Saya
sudah mengenal Madame Xu Lin semenjak membantu Pak Fasli merintis Confucius
Institute (CI) di Indonesia tahun 2008an.
Ketika pertama kali beliau datang ke Ditjen Dikti, kami agak bingung
memposisikannya. Waktu itu, kami hanya mengenal
Ibu Xu Lin sebagai pimpinan HANBAN.
Hanban sendiri kami fahami sebagai lembaga non pemerintah dari RRC yang
bertujuan mengembangkan atau mempopulerkan penggunaan bahasa Mandarin di negara
lain.
Namun
demikian, teman-teman Hanban di Jakarta menyebut Ibu Xu Lin sebagai Direktur
Jenderal. Untung saja pertemuan pertama itu tidak terlalu formal dan hanya ke
Ditjen Dikti, sehingga diatur agar sebagai ketua delegasi Ibu Xu Lin
“disejajarkan” dengan Pak Fasli yang saat itu menjabat sebagai Dirjen Dikti. Pertemuan itu intinya untuk merintis
pendirian CI di Indonesia dengan disponsori oleh Hanban.
Setelah
pertemuan itu, saya baru faham mengapa orang Hanban begitu menghormati Ibu Xu
Lin. Ternyata beliau “orang penting” di
RRC. Beliau memiliki beberapa jabatan
penting, antara lain anggota CPPCC National Committee, Counsellor of the State
Council PR China, Chief Executive of Confucius Institute Headquarter dan Dirjen
Hanban. Konon dua jabatan pertama dan
kedua adalah jabatan penting di sistem pemerintahan China. Jadi pantas kalau teman-teman Hanban sangat
menghormatinya.
Usia
ibu Xu Lin kira-kira 50-60 tahun.
Penampilannya sederhana, seperti biasanya pejabat RRC. Bahkan cenderung tidak terlalu formal. Kecuali dalam upacara, beliau biasanya
mengenakan selempang yang konon simbul pejabat penting di RRC. Orangnya cerdas
dengan gaya bicara yang tegas.
Bahasanya Inggrisnya sangat baik, dengan logat China yang masih
kental. Wajar saja, karena beliau PhD
Bidang Humaniora.
Ketika
mendapat undangan untuk hadir di Joint
Conference of Confucius Institute in Asia di Phonm Penh Cambodia tanggal
29-31 Mei 2013, saya agak enggan datang.
Namun ketika Pak Ali Mustofa, Direktur Pusat Bahasa Mandarin (nama CI di
Indonesia), memberitahu bahwa Madame Xu Lin ingin bertemu secara pribadi, saya
memutuskan untuk hadir. Saya yakin ada
sesuatu yang ingin dibahas, kalau sampai beliau ingin bertemu secara pribadi. Akhirnya saya datang, sekalian ingin melihat
negara yang diapit oleh Thailand dan Vietnam. Kebetulan saya belum pernah ke
Cambodia.
Namun
karena masih ada acara di Surabaya, yaitu menghadiri silaturahim Polda Jatim
dengan tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda, serta bertemu dengan
Prof. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri yang menyeponsori KKN tematik,
maka saya baru dapat berangkat tanggal 29 siang. Sampai di Phnom Penh sudah pukul 17.15,
sedangkan acara pembukaan dimulai pukul 15.00.
Begitu
mendarat, saya dapat sms dari Pak Ali Mustofa, kalau Madame Xu Lin ingin
bertemu dan saya diminta untuk segera ke tempat upacara, yaitu di Koh Pich City
Hall. Saya diminta menuju meja di dekat
panggung, dimana beliau duduk. Oleh
karena itu, begitu sampai di hotel saya minta diatur oleh panitia untuk diantar
ke tempat acara. Dengan hanya ganti baju
dan tanpa mandi saya menuju tempat acara.
Tampaknya
panitia yang mengatar saya bukan orang Phnom Penh, sehingga tidak tahu pasti
dimana tempat acara. Mobil yang
mengantar sempat salah sasaran. Ketika
sudah sampai di suatu gedung, ternyata keliru.
Panitia yang mengantar berusaha menilpun temannya, tetapi sepertinya
agak sulit. Untung saya masih menyimpan
sms Pak Ali dan saya tunjukkan ke sopirnya.
Dan ternyata mobil harus berbalik arah.
Sampai
di tempat acara sudah jam 19.10 dan acara sudah hampir selesai. Makan malam juga sudah selesai. Saya segera menjumpai Madame Xu Lin dan minta
maaf atas keterlambatan datang. Karena
sudah malam, saya dipersilahkan makan dan pertemuan akan dilakukan esok
paginya. Jadilah saya datang ke acara
hanya untuk makan malam. Diambilkan oleh Mbak Widya, Direktur CI UK Maranatha
Bandung, karena saya sibuk menyalami beberapa teman yang datang dan sudah
selesai makan.
Jum’at
pagi, sekitar pukul 9.30 akhirnya saya bertemu dengan Ibu Xu Lin di hotel
Intercontinental tempat kami menginap. Saya ditemani Pak Ali Mustofa dan Ibu Chen
Jing (Chinese Director CI Unesa), sedangkan Madame Xu Lin ditemani beberapa
staf Hanban. Pertemuan berjalan
informal, karena sudah saling mengenal.
Bahkan beliau menanyakan Pak Fasli sekarang aktif dimana, setelah tidak
menjadi Wakil Menteri.
Saya
melaporkan perkembangan CI di Unesa, termasuk harapan bahwa ke depan CI tidak
hanya menjadi tempat orang belajar Bahasa Mandarin, tetapi juga menjadi tempat
belajar budaya. Orang Indonesia belajar
budaya China dan orang dari China belajar budaya Indonesia. Saya juga menyampaikan bahwa selama Unesa
sering dikunjungi oleh Tim Kesenian dari China dan Unesa juga pernah mengirim
kesenian ke China. Saya juga
menyampaikan bahwa setelah acara di Phnom Penh, saya akan ke CCNU di Wuhan
dan ke Tianjin untuk menandatangani MoU
dengan kedua universitas tersebut.
Khusus dengan CCNU akan ditandatangani MoU untuk double degree.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar