaksikan betapa efektifya proses pembelajaran di kelas.  Tampak sekali guru sangat sungguh-sungguh dalam bekerja membimbing muridnya.  Improvisasi guru di kelas juga sangat mengesankan. Mereka berani keluar dari pakem mengajar agar siswanya menikmati situasi pembelajaran.  Tampaknya manajemen sekolah juga memberi keleluasaan kepada guru untuk berimprovisasi dalam mengajar. dan

Apakah pendidikan gurunya sangat  tinggi?  Ternyata tidak. Bahkan banyak guru yang latar belakang pendidikannya belum sarjana.  Pelatihan yang dilakukan secara rutin, pengelolaan guru yang dilaksanakan secara baik dan kesungguhkan bekerja sebagai bagian dari pemerintah, tampaknya membuat kinerja guru sangat baik.

 

4.     Manajemen Pendidikan Terpusat dan Efektif. 

Manajemen pendidikan di Vietnam terpusat dan sangat ketat kontrolnya.  Penggunaan anggaran di Vietnam dikontrol dengan ketat.  Waktu ngobrol dengan beberapa kepala sekolah, saya mendapatkan kesan anggaran sekolah benar-benar diarahkan ke proses pembelajaran, bukan sarana fisik.  Oleh karena itu jika dilihat tampilan luarnya, gedung sekolah dan bahkan kampus perguruan tinggi di Vietnam termasuk sangat sederhana.  Namun peralatan yang digunakan oleh guru dalam mengajar cukup baik.

Sabtu, 22 Juli 2023

SEKOKAH NEGERI VS SWASTA SEMAKIN TIDAK RELEVAN

 Beberapa hari lalu, sebuah stasiun radio di Surabaya mendiskuasikan PPDB (Penerimaan Peserta DIdik Baru) dengan sistem zonasi yang tahun ini banyak menimbulkan masalah di berbagai daerah.  Banyak orangtua yang protes karena anaknya tidak diterima, pada hal merasa sekolahnya dekat dengan sekolah yang dituju.  Yang diterima justru anak dari yang rumahnya lebih jauh dari sekolah. Di tivi bahkan ditunjukkan adanya orang yang membawa meteran untuk mengukur jarak rumahnya dengan sekolah. Mungkin untuk mendramatisasi bahwa rumahnya hanya beberapa meter dari sekolah tetapi anaknya tidak diterima.

Dari berbagai informasi kemudian diketahui bahwa banyak orang tua yang “kreatif”.  Karena jarak antara rumah dan sekolah menjadi pertimbangan utama diterima-tidaknya dalam PPDB, mereka mencari akal agar “jarak rumahnya dengan sekolah dekat”.  Karena tidak mungkin memindah rumah, maka yang mungkin memindah alamat.  Karena tidak mudah memindah alamat seluruh keluarga, maka yang lebih mudah memindah alamat si anak, dengan cara menitipkan anaknya ke keluarga atau teman yang dekat dengan sekolah yang dituju, walaupun dalam kehidupan sehari-hari sebenarnta anak tersebut tetap tinggal di rumah aslinya.  Muncullah istilah “titip alamat”.

Beberapa hari kemudian stasiun radio yang sama mendiskusikan mengapa banyak SD negeri tidak mendapatkan siswa baru, pada hal gratis. Sementara SD swasta yang lokasinya tidak jauh dari situ tetap mendapatkan siswa baru bahkan beberapa diantaranya menolak pendaftar, walaupun mereka menarik SPP cukup mahal.  Ketika dibuka tanggapan dari pendengar, ternyata muncul pendapat yang berbeda apakah memilih sekolah negeri atau swasta.  Ada yang mengutamakan sekolah negeri karena gratis dengan catatan mutunya baik.  Ada yang mengutamakan mutu walaupun harus membayar. Negeri swasta tidak menjadi pertimbangan.

Merenungi kedua diskusi di radio itu sungguh menarik.  Ketika belum ada sistem zonasi dan saat itu masih ada UN (ujian nasional), sekolah negeri yang mutunya bagus menjadi rebutan.  Bahwa orang tua rela menyumbang sekolah dengan nilai cukup besar agar anaknya diterima. Ketika sumbangan seperti itu dilarang, banyak sekolah yang kreatif.   Yang menerima sumbangan bukan sekolah tetapi Komite Sekolah (organisasi persatuan orangtua siswa).  Nanti Komite yang membelikan sesuatu atau mengadakan acara tertentu untuk sekolah.

Sekolah swasta lebih bebas menarik sumbangan.  Jadi umumnya sekolah swasta yang mutunya bagus menarik sumbangan yang cukup besar dan toh tetap saja pendaftaranya banyak.  Sementara sekolah swasta yang kurang bermutu seringkali kesulitan mendapatkan siswa, walaupun SPP-nya rendah.  Sekolah seperti itu yang protes ketika sekolah negeri menambah kuota siswa baru karena dianggap “mengambil” peluangnya.

Apa yang sebenanya terjadi? Menurut saya fenomena tersebut menunjukkan adanya gejala segmentasi masyarakat dalam memilih sekolah bagi anaknya, seperti pada gambar berikut.

Orangtua yang sangat penduli pada pendidikan anaknya akan berusaha mencari sekolah yang diyakini baik, demi masa depan anaknya.  Negeri atau swasta tidak penting.  Bagi yang kaya, mereka akan memilih sekolah “terbaik” walaupun harus membayar mahal.  Di di daerah tempat tinggalnya sekolah yang diinginkan tidak ada, mereka akan mengirim anaknya ke daerah lain atau bahkan ke luar negeri.   Itulah, mengapa banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya di kota lain atau di negara lain.

Bagi mereka yang ekonominya terbatas tetapi peduli pendidikan anaknya, mereka akan berusaha memasukkan ke sekolah negeri yang mutunya baik, karena gratis. Jika itu tidak mungkin mereka akan mencari sekolah swasta yang mutunya cukup baik, dan SPP-nya terjangkau.

Orangtua yang kaya tetapi kurang peduli pada mutu pendidikan, biasanya memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah favorit atau sekolah yang bergengsi. Negeri swasta tidak penting. Membayar mahal juga tidak masalah, toh ada uang untuk itu.   Orangtua yang secara ekonomi kurang baik dan juga tidak peduli pada pendidikan, akan mengirim anaknya ke sekolah terdekat yang gratis atau murah.  Yang penting anaknya bersekolah, mutunya tidak penting.

Senin, 22 Mei 2023

PENGUKUHAN PROF GANEFRI SEBAGAI DATUAK DJUNJUNGAN NAN BAGADIANG

Sabtu 20 Mei 2023 saya diundang untuk menghadiri Alek Batagak Pangulu Prof Ganefri, PhD Datuak Djunjungan Nan Bagadiang di Rumah Gadang Suku Banuhampu Kabupaten Limapuluh Kota.  Ketika saya cari di google map, ternyata lokasinya di kota Payakumbuh, sebuah kabupaten paling timur utara propinsi Sumatra Barat, berbatasan dengan propinsi Riau.  Sekitar 1.5 jam perjalanan dengan mobil dari Bukit Tinggi.

Jujur saya sangat ingin hadir karena itu merupakan upacara adat yang tidak selalu ada setiap saat. Saya bersama isteri berangkat dari Jakarta dengan Garuda pukul 16.10 dan landing di bandara MInangkabau sekitar pukul 18.00. Dijemput oleh Mas Randi, staf Pascasarjana FMIPA UNP, kami langsung bermobil menuju Bukit Tinggi, agar besuk pagi dapat langsung ke lokasi acara. Bu Prof Sofia, Direktur Sumberdaya Lamdik, sudah lebih dahulu sampai Bukit Tinggi dan memberi informasi bahwa semua hotel yang bagus di Bukit Tinggi penuh dan terpaksa kami harus menginap di hotel kecil, yaitu Hotel Nikita.  Saya sampaikan ke beliau “tidak apa-apa, toh hanya untuk tidur semalam”, karena besuknya pukul 06.30 harus sudah berangkat ke Payakumbuh.

Ternyata makan pagi di hotel Nikita baru mulai pukul 07.00 pada hal kami ingin berangkat pukul 06.30, sehingga kami minta secara khusus agar sarapan kami dikirim ke kamar.  Alhamdulillah, Sabtu pagi sekitar pukul 06.00 sarapan dikirim ke kamar, sehingga kami sarapan nasi goreng yang sangat enak, walaupun untuk lidah saya agak pedas. Selesai sarapan, kami segera siap-siap berangkat. Mas Randi juga sudah siap, sehingga kami langsung berangkat.

Lalu lintas Bukit Tinggi-Payakumbuh ternyata cukup padat, karena merupakan rute antara Bukit Tinggi dan Pekanbaru, antara propinsi Sumatra Barat dan Riau.  Jalannya cukup bagus tetapi sempit. Beberapa kali mobil kami harus berjalan pelan di belakang truk, sebelum dapat kesempatan mendahului. Mendekati lokasi acara Mas Randi dapat informasi kalau di tempat acara sudah macet karena banyak mobil tamu.  Saya memberi komentar, ya kalau perlu nanti kita jalan kaki. Dan betul, begitu kami sampai lokasi antrean mobil cukup panjang dan kami harus berhenti sekitar 50 meter dari tempat upacara dan kami harus jalan kaki.

Sambil berjalan saya amati karangan bunga ucapan selamat sangat banyak dan dipasang berjajar sepanjang jalan masuk.  Tidak hanya dari kalangan UNP, tetapi juga dari rektor dari berbagai universitas karena Prof Ganefri menjadi ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri. Juga dari beberapa pejabat Sumatra Barat serta beberapa dari Jakarta.  Dari karangan bunga tersebut menunjukkan bahwa Prof Ganefri adalah seorang tokoh masyarakat.

Begitu sampai lokasi, kami ketemu Dr. Yulkifli, Dekan FMIPA UNP dan tampaknya memang beliau diminta menemami kami.  Di halaman Rumah Gadang ada tenda khusus yang disitu diisi oleh bapak-bapak yang mengenakan pakaian mirip toga guru besar.  Ternyata beliau-beliau itu pada datuak yang mengikuti upacara.  Saya baru faham ternyata jumlah datuak itu cukup banyak, karena dosen UNP yang “bergelar” datuak ada 25 orang.  Pak Yulkufli menjelaskan bahwa datuak itu semacam “ketua suku”, sehingga berapa jumlah datuak menggambarkan jumlah suku di Minangkabau. Prof Ganefri berasal dari suku Banuhampu.  Datuak dipilih dalam musyawarah suku yang berangkutan dan bukan dari keturuan.

Ketika acara dimulai, Prof Ganefri sebagai “calon” datuak datang disambut tarian adat, saya berdiri di dekat pintu masuk Rumah Gadang agar dapat mengambil foto. Ternyata Prof Ganefri mengirim WA agar saya ikut masuk Rumah Gadang.  Tentu saya mau, karena akan dapat melihat langsung bagaimana jalannya upacara.

Rumah Gadang terdiri dari 3 bagian. Paling depan sepertinya untuk tamu perempuan, bagian tengah untuk tamu laki-laki dan bagian dalam untuk datuak yang dikukuhkan. Saya disilahkan duduk di ruang dengan bersama para datuak dan beberapa pejabat tertentu.  Kami semua duduk bersila dan terdiri dari dua lingkaran. Satu lingkaran untuk para datuak.  Lingkaran dimana saya duduk, sepertinya untuk tamu non datuak. Ada Menteri Desa (Gus Halim), ada Wakil Gubernur Sumbar, Ketua DPRD Sumbar, Bupati Limapuluh Kota, Kapolres Payakumbuh dan Ketua Datuak se Sumbar (saya lupa nama resmi jabatan tersebut). Saya duduk diantara Wakil Bupati Sumbar dan Ketua DPRD Sumbar.

Upacara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an disambung dengan do’a oleh salah seorang datuak senior. Setelah itu ada patatah-patitih dari para datuak yang dilaksanakan seperti saut-sautan.  Disampaikan dalam bahasa Minang, sehingga saya tidak faham.  Mungkin dapat menangkap sedikit-sedikit karena bahasa Minang ada kemiripan dengan bahasa Indonesia. Penangkapan saya patatah-patitih itu semacam nasehat atau kata-kata bijak. Namun menurut Pak Ketua DPRD Sumbar yang duduk di sebelah kiri saya, juga ada bagian yang menanyakan apakah calon datuak yang akan dikukuhkan mampu melaksanakan ungkapan bijak yang disampaikan para datual senior tersebut. Patatah-patitih cukup panjang, mungkin lebih dari 1,5 jam. Bahkan menurut Pak Ketua DPRD dapat berlangsung berjam-jam sampai para datuak yakin sang calon datuak dapat melaksanakan ungkapan bijak tersebut.

Setelah patataah-patitih selesai ditandai dengan ungkapan hamdallah oleh seorang datuak senior, upacara dilanjutkan dengan pengukuhan Prof Ganefri sebagai datuak Djunjungan Nan Bagadiang dengan simbul pemasangan “mahkota” berupa ikat kepala yang telah disiapkan. Setelah itu dilanjutkan semacam nasehat dari datuak senior yang memasangkan “mahkota” tersebut.  Ternyata, disamping pengukuhan datuak baru, juga ada penganugerahakan gelar kepada Menteri Desa, dengan sebutan Sutan Khafilah.

Selanjutnya ada serangkaian sambutan, mulai dari Ketua Datuak Sumbar, Bupati Lima Puluh Kota, Ketua DPRD Sumbar, Wakil Gubernur, Menteri Desa dan diakhiri sambutan dari Prof Ganefri sebagai datuak baru.  Jadi semacam parade sambutan.  Upacara diakhiri dengan makan siang sekitar pukul 12an.  Jadi upacara berjalan sekitar 2,5 jam dan semua yang ada di dalam Rumah Gadang harus duduk besila.  Mungkin berat bagi yang tidak terbiasa.  Selamat Prof Ganefri PhD Datuak Djunjungan Nan Bagadiang.

Senin, 01 Mei 2023

UMROH NUNUT

 Tahun ini merupakan keburutungan bagi saya, karena mendapat tugas mengakreditasi SIM (Sekolah Indonesia di Makkah), sehingga bisa umrah “gratis”.  Apalagi tugas itu dilaksanakan bertepatan dengan bulan Ramadhan.  Dapat dibayangkan betapa saya berutung, karena jika ikut rombongan umrah seperti lazimkan, tentu biayanya sangat mahal.  Memang jatah tugas dinas hanya 4 hari termasuk perjalanan, 1 hari perjalanan berangkat, 2 hari melakukan akreditasi, dan 1 hari perjalanan pulang. Jadi kali ini saya melakukan “umrah nunut” tugas akreditasi.

Karena ingin melakukam umrah, saya dengan Pak Malik (teman sesama bertugas) harus memperpanjang waktu tinggal di Makkah atas biaya sendiri.  Saya menambah 2 hari sedangkan Pak Malik menambah 4 hari karena ingin juga ke Madinah.  Tentu kami harus mencari akal, agar biaya yang diberikan BAN SM cukup untuk menambah hari tersebut.  Untungnya Pak Mubarak (Wakil Kepala SIM yang kelahiran Makkah) dapat mencarikan hotel yang tidak terlalu mahal tetapi lokasinya dekat dengan Masjidil Haram. 

Kami harus mengatur waktu dengan efisien. Oleh karena itu begitu datang di Jeddah hari Minggu pada tanggal 2 April 2023, kami langsung melaksanakan umrah. Kami mengambil miqat di Jeddah dan sekitar jam 10an berangkat ke Makkah dengan diantar oleh Pak Mubarak.  Kami didamping oleh seorang guru Tafidz SIM (Pak Sinsin Rosyidin).  Karena beliau tinggal di Makkah dan tidak ikut ke Jeddah (dijemput di rumahnya di Makkah), maka beliau mengambil miqat di Tan’im. Jadi walaupun sudah mengambil miqat dsi Jeddah kami ikut ke Tan’im.

Alhamdulillah umrah kami berjalan lancar. Sebenarnya lutut kiri saya sakit dan saya menggunakan decker. Bahkan hari Kamis sebelum berangkat, saya ke dokter ortopedi dan diberi obat oles Voltaren dan obat anti sakit untuk diminum kalau terasa nyeri.  Walaupun tahu kalau jama’ah umrah sangat banyak, kami memutuskan untuk tawaf di plataran ka’bah.  Memang penuh jama’ah tetapi jarak putaran tentu lebih pendek dibanding jika tawaf di lantai 2 atau lantai 3.Ketika tawaf saya berusaha berjalan dengan hati-hati agar kaki kiri tidak keseleo.  Ternyata sampai tawaf selesai lutut tidak terasa sakit.  

Selesai melakukan tawaf dan sholat sunah 2 rakaat serta berdo’a, kami dipandu Pak Sinsin menunju lokasi sa’I, yang ternyata sangat banyak jama’ah yang sedang melaksanakan sa’i. Segera kami membaur dengan jama’ah lainnya.  Di tengah-tengah sa’i terdengar adzan dhuhur sehingga kami berhenti ikut sholat dhuhur di lokasi sa’i.  Untunglah kami memiliki wudhu sehingga langsung saja mencari shaft untuk sholat.  Selesai sholat kami mencari tempat air Zamzam untuk membasahi muka dan kepala, sekedar agar lebih segar. Alhamdulillah, sa’I berjalan lancer dan lutut saya tidak sakit.

Selesai sa’i dan sholat sunah 2 rakaat plus berdo’a, kami ingin tahalul. Karena tidak membawa gunting kami meminjam gunting ke jama’ah lain. Pak Malik ternyata ingin potong rambut. Memang sejak pandemi covid 19 beliau memelihara rambut sehingga sampai sebahu.  Pak Sinsin mengajak kami keluar masjid dan mencari tempat potong rambut.  Saya komentari, ternyata untuk potong rambut Pak Malik menunggu umroh lebih dahulu.

Selesai umrah kami dijemput Pak Mubarak dan diantar ke hotel.  Ternyata kamar belum siap, sehingga harus menunggu sekitar 1 jam.  Setelah mendapat kamar dan istirahat sebentar, kami kembali ke masjidil haram untuk sholat ashar, magrib, isya dan tarawaih.  Bagaimana dengan buka puasa?  Tersedia melimpah.  Begitu menjelang magrib, ada orang menggelar plastik di depan shaf dan kemudian banyak jamaah yang meletakkan kurma, roti dan sebagainya di depan setiap jamaah. Ada juga yang menawari teh hangat.  Pokoknya makanan untuk buka puasa melimpah.

Bagaimana dengan pelaksanaan sholat tarawih?  Ini pertama kali saya ikut sholat tarawih di masjdil haram. Informasi yang selama ini saya dapat, sholat tarawih di masjdil haram 23 rakaat, mungkin mirip di kampung saya. Oleh karena itu, saya dan Pak Malik sudah siap untuk tarawih 23 rakaat, walaupun sangat mungkin surah yang dibaca imam panjang-panjang, sehingga waktu sholat menjadi lama.  Ternyata saya keliru.  Bahwa surat yang dibaca imam panjang-panjang memang benar, tetapi saya agak bingung karena setelah selesai 10 rakaat diselingi sholat janazah dan setelah itu sholat 2 rakaat berikutnya dengan surat pendek-pendek.  Di akhir rukuk kedua ada do’a yang cukup panjang.  Setelah itu sholat lagi tetapi hanya 1 rakaat dan salam.  Jadi tarawih di masjidil haram yang saya ikuti minggu sore itu bukan 23 rakaat dan juga bukan 11 rakaat tetapi 13 rakaat. Sepuluh sholat tarawih plus 3 rakaat dengan dua salam untuk witir.

Senin pagi2 sekali kami sudah ke masjidil haram untuk shalat tahajud disambung sholat subuh dan shalat dhuha.  Setelah itu pulang ke hotel dan siap-siap untuk ke SIM melakukan tugas akreditasi. Bagaimana kondisi SIM sudah saya ceritakan pada tulisan yang lalu.  Sore harinya berbuka bersama di rumah salah satu walimurid yang kebetulan namanya sama dengan nama belakang saya (Samani) dan beliau kebetulan berasal dari Tulungagung sama denga nasal ayah saya.  Aktivitas kami untuk hari Selasa pada dasarnya sama dengan hari Senin, tetapi buka bersama dilaksanakan di sekolah bersama guru dan siswa.

Pada hari Rabu kami ingin umrah kedua, tetapi mendadak Pak Duta Besar Indonesia untuk Saudi Arabia mengunjungi SIM dan ingin bertemu kami berdua. Jadi umrah kedua kami tunda hari Kamis. Mungkin Pak Dubes dapat informasi kalau Pak Malik dan saya kenal baik dengan Sekjen Kemdikbud yang akan datang ke SILN Riyadh, Jeddah dan Makkah.  Saat ketemu dan ngobrol, beliau minta kami hadir di rapat dengan Sekjen Kemdikbud dan membantu meyakinkan agar Pemerintah memprioritaskan pengembangan SILN di Saudi Arabia.  Seperti saya ceritakan di tulisan sebelumnya, memang saat rapat secara khusus kami diminta untuk menyampaikan pemikiran tentang SILN tersebut.

Hari Kamis kami umrah yang kedua dan mengambil miqat di Tan’im dengan diantar oleh Pak Mubarak.  Kami umrah berdua saja (saya dengan Pak Malik) dan alhamdulillah berjalan lancar.  Hanya saat mencari jalan dari pelataran ka’bah ke lokasi sa’i sempat tersesat, sehingga harus keluar masjid dahulu lalu masuk lagi. Itupun tidak menemukan jalan ke lokasi sa’i di lantai 1, sehingga kami melaksanakan sa’i di dilantai 2.  Kebetulan juga, karena dapat melihat orang-orang yang melaksanakan sa’I lantai atasnya lagi dengan scooter listrik.  Saya sengaja tidak mengenakan decker pada umrah kedua dan alhamdulillah lutut saya tidak sakit.

Hari jum’at kami menghadiri rapat yang dihadiri Dubes RI untuk Saudi Arabia, Sekjen Kemdikbud, Sekjen Kemlu, Sek utama Kemsekneg dan seluruh pimpinan dan guru SIM, seperti telah saya ceritakan pada tulisan yang lalu.  Selesai rapat, kami (Pak Sutikno, Pak Mubarak, Pak Malik dan saya) ingin sholat jum’at di Masjidil Haram.  Dengan disopiri Pak Mubarak, kami berusaha mencari jalan masuk ke lokasi Masjidil Haram. Sayang semua jalan masuk ke arah itu ditutup, sehingga akhirnya kami sholat jum’at di masjid lain.

Setelah sholat jum’at kami ke hotel dan check out.  Pak Malik diantar ke stasiun kereta api, karena akan ke Madinah dan Pak Sutikno diantar ke SIM, sedangkan Pak Mubarak dan saya menghadiri buka bersama IKAMA (Ikatan Keluarga Madura) di Makkah.  Menarik sekali.  Ternyata jumlah orang Madura di Makkah sangat banyak dan ada yang sudah generasi ketiga.  Makanan yang disajikan juga ada yang khas Madura, yaitu sate kambing dan bubur Madura.

Selesai buka bersama dan sholat magrib berjama’ah (saya menjamak  dengan sholat isya) kami langsung ke bandara untuk kembali ke tanah air. Sampai bandara saya kaget karena yang antre check in panjang sekali dan sebagian besar jama’ah umrah.  Untungnya saya punya GFF (Garuda Frequent Flyer Platinum) dan ada Pak Mubarak yang dapat berkomunikasi dengan petugas check in dengan berbahasa Arab.  Alhamdulillah check in lancar, bahkan saya diberi jatah air Zamzam. Penerbangan jam 00.30 berjalan lancar, transit di Jakarta juga lancar, sehingga selepas magrib saya mendapat di bandara Juanda

Minggu, 23 April 2023

SILN DI MAKKAH

SILN (Sekolah Indonesia di Luar Negeri) adalah “sekolah negeri” atau sekolah milik pemerintah yang berada di luar negeri untuk memberi kesempatan anak-anak Indonesia yang ikut orangtuanya tinggal di luar negeri.  Salah satunya di Makkah, sehingga dalam sehari-hari disebut SIM (Sekolah Indonesia Makkah).  Di Saudi Arabia ada tiga SILN yaitu SIM, SIJ (Sekolah Indonesia di Jeddah) dan SIR (Sekolah Indonesia di Riyadh).

Sebagaimana saya tuliskan sebelumnya, saya berkesempatan melakukan akreditasi ke SIM dengan Pak Abdul Malik, khususnya untuk jenjang SMA.  Sebenarnya dua tahun lalu saya sudah pernah melakukan akreditasi ke SIM tetapi dilakukan secara daring, karena waktu itu sedang terjadi pandemi covid 19.  Tahun  lalu dijadwalkan lagi tetapi karena sesuatu hal tidak terlaksana dan baru tahun ini terlaksana.  Pelaksanaannya pada bulan Ramadhan, sehingga teman-teman berkomentar “pas sekali, karena dapat kesempatan umrah juga di bulan Ramadhan”.

Sebagaimana seharusnya, sebelum berangkat saya sudah membaca data-data tentang SIM, khususnya SMA.  Apalagi sudah melakukan akreditasi secara daring dua tahun lalu.  Namun begitu sampai di Makkah dan diskusi dengan para pimpinan sekolah, guru, siswa dan wali murid saya jadi sangat terkesan, karena SIM didirikan dengan penuh perjuangan.  Oleh karena itu, secara kelakar saya menyebut “seharusnya SIM ditambah huruf P di belakangnya, sehingga menjadi SIMP, kependekan dari Sekolah Indonesia Makkah Perjuangan”.

Mengapa demikian?  Ternyata SIM apa awalnya didirikan oleh komunitas masyarakat Indonesia yang tinggal di Makkah, dengan lembaga Ma’arif.  Bukan oleh Pemerintah Indonesia seperti SILN pada umumnya.  Pendirinya Ma’arif, tetapi secara organisasi bukan merupakan bagian dari Ma’arif yang ada di Indonesia.  Mungkin secara pribadi, para pengurus Ma’arif pendiri SIM tersebut juga warga NU, tetapi secara organisasi Ma’arif Makkah tersebut berdiri sendiri. Komunitas orang Indonesia yang merasa anak-anaknya harus sekolah, sementara tidak mudah untuk bersekolah di sekolah lokal, membuat mereka  bertekad mendirikan “sekolah Indonesia”/

Pak Sinsin, salah satu guru senior dan pendiri SIM menceritakan bagaimana perjuangan awal pendirian SIM.  Bahkan sempat “ditangkap” oleh pihak keamanan di Makkah karena dicurigai.  Dalam perkembangannya Ma’arif Makkah kerepotan mengurus SIM dan diserahkan kepada Pemerintah.  Oleh karena itu saat ini SIM menjadi “SILN” sebagaimana SILN SILN lainnya.

Berbeda dengan SILN di negara lain yang biasanya menjadi tempat sekolah anak-anak para diplomat atau ekspatriat Indonesia, SIM dan konon juga SIJ dan SIR merupakan tempat anak-anak TKI (tenaga kerja Indonesia) yang berkerja di Saudi Arabia.  Nah karena sebagian besar TKI bukankah tenaga profesional dengan gaji besar sebagaimana ekspatriat, maka SIM tidak dapat menggantungkan keuangan dari hanya sumbangan orangtua siswa.  Mungkin itu juga yang menyebabkan Ma’arif Makkah akhirnya menyerahkan SIM ke Pemerintah.

 Sebagai kota suci, di Makkah ada peraturan khusus yang sangat ketat, sehingga pengelolaan SIM tidak dapat dilakukan secara leluasa dan itulah tantangan Pemerintah Indonesia. Beberapa aturan yang harus dipecahkan antara lainL Pertama, di kota Makkah tidak boleh ada sekolah negeri dari negara lain. Oleh karena itu secara hukum Saudi Arabia, SIM merupakan “sekolah swasta” dan karena itu “dibawah pembinaan sekolah swasta lokal”.  Jadi SIM memiliki “induk” sekolah negeri lokal dan untuk itu harus membayar cukup besar kepada sekolah induknya. Selain itu sebagai sekolah swasta, SIM diawasi secara ketat oleh “Dinas Pendidikan setempat”.  Pada saat kami datang, SIM belum dapat melaksanakan pembelajaran luring karena baru menambah ruangan dan menurut inspeksi “Dinas Pendidikan setempat” beberapa ruang harus dicat kembali dahulu sebelum melaksanakan pembelajaran luring.  Siswa lak-laki dan perempuan juga harus dipisah, sehingga SIM memiliki “dua gedung”, walaupun “menempel” satu dengan lainnya. Guru laki2 tidak boleh mengajar siswa perempuan dan juga sebaliknya.

Karena diserahkan ke Pemerintah, maka di mata Pemerintah Indonesia SIM adalah SILN (sekolah negeri) sebagaimana SILN lainnya. Namun karena secara formal tidak boleh SILN di Makkah, maka SIM seakan-akan menjadi bagian dari SIJ.  Kepala sekolahnya juga dirangkap oleh kepala sekolah SIJ (Sutikno, SPd, MPd). Namun karena jarak Makkah-Jeddah cukup jauh, sehingga tidak mungkin Pak Sutikno bolak-balik Jeddah-Makkah, maka sehari-hari yang menjadi “kepala SIM” adalah Pak Mubarak, LC dan secara formal disebut wakil kepala sekolah senior, karena di bawah Pak Mubarak ada wakil kepala sekolah seperti lazimnya di Indonesia.  Jadi manajemen di SIM sangat khas. Sehari-hari dikelola secara otonom oleh manajemen dibawah kepemimpinan Pak Mubarak, secara hukum Saudi Arabia dibawah naungan sekolah lokal dan punya kepala sekolah dirangkap kepala sekolah induknya, dan secara hukum Indonesia merupakan bagian SIJ dan kepala sekolahnya dirangkap oleh kepala SIJ.

Akibat dari kebijakan Pemerintah Arab Saudi tersebut, sampai saat ini SIM tidak punya guru negeri sebagaimana SILN lainnya.  Memang saat ini ada dua orang tetapi status resminya guru SIJ yang diperbantukan di SIM.  Guru lainnya semua “guru tetap SIM” semacam “guru tetap Yayasan” di sekolah swasta di Indonesia.  Oleh karena itu, SIM memerlukan biaya operasional cukup besar untuk menggaji guru. Apalagi jumlah siswa per rombel kecil, akibat siswa laki-laki dan perempuan harus dipisah.

Kedua, di kota suci Makkah tidak diijinkan pemerintah negara lain memiliki properti.  Akibatnya sampai saat ini SIM tidak memilki gedung sendiri.  Gedung yang digunakan merupakan sewa dan sangat mungkin suatu saat tidak dapat diperpanjang.  Nah, gedung yang disewakan umumnya gedung yang dirancang untuk perumahan (apartmen), sehingga ukuran ruangannya kecil-kecil.  Untungnya jumlah setiap rombel di SIM sedikit, maksimal 11 orang, sehingga ruang dengan ukuran sekitar 4 x 4 m masih memadai untuk ruang kelas.

Gedung SIM yang saat ini digunakan tidak memiliki halaman, sedangkan aturan di Makkah siswa tidak boleh berada di luar sekolah.  Akibatnya siswa tidak memiliki lapangan untuk olahraga, upacara dan acara sejenisnya.  Semua kegiatan seperti itu terpaksa di lakukan di lantai basement yang tentu luasnya sangat terbatas.

Dua masalah pokok tersebut yang dicarikan jalan keluar, agar siswa di SIM dapat belajar secara optimal sebagaimana SILN di negara lain.  Saat bertemu dan berdiskusi dengan Duta Besar RI untuk Saudi Arabia, Sekjen Kemdikbud, Sekjen Kemlu dan Sekretaris Utama KemSesneg, kami sampaikan bahwa cara-cara tradisional (formal) tampaknya sulit dan harus dicari terobosan khusus.  Mengapa demikian?  Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, termasuk anak-anak Indonesia yang berada di Makkah.  Mereka pada umumnya berasal dari keluarga menengah ke bawah, sehingga tidak dapat mengatasinya secara individual. Oleh karena itu kehadiran negara menjadi tumpuan bagi mereka. Semoga.